
...“Jika seseorang dimasa lalu mu terlalu menyakitkan? Bukankah itu lebih mudah untuk melupakan?”...
...----------------...
Khairil keluar dari rumah dan melihat Zurran ternyata datang bersama seorang laki-laki paruh baya, perkiraan usianya seperti Rendy. Zurran tampak meminta laki-laki itu untuk masuk kedalam rumah bersamanya.
"Ayo Pak? Mari masuk", ucapnya
"Ekhemm." Suara Khairil ber-dehem membuat kedua laki-laki beda generasi itu mendongak
"Bang? Kenalin, beliau dosen pembimbing Zurran. Namanya Pak Hasan Syahid." Zurran memperkenalkan dosennya dan Khairil dengan segera mencium punggung tangan laki-laki itu. Sejenak ia tertegun dengan tindakan Khairil. Dan saat ia menatap wajah Khairil, "Mata itu... mengingatkanku dengan dia." Laki-laki itu terpaku melihat mata Khairil yang mengingatkan dirinya pada seseorang dimasa lalunya
"Mari masuk Pak", Khairil memberikan isyarat pada Zurran dan mereka pun masuk kedalam rumah
"Assalamualaikum",
"Waalaikumsalam warahmatullahi."
Diruang tamu, semua mata melihat kehadiran Zurran dengan laki-laki itu. Rendy langsung bangkit dari duduknya begitupun dengan Jizah. Mereka menatap tak percaya siapa yang datang bersama Zurran. Puluhan tahun lalu terakhir kali bertemu. Tak disangka kini baru dipertemukan lagi. Dan ya, dugaan Rendy adalah benar. Hasan Syahid yang dimaksud Zurran adalah temannya dahulu. Laki-laki yang pernah hampir mengajak Jizah berta'aruf.
"Ustadz?" Ucap Jizah dan Rendy bersamaan
"Kalian?" Hasan pun tak kalah terkejut melihat dua orang yang begitu ia kenali dahulu. Dilihatnya setiap orang yang ada diruang tamu itu. Dan menatap kembali Rendy dan Jizah bergantian. "Ya Rabb, setelah sekian lama baru Kau pertemukan kami lagi. Dan ya, anak-anak Jizah dan Ustadz Khairul sudah besar-besar. Tak ku sangka, Zurran adalah salah satu anak mereka." Batin Hasan
"Silakan duduk ustadz?" Rendy dan Jizah meminta Hasan untuk duduk ditempat yang kosong. Hal itu membuat Khairil dan Zurran bingung. Apakah kedua orangtuanya itu telah saling kenal dengan Hasan?
"Oh ya, terima kasih."
__ADS_1
"Loh, ayah sama Umma, udah saling kenal sama Pak Hasan?" Tanya Zurran
"Kamu sama Khairil? Duduk dulu dan sini tas kamu nya." Zurran memberikan tas nya kepada Jizah dan wanita itu masuk kedalam dengan diikuti Riska dan Zulfah dibelakangnya
Sebelum masuk, Jizah terlebih dahulu memberikan kode pada Rendy untuk juga mengikutinya. Dan kini mereka berempat berada diruang makan yang agak sedikit jauh dari ruang tamu.
"Laki-laki tadi siapa sih Zah?" Tanya Riska, bingung. Zulfah langsung memberikan isyarat agar Riska tidak bertanya terlebih dahulu
Rendy duduk disebelah Jizah, "Apa harus? Kita menceritakan tentang kamu dan Ustadz Hasan sama Khairil dan Zurran?" Tanya Rendy
"Mau menceritakan tentang apa? Aku sama Ustadz Hasan nggak ada apa-apa dari dulu." Jawab Jizah
"Ya, terus kenapa kamu minta ku ikut kesini?"
Sembari menunduk terdengar helaan nafas Jizah, "Aku mau kamu nggak membiarkan ustadz Hasan menceritakan tentang yang lalu. Jangan biarkan anak-anak tahu tentang cerita itu. Buat mereka percaya kalau beliau adalah teman kamu dan juga teman bang Mufid. Jangan sedikitpun membahas tentang sesuatu yang tidak aku sukai." Pinta Jizah pada Rendy. Dirinya hanya tidak ingin ada hal lain yang tidak dapat manusia duga-duga itu terjadi.
Rendy paham dan langsung kembali ke ruang tamu. Riska masih menatap sahabatnya itu, seolah mengerti Jizah pun menceritakan jika dulu ustadz Hasan memiliki perasaan terhadapnya. Dan bahkan ingin mengajaknya berta'aruf. Tapi ya, seperti yang telah diketahui. Jodoh ada pada ketetapanNya.
Sementara Zulfah, ia diam tak tahu harus apa. Riska hebat, bisa seberani itu berucap pada kakak iparnya.
...----------------...
"Ohh jadi tadi pagi ayah bilang ke Zurran buat ngajak Pak Hasan ke rumah karena beliau teman ayah? Zurran kira ayah cuma bercanda." Ucap Zurran, yang tadi dibuat heran oleh tingkah Rendy yang tiba-tiba memeluk Hasan dengan kencangnya. Orang manapun akan heran melihat dirinya yang seperti itu.
"Iya, ustadz Hasan ini teman ayah sewaktu SMA. Beliau juga teman Abba kamu sewaktu di Mesir dulu." Ujar Rendy yang seketika menyadarkan Hasan, sedari dirinya datang belum juga terlihat sosok Mufid.
"Iya ya, kemana ustadz Khairul? Sedari tadi nggak kelihatan. Apa beliau masih mengajar di pesantren?" Batin Hasan bertanya-tanya
__ADS_1
Jizah keluar dari dalam bersama Bi Mumun yang membawa secangkir teh untuk Hasan.
"Oh ya, maaf, sedari tadi saya tidak melihat ustadz Khairul. Apa beliau masih mengajar di pesantren ya?" Tanya Hasan. Seketika semua orang yang berada di ruangan itu menatap manik-manik Jizah. Wanita itu tertunduk dan diam seketika. Khairil dengan segera meminta ibundanya untuk duduk. Sedari tadi ada rasa nyeri dihatinya saat Hasan terus memperhatikan Jizah dari kejauhan. Apalagi sekarang, laki-laki itu menanyakan seseorang yang sangat ia hormati dan sangat ia banggakan. Bagaimanapun ia harus menjaga perasaan Jizah saat ini.
"Abba kami, telah lama Allah panggil ustadz", ucap Khairil membuat Hasan terkejut. Pasalnya terakhir mereka bertemu ialah di Bandung, saat Mufid ikut camping anak-anak pesantren.
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un... Us-ustadz Khairul sudah tidak ada?"
"Iya ustadz, suami saya telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu", Jizah berusaha sekuat mungkin menahan air matanya agar tak menetes. Dirinya berat jika mengingat imamnya yang telah Allah panggil terlebih dahulu. Ikhlas, sudah tentu. Tapi melupakan? Ia tidak akan bisa.
Hasan tak menyangka jika laki-laki yang dahulu ia anggap sebagai saingan terberatnya kini telah tiada. Ia bisa melihat kesedihan di pelupuk mata Jizah saat dirinya menanyakan keberadaan Mufid.
"Ekhemm, perkenalkan nama saya Riandi", untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Riandi mengulurkan tangannya kepada Hasan untuk berkenalan. Laki-laki itu tak nyaman jika Hasan nantinya membuat Jizah menangis.
"Hasan." Dibarengi anggukan Hasan menyebutkan namanya. Satu-persatu teman-teman Jizah yang sedari tadi diam pun ia salami juga.
Rendy meminta Riska dan Zulfah untuk membawa Jizah lagi kedalam. Ia tak mau usahanya untuk membantu Jizah agar segera sembuh harus terganggu dengan tangisan. Dan kini tinggallah para lelaki yang berada di ruang tamu. Khairil seakan paham, jika ada hati yang masih sangat mengharapkan ibundanya. Mau bagaimanapun itu tidak akan ia biarkan.
"Walaupun saya baru pertamakali lihat wajah ustadz? Tapi kok saya seperti pernah lihat gitu, dimana ya?" Khairil mencoba mengingat apakah ia pernah melihat Hasan atau tidak. Zurran yang mendengar itu langsung mendekatkan dirinya ke telinga Khairil. "Please... Abang jangan S-K-S-D! Sok Kenal, Sok Deket! Jangan buat adek malu..." bisik Zurran
"Iyaa adek ku sayang..."
...----------------...
......................
Aku tak tahu harus apa bila tiba-tiba bertemu denganmu yang dengan sulitnya ku lupakan. Haruskah ku bahagia atau bersedih hati, atas kehendakNya harus dijalankan?
__ADS_1
Di satu sisi aku terkejut bukan kepalang. Tapi disisi yang lain? Ku berusaha untuk biasa saja walau diri ingin sekali menghilang.
Terima kasih, jangan lupa like, komen, vote atau berbaik hati lempar bunga ❤️