
...Baru pertamakali bertemu dengannya, hatimu seakan sudah bergemuruh hebat dibuatnya. Dirimu berpikir itu hanya perasaan dan angan biasa saja, namun benar begitu nyata adanya....
...Banyak orang yang percaya bahwa cinta bisa hadir berawal dari mata, yang sering disebut sebagai cinta pandangan pertama dan ternyata itu benar faktanya....
Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
...“Dua mata berzina, dan zina keduanya adalah pandangan.”...
...____________...
Setibanya Khairil, Zurran dan juga Zain di daerah Bogor Selatan. Mereka ternyata sudah ditunggu-tunggu oleh para pedagang bakso lain yang pekan lalu datang melontarkan pernyataan ketidaksukaannya.
Para pedagang bakso yang datang rata-rata mereka berjualan di trotoar jalan atau berkeliling. Tapi ada juga beberapa perwakilan dari mereka yang berasal dari kedai bakso yang sebelumnya cukup terkenal.
Zurran mendengar helaan nafas dari Khairil. Rupa-rupanya hal berat yang dihadapi oleh Khairil cukup besar. Sebagai seorang adik yang jarang sekali diikut sertakan dalam usaha bakso cinta ini, membuatnya cukup mengerti. Mengapa Khairil jarang mengizinkan adiknya itu untuk ikut bersamanya. Karena, Zurran memanglah tidak berbakat dalam hal ini.
"Mau langsung turun dan siap beradu argumen lagi dengan mereka?" Tanya Zain, kini mereka masih berada didalam mobil
"Mau gimana lagi bang? siap nggak siap ya harus dihadapi. Kita bismillah aja, semoga Allah melancarkan lisan kita agar tidak salah berbicara." Jawab Khairil
"Bismillah bang, Allah selalu bersama dengan hambanya yang bersabar." Ucap Zurran menyemangati dan dibalas dengan senyuman oleh Khairil
Kini mereka keluar bersama dari mobil. Para pedagang itu yang semula duduk langsung segera berdiri.
"Nah ini dia nih yang ditunggu-tunggu akhirnya dateng juga." Ucap salah seorang dari mereka yang menggunakan kaos hijau
"Assalamualaikum bapak-bapak semuanya." Sapa ketiganya dan hanya dijawab oleh sebagian mereka saja
"Namanya doang bapak-bapak, tapi akhlak nya nggak ada." Batin Zurran memutar matanya malas
"Ada apa lagi ya bapak-bapak? bukannya pekan lalu kita sudah sama-sama meminta maaf dan menghargai satu sama lainnya?" Tanya Khairil langsung
"Maaf, ternyata itu nggak mempan dan sampai sekarang para pelanggan kita ternyata masih beli di warung bakso ini." Jawab laki-laki berkaos hitam
Khairil dan Zain mencoba tenang, sedangkan Zurran ia sudah mengepalkan kedua tangannya.
"Nih orang-orang kalo pikirannya semua sama begini pantes aja jualannya nggak maju-maju." Batin Zurran kesal
"Mohon maaf ya bapak? mau langganan bapak masih beli di warung bakso Abang saya atau enggak? itu hak mereka pak. Sekarang kita introspeksi masing-masing aja deh. Bakso yang bapak-bapak semua jual, enak atau enggak? kan selera lidah masing-masing orang beda-beda." Ujar Zurran
Khairil dan Zain terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa seberani itu Zurran berbicara tanpa berpikir konsekuensi setelahnya.
__ADS_1
"Zurr? kamu bicara apa sih?" Tegur Zain
"Jadi, tanpa sadar anda mengatakan kalau bakso yang kita jual tidak enak gitu?" Ucap perwakilan kedai bakso yang sebelumnya terkenal dengan amarah
Dan benar saja, hal itu memancing pedagang bakso lain yang merasa tidak terima dengan perkataan Zurran.
"Heehh kamu ngomong apa tadi? sembarangan!"
"Ternyata karyawan dan bos sama aja, nggak ada benernya!"
Jika sudah seperti ini, Khairil juga yang harus bertanggungjawab.
"Maaf bapak-bapak semua, adik saya tidak tahu apa-apa mengenai hal ini, jadi jangan dengarkan apa yang dia bicarakan. Lebih baik sekarang kita duduk terlebih dahulu dan membicarakannya dengan baik-baik." Tutur Khairil
"Iya bapak-bapak, maafin sepupu saya ini ya?" Ucap Zain
Pada akhirnya mereka menuruti dan berkumpul kembali di warung bakso. Beruntungnya para pembeli sedang tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa pengunjung saja.
...___________________...
Para pegawai yang memang sedari tadi sudah mengetahui, langsung mengarahkan mereka ke tempat yang sepi, yaitu tempat di samping musholla.
Cukup lama Khairil, Zain serta bapak-bapak itu berbincang. Walaupun dengan suasana cukup tegang dan dibarengi dengan pernyataan tidak mengenakan, Khairil mampu mengontrol emosinya. Dan pada akhirnya mereka semua sepakat tidak akan membahas hal ini lagi. Asal dengan syarat, billboard bakso cinta yang telah terpasang disepanjang jalan itu harus diturunkan. Dan dengan berat hati, Khairil menyanggupinya.
"Kamu yakin Ril mau copot semua baliho-baliho itu? ingat loh ya, kamu udah ngeluarin uang banyak buat satu baliho aja." Ucap Zain ketika bapak-bapak itu telah keluar dari warung bakso
"Eeiittss tadi Abang bilang apa? baliho? yang di kanan-kiri nya pake bambu biar bisa berdiri terus dikasih robekan segitiga, emangnya Khairil caleg pasang kayak gitu?" Sahut Khairil
"Emang punya kamu begitu? setau Abang dia ada lampunya. Lagipula kalo pake bambu kanan-kiri mah nggak mungkin sampai ratusan juta perbulan untuk satu itu doang."
"Ya makannya itu bang, nama yang bener itu Billboard!"
"Nah itu Billboard, sayang Ril kalau harus dicopot. Kamu yakin?" Tanya Zain lagi
"Uang itu bisa dicari bang, yang penting Khairil buat hati Umma dirumah bisa tenang aja udah Alhamdulillah." Jawabnya lalu berjalan keluar mencari adiknya
Dilihatnya ternyata Zurran tengah asik berbincang dengan sekelompok orang.
"Sama siapa tuh anak, ntar salah ngomong lagi Abang juga yang repot." Batin Khairil menghampiri adiknya yang sedang tertawa
"Zurr?" Panggil Khairil
__ADS_1
"Eh iya bang, Abang udah selesai ngomong sama orang-orang tadi? maaf ya tadi Zurran nggak ikut. Takut salah ngomong lagi dan ntarnya Abang marahin Zurran." Ucap Zurran
Khairil menyahutinya dengan berdehem, lalu dilihatnya orang-orang yang tadi bicara dengan Zurran sedang menatapnya. Dan tanpa sadar ia beradu pandang dengan seorang wanita yang duduk berhadapan dengan Zurran.
"Oh ya temen-temen? kenalin, ini bang Khairil. Abang gue, sekaligus pemilik warung bakso ini." Ucap Zurran memperkenalkan Khairil
"Astagfirullahal'azhim" Khairil buru-buru menundukkan pandangannya
"Bang? kenalin, mereka temen-temen Zurran waktu SMA."
"Oh ya... salam kenal semuanya? si-silakan dilanjut. Zurr? Abang sama bang Zain ada diruangan itu. Kalo udah selesai ngobrolnya langsung masuk ke sana aja." Ucap Khairil pergi meninggalkan tempat itu
"Oh oke bang, nanti Zurran nyusul."
"Itu tadi Abang luh Kai?" Tanya teman laki-laki Zurran yang memanggilnya dengan sebutan Khaizu
"Iya, Abang gue satu-satunya. Luh baru tau kan? lagi sih waktu itu kalo diajak main ke rumah nolak terus, jadi baru tau muka Abang gue." Jawab Zurran lalu menatap wanita dihadapannya
" Hei... Khofifah Izzatul Maulida? kenapa ngelamun? luh pasti terpesona ya sama Abang gue? jangan ketipu sama wajahnya, dia sukanya marah-marah, mending sama gue yang jelas baiknya." Ujar Zurran membanggakan dirinya
"Apa sih Zurr? nggak jelas." Ucap perempuan yang disapa Fifah itu
Entah mengapa Zurran selalu bisa membuat kedua pipinya merah menahan malu, ditambah dengan jantungnya yang berdegup kencang saat menatap Khairil tadi.
Sementara, Khairil terus menerus beristighfar tatkala matanya telah memandang yang tak halal untuknya. Tapi ia tidak dapat membohongi perasaannya. Bahwa ini kali pertama ia merasakan hatinya bergemuruh dengan hebatnya.
..._____________________________...
Yang tidak berdosa adalah pandangan pertama yang tidak sengaja, bukan karena kesengajaan.
...Sehingga jika ia sengaja tidak berkedip untuk memandang berarti ia telah sengaja untuk menikmati sesuatu yang haram....
...Dari Buraidah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ali radliyallahu ‘anhu,...
...“Wahai Ali janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama yang tidak sengaja) dengan pandangan (berikutnya), karena bagi engkau pandangan yang pertama dan tidak boleh bagimu pandangan yang terakhir (pandangan yang kedua)...
..._____________...
Maaf ku jarang update, tapi insya Allah bila ada waktu senggang akan ku usahakan untuk menulis.
Jangan lupa like, komen dan vote bunga terimakasih...
__ADS_1