Khairil : Harapan & Cinta Sejati

Khairil : Harapan & Cinta Sejati
Bab 28 | Harapan dan Ekspektasi


__ADS_3

..."Harapan dan Ekspektasi......


...Kedua kata itu sepertinya hampir sama. Sama-sama dari makhluk yang terlalu berambisi.”...


...----------------...


Sebelumnya ku ingin kalian jangan berharap lebih dengan novelku untuk beberapa bulan ke depan sepertinya. Kegiatan ku sebagai pelajar dengan banyak pembelajaran yang tertunda sangatlah membutuhkan banyak waktu untuk melakukannya. Ku tidak bisa memastikan berapa hari/Minggu/bulan hal seperti ini berjalan. Yang pasti ku ingin lebih fokus terhadap masa depan. Setelah sudah lebih satu bulan lamanya tidak mendapatkan kepastian dari pihak NT atas kontrak yang aku ajukan. Jadi ku lebih baik fokus untuk terus belajar.


Maaf, mungkin ku sudah sangat banyak mengecewakan kalian. Maka ku bebaskan kalian dengan atau tidak perlu lagi menambahkan novel ini ke daftar favorit. Sekali lagi ku mohon maaf dan sangat-sangat berterimakasih atas semua dukungan dan masukkan dari kalian semua. Do'akan saja segalanya Allah beri kemudahan 🙏


...*Salam Hormat...


...---...


...J*...


......................


......................


......................


"Walaupun saya baru pertamakali lihat wajah ustadz? Tapi kok saya seperti pernah lihat gitu, dimana ya?" Khairil mencoba mengingat apakah ia pernah melihat Hasan atau tidak. Zurran yang mendengar itu langsung mendekatkan dirinya ke telinga Khairil. "Please... Abang jangan S-K-S-D! Sok Kenal, Sok Deket! Jangan buat adek malu..." bisik Zurran


"Iyaa adek ku sayang..."


Rendy dan teman-temannya terkekeh mendengar ucapan Khairil. Abang–adik itu selalu seperti itu sedari dulu, tidak berubah.


Hasan tersenyum, "Saya dulu hanya ingat kakak perempuan kamu yang pernah saya temui. Dulu dia masih kecil, kira-kira umurnya tiga setengah tahun sepertinya, sama seperti putra saya. Dan yang saya ingat dulu itu... Abba kamu dapat telepon kalau tidak salah, dan mendapat kabar kalau Umma kamu mau melahirkan." Jelas Hasan dengan ingatannya

__ADS_1


"Iyaa, itu kabar anak ini mau lahir. Nyusahin dia pas mau lahir. Mana lahirnya di kampung orang kan? Kita-kita yang ada di Jakarta–Tangerang yaa cuma bisa berdo'a dan tunggu dia pulang, ya kan?" Rendy menyahuti lalu melirik para sahabatnya dan mendapat anggukan


Zurran menatap dekat-dekat wajah Khairil, "Ih...anak nyusahin!" Ucap Zurran mengejek


"Yehhh anak yang nggak di harapin!" Khairil menanggapi dengan sengit


"Nggak usah ribut lagi..., nggak tau malu ya?" Bagus menengahi kedua anak laki-laki menjengkelkan itu. Beberapa jam dirumah Jizah sudah membuatnya pusing seperti bermain dengan cucu-cucunya. Bagaimana bisa sahabatnya itu begitu sabar setiap hari bersama anak-anak seperti Khairil dan Zurran.


Khairil dan Zurran sama-sama diam tertunduk. Tak ada yang berani membantahnya. Rendy, Riandi dan Zaki hanya bisa menggelengkan kepala mereka.


"Kalian suka atau hobi bertengkar?" Tanya Hasan


"Ya Allah ustadz, pake segala ditanya. Berantem mah udah kegiatan sehari-hari mereka berdua. Dari kecil sampe sekarang nggak ada perubahan seratus persen! Cuma beberapa persen aja. Itu pun baru terjadi setelah Abba mereka udah nggak ada. Ya terkadang memang sering terjadi, ketika kita kehilangan seseorang atau sesuatu yang begitu berharga barulah manusia itu bisa memiliki perubahan. Mungkin, mereka memang mau kehilangan kedua-duanya supaya tau rasanya saling merangkul satu sama lain sesama saudara kandung." Tutur Rendy dengan gamblang.


"Ayah...?"


"Ren...?"


Mata Khairil memerah, tangannya mengepal kuat, dadanya bergemuruh. Ia bangkit dari duduknya dengan amarah yang tertahankan, "Demi Allah Khairil katakan! Ayah boleh saja kesal dengan ulah dan sikap kami berdua. Tapi tolong jangan katakan bahwa kami ingin kehilangan Umma seperti kehilangan Abba!" Ujar Khairil tak terima. Ingin rasanya ia berkata lebih daripada itu. Tapi ia masih mengingat, bahwa Rendy jugalah orangtuanya.


Sebelum meninggalkan ruang tamu, Khairil menatap satu-persatu orang yang berada disana. "Kalian tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang pemimpin dalam sebuah perjalanan panjang kan? Inilah yang kami rasakan. Bukan cuma kami, tapi Umma. Beliau yang begitu terpuruk dengan kondisi ini. Kami memohon pada Allah agar tidak tersesat dalam perjalanan panjang ini. Tapi inilah kenyataan yang terjadi. Saya sebagai kepala rumah tangga pengganti Abba memang belum siap menerima amanah yang begitu besar ini. Sebab saya tidaklah seperti harapan dan ekspektasi kalian!" Setelah mengatakan hal itu Khairil keluar dari rumah dengan membawa kunci mobilnya


Bagus dan Zaki berusaha mencegahnya untuk tidak pergi, tapi percuma, pemuda itu butuh waktu untuk sendiri. Sementara Riandi, ia langsung memeluk Zurran yang menangis setelah Rendy berbicara. Ia sama kecewanya seperti Khairil. Tapi ia tidak ingin pergi dari rumah dalam keadaan emosi.


Zurran melepaskan pelukannya dari Riandi dan menatap wajah pamannya. "A-ayah? Zurran paham apa maksud dari perkataan ayah. Tapi Zurran mohon, jangan berekspektasi terlalu tinggi kepada Zurran atau Abang Khairil. Kami sangat menghormati ayah, tapi sepertinya kami salah mengira bahwa kami akan dihormati juga." Sama halnya seperti Khairil, Zurran langsung meninggalkan ruang tamu namun memilih masuk kedalam kamarnya.


Setelah kepergian Zurran, para laki-laki paruh baya yang sedang berkumpul itu langsung memarahi Rendy atas ucapannya. Dan dengan mudahnya laki-laki itu menjawab, "Udahlah... mereka udah sama-sama dewasa, itu cuma lagi emosi aja. Ntar juga biasa lagi. Mereka udah biasa kayak gitu ke gue."


"Ya, mereka memang sudah dewasa.Tapi di mataku mereka tetap anak-anak. Dan kamu? Seharusnya sebagai orang tua mestinya paham dengan kondisi hati mereka. Jangan dengan mudahnya kamu berbicara seperti itu." Mereka semua terkejut dengan kedatangan Jizah yang ternyata sedari tadi mendengarkan semuanya

__ADS_1


"Zah? Bukan gitu maksud gue. Khairil sama Zurran tuh jangan dibiarin buat bikin keributan terus. Ini semua demi kebaikan luh dan anak-anak luh yang lainnya. Ingat kesehatan luh Zah. Gue nggak mau luh harus stress terus menerus karena ulah dan sikap Khairil sama Zurran. Ini semua karena gue sayang sama luh." Ujar Rendy, berharap Jizah tak salah paham.


"Kamu tahu penyakit ku kan Ren? Kesehatan ku belum juga stabil seperti dulu kala. Anak-anak paham dan sangat peduli dengan kondisiku. Dan hal itu sudah jelas mereka belum siap untuk kehilangan diriku. Lagipula... anak mana yang mau kehilangan kedua orangtuanya? Bukan hanya mereka yang tidak ingin kehilanganku. Tapi aku juga belum sanggup meninggalkan mereka." Ucap Jizah setelah itu ia menangis tersedu-sedu dan dengan segera Rendy memeluknya


"Maaf, maafin sikap gue Zah."


Suasana haru menyelimuti ruang tamu. Rendy terus mengucapkan kata maaf dan membiarkan Jizah menangis dalam pelukannya agar ia tenang.


"Sakit apa yang kamu derita sebenarnya Zah? Mengapa ujian berat selalu datang menghampirimu? Bisakah kamu berbagi kepadaku? Seperti masa remaja kita dahulu. Bila kamu memiliki kesulitan, maka aku akan selalu ada buat kamu." Hati Riandi berbicara dengan mengingat masa-masa dirinya bersama Jizah dulu, yang dimana wanita itu ialah cinta pertamanya.


"Ya Rabb? Aku tidak bisa banyak membantu Jizah dan anak-anaknya. Tapi Aku memohon padaMu, lindungilah mereka selalu dalam keadaan apapun." Batin Hasan memohon


......................


...----------------...


...----------------...


Ya, begitulah kehidupan.


Terkadang harapan dan ekspektasi manusia begitulah banyak. Sebab mereka seakan lupa bahwa Allah telah menggariskan jalan kehidupan pada setiap hambaNya.


Boleh jadi kau membenci sesuatu tapi apakah kau tahu bila ada kebaikan besar di dalam dan setelahnya?


Sama halnya dengan seorang anak yang dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua yang baik, belum tentu mereka memiliki sifat yang sama. Sebab sifat tidaklah bisa diturunkan dari orang tua, melainkan harus terus dibentuk dan diarahkan agar dapat sejalan.


Satu pesanku terhadapmu,


Berharap pada makhluk hanya akan terus membuatmu sakit. Karenanya berharap lah hanya kepada Allah SWT yang memiliki dunia dan seisinya.

__ADS_1


Terima kasih jangan lupa like, komen, vote, dan lempar bunga sebanyak-banyaknya.


__ADS_2