Khairil : Harapan & Cinta Sejati

Khairil : Harapan & Cinta Sejati
Bab 8 | Belum Siap Kehilangan


__ADS_3

...Luka ringan akan terasa begitu sakit, saat melihat orang yang kita sayang terbaring lemah karena memikirkan kita...


...----------------...


Debaran jantung kian bertambah kencang, saat mobil yang ditumpangi oleh Ali, Aisyah dan Khairil terjebak ditengah kemacetan. Sementara, mobil yang ditumpangi oleh Azzam dan Rasyid dikabarkan telah sampai di rumah sakit tempat Jizah dirawat.


"Ya Allah, bantu kami agar cepat sampai ke rumah sakit." Lirih Aisyah memejamkan matanya


Ali yang memegang kemudi, beberapa kali membunyikan klakson mobil agar mobil didepannya maju dengan cepat. Setelah tiga puluh menit kemudian, akhirnya mereka bisa keluar dari kemacetan itu. Rupa-rupanya, telah terjadi kecelakaan parah dan kendaran yang terlibat kecelakaan belum disingkirkan dari jalur lalu lintas yang mengakibatkan area sekitar menjadi macet total.


Khairil yang melihat itu langsung memejamkan matanya seakan trauma dengan apa yang telah menimpanya.


Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di rumah sakit tempat Jizah dirawat. Azzam dan Rasyid telah menunggu mereka sedari tadi.


"Kenapa lama sekali?" Tanya Rasyid


"Waalahi tadi dijalan macet sekali bang." Jawab Ali


Mereka berjalan sedikit cepat menuju ruang ICU. Khairil, dengan tertatih-tatih ia berjalan dan dengan air mata yang menetes dengan sendirinya.


Setelah sampai di ruang ICU, Aisyah langsung memeluk Naura. Sementara Zurran langsung berlari berhambur memeluk Khairil.


"Umma bang, Umma." Ucap Zurran


"Abang lalai, Abang nggak bisa hati-hati dan Abang telah membuat Umma kayak gini, ini semua salah Abang." Ucap Khairil mengeratkan pelukannya


Kedua anak laki-laki itu menangis tersedu-sedu. Mau bagaimanapun, kini tinggallah Jizah orang tua mereka satu-satunya. Jangan dulu Allah pisahkan mereka dengan kematian. Mereka belum sanggup jika harus merasakan kehilangan orang tua yang sangat dihormati, disayangi dan dicintai.


"Bagaimana, apa dokter belum juga keluar dari dalam?" Tanya Aisyah sembari menghapus air matanya

__ADS_1


"Tadi suster sempat keluar untuk mencari dokter lainnya." Jawab Naura, dan itu artinya keadaan Jizah benar-benar sedang tidak baik-baik saja.


Khairil dan Aisyah langsung terduduk lemas. Mereka hanya bisa berdo'a dan berharap semoga semuanya baik-baik saja.


Beberapa menit kemudian, keluarlah tiga dokter dan beberapa perawat. Raut wajah mereka tampak sangat lelah.


"Bagaimana keadaan Umma saya dok?" Tanya Khairil tak sabar


"Alhamdulillah, pasien sudah melewati masa kritisnya. Tapi, kita masih harus merawatnya diruang ICU sampai benar-benar keadaannya membaik." Ujar dokter laki-laki spesialis jantung


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah." Ucapan syukur terucap dari bibir mereka masing-masing yang mendengar


Khairil dan Zurran seketika langsung melakukan sujud syukur atas apa yang telah Allah beri. Ini semua terjadi atas kehendak-Nya, atas izin-Nya. Tugas manusia hanya mensyukuri dan menerima apa-apa yang Allah takdir kan adalah tanda bahwa Allah begitu menyayangi setiap hamba-Nya.


"Apa kami bisa melihat Umma kami dok?" Tanya Khairil


"Baik, terima kasih banyak dokter." Ucap Naura


Kini, Aisyah, Naura, Khairil dan Zurran saling memandang satu sama lain. Seolah bertanya siapa diantara mereka yang akan masuk kedalam menemui Jizah. Shafiyyah, yang paling dewasa disana paham bahwa ada sesuatu yang harus ia putuskan. Ia melirik kearah suaminya dan Aska yang mengerti pun langsung menganggukkan kepalanya.


"Hhmm begini, sedari tadi Ammah Jizah sangat mengkhawatirkan Khairil dan selalu memanggil namanya. Bagaimana kalau Khairil dan Zurran saja yang terlebih dahulu masuk kedalam. Dan sisanya, kita berdo'a saja semoga dengan segera Ammah Jizah dipindahkan diruang rawat inap. Agar sama-sama kita bisa menyemangati beliau." Ujar Shafiyyah dengan hati-hati


"Iya kak, lebih baik Khairil dan Zurran saja dulu yang menemui Umma." Ucap Aisyah menyetujui dan begitu juga dengan Naura yang tersenyum lalu menganggukkan kepalanya


Akhirnya, Khairil terlebih dahulu yang masuk kedalam ruang ICU baru nanti setelah itu Zurran.


...----------------...


Perlahan Khairil berjalan mendekati tempat tidur Jizah. Tubuhnya dipasangi beberapa alat medis yang Khairil tak mengerti itu apa. Yang pasti, alat-alat itu sangatlah penting untuk Jizah saat ini.

__ADS_1


"Rasanya begitu sakit hati dan luka ini ya Rabb, saat melihat wanita yang telah melahirkan hamba ke dunia ini terbaring lemah karena memikirkan hamba." Batin Khairil


Dengan hati-hati ia mengecup punggung tangan ibundanya yang terpasangi infus. Air mata sudah sedari tadi dibiarkan mengalir dengan sendirinya. Laki-laki manapun pasti akan menangis bila ratu hatinya sedang tidak baik-baik saja.


"Umma, maafin Khairil ya? Umma seperti ini pasti karena terlalu memikirkan Khairil. Khairil memang tidak bisa jadi anak yang bisa membanggakan Umma dan almarhum Abba. Khairil hanya selalu bisa membuat kalian khawatir. Umma? Khairil belum siap jika harus kehilangan Umma saat ini. Sekarang Umma cepat membaik ya? lihat, Khairil nggak apa-apa, Khairil sehat dan insya Allah tidak kurang suatu apapun. Umma.... maaf." Khairil tak sanggup lagi berlama-lama seperti ini dengan menangis. Ia tidak ingin mengganggu Jizah ataupun pasien lainnya yang berada disana.


Dikecupnya kening wanita yang begitu ia cintai. Samar-samar ia bisa melihat kalau Jizah tersenyum walau dengan mata yang masih terpejam.


"Khairil sayang Umma karena Allah. Jangan dulu tinggalkan Khairil ya? cepat kembali sehat seperti sedia kala. Khairil tinggal dulu ya Umma? sebentar lagi Zurran bergantian yang akan masuk." Ucap Khairil dan sebelum keluar meninggalkan Jizah, ia kecup lagi kening serta punggung tangan wanita itu.


Setelah Khairil keluar, tak lama masuklah Zurran kedalam. Beberapa kali ia seka air matanya, namun hal itu tak bisa ia hentikan dengan sempurna.


Dengan bibir sedikit kelu dan bergetar, "Umma..." dipeluknya dengan hati-hati wanita yang telah melahirkannya.


Zurran ingat betul, dulu almarhum Mufid pernah bercerita padanya kalau kehadiran Zurran sempat belum diinginkan kehadirannya oleh Jizah. Namun hal itu justru tak membuat Zurran membenci Umma nya, melainkan ia semakin cinta dengannya. Sikap Jizah yang lemah lembut dan penuh kasih sayang dan jarang sekali marah terhadap anak-anaknya, membuat Zurran yakin bahwa di dunia ini wanita terbaik dalam hidupnya adalah ibundanya.


"Umma cepat membaik ya? Do'a Zurran akan ada selalu untuk Umma. Seperti ridho Umma yang selalu ada untuk Zurran. Zurran sangat menyayangi Umma. Jangan tinggalkan Zurran sekarang, bila Abba sudah menunggu Umma di surgaNya? bila sama Abba, untuk bersabar sebentar lagi." Zurran menumpahkan seluruh air matanya. Dia adalah anak laki-laki yang begitu manja dengan Jizah. Sifatnya yang hampir serupa dengan Mufid sempat membuat Khairil iri. Tapi berkat Jizah, ia berusaha mungkin untuk jadikan seluruh anaknya sama, tanpa membedakan.


Siapapun di dunia ini, pasti belum sanggup jika harus kehilangan seseorang yang sangat dicintai.


Sudah cukup, kehilangan separuh jiwa, jangan dulu dihilangkan keduanya.


Percayalah, jodoh, rezeki, maut telah Allah tetapkan dengan sebaik-baiknya ketetapan. Seberat apapun musibah yang Allah beri, itu adalah nikmat yang wajib disyukuri.


...“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan."...


...QS. Al-insyirah : 6...


Jangan lupa like, komen dan vote Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2