
...“Biarlah cintamu saat ini hanya untukNya Sang Maha Rahman.”...
...****************...
"Bang?" Zurran meraih tangan Khairil untuk disalami setelah itu ia duduk disebelah Khairil. Walaupun usia keduanya tidak terpaut jauh, namun tidak mengurangi keduanya untuk selalu bisa saling menghormati. Sebuah hal kecil yang membawa perubahan besar. Mengingat keduanya sedari kecil bisa dikategorikan 'tak pernah akur.
"Maaf Abang baru pulang, pasti Umma kecewa lagi sama Abang." Lirih Khairil menunduk
"Zurran tahu kok kenapa Abang terlambat pulang dan insya Allah Umma bisa ngertiin. Zurran juga mau minta maaf, tadi ditelepon nada bicara Zurran begitu." Ucap Zurran, setelah itu keduanya sama-sama saling diam.
Dengan tersenyum Zurran menatap Khairil, "Bang? Makasih ya, tadi udah tolongin teman Zurran. Mungkin, kalau nggak ada Abang? Zurran bakal sedih banget kalau terjadi sesuatu sama Fifah."
"Ya, tapi kenapa kamu keliatan khawatir banget kayaknya kalau terjadi sesuatu sama dia." Khairil bisa melihat jelas sorot mata kekhawatiran adik laki-laki satu-satunya itu.
"Mau bagaimanapun dia teman Zurran bang. Kami saling kenal sudah lama, dari SMP. Dan Fifah itu... satu-satunya teman yang paling bisa mengerti Zurran dan begitupun sebaliknya. Jadi wajar jika terjadi sesuatu sama dia, udah pasti Zurran merasa sedih dan khawatir." Ucap Zurran membuat Khairil menatapnya
Entah mengapa selain terkejut, Khairil juga merasa ada kepedihan di lubuk hati terdalam nya. Sudah lama saling mengenal, saling mengerti satu sama lain, dan merasa sedih serta khawatir. Tiga inti yang Khairil tangkap dari ucapan Zurran dan ketiganya entah mengapa sempat ingin Khairil miliki juga. Ada rasa iri tersendiri tentunya. Mengingat dirinya di masa lalu tidak memiliki banyak teman bahkan hingga kini.
Dan kini, sepertinya keinginan itu harus ia buang jauh-jauh. Walaupun baru beberapa kali bertemu dengan wanita itu, entah kenapa Khairil memiliki ketertarikan tersendiri untuknya. Terlebih gadis itu adalah wanita pertama yang membuat hati seorang Khairil bergetar dengan hebatnya. Gadis yang baru sekali bertemu sudah membuat pikirannya kacau dan bertanya-tanya, apakah benar dirinya sedang jatuh cinta?
Biarlah kini, harapan dan cinta sejatinya ia labuh kan seutuhnya hanya kepada Allah SWT. Sang Maha Rahman.
Lagipula ia tidak mengenal betul bagaimana Khofifah. Jauh dari itu, dirinya pun belum siap jika harus memiliki hubungan yang serius dengan seorang wanita untuk saat ini.
Dengan senyum jahil dan berusaha menutupi kegelisahan hatinya, Khairil meraih pundak adik satu-satunya itu. "Berarti dia langsung laporan sama adek abang yang jelek ini ya rupanya? Jangan-jangan... Kalian pacaran ya?" Khairil menatap manik-manik Zurran dan dilihatnya Zurran agak sedikit kesal.
__ADS_1
"Iya tadi Fifah kasih tahu Zurran bang, tapi sumpah! Zurran sama dia belum pacaran." Zurran mengangkat jari nya berbentuk V dengan sungguh-sungguh. Khairil mendongak dan menatap kedua bola mata adiknya. Dia bisa melihat dengan jelas bahwa adiknya itu berkata jujur dan tidak berbohong, hal itu membuat hatinya sedikit lega.
Khairil terkekeh, "belum pacaran berarti ada niat buat pacaran dong? Wah... ngga bisa Abang biarin. Abang yang umurnya udah dua puluh lima tahun aja masih jomblo dan ngga akan pernah pacaran. Karena prinsip hidup Abang yaa jo-fi-sa! Jomblo Fisabilillah dan Abang kan Presiden IJO Tomat. Ikatan Jomblo Terhormat."
"Itu sih derita Abang," batin Zurran
"Adek juga Bang! Tadi adek cuma salah ucap. Lagipula pacaran ngga ada gunanya, yang ada nambah dosa." Zurran bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan Khairil. Tak ada niat darinya untuk berdebat lebih panjang dengan Abangnya itu. Khairil terlalu santai dalam hal percintaan.
Khairil berdecak, "heuh adek? Satu kata yang paling nggak gue suka dari dulu. Dulu kata Umma, gue selalu dipanggil adek karena yakin kalau gue bakal bener-bener jadi anak bungsu. Eh kenyataannya? Malah lahir si Zurran. Mana bedanya cuma satu setengah tahun lagi." Khairil kesal jika mengingat perkataan Jizah lima belas tahun yang lalu dan perbedaan usia antara dirinya dengan Zurran.
Waktu kecil ia dan Zurran sering diajak almarhum Mufid pergi berceramah, orang-orang sering beranggapan bahwa kedua putranya adalah kembar tak seiras. Padahal nyatanya memang mereka dilahirkan di tahun yang berbeda. Terlebih almarhum Mufid dulu selalu membelikan keduanya baju dengan corak yang sama. Semakin lah orang-orang yang baru melihat kedua laki-laki tampan itu beranggapan mereka kembar tak identik.
Lain halnya bila pergi bersama Jizah dan kedua kakak-kakaknya, orang-orang selalu memberikan nyinyiran. "Ih nggak kasihan itu masih kecil tapi adiknya kok udah banyak? Nggak KB ya? Atau sengaja?" Jizah hanya bisa tersenyum pada saat itu karena mereka tidak tahu bagaimana ia dahulu begitu menginginkan hadirnya seorang anak.
Ditatapnya lampu gantung ruang tamu yang sudah sedikit berkarat. Yang Khairil ingat sudah lebih dari lima belas tahun lebih. Katanya lampu itu adalah kado anniversary pernikahan kedua orangtuanya yang ke tujuh belas.
...----------------...
Zurran keluar dari kamarnya untuk sekedar menengok Umma nya apakah wanita itu sudah benar-benar tertidur atau belum. Namun, alangkah terkejutnya Zurran saat mendengar suara dengkuran seseorang dari ruang tamu.
"Eits itu suara siapa? Apa, ada maling numpang tidur? Nggak bisa dibiarin nih,"
Dengan perlahan kakinya melangkah dengan membawa payung lipat yang terletak di dekat guci keramik milik Jizah. Harus hati-hati, pikirnya.
satu
__ADS_1
dua
ti–
"Astaghfirullah Abang.... Ih, bener-bener deh, kenapa tidur disini coba. Untung nggak adek getok beneran." Zurran melihat Khairil yang tertidur dengan pipi di gigit nyamuk namun tak mengusik tidur laki-laki itu.
"Bangunin nggak ya? Ah nggak usah lah, biarin aja Abang tidur disini, adek masih kesel sama Abang."
Pada akhirnya, Zurran membiarkan Khairil tertidur di sofa ruang tamu dan dirinya kembali kepada niat awalnya untuk menengok Jizah.
Begitulah si anak tengah yang santuy dan si bungsu yang baperan wkwkwk
Hayoo siapa disini yang kayak mereka? :)
Kalo Aku sih kayaknya.... Zurran banget hehe
......................
Ketika pertamakali melihatnya, ada getaran hati yang sama sekali belum pernah dirasakan sebelumnya. Getaran yang kau sendiri tak mampu mengartikannya.
Ada harapan-harapan kecil yang tumbuh dengan sendirinya dan perlahan terbangun semakin tinggi. Ada angan-angan yang ingin kau wujudkan menjadi kenyataan.
Namun, ketika kau mengetahui sesuatu? Dan sudah pasti itu menyakitkan untukmu, maka perlahan semua harapan dan angan-angan itu harus kau beri arahan agar mereka tidak lagi untuk tumbuh.
Biarlah semuanya kini kau simpan baik-baik dalam gudang hati bernama penerimaan. Menerima jika memang ia bukan takdirmu, maka sudah pasti ia bukan untukmu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terima kasih, jangan lupa like, komen dan vote