
...Kedekatan atau kebersamaan kakak beradik adalah hal yang paling dirindukan oleh kedua orangtuanya, apalagi setelah begitu banyak hal yang tidak diinginkan terjadi....
..._________________________________...
Pagi itu pukul 07:20 WIB, Khairil sudah bersiap akan pergi ke salah satu cabang bakso cinta yang berada di kecamatan Bogor Selatan. Rencananya ia akan pergi bersama Zain, saudara sepupunya yang sudah menunggu diruang tamu.
Setelah sepekan yang lalu terjadi hal yang tidak mengenakkan disana, dimana para penjual bakso lain yang berada di daerah itu datang berbondong-bondong menyatakan protes atas apa yang Khairil lakukan.
Khairil rupanya cukup cerdas dalam mempromosikan usahanya, tapi ia seakan lupa bahwa apa yang ia lakukan sudah tentu tidak disukai oleh para pesaingnya.
"Coba nanti kalian ubah cara marketingnya, jangan sampai hal yang seperti kemarin itu terjadi lagi. Umma nggak mau nantinya akan berimbas ke cabang yang lain. Walaupun Umma sangat yakin, apa yang kalian buat itu memang tidak banyak yang akan meniru." Tutur Jizah panjang lebar, yang datang dari dapur memberikan dua cangkir teh hangat untuk dua laki-laki dihadapannya
"Umma? kalo Umma yakin, berarti Umma percaya dengan apa yang kita lakukan. Bukan begitu bang Zain?" Ucap Khairil lalu melirik saudara sepupunya
"Iya Ammah, do'akan kita saja ya? semoga apa yang kita lakukan ini selalu ada keberkahan yang tidak terduga." Ujar Zain
"Iya ya sudah, Umma hanya bisa berdo'a dan meridhoi semua usaha yang kalian lakukan." Ucap Jizah
Terdengar suara pintu pagar terbuka, mereka yang berada di ruang tamu saling pandang. Tak lama seseorang datang mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullahi."
"Kenapa baru pulang?" Tanya Khairil pada sang adik
Zurran yang sedang mencium punggung tangan Jizah pun langsung duduk didekatnya. Sudah diduga, pasti abangnya itu akan selalu siap memberikan pertanyaan untuk dirinya.
"Tadi habis subuh Zurran jalan-jalan dulu bang cari udara pagi, kebetulan kan hari ini hari Ahad, jadi bisa santai dikit." Jawab Zurran
"Ahad? santai? nggak ada di kamus keluarga kita tuh hari Ahad santai. Semua hari itu harus dimanfaatin dengan hal-hal yang bermanfaat dan Allah ridhoi. Kamu lihat tuh di dapur, Umma belum masak. Jadi kamu harus bisa inisiatif, kan berpahala." Tutur Khairil dan Jizah juga Zain hanya diam mendengarkan anak itu menasihati adiknya
__ADS_1
"Lah kenapa nggak Abang aja, ini juga Abang udah rapih mau kemana coba? santai-santai juga kan?" Tanya balik Zurran
"Sudah-sudah ini masih pagi, bisa-bisa kepala Umma kalian bisa pusing denger ocehan nggak jelas kalian ini." Ucap Zain menengahi
Jizah sudah terbiasa dengan hal seperti ini, hampir setiap waktu kedua anak laki-lakinya itu berdebat. Tapi tak jarang juga keduanya bisa akur satu sama lainnya.
"Abang Khairil mau pergi ke ke cabang bakso cinta yang di Bogor Selatan Bang. Sekarang mending Abang Zurran siap-siap, ikut Abang Zain dan Abang Khairil kesana." Tutur Jizah lembut
"Nggak usah Umma, nanti kalau Zurran ikut siapa yang jagain Umma dirumah?" Ucap Khairil yang sebenarnya tidak suka bila pekerjaannya dicampuri oleh orang lain yang tidak begitu mengerti, walaupun itu adiknya sendiri.
"Kenapa bang, apa Abang nggak suka kalau Zurran ikut?" Tanya Jizah
Seketika Khairil tersenyum kaku. Jizah memang selalu bisa menebak apa isi pikiran anak-anaknya.
"A-Anu Umma..."
"Nggak apa-apa ya? sehari aja adik kamu ini ikut bang. Kalau Umma boleh jujur. Umma tuh rindu dengan kedekatan kalian seperti tahun lalu, ketika Abba baru kembali ke rahmatullah. Apa Umma harus menyusul Abba dulu baru kalian akan dekat?"
"Umma jangan bicara kaya gitu lagi ya? Abang juga mau Zurran ikut, ayo cepat kamu rapih-rapih, jangan pake lama." Pinta Khairil pada Zurran yang langsung bergegas ke rumahnya
"Ammah jangan bicara seperti itu lagi ya? Zain nggak mau dengar itu." Ucap Zain yang sangat menyayangi Jizah
Setelah kepergian kedua orangtuanya, ia tidak ingin para saudara-saudaranya merasakan hal yang sama dalam waktu yang berdekatan juga. Kepergian Awwal dan Nabilah untuk selamanya dalam waktu yang berdekatan sangatlah menyiksa batinnya. Bukan hanya dirinya tapi juga Zayna, adiknya.
...__________________...
"Sebagai seorang kakak, kamu memang harus dituntut memberikan contoh yang baik adik kamu. Seperti, tentang kemandirian, kepemimpinan dan kesuksesan. Tapi seharusnya kamu nggak hanya memberikan dia contoh berupa nasihat, tapi juga peninjauan langsung." Ujar Zain. Kini mereka sedang berada dalam perjalanan menuju cabang bakso cinta.
"Dan juga, kamu sebagai Abang? nggak boleh egois. Kalau kamu sukses? ajak juga adik kamu untuk sukses bareng-bareng." Lanjut Zain ketika dua kakak beradik yang duduk dibelakang itu hanya diam mendengarkan
"Insya Allah bang." Ucap keduanya
__ADS_1
"Zurr, maafin Abang ya? Abang udah egois sama kamu." Khairil mengulurkan tangannya
Dengan cepat Zurran menerimanya dan mencium punggung tangan Khairil. "Seharusnya Zurran yang minta maaf bang, karena Zurran emang suka aneh-aneh sama Abang." ucap Zurran
Khairil tersenyum lalu dipeluknya adik satu-satunya itu. Keduanya tidak seperti kakak adik, melainkan teman yang sering bertengkar.
Zain yang sedang menyetir tersenyum melihatnya. "Nah gitu dong, kan enak dilihatnya. Tapi jangan hari ini doank loh ya? seterusnya harus begini terus."
"Aamiin, mudah-mudahan bang." Ucap keduanya bersamaan
"Abang kasih tau kalian satu hadits ya, dimana hadits ini sudah berhasil diterapkan oleh para orang tua kita dahulunya. Almarhum Abah atau kakek kita sangat tegas dalam mendidik semua anak-anaknya dalam hubungan bersaudara." Ucap Zain
"Hadits nya apa bang?" Tanya Khairil penasaran
"Dengerin ya, "Tidaklah termasuk golonganku orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan tidak menyayangi yang muda," Hadits riwayat imam Ahmad dan At-thabrani." Jawab Zain
"Wah, kalo hadits itu Khairil pernah dengar dari Abba. Yang dimana salah satu poin pentingnya adalah, hak seorang kakak adalah mendapatkan penghormatan adiknya dan kewajiban kakak terhadap adiknya adalah mencurahkan kasih sayang." Ujar Khairil
"Itu kamu tau Ril. Dan Zurran juga pasti tau kan?" Tanya Zain
"Kalo nggak salah, saling membantu dalam kesusahan dan saling mengingatkan tentang kebaikan." Jawab Zurran
"Betul banget, dan ada satu lagi. Memberikan support karena berasal dari ayah dan ibu yang sama." Lanjut Zain
"Sama dengan kewajiban anak berbakti kepada orang tua, saudara sekandung pun harus saling menghormati dan menyayangi. Sehingga, terbentuklah keluarga harmonis yang saling memahami dan mendukung satu sama lain. Dan harus kalian ketahui, perjalanan orang tua dalam mendidik anak-anaknya tidak selalu berjalan dengan mudah. Apalagi kedua orang tua kalian." Jelas Zain yang membuat kedua sepupunya diam tertunduk
...____________...
Terkadang sulit untuk menasihati anak laki-laki, maka seperti yang dicontohkan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Memberikan nasihat saat berjalan-jalan atau diatas kendaraan, sewaktu makan bersama atau saat anak sedang sakit.
Jangan lupa like, komen dan bunga terima kasih 🙏
__ADS_1