
...“Jangan kau hiraukan keberadaannya, karena jika ia telah pergi meninggalkanmu maka sulit atau bahkan tidak baginya untuk kembali.”...
...----------------...
Khairil yang sedari tadi masih duduk di sofa ruang tamu, tak sadar dirinya sudah tertidur satu setengah jam lamanya. Dengan kepala bersandar pada bangku sofa, tampaklah wajah lelahnya. Hingga, suara dan sentuhan lembut terdengar di telinga nya.
"Bangun Bang, pindah ke kamar yuk," ucap Jizah masih dengan gerakannya
Jizah terbangun dari tidurnya karena teringat akan putranya yang sedari tadi ia tunggu-tunggu. Suster yang menjaganya pun sudah beristirahat sejak tadi. Tak tega jika melihat mereka masih menemaninya hingga larut. Dan sebenarnya pun ia tak butuh kehadiran orang lain didalam rumahnya. Yang ia inginkan adalah putra-putrinya yang menjaga serta merawatnya diusianya yang sudah senja ini. Tapi apa boleh buat, egonya harus ia tepis karena tak ingin mengganggu kehidupan anak-anaknya.
Keinginan untuk bisa mewujudkan kembali cita-cita dirinya dan Mufid dahulu sepertinya benar-benar harus ia simpan rapat-rapat di lubuk hati paling dalam. Keinginan untuk bisa seperti keluarga besarnya dahulu yang tinggal satu atap dengan segala konsekuensinya.
Kini, ia beranggapan semuanya sudah tidak lah mungkin untuk bisa terjadi. Terlebih, cinta sejatinya telah tiada. Sudah nyaman di sisi terbaik-Nya bersama putra sulungnya yang telah puluhan tahun hilang dari dekapannya. Ya, perlahan harapan itu hilang dengan sendirinya.
Khairil membuka matanya perlahan dan menegakkan badannya. "Astagfirullah! Maaf Umma Abang ketiduran," diusap wajahnya perlahan
"Pindah ke kamar. Jangan disini, banyak nyamuk. Tapi sebelum itu kamu harus ganti baju dan bersihkan tubuhmu dulu, ya."
"Iyaa Umma ku sayang.... Tapi, kenapa Umma keluar kamar? Sudah minum obat kan?" Tanya Khairil menatap wajah ibundanya
Dengan tersenyum, "Umma kepikiran kamu, jadi Umma bangun."
"Maafin Abang ya Umma. Gara-gara Abang, tadi Umma harus tunggu di depan pintu pagar. Lain kali tak usah seperti itu lagi ya?" Ucap Khairil dengan sorot mata bersalahnya. Dipeluknya tubuh wanita yang telah melahirkannya. Tak lupa kecupan di kening ia berikan.
"Ngga apa-apa, sudah sana masuk kamar," Jizah melepaskan pelukannya. "Kalau kamu sudah benar-benar masuk? Umma pun akan masuk ke kamar Umma." Lanjutnya sebelum putranya itu protes
"Iya, iyaa Umma ku sayang. Ini Abang mau ke kamar." Khairil bangkit dari duduknya dan berjalan perlahan meninggalkan Jizah seorang diri di ruang tamu
"Kamu juga pasti belum sholat isya' kan? Jangan lupa sholat dulu, baru lanjut tidur." Ucap Jizah yang hanya dijawab gumaman saja. Benar-benar terlalu santai, Jizah menggelengkan kepalanya.
"Abba? Lihatlah putra kita yang satu itu. Dia kalau merasa bersalah, persis seperti Abba. Dan ya, seperti Abba bilang dulu kalau Khairil memang terlalu santai." Batin Jizah lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya
...----------------...
__ADS_1
Pagi hari, seperti biasa. Mereka sarapan dengan menu seadanya. Tapi... Tunggu, kenapa Zurran diam saja? Jizah yang menyadari bahwa ada yang mengganjal dari putra bungsunya pun memanggilnya.
"Zurran kenapa nak? Makanannya kurang enak ya?" Tanya Jizah yang sedari tadi memperhatikan putra bungsunya
Zurran yang fokus fokus pada makanan dan pikiran yang entah kemanapun tak menyadari Jizah memanggilnya.
"Zurran sayangnya Umma?" dengan suara lembut ibundanya yang kedua pun belum mengalihkan fokusnya
Jizah berjalan lebih dekat pada Zurran dan duduk di bangku sebelahnya, "Adek?" panggil Jizah sembari menyentuh pundak putranya
"Umma? Ya, kenapa?"
"Helehh giliran dipanggil adek baru denger." Ucap Khairil kesal
"Adek kenapa, kok Umma perhatikan diam saja dari tadi? Makanannya kurang enak ya? Kalau gitu biar Umma minta tolong sus Diana buatkan sarapan yang lain?" Ucap Jizah
"Oh enggak kok Umma, makanan ini aja udah cukup", Jizah tahu betul ada sesuatu yang tidak beres dari putra bungsunya.
Zurran memang anak yang pendiam, apapun masalah yang sedang ia jalani tak pernah ada satupun yang diceritakan kepada orang tuanya atau para saudaranya. Bahkan sejak dari kecil ia yang selalu di ganggu oleh Khairil hingga celaka pun, Zurran tak pernah memberitahukannya kepada Jizah atau Mufid. Karena seperti sudah ter-mindset dipikirannya apa yang dikatakan oleh Khairil ketika kecil dulu,
Ya, itulah perkataan Khairil yang dengan mudahnya tersimpan di memori kepala Zurran. Yang tanpa disadari memaksa sifat karakter anak bungsu pada dirinya itu hampir sebagian menghilang. Ia lebih memilih untuk mengalah, yang dimana hal ini lebih sering ada pada anak tengah.
Pada awalnya perbedaan usia yang tak terpaut jauh seolah memaksanya untuk menjadi yang lebih dewasa. Hingga akhirnya, Khairil menyadari sendiri apa perbuatannya di masa lalu dan perlahan itu mengubahnya.
Jizah masih menatap kedua putranya bergantian. "Kalian nggak lagi bertengkar kan?" Tanya Jizah pada keduanya.
"Enggak Umma," lirih Khairil dan Zurran bersamaan
"Yakin?"
"Iya Umma ku sayang, kita lagi nggak berantem, tapi nggak tau tuh Zurran kenapa diem aja." Ujar Khairil
"Iya, adek kenapa sayang? Hmm, ada masalah di kampus? Atau di tempat kerja?" Tanya Jizah sembari mengusap surai kepala Zurran
__ADS_1
"Adek hanya lelah Umma. Dosen pembimbing adek nggak bisa satu pemikiran dengan apa yang adek harapkan. Umma tahu kan kalau itu bisa jadi salah satu penghambat kuliah adek?" Zurran terpaksa berbohong karena ia tidak mungkin menceritakan tentang niatnya yang ingin berhenti dari pekerjaannya. Ia hanya khawatir jika Jizah akan syok dan kecewa pada nya.
"Hilihh dimana-mana ya siswanya nurut apa kata dosen selama itu kebaikan. Masa mau dosen pembimbing yang satu frekuensi? Kalo mau mah minta aja Bang Ali buat jadi dosen kamu, kan cuma dia yang sepemikiran sama kamu." Ujar Khairil yang terlihat sudah menyelesaikan sarapannya
"Hushh Abang nggak boleh gitu sama adek," Jizah memperingati Khairil
"Dan adek? Umma tahu itu pasti sulit untuk adek karena dulu Umma juga pernah merasakan apa yang adek alami. Tapi adek ingat kan peribahasa ini? "Man Jadda Wa Jadda", barang siapa yang bersungguh-sungguh, dia pasti berhasil. Kesungguhan memang merupakan satu hal yang wajib kita miliki jika ingin berhasil mencapai sesuatu. Dalam Al-Quran pun disebutkan bahwa kita harus bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu. Maka apabila kamu telah selesai dari sesuatu urusan, kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. Jadi, ikuti saja apa yang diinginkan oleh dosen pembimbing adek walaupun tidak sesuai harapan adek atau mungkin adek bisa mengutarakan pendapat adek dengan baik, insyaallah pasti diterima." Ujar Jizah tersenyum
"Iya Umma, adek akan ingat perkataan Umma. Kalau begitu adek pergi ke kamu sekarang ya? Wassalamu'alaikum," Zurran mencium punggung tangan Jizah
"Iya nak hati-hati, Waalaikumsalam warahmatullahi,"
Selepas Zurran pergi, Jizah menghampiri Khairil yang juga telah siap pergi ke cabang bakso.
"Kamu juga sudah ingin berangkat?"
"Iya Umma, Abang takut kena macet di jalan, dan takut nanti pulangnya seperti kemarin jadi harus buru-buru. Umma jangan lupa minum obatnya ya? Abang nggak bisa janji pulang jam berapa, tapi akan Abang usahakan pulang secepatnya," Satu kecupan Khairil berikan di kening ibundanya
"Iya, kamu nggak perlu khawatirkan Umma yang penting pulang dengan selamat wa fii amanillah." Ucap Jizah setelah itu Khairil keluar dari rumah mengucapkan salam
Jizah tersenyum dan mengacungkan dua jempol nya pada kedua perawat sekaligus asisten rumah tangga yang menemaninya. Pagi ini entah mengapa kondisinya jauh lebih baik dari pagi sebelumnya. Dan hal itu sangat ia syukuri dan berharap selalu seperti itu.
...----------------...
Dua diantara kewajiban seorang anak kepada orang tuanya ialah,
Apabila salah satu keduanya (orang tua) membutuhkan pelayanannya, maka dia melayaninya.
Apabila salah satu dari keduanya (orang tua) memanggilnya, maka dia memenuhi panggilannya dan mendatanginya.
Hal yang demikian merupakan birrul walidain yang berarti berbakti kepada orang tua dan hukumnya adalah wajib. Sesungguhnya yang demikian merupakan salah satu dihapusnya dosa besar, diterimanya amal saleh, dan ingat, ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua, murka Allah ada pada murka orang tua. Maka mari sama-sama kita perbaiki hubungan kita dengan orang tua jika mereka masih ada. Bila mereka sedang sakit, semoga Allah segera angkat penyakitnya. Bila mereka telah tiada, semoga Allah tempatkan mereka disisiNya yang terbaik. Jadi jangan sekali-kali kita menghiraukan keberadaannya, sebab jika mereka telah tiada, sulit atau bahkan tidak mungkin baginya untuk kembali.
Duhai saudara-saudari pembacaku, tulisan ini pertama semata-mata sebagai pengingat bagi diriku sendiri. Bila ada yang salah, semoga Allah meridhoi ku dan mengampuni kalian.
__ADS_1
Terima kasih, jangan lupa like, komen dan vote