Khairil : Harapan & Cinta Sejati

Khairil : Harapan & Cinta Sejati
Bab 26 | Teman-teman Umma


__ADS_3

...“Bila tangisan adalah sakit mu? Maka ku membuat kau tertawa adalah obatnya. Dan itu adalah hal wajib dariku untukmu bisa bahagia.”...


...----------------...


Suasana pagi hari saat-saat matahari mulai terbit adalah yang paling dinanti-nantikan oleh orang-orang disekitar rumah Jizah. Setelah malam tadi telah terjadi hujan deras dengan angin yang cukup kencang. Menumbangkan beberapa pepohonan yang berada di persimpangan jalan raya.


Setelah drama keributan antara Khairil dan Zurran kemarin. Membuat Rendy akhirnya dengan berat hati memundurkan satu hari kedatangan teman-temannya kerumah Jizah. Keluarganya pun memutuskan untuk menginap beberapa hari dirumah Jizah.


Pagi ini, beberapa macam makanan khas Sunda telah tersaji di meja makan dengan rapih dan terlihat sangat menggiurkan. Semua makanan itu dimasak oleh para wanita dengan cepat sedari selesai shalat subuh. Jizah yang keluar dari dapur melihat Zurran yang tampak terburu-buru dengan ransel dipunggung nya.


"Zurran? Mau kemana nak, kok buru-buru banget kayaknya?" Tanya Jizah menghentikan langkah Zurran


Zurran berbalik, "Iya Umma, maaf Adek pagi ini harus temuin dosen pembimbing di cafe dekat rumahnya. Jadi, nanti adek nggak apa kan, kalau nggak bisa temuin temen-temen Umma?"


"Hhmm kenapa mendadak? Kemarin kamu bilang sama Umma, nggak ada urusan sama dosen untuk hari ini?"


"Iya, maaf Umma. Abang juga dapet kabarnya memang mendadak. Karena katanya beliau, untuk beberapa minggu ini akan pergi keluar kota buat berlibur."


"Kenapa nggak disuruh kesini aja dosen kamu nya itu Zurr? Hitung-hitung bentuk terima kasih kita buat dia karena udah mau jadi dosen pembimbing dari anak bar-bar kayak kamu." Ujar Rendy yang datang bersama Khairil dari luar. Mereka baru saja mendatangi kebun yang berada di belakang rumah Jizah untuk mengambil sereh dan jahe, biang keributan kemarin.


"Zurran nggak bar-bar ayah... cuma khilaf. Dan lagipula mana mau dosen Zurran datang ke sini?" Ucap Zurran yang malas jika masalah kemarin masih diungkit lagi


Khairil berjalan santai masuk kedalam, melewati Rendy dan Zurran, lalu mencium kening Jizah yang tak pernah bosan ia lakukan. Dirinya dan Zurran memang sudah berbaikan. Tapi untuk menghilangkan rasa kesal, masih butuh waktu pikirnya.


"Emangnya siapa sih, dosen kamu Zurr?" Tanya Rendy


"Pak Hasan Syahid, Yah. Beliau orangnya tuh terlalu tegas. Nggak asik banget lah pokoknya." Jawab Zurran

__ADS_1


"Hushh kamu nggak boleh gitu Zurran. Mau bagaimanapun beliau mengajar? Itu demi kebaikan kamu." Ujar Jizah menasihati


Sementara Rendy terdiam mengingat nama yang disebutkan oleh Zurran tadi seperti tidak asing ditelinga nya. Ia menatap Jizah sembari mengingat-ingat. "Apa dia seumuran sama ayah?" Tanya Rendy yang seolah ingat siapa dosen yang dimaksud Zurran


"Iya Yah, beliau seumuran ayah atau bahkan kalau Abba masih ada mungkin kalian bertiga satu generasi. Udah deh Yah, Umma? Zurran berangkat dulu. Keburu telat. Assalamualaikum." Zurran mencium punggung tangan Jizah dan Rendy bergantian


"Waalaikumsalam warahmatullahi, hati-hati."


"Kalau sudah selesai suruh dosen kamu itu datang kesini Zurr, bilang ke dia temannya rindu." Ucap Rendy sebelum motor yang dikendarai oleh Zurran keluar dari halaman rumah. Zurran mendengar perintah ayahnya, namun entah ia akan mengatakannya atau tidak. Lagipula siapa tadi, teman? Apa iya dosen pembimbingnya itu teman Rendy?


Jizah menatap Rendy penuh intimidasi, "kamu asal ngomong pasti ya? Kalau dosennya Zurran itu teman kamu?" Tanya Jizah


Sembari merangkul Jizah masuk, "bukan cuma temen gue. Tapi lebih tepatnya itu teman kita." ucapnya


"Nggak tau deh, ku lupa." Jizah melepaskan rangkulan Rendy dan berjalan kembali menuju dapur


...----------------...


Buah-buahan dan aneka kue, telah terhidang di meja ruang tamu tak lupa dengan minumannya. Rasa sesal membuat Riska sedari tadi memeluk sahabatnya yang baru ia ketahui ternyata sedang tidak baik-baik saja. Namun, penyesalan bukan hanya terdapat pada dirinya tapi juga kepada Riandi, Bagus dan Zaki. Mereka menyesal, mengapa setelah Mufid tiada mereka semua tak lagi seperti dulu? Namun, ya. Penyesalan tetaplah penyesalan. Mau diubah bagaimana? Itu tidak akan mungkin.


"Ayo kamu makan yang udah tersedia disini. Jangan peluk-peluk aku terus dong Kaa. Ini semua yang beli Khairil sama Zurran kemarin, sampai mereka bertengkar loh." Ujar Jizah yang belum juga bisa lepas dari pelukan Riska


"Sampai bertengkar?" Tanya Riska melepaskan pelukannya


"Ya, karena masalah jahe sama sereh aja sih. Tapi, kamu tahu sendiri lah dari kecil mereka berdua tuh gimana." Ujar Jizah dan dibenarkan oleh Rendy yang datang dari belakang setelah membantu Khairil mengambil beberapa butir kelapa muda untuk diminum bersama-sama


"Nih, anaknya yang suka memancing keributan." Ucap Rendy menarik Khairil untuk duduk disampingnya

__ADS_1


"Apa sih Yah," Khairil mencium satu-persatu punggung tangan bapak-bapak dihadapannya. Dan ia sedikit kaku saat mencium punggung tangan Riandi.


"Apa kabar om?"


"Baik, Alhamdulillah."


"Kenapa masih suka bertengkar?" Tanya Riandi yang melihat jelas sorot mata Khairil yang tidak biasa terhadapnya


Sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Ya gimana ya om, namanya juga anak muda, saya masih suka emosian." Jawabnya


"Ya om tahu itu," Riandi tertawa mendengarnya


"Kamu tahu Ril? Dulu, waktu acara aqiqah kamu? Kita semuanya beranggapan kalau kamu bakal jadi anak bungsunya Jizah dan Kak Khairul. Tapi ternyata... saat kita dapet kabar kamu udah mulai belajar jalan, kita juga dapet kabar kalau kamu mau punya adik. Dan saat itu juga tante speechless. Antara kaget, bahagia dan bersyukur tuh jadi satu." Riska bercerita dengan semangatnya dan Khairil mendengarnya dengan antusias


"Ya, bener banget. Nauval yang waktu itu udah berumur lima tahun aja belum punya adik. Tapi kamu yang baru berumur sepuluh bulan sudah mau punya adik. Itu sih Masya Allah banget. Memang, yang namanya kehadiran tambahan manusia baru dengan cepat itu nggak semua orang menerima. Tapi kehadiran calon adik kamu pada saat itu keliatan banget kalau kamu menerima dia. Yaa walaupun kamu masih kecil dan nggak tahu apa-apa." Ujar Zaki menambahkan


Khairil terdiam. Melihat para orang tua dihadapannya saling bercerita tentang masa kecilnya. Ia jadi bertambah bersyukur memiliki seorang adik, walaupun menyebalkan. Dilihatnya juga wajah ibundanya yang berseri dengan tertawa lepas seolah tak memiliki beban. Entah kapan terakhir kali ia melihat tawa dan senyum itu dengan lepas, setelah beberapa bulan yang sulit dan harus dijalani oleh seorang Jizah hingga sekarang.


"Umma? Ternyata membuat Umma bahagia tidak sesulit yang Khairil pikirkan. Melihat Umma bisa tertawa seperti ini adalah suatu kebahagiaan yang tak tergambarkan bagi Khairil. Bila tangisan adalah sakit mu? Maka ku membuat kau tertawa adalah obatnya. Dan itu adalah hal wajib dariku untukmu bisa bahagia. Khairil sangat menyayangi Umma, sampai kapanpun."


Suara berisik motor Vespa tiba-tiba terdengar ikut memasuki halaman rumah Jizah setelah tadi motor Zurran terlebih dahulu terparkir. Semua orang yang sedang diruang tamu pun saling pandang.


Motor siapa yang mengikuti Zurran?


Apa Zurran membawa temannya dengan motor berisiknya itu? Harus dikasih pelajaran lagi. Pikir Khairil lalu keluar untuk melihatnya


Terima kasih, jangan lupa like, komen dan lempar bunga untuk next bab

__ADS_1


__ADS_2