Khairil : Harapan & Cinta Sejati

Khairil : Harapan & Cinta Sejati
Bab 1 | Kenakalan dimasa Lalu


__ADS_3

...“Kita seringkali lupa, bahwa hidup bukan hanya tentang yang senang dan sedihnya saja. Melainkan lebih daripada itu.”...


...~ J ~...


...--------------------...


Khairil, seorang anak yang lahir di Yogyakarta tanpa diduga 22 tahun yang lalu. Bayi yang selalu menampakkan senyum setiap kali diajak bicara kini telah tumbuh dewasa.


Saat usianya menginjak 10 tahun atau kelas 5 SD, Khairil terpaksa atau lebih memilih harus ikut bersama paman dan bibinya ke Jakarta Selatan. Hal itu bukan tanpa alasan. Pertengkaran yang terjadi antara dirinya dan sang adik menjadi faktor utamanya. Perbedaan usia yang cukup dekat antara Khairil dan Zurran memang sangat memungkinkan segala pertengkaran bisa terjadi. Namun ini sudah tidak dapat ditolerir lagi.


Mufid dan Jizah percaya bahwa dalam penjagaan Rendy dan Zulfah, Khairil akan bisa belajar menjadi kakak yang baik. Bukan keduanya ingin melepas tanggungjawab sebagai orang tua begitu saja. Hanya saja anak mereka itu ketika diberikan dua pilihan antara pesantren atau rumah Rendy, ia lebih memilih rumah Rendy walaupun kedua pilihan itu tidak ada yang ia senangi.


Seiring berjalannya waktu, Jizah selalu berharap bahwa ada hasil baik dari keputusan yang ia dan Mufid buat itu. Ia dan Mufid hanya datang mengunjungi putranya setiap hari Ahad saja. Namun ternyata, ada hal yang Jizah dan Mufid baru ketahui tentang putra mereka itu. Sungguh, Rendy dan Zulfah sangat-sangat merasa bertanggungjawab atas apa yang keponakannya lakukan. Karena selama hampir 5 tahun dalam penjagaan mereka, tidak pernah terdengar lagi sesuatu yang tidak baik pada Khairil yang mereka ketahui.


Disekolah nya di Jakarta, Khairil memang murid yang pandai. Ia selalu mendapatkan peringkat pertama dalam segala hal, termasuk murid pertama yang selalu berhadapan dengan guru BK hingga kepala sekolah. Hal ini tidak pernah Rendy dan Zulfah ketahui, karena Khairil benar-benar pandai menutupinya dengan kebohongan.


Bahkan saat para orang tua menghadiri rapat yang dibuat oleh guru-guru sekalipun, Khairil bisa dengan cepat mengalihkan pembicaraan.


Perkataan yang selalu Khairil jawab ketika Rendy bertanya tentang bagaimana harinya disekolah, "Tenang Yah, sudah pasti Khairil selalu yang pertama." Dengan bangga, paman yang disapa ayah itu menanggapi "Iya donk, harus selalu jadi yang pertama. Buktiin ke Abba sama Umma kamu, kalo kamu tuh beneran top."


Kesalahan yang dibuat Khairil disekolah membuat Jizah dan Mufid tersadar, bahwa anak mereka itu memang benar-benar butuh perhatian khusus langsung dari kedua orangtuanya. Tak pernah terlintas dari benak Jizah sebagai wanita yang melahirkan Khairil, bahwa putranya adalah seorang preman sekolah.


Khairil terlibat pertengkaran hebat dengan temannya disekolah. Hal seperti itu ternyata sering terjadi. Namun, kali ini ia sudah benar-benar beringas menghabisi temannya hingga kritis.

__ADS_1


Dengan nafas yang memburu akibat menahan emosi, Mufid berkata. "Mulai hari ini, kamu udah nggak lagi tinggal di Jakarta. Biar Abba langsung yang mengajari kamu arti sebenarnya seorang jagoan. Jagoan yang sesungguhnya itu bukan orang yang selalu menghabisi setiap lawannya. Tapi, dia yang selalu bisa meluluhkan hati lawannya. Kamu sudah membuat amarah Abba meninggi. Kamu sudah buat Abba kecewa!"


Jizah membiarkan suaminya memarahi putranya untuk pertamakalinya. Dirinya hanya bisa menangis di samping Zulfah yang berusaha menenangkannya. Sungguh, ia merasa sangat-sangat gagal dalam mendidik putranya itu.


"Tapi Ba? Khairil masih dua tahun lagi bakal lulus SMA. Sayang kalau harus pindah sekolah yang baru lagi." Ucap Khairil tak terima


"Masih punya keberanian kamu untuk menampakkan diri ke sekolah? masih berani? Kalau kamu masih berani, itu tandanya kamu juga berani melihat air mata Umma kamu terus-menerus mengalir." Mufid menjatuhkan dirinya ke lantai dan tangannya mengusap kasar wajahnya


"Sekarang kamu lihat wajah wanita yang telah melahirkan kamu Bang. Rapuhnya hati Abba tidak sama dengan rapuhnya hati Umma kamu. Umma kamu jauh lebih rapuh. Abba sudah tentu merasa gagal mendidik kamu, apalagi Umma yang selalu mengajari kamu apa arti sebuah kehidupan ini. Dan sekarang hasilnya apa? kamu sudah hampir ingin menghabisi kehidupan orang lain. Dimana letak kelembutan hati putra kecil Abba? dimana sikap Khairil yang sesungguhnya ketika selalu Abba ajak pergi ke masjid? Apa ini?" Mufid tak dapat lagi berbicara, ia menangis sama halnya dengan Jizah


Rendy hanya bisa terdiam dan membawa Khairil masuk kedalam kamarnya.


"Kak, Abang? diminum dulu teh nya ya." Zulfah memberikan dua cangkir teh yang semula hangat kini sudah dingin


"Ini nggak semuanya salah Khairil. Ini juga salah Rendy yang nggak bisa memantau dan mengawasi Khairil dengan baik. Tolong, jangan lagi kalian marahin dia. Ini juga kesalahan kalian yang seakan membeda-bedakan antara Khairil dan Zurran. Mereka berdua pasti bakal baik-baik aja kalau kalian nggak memihak salah satu diantaranya." Ucap Rendy yang langsung mendapatkan tatapan dari Jizah dan Mufid


"Kamu nggak tau yang sebenarnya Ren! Khairil sudah dua kali membuat Zurran masuk rumah sakit. Kita nggak mau hal itu terus berulang. Asal kamu tau? ini berat untukku dan Jizah. Orang tua mana yang menginginkan anak-anaknya setiap hari bertengkar? nggak ada." Tutur Mufid yang masih dengan air matanya


"Aku akui Ren, aku memang sudah salah memberikan pemahaman buat Khairil. Ya, ini semua salahku juga." Ucap Jizah memeluk suaminya


"Umma bereskan semua barang-barang Khairil sekarang juga. Nanti biar Abba pesankan kalian taksi untuk pulang." Ujar Mufid melepaskan pelukannya


...__________...

__ADS_1


Pada akhirnya hari itu juga, Jizah dan Khairil kembali ke Bogor yaitu rumah mereka. Sementara Mufid masih terus memantau keadaan anak yang telah dipukuli oleh putranya.


Beruntungnya, keluarga anak itu tak membawa kasus ini ke jalur hukum. Karena mereka tahu ternyata yang memancing amarah Khairil terlebih dahulu adalah anaknya.


Tapi mau bagaimanapun Mufid sebagai orang tua akan tetap bertanggungjawab dengan membiayai seluruh pengobatan yang ada.


...------...


Mufid yang ditemani oleh Rendy, kini sedang duduk di taman rumah sakit. Keduanya saling diam tanpa kata sedikitpun.


Perasaan orang tua mana yang tidak kecewa dengan sikap dan perilaku anaknya yang seperti itu. Didikan lembut dan penuh kasih sayang yang sedari kecil mereka berikan seakan sirna dalam sekejap ditelan bumi.


Langit yang semula cerah langsung berubah menjadi awan hitam yang menakutkan. Inilah perjalanan penuh rintangan yang dihadapi oleh orang tua. Memiliki anak yang Sholeh dan Sholehah adalah impian mulia, tapi selalu ada hal terduga untuk mendapatkannya.


Begitulah cara Allah mengasihi setiap hambanya berbeda-beda. Ada yang diuji dengan pernikahannya, anaknya ataupun rezekinya. Tak semua makhluk Allah berikan kasih sayang berupa itu.


..._____________...


...“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.”...


...Qs. Al-Baqarah : 286...


Jangan lupa like, komen dan vote Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2