Khairil : Harapan & Cinta Sejati

Khairil : Harapan & Cinta Sejati
Bab 12 | Tidak Ada Yang Mengerti


__ADS_3

Khairil memacu kan kendaraannya dengan cepat. Rasa kesal dan amarah sedang melandanya. Zurran yang di tempat belakang terus berpegang pinggang Khairil agar tak jatuh. Dan bibirnya hanya bisa beristighfar, jangan sampai mengeluarkan komentar, takut nantinya Khairil akan tambah marah padanya.


"Abang kalau marah ya marah aja, jangan ngajak mati berdua donk." Gerutu Zurran dalam hati


Tak lama mereka telah sampai di rumah. Dilihatnya ada mobil Abang iparnya terparkir diluar pagar. Aisyah dan Ali ternyata sudah menunggu mereka didepan rumah.


"Turun kamu cepet!" Pinta Khairil dan Zurran langsung buru-buru turun dari motor


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullahi."


"Bagus ya Zurr, pulang jam segini? ngapain aja kamu di kampus? ngepel lapangan atau aula? kamu nggak tau apa Umma didalam khawatir nungguin kamu belum pulang-pulang." Tegas Aisyah pada adik bungsunya dengan kedua tangannya ia lipat diatas perutnya


"Iya Zurr, kamu kemana aja? Abang sampai ditelpon kakak kamu loh untuk dateng ke sini jauh-jauh dari kantor. Kita tahu kamu itu laki-laki, bisa jaga diri sendiri. Tapi setidaknya kasih kabar ke rumah. Biar kita bisa mastiin kamu ada dimana." Sambung Ali yang juga ikut memarahi adik iparnya namun dengan lembut. Beruntungnya kantor tempat Ali bekerja memang dekat dari Bogor dan ia juga berniat mengunjungi mertua, istri serta anaknya.


"Abang, kakak? Zurran bisa jelasin. Tapi nggak disini, kita masuk." Ucap Zurran yang enggan menatap kakak serta abang-abang nya


Mereka masuk kedalam dan duduk di ruang tamu dengan keheningan sementara. Khairil sudah memasang wajah kesalnya sedari tadi. Ia ingin bicara, tapi berusaha mungkin untuk tidak keras-keras agar tidak menggangu Jizah yang sudah tertidur.


"Kerja apa kamu sampe larut gini? apa uang yang Abang kasih tiap bulan itu nggak cukup buat kamu?" Tanya Khairil dengan tatapannya


Aisyah dan Ali saling pandang, "Kamu beneran kerja Zurran?" Tanya keduanya bersamaan


"Iya," Jawab Zurran singkat


"Coba jelasin ke kita apa alasan kamu kerja dan kamu kerja apa?" Tanya Aisyah


"Zurran kerja di cafe, untuk tabungan masa depan Zurran. Dan uang yang Abang Khairil kasih setiap bulannya? itu Zurran gunain murni untuk biaya kuliah semua. Nggak ada yang lain. Zurran ini laki-laki, yang pastinya suatu saat akan menafkahi anak dan istri Zurran. Zurran juga mau punya penghasilan sendiri." Jelas Zurran dengan amarah yang tertahankan


Ia merasa sudah cukup dengan bergantung hidup dari penghasilan yang Khairil kasih. Ia juga ingin merasakan memiliki penghasilan sendiri. Ia sudah merasa lelah bila terus mengikuti apa keinginan dari para saudaranya.


"Bagus lah kalau gitu, kamu tahu diri juga akhirnya. Abang nggak perlu repot-repot memikirkan tentang masa depan kamu." Ucap Khairil


"Khairil? kamu ngomong apa sih ! Kamu itu anak laki-laki tertua dan imam pengganti Abba dirumah ini. Zurran adik kamu satu-satunya yang berarti itu tanggung jawab kamu !! Kamu masih harus memikirkan masa depan dia dengan baik." Ujar Aisyah marah


"Enggak kak, yang dibilang Abang emang bener. Abang nggak perlu repot memikirkan masa depan Zurran yang tidak punya hak di keluarga ini. Zurran seperti orang asing yang menumpang hidup dari hasil yang Abang dapatkan." Ujar Zurran dengan nafas menggebu-gebu

__ADS_1


Seketika Khairil langsung bangkit dari duduknya dan matanya menatap tajam kearah Zurran. "Oh... kamu ternyata iri, Abang punya penghasilan dari apa yang almarhum Abba kasih ke Abang? gitu!"


Zurran pun ikut bangkit dan berkata, "Ya, aku iri. Abang dipercaya oleh almarhum Abba untuk mengatur semua warung bakso cinta. Sedangkan aku? enggak. Dan Abang sama kakak juga selalu bisa mendapatkan apa yang kalian mau. Lalu aku? aku harus melakukan sesuatu apa yang kalian inginkan terlebih dahulu. Ini terlalu berat untuk..."


"Zurran cukup !!" Sebelum Zurran berkata lebih lanjut, Aisyah sudah terlebih dahulu menghentikannya


"Apa kak? benarkan itu kenyataannya? kalian semua nggak ada yang bisa ngertiin aku. Kalian selalu bersikap egois dan maunya menang sendiri."


Plak... satu tamparan di pipi kanan Zurran, Khairil berikan. Ini pertamakalinya lagi ia bermain tangan kepada adiknya, setelah lima belas tahun yang lalu.


"Zurran? kamu masuk ke kamar kamu." Perintah Ali pada Zurran yang memegangi pipinya yang tampak memerah karena tamparan keras dari Khairil


Setelah Zurran meninggalkan ruang tamu, mereka semua langsung terdiam dengan pikirannya masing-masing. Dan tak lama Aisyah dan Ali masuk kedalam meninggalkan Khairil seorang diri.


"Apa yang aku lakukan tadi? Zurran, maafin Abang. Abang memang egois." Batin Khairil menyesal


Sementara tanpa mereka semua sadari, Jizah mendengar semuanya dari balik pintu. Wanita itu begitu perih mendengar anak-anaknya bertengkar. Hampir setiap malam tiada henti ia berdo'a agar semua anak-anaknya tetap akur. Namun, lagi-lagi Allah menegurnya lewat anak-anaknya. Ujian selalu datang kepada semua hamba yang Allah sayangi.


...----------------...


Pagi hari tadi setelah sholat subuh, Aisyah dan Ali memutuskan untuk kembali ke rumah mereka dan berjanji akan datang tiga hari kemudian. Sebenarnya, Aisyah masih ingin berada didekat Jizah untuk merawatnya dan memperbaiki hubungan diantara adik-adiknya. Namun, Ali mengatakan bahwa ia akan ada acara kantor yang mengharuskan anak serta istrinya ikut.


"Abba, Umma sudah tidak sanggup mengurus dan menjaga anak-anak sendirian. Ini berat sekali untuk Umma Ba. Maafkan Umma yang belum sepenuhnya menjalankan amanah yang Abba kasih. Maafkan Umma." Ujar Jizah dalam hati


Wanita itu menangis dalam diam agar suaranya tak terdengar oleh anak-anaknya. Dirinya bukanlah wanita hebat yang bisa melakukan hal berat sendirian. Ia masih sangat membutuhkan peran Mufid untuk bisa bertahan menjalani semuanya.


Tak lama terdengar suara pintu terbuka dan dilihatnya Zurran keluar dari kamarnya. Buru-buru ia hapus air matanya dan dengan segera menampakkan senyum sebaik mungkin.


"Pagi, sholehnya Umma?" Sapa Jizah


"Pagi Umma ku sayang," Satu kecupan manis di kening Zurran berikan.


"Maaf ya Umma Zurran keluarnya agak lama, karena tadi Zurran buru-buru selesaikan tugas kuliah yang belum selesai." Lanjut Zurran


"Iya nggak apa-apa nak. Umma minta tolong ya, panggilkan Abang kamu juga untuk sarapan bersama." Ucap Jizah


Zurran terdiam sejenak dan tak lama ia menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Belum sempat Zurran mengetuk pintu kamar Khairil, laki-laki itu sudah terlebih dahulu keluar dari kamarnya.


"A-abang, diminta Umma untuk sarapan." Ucap Zurran salah tingkah dan Khairil hanya menganggukkan kepala


Jizah yang melihat kedua putranya mendekat kearahnya pun tersenyum. Dirinya berharap bisa memperbaiki hubungan kakak beradik itu. Zurran duduk disebelah kirinya sementara Khairil berhadapan dengan Zurran dan Jizah yang duduk di kursi utama.


"Khairil sayang Umma." Ucap Khairil mengecup kening Jizah


"Umma lebih daripada dirimu sayang. Yuk kita sarapan, Umma sudah membuat makanan kesukaan kalian berdua yaitu nasi goreng tanpa kecap dengan telur mata sapi setengah matang." Ucap Jizah


Jizah mulai mengambilkan nasi serta lauk satu-persatu untuk kedua anak laki-lakinya dan baru setelah itu dirinya.


"Abang Khairil setelah ini mau ke cabang bakso yang di daerah mana nak?" Tanya Jizah


"Khairil mau ke cabang bakso yang di daerah Cigombong Umma. Abang nggak lama kok, ba'da Zhuhur nanti insya Allah langsung pulang." Jawab Khairil


"Ya sudah, yang penting kamu hati-hati ya."


"Kalau kamu Zurran, setelah kuliah langsung pulang kan nak?" Tanya Jizah


Zurran terdiam ia melirik kearah Khairil dan tak lama ia mengangguk. "Iya Umma, Zurran setelah dari kuliah langsung pulang."


"Benar?" Tanya Jizah memastikan


"Iya Umma ku sayang... doain Zurran ya?" Jawab Zurran


"Abang nggak apa-apa kok kalau kamu mau kerja Zurr. Umma juga pasti setuju." Ucap Khairil


Zurran menatap Khairil tak percaya lalu tiba-tiba saja Jizah menggenggam tangan kedua putranya.


"Iya, Zurran boleh kerja jika memang itu kemauan Zurran. Maafin Umma ya, kalau Umma belum bisa adil sama kalian berdua sepeninggal Abba. Dan Umma tidak bisa berjanji untuk itu. Karena sebaik-baiknya keadilan hanya Allah yang miliki." Ujar Jizah yang langsung di peluk kedua putranya


...----------------...


...----------------...


Kekurangan milik manusia dan kesempurnaan hanya milik Allah ta'ala

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote bunga terima kasih


__ADS_2