
...Jangan ikuti keinginannya untuk mati, tapi ikutilah ia karena ia selalu mengingat kematian....
...----------------...
Suasana rumah Jizah kini sedang ramai dengan hadirnya seluruh anak, menantu serta cucu-cucunya. Mereka tengah menyantap sarapan pagi, sebelum berangkat ke Tangerang.
"Jiddah tadi ibu bilang, kalo Nafisah mau punya adik loh, tapi katanya nggak boleh kasih tau yang lainnya." Ucap Nafisah. Gadis kecil berusia 4,5 tahun itu berbicara dengan nasi penuh di mulutnya. Anak pertama dari Naura dan Akbar. Cucu pertama bagi Mufid dan Jizah, walau tidak sedarah.
Mereka yang sedang menikmati sarapannya pun tertawa mendengar ucapan Nafisah. Naura hanya bisa menahan tawanya sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Anak gadisnya itu terlalu polos untuk menjaga rahasia.
"Oh ya, Ibu bilang seperti itu sama Nafisah? Kalau ayah tau tentang ini nggak?" Tanya Jizah menanggapi
"Ayah juga enggak tau." Jawabnya
Jizah langsung menatap anak dan menantunya itu, mereka saling pandang sampai akhirnya Akbar bangkit dari duduknya dan langsung memeluk istrinya.
"Kamu beneran hamil?" Tanya Akbar dan Naura menjawabnya dengan anggukan kepala
"Alhamdulillah..."
"Yeeaayyy nambah ponakan lagi jadi tambah banyak yang bisa disuruh-suruh." Ucap Khairil dengan senangnya
Sementara Jizah, tiba-tiba saja ia merasakan kepalanya berdenyut tatkala ingatan masa lalu datang kedalam pikirannya. Ia mengingat hari dimana Fira datang ke kediamannya ketika masih bersama Aldi. Hari yang begitu buruk untuk dirinya dan keluarganya. Fira datang dengan membawa kabar yang tak pernah Jizah sangka-sangka.
Kedua tangan Jizah memegangi kepalanya "Kenapa? kenapa kamu harus datang saat itu? kenapa?... hiks hiks hiks." Ucap Jizah histeris membuat mereka semua terkejut
"Umma, Umma kenapa?" Tanya Khairil panik
"Seharusnya kamu nggak datang saat itu, pasti putraku Tsaqif saat ini sudah bahagia bersama keluarga kecilnya." Ucapan Jizah yang menatap Naura dengan deraian air mata membuat mereka bingung.
Aisyah memeluk erat tubuh Jizah dan terus mengajak Jizah agar beristighfar. Hingga akhirnya Aisyah paham, bahwa pikiran Jizah sedang tidak baik-baik saja. Dan pasti ada sesuatu dalam diri ibundanya yang tidak ia ketahui.
"Umma, Umma tidak boleh seperti itu ya? Kak Naura kan anak Umma. Anak pertama keluarga ini. Umma harus ingat, sedari dulu Abba dan Umma sangat menyayangi kak Naura. Dan Aisyah tau, Umma sekarang pasti sedang rindu dengan Abang Tsaqif ya? Bagaimana kalau kita sekarang siap-siap untuk pergi ke Tangerang mendatangi makam Abang Tsaqif, Abba dan yang lainnya." Ujar Aisyah sembari menghapus air mata Jizah dan hanya dijawab dengan anggukan
__ADS_1
"Zurran, tolong kamu temani Umma dikamar dulu ya." Pinta Aisyah pada Zurran dan langsung dituruti
Setelah dilihat Zurran menutup pintu kamar Jizah, mereka semua langsung menatap Aisyah.
"Sayang, Umma kenapa?" Tanya Ali pada istrinya
Aisyah tidak langsung menjawab pertanyaan suaminya melainkan ia menatap Khairil. "Apa selama beberapa minggu ini Umma sering melamun atau berkelakuan seperti tadi?"
"Semenjak pertengkaran Khairil dan Zurran bulan lalu, Umma memang sekarang jauh lebih banyak melamun kak. Tapi Khairil yakin, Umma nggak tau kalau kita bertengkar hebat waktu itu." Ujar Khairil
"Kalian bertengkar?" Tanya Naura yang memang tak mengetahui kejadian itu
"Iya kak, waktu itu Zurran nggak pulang-pulang setelah kuliah dan ternyata dia kerja diam-diam. Dan menurut Ali, mungkin ketika itu Umma tidak sengaja sudah mendengar semuanya dari balik pintu, kalau nggak mana mungkin sekarang Umma membiarkan Zurran untuk bekerja." Jelas Ali
"Ku takut kalau Umma sedang mengalami trauma masa lalu." Gumam Aisyah namun masih terdengar dengan yang lainnya
"Maksud kakak?" Tanya Khairil
Tiba-tiba, pintu kamar Jizah terbuka dan dilihatnya Zurran keluar dari sana. "Kak, Bang? Umma minta kita semua harus siap-siap berangkat ke Tangerang." Ucapnya
"Iya, ayo kita harus siap-siap. Ku mau panaskan mobil dulu." Ucap Khairil
Pada akhirnya mereka semua pergi ke Tangerang dengan tiga mobil. Jizah tadinya diminta Naura untuk satu mobil dengannya namun, ia seakan takut dan tidak ingin melihat putrinya itu yang membuat Naura bersedih.
...----------------...
Setibanya mereka di Tangerang, Jizah langsung meminta Khairil tak mengikuti mobil kedua Abang iparnya yang menuju rumah Abah, melainkan langsung menuju ke pemakaman keluarga Muhammad. Tak lupa mereka mampir terlebih dahulu ke toko bunga.
"Umma sudah rindu sekali ya dengan Abba?" Tanya Zurran yang duduk disebelah Jizah
"Sebesar apapun rindu Umma terhadap Abba, tidak akan bisa terbayarkan sebelum Umma pergi menyusul Abba ke surga-Nya." Jawab Jizah memalingkan wajahnya menghadap jendela. Permata bening sudah pasti lolos dengan sendirinya tanpa diminta.
Khairil yang menyetir mobil melihat itu dari kaca. "Sebenarnya Umma sedang kenapa?" Tanyanya dalam hati
__ADS_1
Tak lama mereka telah sampai di pemakaman keluarga Muhammad. Jizah turun terlebih dahulu dari mobil dengan melepas alas kakinya, begitu juga dengan Khairil dan Zurran.
Mereka mengucapkan salam terlebih dahulu dan Jizah meminta kedua putranya untuk menaburkan bunga yang tadi telah mereka beli ke makam yang lainnya. Sementara dirinya, melangkahkan kakinya menuju nisan almarhum suami dan anaknya berada, Mufid dan Tsaqif.
"Assalamualaikum Abba, Tsaqif? Umma datang sayang. Maaf, Umma datang dengan segala kebingungan yang ada pada diri Umma. Sudah beberapa kali Umma tidak mengerti dengan apa yang ada dipikiran Umma. Jika dulu Umma mengalami hal yang demikian? Pasti Abba yang akan menenangkan hati Umma. Dan dulu ketika Umma masih mengandung Abang Tsaqif? Abang pasti memberikan gerakan kecil untuk menenangkan Umma. Umma sangat rindu dengan Abba dan abang. Kapan ya, masa itu akan tiba pada Umma? Masa dimana berakhirnya kehidupan dunia untuk memulai kehidupan akhirat. Umma merasa sudah tidak sanggup lagi menahan rindu kepada kalian berdua, rindu ini sudah terlalu lama menyusuri rongga hati Umma. Umma benar-benar menunggu masa itu segera datang dan tentunya, bila kematian lebih baik dari kehidupan." Jizah berusaha tersenyum jika selalu mengutarakan isi hatinya ketika mendatangi makam almarhum suami dan anaknya, selain bercerita kepada Allah selepas sholat tentunya.
Khairil dan Zurran yang mendengar ucapan ibundanya itu pun menitihkan air matanya. Mereka mulai paham. Diusia Jizah yang telah senja ini, wanita itu ternyata hari-harinya hanya menunggu waktu dimana ia akan meninggalkan dunia ini untuk menghadap sang khalik dan berharap bertemu suami serta anaknya yang telah lama meninggalkannya.
"Sungguh ya Allah, berilah hamba waktu lebih lama lagi untuk bersama Umma. Hamba mohon janganlah dulu Kau kabulkan hajat Umma yang itu dengan cepat. Hamba masih sangat-sangat butuh dirinya ya Allah. Hamba begitu menyayangi dan menghormatinya." Batin Khairil menghampiri Jizah dan diikuti Zurran yang sedang berusaha menghapus air matanya
"Umma?" Khairil memeluk tubuh Jizah dan berkata, "Bila Umma rindu dengan Abba dan Abang Tsaqif? jangan bicara seperti tadi ya? Bukankah Umma selalu bilang jika segala sesuatunya telah Allah tetapkan dengan sebaik-baiknya ketetapan? Maka, ajal pun telah Allah tetapkan. Tak perlu kita pinta kehadirannya dengan cepat. Khairil nggak suka itu." Khairil tersedu-sedu di pelukan Jizah yang hanya diam dan menangis tanpa kata
...****************...
Semua yang bernyawa pasti akan mati sesuai ajalnya atas izin, takdir dan ketetapan-Nya. Siapapun yang ditakdirkan mati pasti akan mati meski tanpa sebab, dan siapapun yang dikehendaki tetap hidup pasti akan hidup.Dan sebab apapun yang datang menghampiri tidak akan membahayakan yang bersangkutan sebelum ajalnya tiba karena Allah Ta’ala telah menetapkan dan menakdirkannya hingga batas waktu yang telah ditentukan. Tidak ada satupun umat yang melampaui batas waktu yang telah ditentukan.
...“ Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”...
...(QS. Ali ‘Imran : 145)....
...Bagaimana dengan manusia yang mengharapkan kematian segera datang?. “Janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian karena marabahaya yang menimpa, kalaupun harus mengharap (mati), hendaklah berdoa : Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan lebih baik bagiku dan matikan aku jika kematian lebih baik bagiku.”...
...(HR. Al-Bukhari : 567 dan HR. Muslim : 2680)....
Hendaknya manusia senantiasa bersabar dengan ketetapan dari Allah Ta’ala dan senantiasa istiqomah dijalan-Nya. Janganlah berputus asa karena sesungguhnya putus asa itu memberikan peluang kepada setan untuk melemahkan hati manusia.
...****************...
Sungguh teman-teman, rindu yang Jizah pendam memanglah terlalu berat bagi dirinya, hingga ia mengharapkan bila kematian lebih baik dari kehidupan? Maka ia ingin itu segera hadir pada dirinya.
Jangan ikuti keinginannya untuk mati, tapi ikutilah ia karena ia selalu mengingat kematian.
Jangan lupa like, komen dan vote Terima kasih
__ADS_1