Khairil : Harapan & Cinta Sejati

Khairil : Harapan & Cinta Sejati
Bab 31 | Berbaikan


__ADS_3

...“Kita butuh permasalahan untuk saling menguatkan.”...


...----------------...


Dua orang yang masih berada diruang tamu itu duduk dalam keadaan tidak tenang. Hatinya risau saat mengetahui adiknya telah pulang dan belum kunjung masuk kedalam rumah. Takut hal yang mereka khawatir kan akan menjadi kenyataan.


"Ya Allah, hamba harap Khairil kali ini berbaik hati mengizinkan kami menemui Umma walau sebentar." Batin Naura penuh harap


Suara langkah kaki seseorang seakan menambah suasana tegang dalam ruangan itu. Naura sampai memejamkan matanya dan terus beristighfar dalam hati.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullahi."


"Kakak..." Tak diduga. Khairil langsung memeluk kakak perempuannya. Menangis dalam dekapan ibu hamil itu yang membuatnya merasakan sesak berlebih.


Menyadari kakaknya sudah tidak nyaman dipeluknya Khairil pun langsung melepaskan pelukannya, "Maaf... maafin Khairil kak." Ia berlutut kecup berulang-ulang punggung tangan Naura.


Menyesal, itulah yang Khairil rasakan. Menyesali segala hal yang telah terjadi adalah yang dahulu tidak ia inginkan. Namun kini justru ia lakukan. Bukan sekali dua kali, bahkan telah lebih.


Naura menarik tangannya, "kamu nggak perlu minta maaf, justru kakak yang seharusnya minta maaf. Pasti selama tujuh bulan ini kamu dan Zurran sangat melewati hari-hari dengan berat ya? Maafin kakak ya." Tuturnya dan kembali memeluk Khairil


Suasana yang tadi menegangkan justru kini berganti haru. Diana yang sedari tadi berdiri memperhatikan pun kini paham mengapa anak tertua dari Jizah tak pernah dilihatnya selama ini. Ternyata ada hal berat yang membuat hubungan kakak-beradik itu renggang.


Khairil beralih ke Abang iparnya, Akbar. Kedua laki-laki itu tersenyum sembari berusaha menghapus air mata masing-masing. Gengsi kalau sama-sama nangis.


"Bagaimana kabar kalian? Dan kenapa si cantik Nafisah nggak ikut?" Tanya Khairil menatap keduanya


"Alhamdulillah kabar kami seperti yang kamu lihat sekarang. Dan ya, maaf Nafisah sengaja nggak kami ajak karena nggak tau kalau akan seperti ini adanya." Jelas Akbar


"Dan kalau kamu sendiri, sehat kan Ril?" Tanya Naura


"Alhamdulillah kak, semua orang yang berada di rumah ini harus tetap sehat wal'afiat."


"Em... Sus? Bi Mumun kemana?" Tanya Khairil pada Diana


Diana tersadar dan langsung menghapus air matanya yang mengalir begitu saja. "Bi Mumun kayaknya lagi pulang dulu ke rumahnya Bang. Apa ada sesuatu yang perlu? Biar sus aja yang lakukan."

__ADS_1


"Apa boleh saya minta tolong, buatkan makanan apa aja yang kakak saya mau ya?"


"Oh boleh banget atuh, teteh nya mau saya buatin apa?" Tanya Diana menatap Naura


Ibu hamil itu tersenyum. Sebenarnya ada keinginannya yang belum terwujud dan tersampaikan selama hamil. "Kalau boleh jujur, kakak udah lama banget pengen makan masakan kamu Ril. Kamu inget nggak, kamu pernah buat martabak mie yang enak itu? Kakak mau kamu buatin itu lagi kalau enggak keberatan." Pinta Naura malu-malu


"Haha ya Allah kak... maafin Khairil yah? Gara-gara Khairil, ngidam kakak belum kesampaian. Tapi tenang, sekarang Khairil bakal buatin semua makanan dan minuman yang kakak mau." Ucap Khairil lalu meletakkan tangannya di atas perut ibu hamil itu. "Demi si jagoan ini?. Kakak boleh suruh Khairil apa aja, insya Allah Khairil ikhlas." Lanjutnya


Pada akhirnya, mereka berjalan sebagaimana dahulu kala berhubungan. Seakan tidak ada masalah besar yang pernah menerpa masing-masing. Badai satu telah berlalu. Selalu akan ada badai-badai lain yang telah menanti untuk menerpa mereka kembali. Tapi, seberat apapun masalah yang akan diterima, sebesar apapun ujian menyelimuti, kita harus tetap percaya bahwa Allah tidak akan pernah menguji hambanya melewati batas kemampuannya.


...----------------...


Didalam kamar yang tertutup rapat. Ada tangis bahagia yang seakan meruntuhkan segala keputusasaannya kepada Sang Maha Rahman. Jiwa dan hatinya betul-betul berbeda seperti awal-awal mendapatkan sakit. Ia bisa menerimanya dengan lapang dada.


Tak ada lagi nyeri pada ingatan dan tubuhnya. Justru berulangkali dan ingin terus mengulang, melakukan sujud syukur atas nikmat besar dari Allah yang memang sangat ia nantikan.


Jizah berusaha bangkit dari sujud nya lalu berjalan menghampiri sebuah foto pernikahan yang tetap apik seakan tak usang termakan usia. Memegangi foto belahan jiwanya yang telah lama pergi meninggalkan. Dengan senyuman dan air mata yang terus berlinang. "Abba? Umma bahagia..." Kata itu yang hanya bisa terucapkan dari bibirnya. Walau ada banyak ribuan kata yang ingin terlontar kan.


"Bahagia sekali ya Rabb... terima kasih."


Suara ketukan pintu mampu mengalihkan pandangannya. Sayup-sayup terdengar suara Diana memanggilnya dengan suara khawatir.


"Umma, umma sudah bangun? Kalau sudah kenapa pintunya terkunci? Umma keluar yuk."


Jizah tersenyum mendengarnya, pasalnya memang ia tak diperbolehkan pernah mengunci pintu kamarnya ketika sedang beristirahat. Tujuannya agar bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, orang-orang akan cepat membantunya.


Segera ia hapus air matanya dan berjalan mendekati pintu. Tanpa ada niat membukanya. Ia ingin mengerjai Diana dan anak-anaknya.


"Saya tidak mau keluar Diana. Saya ingin beristirahat dengan tenang. Jangan ganggu saya." Ucapnya membuat Diana membelalakkan matanya


"Umma jangan berbicara seperti itu. Ini sudah masuk waktu zhuhur dan Umma harus makan siang setelah sholat, lalu setelahnya kita minum obatnya." Ucap Diana, membuat Khairil yang mendengarnya pun menghampiri


"Umma kenapa?"


"Umma mengunci pintu dari dalam Bang dan nggak mau keluar."


Bergantian Khairil yang mengetuk pintu kamar Jizah, "Umma? Kita keluar yuk, Abang ada sesuatu untuk Umma."

__ADS_1


"Sesuatu apa? Bila sesuatu itu menyakiti Umma bagaimana? Umma nggak mau keluar." Khairil terdiam dan jantungnya berdegup kencang mendengar ucapan Jizah.


"Apa Umma sudah tahu kalau Ka Naura dan Bang Akbar datang? Aku takut kalau kondisi Umma seperti sebelum-sebelumnya bila bertemu Ka Naura. Bagaimana ini ya Allah."


Khairil takut bila kedatangan kakaknya akan membuat kondisi Jizah yang sudah sangat membaik kembali terpuruk. Sungguh bukan hal mudah untuk dijalani selama tujuh bulan masa pemulihan Jizah. Tapi ia sungguh tak enak hati bila mengecewakan kakaknya yang telah amat rindu dengan ibundanya.


"U-Umma? Boleh izinkan Abang masuk dulu? Abang janji tidak akan ada yang menyakiti Umma." Suara lirih Khairil sungguh membuat Jizah tak sanggup melanjutkan lagi aksi jahilnya. Perlahan ia membuka pintu kamarnya dan Khairil langsung masuk.


Dilihatnya Jizah tersenyum menatapnya. "Umma? A-abang ingin Umma tenang. Abang ingin mendatangkan seseorang yang sudah sangat rindu dengan Umma. Bolehkah dirinya bertemu dengan Umma? Sebentar saja, Umma bisa menutup mata jika merasa tidak nyaman melihatnya." Ucap Khairil menatap sendu wajah wanita yang sangat ia hormati


Jizah mencium punggung tangan putranya lalu mengecup keningnya. "Silakan bawalah ia masuk nak. Tapi Umma tidak ingin terlalu cepat apalagi menutup mata saat didekatnya. Karena Umma pun sudah sangat rindu dengan kakakmu." Jizah menangis setelah mengatakannya. Dengan rasa tak percaya Khairil menganggukkan kepalanya dan berlari memanggil Naura dan Akbar yang masih berada di ruang tamu.


...----------------...


Perlahan kaki itu melangkah mendekati kamar dimana seseorang yang mereka rindukan berada. Naura terus menangis dalam dekapan suaminya dengan rasa di hati yang tidak bisa dijabarkan.


"Assalammualaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullahi. Naura? Kemari lah nak." Jizah merentangkan kedua tangannya dan Naura segera memeluknya.


Pelukan dan kasih sayang yang sangat dirindukan dari seorang wanita yang telah membesarkannya dengan penuh cinta dan keikhlasan. Wanita pertama yang mengajarkannya arti sebuah kehidupan. Memang ia tidak dilahirkan dari rahim seorang wanita yang disebut Umma. Tapi Umma lah yang sangat-sangat berarti dalam hidupnya.


Dirinya begitu bersyukur saat mengetahui bahwa dulu almarhum ayahnya lah yang meminta langsung pada Umma dan Abba untuk merawat dirinya dan terbukti hingga ia besar dan memiliki anak, kedua orang tua angkatnya masih menjaga amanah itu yang tak semua orang bisa mendapatkannya.


Kata maaf terus diucapkan Naura. Tak ada tanda-tanda dari keduanya untuk melepaskan pelukannya. Memang benar kata orang, obat paling mujarab dari sebuah rindu memang lah harus bertemu.


Dan memang terkadang pada akhirnya, apa yang mempersatukan tak selalu indah dan menyenangkan. Tapi kita bisa dipersatukan, bahkan oleh permasalahan.


Dan betapa ternyata kita saling membutuhkan dengan cara saling bertahan atas segala cobaan.


......................


......................


......................


Jangan lupa like, komen, vote dan berikan bunga sebanyak-banyaknya untuk capture selanjutnya, terima kasih ❤️🙏

__ADS_1


__ADS_2