Khairil : Harapan & Cinta Sejati

Khairil : Harapan & Cinta Sejati
Bab 19 | Bakso Cinta di Puncak


__ADS_3

Cabang bakso cinta, yang berada dikawasan puncak memang tak pernah sepi dengan pengunjung. Kedainya hampir sama seperti kedai bakso cinta yang lainnya, hanya saja tempat parkirnya lebih luas. Terlihat sekarang tempat parkirnya itu benar-benar penuh. Hingga mengharuskan Khairil yang baru tiba, memarkirkan mobilnya di tempat yang cukup jauh dari kedai baksonya.


Dari kejauhan sudah terlihat ramainya para wisatawan lokal yang sedang menikmati pesanan bakso cintanya. Sampai-sampai ada dari mereka yang tidak mendapatkan tempat duduk akhirnya memilih membawa pesanannya kedalam mobil. Ada pula yang tetap bersabar berdiri menunggu yang lainnya selesai makan.


"Alhamdulillah ya Allah, walaupun di cabang yang lainnya warung bakso mengalami penurunan, tapi Engkau selalu memberikan rezeki ditempat yang telah Engkau tentukan." Lirih Khairil yang begitu bersyukur.


Ketika di cabang bakso cinta yang lainnya nyaris bangkrut, ternyata Allah selalu mempunyai rencana besar yang lainnya. Yakinlah, rezeki tiap-tiap hambaNya telah Allah tetapkan dengan adil dan takkan pernah tertukar oleh siapapun.


Dengan ramah Khairil menyapa para pengunjung yang ia lewati. Tak sedikit dari mereka yang sudah mengenal bakso cinta, berpuluh-puluh tahun lamanya. Mereka juga sedikit mengingatkan Khairil dengan almarhum Abba nya, Mufid. Katanya, Mufid sangat tepat memberikan amanah besar itu kepada Khairil. Dengan melihat sebagaimana suksesnya warung bakso cinta itu sekarang. Padahal nyatanya, Allah telah begitu baik menutupi kekurangan dari yang telah Khairil lakukan.


"Abba? Terima kasih atas amanah besar ini. Maaf, Khairil belum benar-benar seperti yang mereka ucapkan." Batin Khairil sembari meninggalkan tempat itu dan masuk kedalam ruangannya.


...----------------...


Didalam ruangannya Khairil seperti biasa, mengecek laporan keuangan bulan lalu. Begitu banyak pengeluaran kas yang dilakukan, namun begitu banyak pula pemasukkan yang didapatkan. Setelah dirasa semuanya sudah balance, tak lupa ia sisihkan sebagian penghasilan itu untuk kaum yang membutuhkan.


Seperti perkataan almarhum Mufid dahulu saat Khairil dan Zurran kecil, "Jika kita mendapatkan rezeki berlebih? Maka ada hak orang lain didalamnya. Kita tidak boleh serakah dengan mengambil dan menikmati seluruhnya. Jadi, mulai sekarang Abang Khairil dan Abang Zurran harus belajar bersedekah ya. Karena sedekah juga termasuk salah satu amal jariyah yang sangat bermanfaat bagi siapapun yang mengamalkannya." Pesan itu selalu Khairil ingat. Seberapapun uang yang ada di dompetnya, jika ia melihat orang lain kesusahan, tangan itu begitu mudahnya memberikan uang yang sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan.


...“Bersedekahlah, karena sedekah itu sebagai pelepasmu dari neraka.”...


...(HR. ad-Daraqutni, At-Thabrani, Abu Nuaim, Al-Baihaqi. Dan Ibn Asakir)...


Khairil menyandarkan kepalanya di kursi sembari memejamkan mata, lalu tak lama matanya terbuka dan langsung memandang beberapa foto keluarganya yang ia tempelkan dalam sebuah mading. Namun anehnya tidak nampak foto Naura, kakak sulungnya.



"Keluarga K yang sebenarnya atau the next Muhammad family. Maaf kak Naura, mau bagaimanapun kamu bukanlah bagian keluarga kami. Jadi biarkan Khairil egois. Jika Umma tahu Khairil melakukan hal ini? Sudah pasti Umma akan sangat kecewa. Sekeras apapun Umma menolak masa lalunya sekarang, tapi bila ingatannya membaik, Umma akan sangat membela kakak jika Khairil masih marah dan kecewa pada dirimu. Khairil kecewa dengan kakak bukan tanpa sebab, ada banyak alasan yang nggak akan mungkin bisa Khairil utarakan." Khairil kembali mengingat kejadian sebulan yang lalu. Hari dimana hubungan antara dirinya dengan Naura mulai renggang. Bukan hanya Khairil, tapi Aisyah pun sama. Mereka mengganggap bahwa Naura lah penyebab dari sakit yang diderita Jizah sekarang.


Itulah mereka, begitu menyayangi, namun juga pula begitu menyakiti. Sifat Khairil dan Aisyah hampir sama, yang entah meniru siapa. Lain dengan Zurran, anak laki-laki itu benar-benar menuruni sifat Mufid hampir seluruhnya, hanya saja dia tidak pemalu. Wajahnya pun sepertinya hanya dia yang memiliki kemiripan dengan almarhum Abba nya.

__ADS_1


...----------------...


Hari sudah mulai gelap, sepertinya Khairil lupa dengan ucapannya kepada Jizah siang tadi, bahwa laki-laki itu berjanji tidak akan lama berada di kedai bakso cinta.


Menjelang Maghrib rupanya pengunjung yang datang semakin banyak, beberapa stok bakso pun sudah mulai habis. Jadi, Khairil meminta bagian gudang penyimpanan yang berada tak jauh dari rumahnya untuk membawakan lagi stok bakso cinta. Sembari menunggu yang dipesannya datang, Khairil berinisiatif membantu pegawainya melayani pembeli.


"Kang? Bakso cinta mercon nya satu ya, minumnya es teh manis."


"Baik tehh, aya deui?" ¹ Tanya Khairil


"Sudah itu saja."


Satu-persatu pesanan Khairil antarkan ke meja pembeli. Hingga getaran ponsel di sakunya barulah menghentikan aktivitasnya. Dilihatnya ternyata nama Zurran tertera dilayar handphonenya dan dengan segera ia menjawab panggilan itu.


"Assalamualaikum Zurr, ada apa?"


"Waalaikumsalam, kok Abang nanya ada apa? Harusnya Zurran yang nanya, kenapa Abang belum pulang? Umma nyariin Abang terus dari tadi..." Terdengar dari seberang sana, Zurran gemas dengan pernyataan abangnya. Abangnya tidak tahu, jika sedari tadi Umma nya itu begitu mengkhawatirkan dirinya.


Mobil Khairil yang masih terparkir jauh dan tidak sempat ia pindahkan membuatnya harus sedikit berjalan cepat menghampirinya. Salah seorang karyawan perempuannya berlari menyusulnya.


"A' Khairil? Tunggu!!" Panggilnya dan Khairil yang dipanggil pun segera berbalik badan.


"Ada apa? Saya buru-buru harus pulang." Ucap Khairil


"Ini A' saya cuma mau ngasih dompetnya Aa' ketinggalan diatas meja kasir tadi." Ucap karyawati bernama Elis


"Masya Allah, terima kasih ya Lis? Ya sudah, saya langsung pulang. Sekali lagi terima kasih, assalamualaikum." Pamit Khairil tersenyum kearah gadis itu


"Iya A' sama-sama, waalaikumsalam warahmatullahi."

__ADS_1


"Aduh ya Allah... manis sekali ciptaan Mu. Izinkan A' Khairil menjadi jodoh hamba, Aamiin." Batin gadis itu yang memang sudah lama menaruh perasaannya pada Khairil. Tak peduli ucapan teman-teman yang mengatakan banyaknya perbedaan antara dirinya dan Khairil.


...----------------...


...Rezeki dan Rasa...


Kita seringkali, mengkhawatirkan akan rezeki yang Allah beri kepada kita. Bagaimana cara ia hadir? Kapan hadirnya? Dan dimana kita harus memperolehnya? Padahal kita sudah tahu. Bahwa itu semua tergantung bagaimana kita mau dan mampu berusaha semaksimal mungkin sesuai kadar kemampuan kita dengan cara yang Allah ridhoi. Jangan sampai keinginan kita akan uang yang banyak, membuat kita mengambil jalan kemusyrikan dan meninggalkan ibadah-ibadah yang Allah perintahkan.


Karena Allah telah menjamin Rezeki setiap makhluk yang lahir ke bumi ini. Rezeki adalah rususan Allah SWT. Kita hanya berusaha meraihnya saja.


...Firman Allah dalam Al Qur’an:...


...“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhil mahfuz)...”...


...(Q.S. Hud : 6)....


...Inilah jaminan Allah yang pasti....


Dan sering pula, kadar perasaan dalam diri kita itu sulit untuk kita kendalikan. Perasaan amarah, kecewa dan cinta? Itu sulit untuk dipahami, bahwa ia harus secukupnya saja. Jangan berlebih-lebihan. Karena mau bagaimanapun sesuatu yang berlebih-lebihan sungguh tidak baik.


......................


¹ Ada lagi?


......................


Jangan lupa like, komen dan vote Terima kasih. Siapapun yang sudah vote ku sangat-sangat berterimakasih sekali ❤️


Dan ya, ku mungkin insya Allah akan ajukan kontrak novel ini. Jadi ku harap jika kalian ingin aku sering-sering update bab terbaru? JANGAN LUPA UNTUK VOTE DAN FOLLOW INSTAGRAM KU YANG INSYA ALLAH AKAN ADA BEBERAPA YANG BAKAL KU FOLLBACK

__ADS_1


......“Salam sayang dan cinta dariku karena Allah”......


__ADS_2