
...“Jika saja hidup bisa memilih untuk tidak memiliki masa lalu, maka aku akan meminta pada-Nya.”...
...----------------...
Suara gelak tawa terdengar begitu nyaring di ruang keluarga. Rumah yang biasanya begitu sepi kini sedang ramai dikunjungi oleh keluarga Rendy. Laki-laki paruh baya itu dan Zurran tak henti-hentinya menertawakan Khairil yang kalah bermain catur dengan Rendy.
"Ayah mainnya curang! Masa kuda nya jalan 'L' harusnya lurus." Khairil yang tak terima kekalahan pun berkomentar
Rendy dan Zurran saling pandang dan tak lama keduanya kembali tertawa lebih dari yang sebelumnya.
"Ya Allah Abang, kalo nggak bisa main catur tuh bilang, biar nggak malu-maluin diri sendiri." Zurran tertawa puas sampai meneteskan air matanya
Sementara Khairil yang ditertawakan langsung berlari memeluk Jizah yang baru tiba bersama Zulfah dan kedua keponakannya. Mereka baru saja mendatangi butik Jizah melalui pintu yang memang langsung menghubungkan antara ruang tamu dengan butik.
"Astaghfirullah... kamu kenapa sih, langsung peluk Umma kayak gini? Untung jantung Umma nggak kaget." Jizah bukannya melepaskan pelukannya, tapi justru wanita paruh baya itu membalasnya dan hal itu sudah tentu membuat Khairil nyaman dibuatnya.
"Itu Umma! Ayah sama Zurran masa ketawain Abang", ucapnya mengadu
"Helehh ngadu sama emaakk. Dah lah sini main lagi, namanya juga belajar pasti salah." Dari ruang keluarga Rendy berteriak. Ia memang sudah lama tak mengunjungi rumah ipar sekaligus sepupunya itu. Dan hal yang paling ia nanti serta rindukan ialah mengganggu kedua keponakannya, entah itu Zurran ataupun Khairil.
"Iya, makannya Khairil belajar biar nggak salah. Bukan malah diketawain." Khairil membalas dengan kesal
"Ayah kebiasaan deh, ganggu anaknya terus! Ayo sini, biar Ibu bales ayah kamu itu." Zulfah yang sedari tadi diam pun menggandeng tangan Khairil dan langsung menghampiri tempat suaminya berada. Sementara, Jizah dan kedua putri Rendy hanya bisa tersenyum melihatnya.
"Ya Rabb, ku tiada henti-hentinya bersyukur kepada Mu. Rendy dan Zulfah begitu menyayangi anak-anakku seperti anak-anak mereka sendiri. Ku tenang, bila raga dan jiwa ini telah Engkau ambil, anak-anak masih mempunyai sosok orang tua yang lengkap, sehatkan lah mereka wahai Rabbi." Batin Jizah penuh syukur dan harap
"Ammah? Ayo kita masuk, kok malah melamun disini." Ucap Ruby, anak pertama Rendy dan Zulfah. Gadis cantik setahun lebih muda dari Khairil itu baru saja menyelesaikan perguruan tingginya ditempat Jizah kuliah dahulu. Dan maksud kedatangannya ke rumah Jizah pun untuk memberitahu berita gembira yang masih ia rahasiakan.
Jizah tersenyum dan merangkul keponakan cantiknya itu. Akhirnya mereka semua duduk dengan tenang diruang keluarga. Rendy dan Zurran yang sebelumnya menertawakan Khairil kini pun terdiam membisu, setelah tadi Zulfah menarik telinga mereka secara bersamaan.
__ADS_1
Bi Mumun datang dengan membawa nampan berisi cangkir teh, sementara sus Diana datang dengan nampan berisi cemilan untuk disuguhkan.
"Maaf, teh sama cemilannya baru disediakan ya? Sok atuh sekarang di cobain. Saya sama Diana tinggal kebelakang dulu." Ucap Bi Mumun, pembantu rumah tangga yang baru bekerja beberapa minggu dirumah Jizah.
"Hatur nuhun ya Bi, Diana. Tapi kalian nggak mau bergabung sama kita?" Tanya Jizah menawarkan
"Iya atuh bibi sama sus Diana duduk bareng-bareng kita disini," sambung Khairil
"Oh tidak usah, kita dibelakang aja." Ucap Bi Mumun
"Iya betul. Tapi maaf sebelumnya, Umma? Ini diminum dulu obat sama vitaminnya ya." Diana memberikan sebutir obat dan sebutir vitamin kepada Jizah dan langsung segera ditelan habis olehnya. Setelah itu Diana dan Bi Mumun pamit meninggalkan mereka yang berada di ruang keluarga.
Ruby dibuat bingung melihat Jizah masih meminum obatnya, bukankah ia mendapatkan kabar jika Jizah telah sembuh?
"Ammah maaf, bukannya Ammah sudah sembuh?" Tanya Ruby, lalu matanya menatap Khairil dan Zurran seolah meminta penjelasan.
"Iya Zah, bukannya bulan lalu Khairil kasih kabar ke kita kalau kamu udah sembuh?" Rendy bertanya dengan sorot mata kekhawatiran. Bagaimanapun juga Jizah adalah salah satu wanita yang paling ia sayangi. Pernah menjadi alasannya untuk selalu menjadi yang terbaik. Dirinya tentu tidak mau sepupunya itu merasakan derita berkepanjangan yang menyangkut masa lalu. Sungguh begitu menyakitkan–pikirnya.
Khairil dan Zurran memeluknya dengan penuh cinta. Masing-masing keduanya memberikan kecupan manis di kening, sesuatu istimewa yang sering dilakukan.
Khairil melepaskan pelukannya dan menghembuskan nafas perlahan. "Sebenarnya, bulan lalu kita sudah yakin bahwa Umma sudah sembuh dari rasa traumatik nya. Kita datang ke psikiater lagi untuk memastikan, dan dokter bilang Umma sudah banyak perubahan yang luar biasa setelah melakukan beberapa tes. Setelah kita pulang dari psikiater dan mengabari kakak-kakak dan saudara-saudara lainnya dengan yakin kalau Umma sudah sembuh. Tapi ternyata, kami salah. Malam itu Umma kembali memberontak dan menangis. Selalu menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi dimasa lalu. Dan hal ini pun terjadi juga hari kemarin." Ujar Khairil menjelaskan dengan menahan tangisnya. Sebisa mungkin ia tahan air mata itu agar tidak terlihat.
Rendy, Zulfah dan kedua anaknya terkejut mendengarnya. Serumit itu kah untuk sembuh dari luka masa lalu? Pikir mereka.
Zulfah memeluk kakak iparnya. Air mata sudah sedari tadi mengalir dengan sendirinya. "Kalau Abang Mufid masih ada, pasti kak Jizah tidak akan merasakan hal sesakit ini," batin Zulfah lalu dilepaskan pelukannya itu.
"Zulfah yakin, kakak bisa melewati ini semua. Karena kakak juga pernah berada di posisi rumit bahkan jauh lebih rumit dari ini. Kakak lagi-lagi adalah wanita pilihan Allah yang menerima ini semua." Ucap Zulfah tersenyum
"Maafin kakak ya? Kamu pasti malu ya, punya kakak ipar yang seperti orang gila ini?"
__ADS_1
"Ssstt kakak bicara apa sih? Zulfah justru sangat bangga dan bersyukur, karena Allah telah memberikan Zulfah kakak ipar seperti kak Jizah." Lagi-lagi Zulfah memeluk Jizah
“Jika saja hidup bisa memilih untuk tidak memiliki masa lalu, maka aku akan meminta pada-Nya.” Batin Jizah
Rendy hanya bisa terdiam. Hatinya begitu sakit mendengar penjelasan Khairil. Wanita tangguh yang dulu sangat ia banggakan kini kembali rapuh. Jika dulu ia bisa menghibur Jizah dengan berbagai macam cara, kini hanya do'a yang bisa ia berikan.
"Izinkanlah wanita yang ku sayangi ini untuk sembuh dan bahagia lepas dari jeratan masa lalu ya Rabb." Matanya terus menatap Jizah. Hatinya terus berdo'a dan isi kepalanya terus mencari cara bagaimana bisa membantu Jizah untuk segera sembuh. Dan ya, hal baik terlintas dipikirannya.
"Sudah ayo sekarang kita semua harus optimis jika semuanya akan bisa kembali seperti sediakala. Dan yaa Ayah Rendy akan memberikan kalian semua sesuatu yang waw. Dan ku yakin Jizah kesayanganku ini akan sangat senang menerimanya." Ujar Rendy bangkit dari duduknya dan berjalan keluar untuk menelpon seseorang.
...----------------...
......................
Jika dulu dirinya bisa dengan mudahnya menyembuhkan luka besar dengan hadirnya seseorang yang begitu tulus apa adanya. Tapi kini? Takdir menginginkan yang lain untuk dijalaninya.
Ya, begitulah. Terlalu banyak luka yang dipendam didalam hati pada akhirnya akan menyeruak kembali.
Ada yang mengatakan, "Jangan dekati seseorang yang belum sembuh dengan masa lalunya, karena walaupun dia telah bersamamu? Dia akan mengingat dirinya dengan yang lalu."
Ya, mungkin itulah Jizah. Perempuan dengan segudang luka lara di masa lalu. Banyak hal pahit yang tak dapat ia ceritakan hingga akhirnya menjadi kebiasaan. Kehilangan cinta—didatangkan cinta. Kehilangan keduanya—bergantilah dengan luka.
Luka yang ada harus segera sembuh agar hati dan jiwamu tak sakit lagi. Butuh perjuangan yang luar biasa memang, tapi ku yakin kau pasti bisa.
...****************...
Assalamualaikum teman-teman, sebelumnya maaf ku baru update malam. Dan maaf kalau Sabtu, Minggu dan Senin kemarin ku juga tidak update, sebab ku sedang mendapatkan banyak tugas sekolah yang harus diselesaikan segera mungkin dan itu sudah pasti tidak bisa untukku agar segera menulis kelanjutan episode sebelumnya.
Dan ya, ku butuh adaptasi lagi dengan novel baru untuk menambah banyak pembaca. Serta ku harus bisa mengikhlaskan hati kalau para pembacaku tidak memberikan vote, hadiah, atau komentarnya. Mungkin ini yang terbaik buat aku. Tapi ku selalu percaya dengan kalian, bahwa semua pembacaku adalah orang-orang yang selalu menghargai apapun yang dihasilkan oleh orang lain.
__ADS_1
Terima kasih, jangan lupa like, komen, vote, dan hadiah. Jika jumlah like pada bab-bab sebelum telah lebih dari 20, maka bab terbaru akan hadir🙏