Khairil : Harapan & Cinta Sejati

Khairil : Harapan & Cinta Sejati
Bab 11 | Mencari Zurran


__ADS_3

...“Mau bagaimanapun sikap seorang kakak terhadap adiknya, ia tetaplah menyayanginya dengan caranya sendiri.”...


...----------------...


Sudah hampir satu jam Khairil berada di pintu luar kampus menunggu Zurran, adiknya. Entah sudah berapa puluh kali ia menelpon Zurran namun tak jua ada jawaban.


"Kemana sih tuh anak? mana disini banyak nyamuk." Gerutu Khairil sembari tangannya menggosok bekas gigitan nyamuk


"Pak, ngapain?" Tanya seseorang mengagetkan Khairil


"Astagfirullahal'azhim... ngagetin aja sih pak? untung saya nggak jantungan."


"Hehe maaf pak, bapak mau apa disini? Ini sudah mau jam dua belas loh pak." Ucap orang tersebut yang ternyata adalah satpam kampus


"Saya belum jadi bapak-bapak, panggil aja Aa' atau abang. Oh ya, didalam kira-kira masih ada yang belajar nggak ya pak? saya nunggu adik saya. Belum pulang kuliah dari pagi."


"Didalam sudah tidak ada siapa-siapa A'. Kampus sudah sepi dari sore. Mungkin adik Aa' nya pergi kemana dulu kitu. Coba ditelepon, takutnya terjadi apa-apa nantinya." Jelas Pak Satpam itu


"Sudah saya teleponin dari tadi pak. Ya sudah saya pamit dan terima kasih ya, assalamualaikum." Khairil bergegas meninggalkan kampus tempat Zurran kuliah dan akan mencarinya ditempat lain


...----------------...


Sementara itu, ditempat lain. Zurran tengah membuatkan pesanan kopi milik pelanggan. Rupa-rupanya laki-laki itu bekerja disebuah cafe tanpa sepengetahuan dari keluarganya. Entah bagaimana nanti, jika kedua kakak dan abangnya tahu bahwa ia bekerja. Sudah pasti ia akan mendapatkan cercaan yang tidak mengenakkan.


"Bang, kira-kira kita pulang jam berapa ya? Ini sudah malam. Saya takut, orang rumah khawatir karena saya belum pulang." Ucap Zurran pada temannya setelah ia mengantarkan pesanan


"Helehh kamu mah, yang namanya kerja itu? Jangan tanya pulangnya kapan. Jalanin aja. Lagipula ini cafe tutup nanti kalau udah jam satu. Lihat aja tuh, makin malem makin rame." Ujar temannya yang bernama Dafa, sembari pandangannya mengarah ke para pengunjung


Akhirnya, Zurran memilih duduk dan mengecek handphonenya yang sedari tadi ia matikan agar tak mengganggu pekerjaannya. Dilihatnya ternyata banyak panggilan masuk dari Khairil ataupun Aisyah. Ia sudah menduga hal ini.


"Pasti mereka semua khawatir. Apa ku coba telepon balik kali ya? Tapi nggak mungkin. Nanti kalau mereka sampai tau aku kerja, yang ada habis aku dimarahi." Batin Zurran


Ya, Zurran baru lima hari bekerja di cafe tersebut dan hari ini adalah hari pertamanya shift malam. Pasalnya, beberapa hari sebelumnya ia bekerja pada siang hari setelah kuliah dan pulang ketika waktu isya'tiba.

__ADS_1


Saat satu-persatu para pengunjung mulai meninggalkan cafe, Zurran langsung membereskan meja tersebut. Membawa masuk gelas bekas sisa kopi kedalam dan tak lupa ia bersihkan meja tersebut dengan kain.


"Hehh! luh yang tadi bikinin pesenan gua kan?" Tanya seseorang dengan amarah mengagetkan Zurran


"Iya pak, tadi saya yang buatkan pesanan bapak. Apa ada yang perlu ditambahkan?" Tanya Zurran ramah


"Tambah-tambah! Tambah sakit perut yang ada gua ntarnya. Asal luh tau ya? kopi buatan luh tadi tuh kayak racun buat gua. Sekarang perut gua sakit habis minum kopi buatan luh. Jadi karyawan tuh yang be*cus kalo kerja. Jangan mau nyelakain orang." Ucap orang tersebut yang terus memaki-maki Zurran


Zurran hanya bisa terdiam menerimanya. Membantah pun percuma. Semua orang yang melihat dan mendengar itu telah ikut mencemooh dirinya.


"Pak, semuanya? saya meminta maaf jika ada layanan dari kami yang kurang berkenan. Dan jika perut bapak masih terasa sakit? kami berkenan untuk mengantarkan bapak ke rumah sakit dan membayar semua biaya perawatannya. Maafkan kesalahan teman saya ya?" Ucap Dafa sembari mengatupkan kedua tangannya


Laki-laki itu terdiam tak berkutik. Sebab, dirinya tidak merasakan sakit perut atau apapun. Hanya ingin makan dan minum gratis saja. Orang-orang yang tadi ikut menggunjing Zurran tak luput memandang laki-laki itu.


"Wohh ternyata bapaknya tukang fitnah. Dasar!"


"Ihh dasar nggak tau malu."


"Kasihan si adeknya itu."



"Yang sabar ya Zurr?" Ucap Dafa menenangkan


"Iya nggak apa-apa bang. Makasih ya bang, Abang udah nolong saya. Dan nanti yang tadi bapak itu pesen, biar saya aja yang bayar." Ujar Zurran


"Udah lah, itu mah gampang. Udah bisa diliat orang kayak tadi mah maunya gratisan doank." Ucap Dafa


...----------------...


Khairil yang telah lelah mencari keberadaan adiknya itu, akhirnya memilih singgah di sebuah warung. Sudah mencari Zurran ke rumah temannya yang ia kenal tapi tidak ada dari mereka yang memberitahu kebenarannya. Taman tempat biasa Zurran mengerjakan tugas pun sudah ia datangi dan sudah pasti tidak ada seorangpun disana.


"Bu, es teh hangat nya satu ya gulanya satu sendok aja." Ucap Khairil pada pemilik warung tersebut

__ADS_1


Ibu itu terdiam sejenak, apa yang Khairil pesan tadi? Es teh hangat? siapa yang jual minuman itu ya? si ibu tidak merasa menjual minuman itu.


"Punten A', ibu te jualan es teh hanet. Ayana teh hanet atawa es teh. Coba lamun Aa' na bade milarian es teh hanet? bisa di warung nu lainna, sugan we aya nu jualan."¹ Ucap Ibu warung tersebut


Seketika Khairil tertawa dan menyadari apa yang telah ia tanyakan "Hahaha, astagfirullah... hampura Bu. Abdi teu fokus."²


"Ntos diduga, los hoyong pesen naon? teh hanet nya?"³ Tanya ibu itu lagi dan Khairil menganggukkan kepala sebagai jawabannya


Sembari menunggu teh hangat pesanannya. Tiba-tiba saja mata Khairil tertuju pada dua orang pemuda yang sedang berjalan. Satu diantara mereka nampak tak asing baginya.


"Zurran?!" Teriak Khairil memanggil adiknya dan dengan cepat Zurran berjalan kearahnya


"A-abang? kenapa ada disini?" Tanya Zurran terbata-bata dan tidak berani menatap Khairil yang terlihat marah dengannya


"Bagus... Kamu nanya Abang ngapain disini? Abang lagi santai-santai yang kayak kamu lihat. Tapi setelah mencari dimana adiknya yang belum pulang sedari pagi! Kemana aja kamu seharian gini? Hah." Khairil menarik kerah baju Zurran dengan amarahnya


"Maaf bang, Zurran pulang kuliah langsung kerja tadi." Jawab Zurran takut


"Alasan! Sudah ayo sekarang kita pulang. Jangan sampai Umma tahu kalau kamu belum ada dirumah jam segini." Khairil menarik Zurran menaiki motornya


"Aduh A' teh na kumaha ieu?"⁴


"Oh iya Bu, ini saya bayar dan tehnya kasih ke dia aja." Khairil mengeluarkan dua lembar lima ribu dan meminta ibu tersebut memberikan tehnya untuk Dafa yang sedari tadi diam mendengarkan


...----------------...


¹ Maaf A' ibu tidak jual es teh hangat. Adanya teh hangat atau es teh. Tapi kalau Aa' mau cari es teh hangat? bisa coba cari di warung lain. Siapa tahu ada yang jual.


² Maaf Bu, saya tidak fokus.


³ Sudah saya duga, ya sudah mau pesan apa? Teh hangat ya?


⁴ Aduh A' tehnya bagaimana ini?

__ADS_1


Sebelumnya ku meminta maaf ya teman-teman, judul dan cover nya ku ganti. Semoga kalian tetap suka dan selalu mendukung ku.


Jangan lupa like, komen dan vote bunga please. Terima kasih ❤️


__ADS_2