Khairil : Harapan & Cinta Sejati

Khairil : Harapan & Cinta Sejati
Bab 32 | Untuk Kebahagiaan


__ADS_3

...“Cobaan demi cobaan melanda, namun ingatlah sebuah nikmat yang indah sudah menanti kita diujung sana.”...


...----------------...


Rasa bahagia masih menyelimuti ibu dan anak yang telah sekian lama tak bertemu. Sedari tadi Jizah mendengarkan Naura yang bercerita tentang si kecil Nafisah dan tentang bagaimana menjalani kehamilan keduanya. Sementara Khairil, ia sudah harus kembali lagi ke kedai bakso untuk menyelesaikan perjanjian kerjasamanya dengan salah satu influencer yang akan dijadikan brand ambassador dari Bakso Cinta.


Bi Mumun datang dari dapur dengan membawa berbagai macam buah-buahan yang ada di kulkas. Dirinya tak kalah bahagia saat mengetahui bahwa putri sulung Jizah datang kembali setelah sekian lama. Walaupun baru beberapa tahun bekerja dirumah ini, ia telah sangat mengetahui bagaimana Jizah dan almarhum Mufid membesarkan Naura seperti anak-anaknya yang lain. Karena Bi Mumun sedari dulu adalah tetangga Jizah yang letak rumahnya tak jauh dari sana .


"Ayo neng Naura, sok dimakan buah-buahan nya ini yang masih seger-seger. Biar si adek yang ada didalam perut teh tambah sehat."


"Terima kasih ya Bi, tapi ini kenapa buah-buahan nya masih banyak banget. Apa Umma atau adik-adik belum memakannya?" Tanya Naura saat melihat buah-buahan yang dibawa Bi Mumun masih sangatlah banyak


Bi Mumun melirik Jizah yang menatap arah lain, "sebenarnya mah ini buah-buahan khusus Abang Khairil beli buat Umma. Tapi Umma kamu sekarang-sekarang ini katanya lagi nggak suka buah." Ujar Bi Mumun sedikit berbisik


"Bukannya lagi nggak suka Bi, cuma bosen aja kalau lihat buah-buahan." Ucap Jizah membela


"Masya Allah Umma... mana mungkin Umma bosen sama buah-buahan? Dari Naura kecil kan Umma yang selalu stok beli buah-buahan untuk dimakan bersama-sama, setiap hari bahkan. Ayo mulai sekarang Umma harus membiasakan diri lagi untuk makan buah." Ujar Naura dengan cara perhatiannya yang sangat Jizah hafal. Putrinya yang satu ini sangat ingat apa saja ajaran dan kebiasaan dari dirinya.


Sebelum Jizah berujar, terdengar suara klakson motor dan sudah pasti dipastikan, "Masya Allah... si Abang Zurran mah kebiasaan. Males buka pintu pager sendiri." Ucap Bi Mumun langsung keluar menghampiri


Jizah dan Naura saling pandang mendengarnya. Lalu melihat Akbar yang keluar dari kamar istrinya dahulu, setelah tadi beristirahat. Wajar ia terlihat sangat lelah. Sepulang melaksanakan tugas sebagai abdi negara, ia langsung mengantarkan istrinya menemui ibu mertuanya.


...----------------...


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam warahmatullahi."


Zurran terkejut melihat keberadaan Naura dan Akbar dirumahnya. Begitupun sebaliknya, Jizah, Naura dan Akbar ikut terkejut, bukan hanya karena kedatangan Zurran, tapi kedatangan seseorang yang bersama Zurran. Namun tanpa mereka sadari air mata Zurran lolos begitu saja. Tanpa aba-aba, ia langsung memeluk Naura dengan erat. Membuat situs Bu hamil itu sedikit mengerjapkan matanya.

__ADS_1


Zurran selama ini tak pernah membenci ataupun marah terhadap Naura. Justru ia sangat merindukan kakaknya itu, hanya saja kerinduannya tertutup oleh kekecewaan yang ada didalam hatinya.


"Kakak, maafin Zurran. Maaf, kalau sikap Zurran selama ini buat kakak murka. Tapi satu hal yang harus tetap kakak ingat, Zurran sangat sayang sama kakak." Ucap Zurran disela-sela tangisnya


Naura mengurai pelukannya, menghapus buliran air mata yang mengalir di pipi adik kesayangannya itu. "Kenapa kamu yang minta maaf? Seharusnya kakak yang minta maaf sama kamu. Kamu pasti kecewa banget sama kakak kan? Maafin kakak ya." Zurran hanya menggelengkan kepalanya dan memeluk Naura lagi


Jizah tersenyum haru melihatnya. Orang tua mana yang tak senang melihat anak-anaknya saling memaafkan. Apalagi keinginan terbesarnya saat ini, selama nafasnya masih ada dan dapat dirasakan dengan baik, ia hanya ingin mempersatukan semua anak-anaknya seperti dulu kala.


"Cobaan demi cobaan telah melanda kita. Dan ku yakini, bahwa nikmat dari-Nya sudah tak sabar menanti untuk dinikmati." Batin Jizah


Mata wanita paruh baya itu menangkap seseorang yang ternyata tadi datang bersama Zurran. Wanita cantik yang pernah Zurran perkenalkan kepadanya. Dilihatnya juga wanita itu menyeka air matanya sembari menatap Zurran yang tengah memeluk Akbar, Abang iparnya.


"Nak? Kemari lah, duduk di samping Umma." Ucap Jizah, meminta wanita cantik itu untuk duduk disebelahnya.


Wanita itu tampak ragu sembari matanya melirik kearah Zurran. Dan Zurran yang paham pun langsung menganggukkan kepalanya. Diciumnya punggung tangan Jizah dengan sopan lalu mencium punggung tangan Naura juga. Dan dengan Akbar ia mengatupkan kedua tangannya. Setelah itu ia duduk tepat di samping wanita yang sangat dihormati dirumah ini.


Seakan paham dengan keadaan, Naura meminta izin kepada Jizah untuk beristirahat karena merasa pinggangnya terasa ingin patah. Dan ia juga langsung menarik tangan suaminya untuk ikut menemani.


"Apa kalian ingin mengobrol berdua saja?" Tanya Jizah. "Kalau mau berdua boleh kok, tapi pintunya harus dibiarkan terbuka lebar dan Bi Mumun atau sus Diana duduk di bangku itu untuk mengawasi." Jizah menunjuk sebuah bangku yang terletak tak jauh dari ruang tamu. Ia hanya tidak ingin anak laki-lakinya berduaan dengan seorang wanita dirumahnya. Bisa saja ia duduk menemani, tapi, ia pun pernah muda dan tahu apa yang namanya privasi.


Kedua pemuda-pemudi itu saling pandang lalu sama-sama menggelengkan kepalanya. "Umma disini aja." Ucap Zurran, lantang.


"Yakin?" Tanya Jizah memastikan


"Yakin."


...----------------...


Perbincangan hangat terjadi di ruang tamu. Diam-diam Jizah sangat memperhatikan gerak-gerik putranya yang begitu perhatian pada teman perempuannya. Seperti sekarang, wanita yang bersama Zurran itu telah membuka laptopnya. Dilihatnya Zurran menjawab pertanyaan yang gadis itu lontarkan. Diiringi canda tawa dan senyum yang menggemaskan.

__ADS_1


"Afifah? Gadis yang cantik, baik, sopan, dan sangat santun. Zurran kelihatan sekali berbeda dengan gadis ini daripada ketika bersama teman-temannya yang lain. Apa putra kecilku ini telah menambatkan hatinya pada gadis bernama Afifah?" Batin Jizah penuh kekaguman dan tanda tanya


"Umma? Umma sadar nggak sih kalau Fifah tuh teman SMP Zurran yang pernah datang kesini juga." Zurran menatap Jizah yang masih senyum-senyum sendiri


"Hah? Apa iya? Kamu seperti tidak tahu Umma saja. Umma kan sudah tua, jadi tidak ingat." Ujar Jizah


"Itu juga mungkin karena Fifah baru satu kali kesini nya Bu." Fifah ikut berbicara


"Ya Allah nak..., sudah sedari tadi Umma bilang, panggil Umma saja. Biar lebih akrab." Ujar Jizah tersenyum


Afifah mengangguk malu. Lalu melirik Zurran yang tersenyum penuh makna kepadanya. "Sekarang aku tahu, darimana kebaikan Zurran dan Abang Khairil. Ternyata dari seorang ibu di hadapanku yang sangat lembut ini ya Allah. Baru sebentar ku dirumah ini, tapi kehangatannya seperti sudah lama kurasakan." Batin Afifah yang seketika mengingat sosok laki-laki lain di keluarga ini yang pernah menolongnya.


......................


......................


Jatuh cinta bisa kapan dan dimana saja. Tapi yang namanya cinta, tak bisa untuk siapa saja.


Mencintai tidaklah salah, sebab itu adalah fitrahnya manusia. Namun, dasarkan lah cinta yang kita punya atas nama - Nya.


Karena salah satu level tertinggi dalam mencintai adalah mencintai karena Allah, atas ridho-Nya dan atas kehendak-Nya.


...****************...


Alurnya akan segera berganti dengan yang namanya cinta. Jika sudah bicara yang namanya cinta, pasti lah banyak sekali kerumitan yang ada. Segala hal yang ingin diraih seakan sirna jika sudah berhubungan dengan cinta.


~ Clue, Khairil → Afifah → Zurran & (Umma)


Jangan lupa like, komen, dan vote Terima kasih

__ADS_1


Novel ini hanya berlaku untuk Anda yang telah belajar setia.


__ADS_2