
Beberapa jam kemudian
Tsutako pun kembali dengan kondisi kepalanya terbentur cukup keras, sehingga menyebabkan kepalanya terluka tapi tidak terlalu parah. Dengan keadaannya yang cukup parah, ia berjalan perlahan dan menjauh dari tempat ia terjatuh.
"Sial, luka yang menyebalkan" ketus Tsutako sambil berjalan perlahan.
"Aku harus bisa mencapai tanaman herbal tersebut, agar Giyu bisa selamat" batin Tsutako.
Sedikit demi sedikit, Tsutako berjalan menuju tanaman herbal yang dibutuhkan oleh Giyu untuk menawar racun yang berada di dalam tubuhnya. Saat akan sampai di tempat tanaman tersebut berada, ia pun tiba-tiba kehilangan kendali atas tubuhnya, dan terjatuh.
"Sedikit lagi loh, pasti bisa. Ini demi adikku" batin Tsutako berkelahi dengan pikirannya agar bisa mendapatkan tanaman herbal tersebut untuk Giyu, meski ia sedang merasa kesakitan.
Beberapa saat kemudian
Tsutako pun kembali mencoba berdiri, ia terus berusaha agar bisa mengambil tanaman herbal tersebut. Ia berjalan selangkah demi selangkah, hingga akhirnya, berhasil mendapatkan tanaman herbal tersebut.
"Akhirnya, dapat juga" ucap syukur Tsutako sebelum ia kembali pingsan.
Saat ia sudah kembali sadar, Tsutako pun kaget, karena tiba-tiba, ia berada di sebuah ruangan yang tidak ia kenal. Ia pun segera siap siaga untuk menyerang, kalau-kalau ada yang akan menyerangnya.
"Tenang lah Tsutako-chan" ucap seseorang dari balik pintu yang setengah terbuka.
"Hah, Tamayo-sama" tebak Tsutako dengan cukup kaget.
"Bagaimana bisa kau berada disini?" tanya Tsutako yang masih kaget akan keberadaan Tamayo.
Belum sempat menjawab, tiba-tiba saja, ada seseorang lagi yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Nee-san, bagus lah kau sudah sadar" panik Giyu, sembari memeluk Tsutako yang juga akhirnya lega setelah melihat Tsutako sadar.
"Giyu, bagaimana kalian bisa berada disini? Dan juga, ini dimana?" tanya Tsutako yang masih kebingungan.
"Kita masih berada di hutan Amazon kak, kami ke sini menggunakan helikopter, yang dipinjam kan Oyakata-sama" jawab Giyu dengan jelas.
"Bukankah kau tidak bisa berjalan dikarenakan racunnya telah mencapai bagian kakimu?" tanya Tsutako yang semakin bingung dengan keadaan saat ini.
__ADS_1
"Ah, jadi ceritanya begini" jawab Giyu memulai cerita.
Flashback ke beberapa jam sebelumnya
Giyu yang merasa khawatir dengan kakaknya, ia pun tetap kekeh untuk menyusul kakaknya ke hutan Amazon. Tamayo pun sudah menasehati nya berkali-kali, tetapi tetap saja Giyu keras kepala ingin pergi.
"Kau sekarang tidak bisa berjalan, jika kau tetap kekeh ingin pergi ke sana, maka kau akan menjadi beban saja di sana" larang Tamayo saat mendengar permintaan Giyu, ingin pergi ke hutan Amazon dan membantu kakaknya.
"Aku tau, tapi tetap saja aku khawatir akan keadaannya" ucap Giyu tetap kekeh ingin pergi.
"Tapi, bagaimana caranya kau bisa pergi ke hutan Amazon? Sedangkan kau tidak bisa berjalan sekarang" tanya Tamayo dengan bermaksud melarang Giyu pergi.
"Semua gara-gara racun ini, kalau bukan karena ini, Nee-san pasti tidak akan membahayakan diri pergi ke hutan Amazon hanya untukku" kesal Giyu terhadap kondisinya saat ini.
Ia pun segera mengambil pisau bedah, yang berada di meja samping tempat tidurnya.
"Giyu, apa yang ingin kau lakukan dengan pisau itu?" tanya Tamayo dengan cukup panik.
Tanpa basa basi, ia langsung menyayat kedua kakinya, dan darah nya yang mengalir tersebut bukanlah berwarna merah, melainkan hitam akibat racun yang terdapat di dalam tubuhnya tersebut.
Beberapa saat kemudian
"Tamayo-sama, ayo kita berangkat" ucap Giyu yang sudah bersiap untuk pergi ke hutan Amazon.
"Huh, baiklah jika kau memaksa terus. Ayo kita berangkat" setuju Tamayo yang mulai bersiap.
"Tapi, kita ke sana menggunakan apa?" tanya Tamayo yang masih bersiap.
"Itu mudah, kita bisa meminjam helikopter dari Oyakata-sama" jawab Giyu sembari menuju keluar.
Mereka pun akhirnya berangkat menuju hutan Amazon, menggunakan helikopter yang dipinjamkan oleh Kagaya. Mereka membawa sebuah tenda darurat, yang nantinya akan digunakan, apabila Tsutako terluka di sana.
Sesampainya di hutan Amazon
Giyu yang mempunyai penglihatan yang cukup tajam, terus mencari-cari keberadaan kakaknya.
__ADS_1
Setelah cukup lama mencari, Giyu akhirnya melihat sang kakak, terbaring lemas di pinggir tebing, sembari memegang sebuah tanaman herbal.
"Di sana, Nee-san berada di sana" ucap Giyu mengarahkan sang pilot untuk terbang ke sana.
Beruntung nya, tempat Tsutako tak sadarkan diri tersebut, berada di lapangan yang cukup luas. Sehingga, sang pilot dapat mendaratkan helikopter nya, di tempat tersebut, tanpa harus khawatir akan menabrak pohon.
Helikopter pun akhirnya mendarat secara perlahan di sekitar tempat itu. Sang pilot, langsung mendirikan tenda darurat. Sedangkan Giyu, ia langsung menghampiri kakaknya yang masih pingsan, dan menggendongnya menuju ke tenda darurat.
Melihat luka Tsutako yang cukup serius, Tamayo segera mengambil tindakan, untuk menyelamatkan nyawa Tsutako. Untungnya, Tamayo berhasil merawat luka Tsutako, tanpa ada kesalahan sedikitpun.
Flashback end
"Jadi begitu, ceritanya Nee-san" ucap Giyu mengakhiri cerita.
"Oh ternyata begitu, lalu bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya Tsutako yang khawatir dengan keadaan Giyu.
"Syukurnya, tanaman herbal yang berhasil Nee-san dapatkan, merupakan tanaman yang tepat, untuk menghilangkan sisa-sisa racun, yang berada di dalam tubuhku" jelas Giyu, yang memperlihatkan dirinya sehat dan bugar.
"Yah, syukurlah kalau begitu" syukur Tsutako dengan bernafas lega. Karena akhirnya, perjuangannya pun terbalaskan dengan kesembuhan adik kesayangannya itu.
"Lebih baik, kau istirahat saja sekarang. Nanti saat sudah mau pulang, aku akan memberi tahu mu" minta Giyu, agar kakaknya beristirahat setelah perjuangan nya hari ini.
Tsutako pun menyetujuinya dan langsung memejamkan matanya untuk tidur. Disisi lain, Giyu sudah membulatkan tekatnya, bahwa jika ia bertemu kembali dengan sang junior Yoshigawa Naruda, ia akan memb*n*hnya. Karena dia lah, ia hampir kehilangan nyawanya, beserta kakaknya. Ia tidak akan ragu lagi kali ini.
Malam hari pun tiba
Mereka semua pun, bersiap untuk pulang kembali ke Jepang. Waktu yang dibutuhkan dari Jepang ke hutan Amazon kurang lebih sekitar 1 hari penuh. Awalnya, mereka menggunakan pesawat untuk tiba di Brazil, lalu menggunakan helikopter, yang telah disiapkan Kagaya di Brazil.
Mereka akhirnya pergi menuju tempat mereka mendaratkan pesawat, lalu pergi menuju Jepang dengan menggunakan pesawat tersebut. perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 24 jam tersebut, dimulai dan kurang lebih akan sampai malam berikutnya.
To be continued
Cukup sekian ya guys ya, jangan lupa di like, comment, share, favorit, beri rating, vote, beri hadiah, dan beri saran.
Bye
__ADS_1