Khairil : Harapan & Cinta Sejati

Khairil : Harapan & Cinta Sejati
Bab 9 | Ada Yang Menanti


__ADS_3

...“Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu,”...


...(Imam Syafi'i)...


Lantunan ayat suci Al-Qur'an begitu merdu terdengar dari ruang perawatan VIP nomor 58. Khairil tak menyadari jika ayat suci yang ia lantunkan membuat tangis Jizah tertahankan. Wanita yang masih terbaring di ranjang rumah sakit itu begitu terharu dengan apa yang dilihatnya. Putranya baik-baik saja. Kini justru ia merasa telah begitu merepotkan banyak orang.


"Shadaqallahul-'adziim'' Khairil menutup Al-Qur'an yang berada digenggaman nya dan matanya langsung menangkap Jizah yang tersenyum kearahnya


"Masya Allah, Umma? kenapa Umma menangis? apa ada yang sakit lagi? biar Abang panggilkan dokter ya?" Ucap Khairil dan langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Jizah


"Enggak nak, kemarilah." Jizah meminta Khairil untuk lebih mendekat kepadanya dan dikecupnya kening putranya itu


"Terima kasih ya nak, kamu sudah mau merawat dan menemani Umma disini walaupun kondisi kamu belum pulih betul." Ujar Jizah


"Umma bicara apa sih? ini sudah tugas Abang menjaga dan menemani Umma." Ucap Khairil sembari menghapus air mata Jizah


"Umma tau, selain kondisi kamu yang belum pulih, kamu juga pasti punya kesibukan seperti kakak-kakak dan adik kamu. Umma nggak apa-apa kok kalau kamu tinggal. Disini kan ada suster dan ada Shafiyyah juga yang dinas disini. Pulanglah nak, masih banyak orang yang butuh kamu daripada Umma." Ucap Jizah membuat Khairil terkejut


"Umma, Umma bicara apa si? di dunia ini yang menjadi prioritas Abang sekarang ya hanya Umma. Nggak ada yang lain." Tangan Khairil yang semula Jizah genggam langsung terlepas


"Kamu jangan bicara seperti itu nak. Kita di dunia ini bukanlah semata-mata untuk satu hal atau apapun. Tapi melainkan untuk akhirat nak. Apa kamu lupa pesan terakhir almarhum Abba mu? Jadi kan akhirat selalu ada di hati, dunia dalam genggaman, dan kematian dipelupuk mata kita. Surga memang berada di telapak kaki seorang ibu. Tapi bukan semata-mata itu menjadi prioritas mu. Kita di dunia hanyalah sementara. Tujuan sebenar-benarnya hidup adalah untuk akhirat." Tutur Jizah, ia raih kembali kedua tangan Khairil


"Umma tahu, kamu sangat menyayangi Umma. Tapi Umma mohon, jadikan itu nomor kesekian dalam hidupmu. Umma tidak ingin kamu merasakan penyesalan yang amat sangat kelak nantinya. Pulanglah nak, berdakwah lah melalui bakso cinta. Umma sangat percaya, akan ada banyak keberkahan lagi bila apa yang dahulu telah dilakukan oleh almarhum Abba mu itu terulang kembali atau bahkan lebih daripada itu." Lanjut Jizah yang ternyata memiliki harapan besar kepada Khairil agar benar-benar melanjutkan usahanya seperti apa yang dahulu almarhum Mufid lakukan.


Khairil menyadari, bahwa selama ini ia telah benar-benar merubah sistem penjualan bakso cinta. Tak seperti yang dahulu Mufid lakukan. Tapi mengapa baru sekarang Jizah mengutarakan hal itu? apa ia mendapatkan bisikan dari Mufid? atau ada sesuatu nantinya dari yang tadi ia utarakan? Sungguh, hanya Allah ta'ala yang tau. Batin Khairil yang masih terdiam.


"Maafkan Umma, bila perkataan Umma tadi mengganggu batin dan pikiranmu nak." Lirih Jizah merasa bersalah tatkala putranya belum jua bicara dan langsung sedikit menjauh darinya


"Umma nggak perlu minta maaf. Khairil hanya butuh waktu untuk itu semua. Do'akan Khairil ya? sudah sekarang Umma istirahat. Biar Abang telepon Zurran untuk bertanya apa dia sudah selesai ujian atau belum, agar bergantian menjaga Umma." Ujar Khairil mengecup kening Jizah dan berniat berlalu keluar


Belum sempat ia langkahkan kakinya keluar dari ruangan Jizah. Pintu sudah terlebih dahulu dibuka oleh seorang perawat.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam warahmatullahi."


"Sus, apa suster mau ganti infus Umma saya?" Tanya Khairil


"Oh ibu Jizah belum saatnya mengganti infus. Tapi saya kesini hanya mengantarkan seseorang yang ingin bertemu ibu Jizah saja. Sebentar, saya tuntun beliau masuk terlebih dahulu." Ujar suster dan ia keluar lagi dari ruangan Jizah


Khairil dan Jizah saling pandang. Siapakah gerangan yang hadir?


...****************...


Wajah ketidaksukaan langsung tampak di wajah Khairil, tatkala matanya langsung memandang seseorang yang hadir bersama suster dan seorang anak perempuan kecil. Ditangan anak kecil itu terlihat ia membawa sebuket bunga mawar berwarna merah muda.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullahi."


Laki-laki paruh baya seusia Jizah dengan tongkat ditangannya, tersenyum kearah Khairil sebelum akhirnya menatap Jizah.


"Rania? ayo cium punggung tangan jiddah Jizah dan Ammi Khairil." Perintahnya pada sang cucu yang langsung dituruti


"Maaf ku baru datang kesini, bagaimana keadaanmu sekarang? Dan ini untukmu." Tanya laki-laki itu dan memberikan bunga yang tadi dibawa cucunya kepada Jizah.


"Alhamdulillah, ku sudah jauh lebih baik sekarang. Terima kasih untuk ini. Seharusnya kamu nggak perlu repot-repot sampai harus menengokku kemari. Kasihan kan Rania, dia masih kecil, nggak baik dirumah sakit lama-lama." Ucap Jizah


"Haha iya, aku emang ngeyel. Sebenarnya Azizah udah ngelarang aku buat kesini, terlebih sama Rania. Tapi aku khawatir sama kamu." Sahutnya


"Ehem, bapak silakan duduk. Nggak baik orang tua seusia bapak berdiri terlalu lama." Ucap Khairil masih dengan ketidaksukaannya


"Oh ya, terima kasih. Bagaimana keadaanmu, apa sudah membaik?"


"Ya, seperti yang anda lihat. Saya sudah baik-baik saja."


Jizah memandang Khairil seolah meminta berkata lah dengan baik dan sopan. Putranya itu terlalu terlihat ekspresi wajah tidak suka dan berbicara terlalu formal. Ia paling mengerti bagaimana putranya itu bila ada sesuatu atau seseorang yang tidak ia sukai.

__ADS_1


Namun, pada akhirnya. Khairil tetap dengan pendiriannya, sampai akhirnya laki-laki tadi bersama cucunya memilih tidak berlama-lama di ruangan Jizah. Merasa kehadirannya hanya diterima sepihak membuatnya pergi meninggalkan rumah sakit.


Setelah ruangan Jizah sepi dan hanya Khairil yang menemaninya. Jizah langsung bertanya pada putranya, "Kenapa kamu kayak gitu bang? apa Umma pernah mengajari kamu untuk tidak sopan dengan yang lebih tua?"


Khairil tak langsung menjawabnya, ia duduk di kursi samping ranjang Jizah. Diraihnya tangan wanita itu dan dikecupnya.


"Umma mau tau kenapa Abang seperti itu tadi?" Tanya Khairil


"Kenapa?"


"Dia alasan dibalik kecelakaan tempo hari yang menimpa Abang. Memang kecelakaan itu murni salah Khairil yang kurang hati-hati. Tapi karena Abang tau dia sudah mengkhitbah Umma melalui Ammi Hadi." Jelas Khairil membuat Jizah terkejut. Beruntung, jantungnya tidak bereaksi lebih mendengar itu. Hanya matanya langsung memandang lurus ke langit-langit kamar rumah sakit.


Khairil yang takut terjadi sesuatu dengan Jizah langsung memeluknya. "Umma, maafin Khairil sudah berbicara seperti itu."


"Kamu nggak perlu khawatir nak. Umma sampai kapanpun tidak akan menerima pinangan itu atau yang lainnya. Karena telah ada Abba yang sudah lebih dulu menanti Umma di pintu surga-Nya. Umma telah berjanji pada Abba dan diri Umma sendiri, disaksikan langsung oleh Allah dan para malaikatnya. Bahwa Abba adalah yang terakhir untuk Umma. Dan hanya Abba yang Umma inginkan menjadi pendamping di surgaNya kelak. Sekalipun Umma menjadi yang kesekian bersanding dengan Abba dan bidadari pilihanNya." ujar Jizah menangis


Khairil telah menduga, bahwa Umma nya itu masih sangat mencintai almarhum Mufid sampai kapanpun. Sekalipun keduanya telah terpisahkan oleh maut. Tapi Khairil bisa sangat merasakan, Mufid ikut memeluk tubuhnya yang sedang memeluk Jizah.


...****************...


Seorang wanita yang ditinggalkan oleh kematian suaminya dan tidak pernah menikah lagi sampai dia meninggal, jadi pasangannya di surga adalah suaminya di dunia. 


Begitu pula dengan wanita yang diceraikan atau ditinggal mati oleh suaminya lalu kawin dengan pria lain, maka dia akan dinikahkan dengan suami terakhir. Hal tersebut sesuai dengan hadits Nabi SAW,


“Setiap wanita yang ditinggal mati oleh suaminya, maka wanita tersebut menikah lagi, kemudian dia menjadi istri dari suami terakhirnya”. (HR Thabrani). 


Imam Al Qurthuni dalam At Tadzkirah meriwayatkan bahwa Hudhaifah Ibn al- Yaman RA berkata kepada istrinya,


“Jika kamu ingin menjadi istriku di surga, jangan menikah lagi setelah aku. Sebab, wanita itu milik suami terakhirnya. Karena itu, istri Nabi tidak menikah lagi setelah Nabi SAW wafat."


Siapa yang ingin berjodoh dengan suaminya di akhirat kelak? maka setia lah sampai nafas terakhirmu.


Semoga kita semua kelak Allah jadikan hamba-hamba yang berjodoh hingga ke surgaNya, Aamiin...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote Terima kasih. Dan ku mohon, bila belum ada yang membaca novel Takdir Illahi silakan membacanya terlebih dahulu hingga tuntas. Agar lebih bisa memahami novel ini, sekali lagi terima kasih ❤️


 


__ADS_2