Khairil : Harapan & Cinta Sejati

Khairil : Harapan & Cinta Sejati
Bab 25 | Gara-gara Jahe dan Sereh


__ADS_3

...“Perkara kecil bisa menjadi besar, bila ego yang menjadi kawannya.”...


...----------------...


Khairil dan Zurran pergi ke sebuah minimarket untuk membeli berbagai macam makanan ringan dan beberapa jenis minuman. Dengan teliti keduanya mencari makanan apa saja yang cocok untuk orang tua. Tidak keras, rendah gula dan tentunya harus yang enak menurut mereka.


"Bang? Emang keripik singkong, teman-teman Umma bisa makan nya? Nanti kalau nyelip di gigi mereka gimana? Adek nggak mau tanggung jawab loh ya." Zurran sedang melihat isi keranjang yang Khairil serahkan padanya


Khairil memandang heran wajah adiknya, "kamu gimana sih Zurr? Udah pasti yang kayak gini buat kita lah. Lagipula mana kuat temennya Umma yang waktu itu datang ke rumah sakit, makan ginian? Yang ada..." Khairil berhenti berbicara saat matanya menatap seorang wanita yang tak asing lagi baginya.


"Cantik."


"Apa sih Bang? Yang cantik siapa? Masa temennya Umma yang laki-laki itu, cantik? Ih Abang dah gila ya?" Tanya Zurran yang tak ditanggapi oleh Khairil. Mata Zurran pun akhirnya mengikuti kemana mata Khairil tertuju. Dilihatnya ada dua pegawai laki-laki yang sedang menyusun barang-barang toko. Zurran menganga, apakah abangnya ini sudah tidak normal?


"A..abang se-serius mereka berdua yang ca-cantik?" Tanya Zurran dengan hati penuh harap dan do'a semoga Khairil masih berada di jalan yang diridhoi-Nya.


"Apa sih Zurr? Kamu kali yang nggak normal." Ucap Khairil meninggalkan Zurran dengan membawa keranjang belanjaan


Wanita yang Khairil liat tadi adalah Fifah. Beruntungnya Zurran tak melihat temannya itu, jika sampai Zurran melihat? Maka habislah Khairil dengan banyak pertanyaan.


"Tapi, kenapa dia cepet banget ilang nya ya? Padahal disini ada Zurran. Atau jangan-jangan tadi, ku yang salah liat? Ah enggak, itu beneran dia." Batin Khairil dan segera berlari kearah kasir saat mendengar teriakan Zurran yang memanggilnya


...----------------...


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullahi," jawab Ruby yang sedari tadi menunggu kedua sepupunya itu


Kedua kakak-beradik itu berjalan masuk kedalam rumah dengan masing-masing membawa tas belanjaan yang penuh dengan makanan dan minuman. Wajah Zurran yang sedang cemberut tampak jelas oleh Ruby. Ia menatap Khairil yang berada dibelakangnya seolah bertanya melalui mata.


"Tadi di pasar ada akang-akang jualan asinan dan dia kepengen. Tapi pas mau beli ternyata udah habis." Jelas Khairil dengan malas. Dirinya berpikir Zurran terlalu ke kanak-kanakan untuk suatu hal yang tidak penting menurutnya.

__ADS_1


Ruby bingung, ia harus tertawa atau kasihan dengan Zurran. "Hhmm nanti ku buatin deh buat Abang Zurran, mau nggak?" tanya Ruby menatap Zurran yang sedang terduduk diam di meja makan yang penuh dengan barang belanjaan yang tadi ia bawa.


"Nggak mau! Udah nggak kepengen." Jawab Zurran yang rupa-rupanya masih terlihat sangat kesal.


Zulfah keluar dari kamar Jizah, ia baru saja membantu kakak iparnya itu memilih pakaian yang sudah tidak digunakan lagi untuk nantinya dibawa oleh teman-teman Jizah yang akan datang. Ya, mereka diminta datang oleh Rendy dengan maksud menghibur hati dan diri Jizah. Ia sangat percaya bahwa Jizah akan merasa jauh lebih baik setelah bertemu dengan teman-temannya. Pasalnya sebagian dari mereka memang telah jarang sekali bertemu. Riska misalanya, sahabat perempuan Jizah sedari kecil itu sudah lama sekali tak memperlihatkan diri dihadapan Jizah. Wanita itu tengah fokus dengan membangun bisnis keluarga bersama suaminya, Zaki.


Zulfah memeriksa satu-persatu pesanannya yang tadi dibeli oleh Khairil dan Zurran. Dilihatnya ada kacang Bogor, roti Unyil, bolu lapis talas, dan aneka biskuit serta wafer.


"Kalian ke pasar juga kan, setelah dari minimarket?" Tanya Zulfah kepada kedua anak lelaki dihadapannya


"Iya Bu, tadi kita ke pasar kok. Beli kue-kue ini, kenapa emangnya Bu?" Kata Khairil yang merasa semua pesanan ibunya itu sudah ia beli semua


"Kenapa jahe sama sereh nya nggak sekalian di beli?"


"Tadi Khairil udah bilang ke Zurran buat dia masuk kedalam pasarnya, beli jahe sama sereh di tukang sayur. Eh dia malah nggak mau dan lebih milih nyari tukang asinan." Ujar Khairil melirik kearah adiknya


Dan Zurran yang merasa disalahkan pun bertambah kesal, "Ih Abang kok malah nyalahin aku? Ibu kan nyuruhnya Abang, tapi Abang malah balik nyuruh aku! Ya jadi salah Abang lah!" Ujar Zurran bangkit dari duduknya dengan amarah yang menggebu-gebu


Saling salah menyalahkan dan dorong mendorong pun tak terelakkan. Ruby dibantu adiknya Rumi, mencoba meleraikan namun usaha mereka sia-sia karena justru keduanya ikut terdorong dan hampir jatuh dibuatnya.


"Sudah-sudah! Ayah?!!" Zulfah yang tak bisa berbuat apa-apa akhirnya berteriak memanggil suaminya yang sedang beristirahat dikamar Zurran


Jizah, Rendy dan seluruh penghuni rumah lainnya langsung keluar kearah sumber suara. Dan dengan segera Rendy berlari memisahkan Khairil dan Zurran.


"Kalian kenapa sih? Udah pada gede masih aja suka ribut. Nggak malu sama umur!" Ucap Rendy mampu membuat Khairil dan Zurran terdiam namun dengan emosi yang masih menyelimuti diri masing-masing


Jizah memegangi dadanya yang terasa sesak. Sudah lama kedua anak laki-lakinya tidak pernah bertengkar lagi setelah Mufid tiada. Kenapa sekarang hal ini justru terjadi lagi? Tubuhnya hampir lunglai, beruntungnya Bi Mumun dan Diana langsung membantu Jizah untuk duduk. Mereka takut jantung Jizah kambuh lagi.


"Umma?!"


"Kakak, kenapa kak? Dada kakak sakit?" Zulfah mendekati Jizah dan meminta Bi Mumun untuk mengambilkan air hangat

__ADS_1


Rendy yang takut jantung Jizah kambuh pun langsung menarik tangan Khairil serta Zurran dan membawa keduanya keluar rumah. Dilihatnya ramai orang-orang berlalu lalang dan dengan segera ia menarik kedua keponakannya ke butik Jizah yang memang sedang tahap perapihan.


"Kalian itu kenapa sih? Kasih tau ayah apa yang kalian ributin?" Tanya Rendy


Khairil dan Zurran masih diam tak ada yang ingin menjawab.


"Kok diem? Kenapa, kalian takut?"


"Oke, sekarang begini deh bang? Umur kalian sudah dua puluh tahun keatas. Bukan anak kecil atau ABG lagi. Orang tua kalian sekarang hanya ada Umma, sepupu ayah. Dan tadi kalian liat sendiri kan? Reaksi Umma kalian kayak gimana? Kita ini mau bikin sesuatu yang membuat hati dan pikiran Umma kalian itu kembali seperti sediakala. Bukan malah begini yang buat dia tambah kepikiran," Rendy mengatur nafasnya sebentar. Usianya yang tidak lagi muda seringkali membuatnya harus mengontrol emosi. Mengingat dahulu bila terjadi sesuatu dengan keluarga atau sahabatnya, amarahnya selalu lah yang mendominasi.


"Katanya mau Umma kalian sembuh? Tapi kalau anak-anaknya masih begini ya, buat apa sembuh? Buat ngeliatin kalian ribut, salah-salahan, dorong-dorongan, terus nantinya pukul-pukulan gitu? Iya? Untungnya sekarang ada ayah yang disini. Coba kalau Umma kalian sendirian bingung harus bagaimana memisahkan kalian? Mikir bang, jangan buat masa kecil kalian datang lagi." Ujar Rendy panjang lebar. Ia tak habis pikir mengapa Jizah dan Mufid yang sama-sama pendiam dan berhati lembut memiliki anak-anak yang seperti ini. Terkadang ia merasa iri karena tidak memiliki anak laki-laki tapi ia juga bersyukur karena kedua anaknya tidak memiliki sifat seperti Khairil ataupun Zurran.


"Maaf Yah."


Sebelum Rendy berujar kembali, suara lembut terdengar ditelinga ketiganya.


"Sudah ya, saling memaafkan jauh lebih baik." Ucap Jizah diambang pintu, dengan segera Rendy menggandeng tangannya


"Kamu nggak apa-apa kan?" Tanya Rendy yang khawatir dengan keadaan Jizah


"Alhamdulillah ku nggak apa-apa,"


"Umma tahu kalian sangat sayang sama Umma. Jadi, kalian nggak akan mungkin bertengkar untuk sesuatu yang tidak begitu penting. Betul apa yang ayah kalian bilang. Orang tua kalian tinggal Umma seorang. Jangan buat diri kalian nantinya menyesal hanya karena hal sepele seperti tadi. Ingat hadits Rasulullah shalallahu alaihi wasallam kan? “Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”. Tidak perlu Umma jelaskan panjang lebar pun kalian sudah tahu makna yang sebenarnya. Sekarang Umma kasih waktu ke kalian untuk saling memaafkan dan saling instrospeksi diri." Ujar Jizah meninggalkan kedua putranya diikuti oleh Rendy


......................


......................


Hayooo siapa yang suka ribut sama adek atau kakaknya hanya karena masalah kecil? Kalo ada berarti kita pernah bahagia lalu menyesal dalam satu waktu hehe


*sengaja diperpanjang 1000 kata lebih karena hanya satu kali up

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan berikan ku poin kalian walau sedikit, terima kasih ❤️


__ADS_2