
..."Jalani segala amanah dengan ikhlas, sekalipun berat, tapi Allah tahu kamu kuat."...
...----------------...
......................
"Dan Umma bisa dengan rela nya menerima alasan dari perpisahan Umma itu kedalam keluarga kita?" Akhirnya, pertanyaan puluhan tahun yang sudah lama ia simpan itu terucapkan.
Jizah bingung harus menjawab dan menjelaskan bagaimana kepada Aisyah, putrinya. Ia terdiam lalu berjalan menutup pintu kamarnya. Setelah itu duduk lagi di samping putrinya dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu ingin tahu nak?" Tanya Jizah
"Ya, apa alasannya karena Umma kasihan? Atau Umma ingin beralasan kalau kehadirannya adalah jalan yang telah Allah tuliskan, walaupun dengan cara yang salah? Iya?"
Sungguh, Jizah benar-benar dibuat bungkam oleh perkataan Aisyah. Puluhan tahun ia menutup rapat-rapat tentang alasannya berpisah dengan Aldi, sebab selain ia menghormati suaminya, ia juga menghormati perasaan putrinya yang lain.
"Ini perkara amanah nak, bukan perkara kasihan. Umma dan Abba telah diberikan amanah besar untuk menerima dan menjaganya sampai nafas terakhir kami. Awalnya Umma berpikir ini bukanlah hal yang mudah untuk diterima. Tapi Allah telah begitu hebat menggerakkan hati Umma dan Abba, bahwa ada maksud baik dari semuanya. Entah ia hadir ke dunia ini dengan cara yang benar atau salah Umma tak memikirkan hal itu. Sungguh Umma menyayanginya sama seperti Umma menyayangi kamu nak." Ujar Jizah
Kini Aisyah yang terdiam mencerna kata-kata Jizah. Bukan maksud ia mempunyai niat tidak baik pada seseorang yang dimaksud, tapi ia ingin mengurangi sedikit saja pertanyaan-pertanyaan yang sudah lama ia simpan di dalam benaknya.
"Apa benar semudah itu, Umma bisa dengan ikhlas nya menerima dan merawat seseorang dari bagian masa lalu Umma? Yang sebab kehadiran dialah makhluk kecil lain yang Umma nanti sekian lama harus kembali Kepada-Nya? Jika Aisyah berada diposisi Umma, sungguh Aisyah mungkin tidak akan sanggup." Aisyah menangis mencium punggung tangan Jizah. Ia sebenarnya telah sangat mengetahui penyebab perpisahan Jizah dengan suaminya terdahulu dari sahabat ibundanya itu, Riska.
"Waallahi nak, Umma benar-benar ikhlas atas segala takdir illahi yang terjadi. Mau sehebat apapun Umma menolak? Jika Allah telah menetapkan Umma bisa apa? Menyangkalnya pun itu tidak akan mungkin bisa, percuma. Umma mohon sama kamu nak, jangan lagi membicarakan tentang hal ini." Jizah memeluk putrinya, keduanya menangisi. Bila boleh meminta, ia ingin sekali tidak memiliki masa lalu. Namun inilah jalan hidup pemberian dari Yang Maha Rahman.
Tanpa ibu dan anak itu sadari, ada seseorang yang sakit hati mendengarnya. Tangannya terkepal, tanda ia benar-benar marah.
...----------------...
Siang itu, setelah Zurran pergi bersama keluarga kecil Aisyah dan Ali menuju rumah saudara-saudaranya yang lain. Naura dan Akbar berniat mengajak Jizah untuk mendatangi sebuah rumah yang sudah lama tak ia kunjungi.
__ADS_1
Khairil yang tahu kakaknya itu ingin mengajak Umma nya kemana pun akhirnya memilih ikut menemani.
"Semoga jika sudah sampai disana, Umma nggak berkelakuan seperti pagi tadi." Gumam Khairil yang sedang menunggu Jizah yang masih berada dikamar nya.
Tak lama ibundanya itupun keluar dengan menggunakan kacamatanya.
"Umma, gimana kalau kacamatanya biar Abang taruh ditempat nya dulu, baru kalau kita sudah sampai sana Abang pakaikan ke Umma lagi?" Khairil mencoba meminta Jizah untuk melepas kacamata yang dikenakan nya agar wanita itu tak begitu jelas memperhatikan jalan yang nantinya akan dilewati.
"Kenapa sih bang? tadi pagi kan Umma lupa untuk pakai, jadi sekarang harus pakai." Ujar Jizah
"Tapi, kalau Abang boleh jujur ya Umma? Umma itu lebih cantik kalau nggak pakai kacamata." Semoga perkataan yang Khairil ucapkan tidak salah.
"Jadi, selama ini Umma pakai kacamata itu jelek? iya? Ya sudah, ini kamu yang pakai, biar tambah jelek." Jizah memakaikan kacamata yang dikenakannya kepada Khairil, lalu meninggalkan laki-laki itu.
"Enggak, maksud Abang tuh cantik dua-duanya. Duhh salah lagi gue."
Mobil yang dikendarai Akbar, terhenti di sebuah rumah yang sangat terlihat berbeda dari yang lainnya. Rumah itu masih tetap sama seperti pertamakali dibangun dan dihuni dahulu. Sementara rumah-rumah lainnya, sudah seperti rumah para pejabat. Cukup elit.
"Maaf Umma, Naura membawa Umma kesini." Batin Naura sebelum turun dari mobil.
"Ayo kita turun. Nafisah sayang? ayo sama ayah, kasihan om Khairil nya mangku kamu yang berat ini." Akbar membawa putrinya kedalam gendongannya.
"Iya nih, tambah berat." Khairil mencubit pelan hidung keponakannya itu lalu turun dari mobil dan membuka pintu mobil dari sisi sebelahnya.
Khairil menggandeng tangan Jizah berjalan memasuki rumah itu. Entah mengapa ia sangat mengkhawatirkan bidadari disampingnya. "Abang ada untuk menjaga Umma."
"Ini dimana nak? Umma seperti sangat mengenali rumah ini. Tapi dimana ya? Umma lupa." Ucap Jizah yang merasa sangat tidak asing dimana ia berdiri.
__ADS_1
Rumah berlantai dua tanpa pagar, dengan dihiasi sebuah pohon kamboja dipojokkan yang bunganya berguguran. Tembok berwarna putih dengan pintu warna hitam, asli kayu jati.
Naura menatap suaminya yang tersenyum lalu melirik kearah Khairil yang juga sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
Apakah yang ia lakukan adalah benar? Atau justru malah sebaliknya?
Berdosa kah ia jika nantinya kilasan atau bahkan ingatan lebih masa lalu Jizah terulang lagi?
"Ayo Umma kita masuk, sebentar, ku buka terlebih dahulu kuncinya."
Jizah yang tangannya masih dalam genggaman Khairil, langkah kakinya terhenti, tatkala pintu itu telah terbuka. Khairil semakin menguatkan genggamannya, seolah ia menyalurkan kekuatan untuk Umma nya itu.
"Ya Rabb... Rumah ini?" Jizah ingat, berada dimana ia sekarang.
"Mas ini rumah siapa? bukannya kita mau ke rumah Bang Dhana?"
"Ini rumah kita Ann, gimana kamu suka nggak? maaf ya, mas hanya bisa membelikan rumah ini, tapi mas janji ketika uang mas sudah banyak, mas akan membeli rumah seperti rumah Abah mu"
"Masya Allah mas, ini rumah kita? Subhanallah. Anna sangat suka dan ini sepertinya sudah lebih dari cukup, tidak perlu terlalu besar kalau hanya untuk kita saja"
"Apa kamu lupa? Nanti rumah ini bukan hanya kita saja yang menempati, melainkan dengan anak-anak kita"
Jizah duduk dengan perlahan di sofa yang terlihat sudah sangat tua dan usang. Kepalanya berdenyut, tatkala kenangan pertama menginjakkan kaki dirumah ini berputar di memori kepalanya.
Matanya melebar melihat pojok-pojok ruangan. Dan matanya terhenti ketika melihat anak tangga. Ia memejamkan matanya dan membukanya lagi, lalu melihat Naura yang duduk diseberang nya. Posisi wanita itu sama seperti almarhumah ibunya mendatangi rumah ini untuk pertamakalinya, dan langsung menghancurkan kehidupan didalamnya.
...****************...
Ketika amanah yang kau terima begitu sulit? Ingatlah, bahwa Allah telah begitu mempercayai dirimu.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote Terima kasih