King Mafia And Queen Psycopat

King Mafia And Queen Psycopat
KMAQP#24


__ADS_3

Alex sampai di parkiran apartemen miliknya, dia langsung melepaskan jas yang dia kenakan untuk membalut tubuh Jennifer yang sudah terbuka.


"Gak mau Lex, ini panas." tolak Jennifer menolak Alex yang melilitkan jasnya di tubuh Jennifer.


"Diam Jen, nurut bentar lagi kamu akan bisa bebas ngapain aja." tegas Alex dan langsung membopong tubuh Jennifer keluar dari mobil.


Dalam gendongan Alex Jennifer merasa rasa panasnya berkurang, dia melingkarkan tangannya di leher Alex dan mulai mengelus rahang Alex.


"Sit, tangannya kenapa nakal banget sih." keluh Alex karena tangan Jennifer tidak bisa diam.


Alex mempercepat langkahnya hingga dia sampai di depan apartemen miliknya dan langsung masuk ke dalam.


"Turun Jen." Alex akan menurunkan Jennifer dari gendongannya tapi Jennifer menolak dan malah menci umi leher Alex.


"Ah anak ini," Alex langsung mempercantik langkahnya menuju kamar dan langsung menyalakan kran air dingin untuk mandikan Jennifer.


"Aku memang laki laki jahat, tapi aku tak mungkin memanfaatkan situasi seperti ini untuk memiliki kamu." ucap Alex menguyur tubuh Jennifer yang masih berada di gendongannya sehingga membuat tubuhnya juga ikutan basah.


"Panas Lex panas." gumam Jennifer terus memeluk Alex.


"Diam Jen, ayo cepat mandi biar kamu tidak kepanasan lagi." bentak Alex tapi tak Jennifer hiraukan.


Dia tetap memeluk Alex, bahkan sekarang sudah mendengus dengus aroma tubuh Alex yang membuat Jennifer merasa tenang.


"Lex, kamu ganteng banget sih." puji Jennifer dengan tangan yang sudah menjelajahi wajah Alex.


"Sit, jangan salahkan aku kalau aku tak bisa menahannya Jen, aku sudah berusaha untuk menahannya sedari tadi, tapi tanganmu ini sungguh nakal." Alex langsung membawa Jennifer keluar dari kamar mandi dengan pakaian mereka berdua yang basah kuyup.


"Lex, aku gak tahan ini panas banget." keluh Jennifer dalam gendongan Alex.


Alex tak menjawab, dia melemparkan tubuh Jennifer ke atas ranjang miliknya dan Jennifer pun langsung melepaskan pakaiannya hingga tak ada yang tersisa.


Glek.


Alex menelan ludahnya kasar, dia tak bisa lagi menahannya. Alex pun langsung mengikuti Jennifer melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya hingga hanya tersisa ****** ***** ketat miliknya.


"Jangan salah aku besok Jen, kau sendiri yang selalu menggodaku." ucap Alex dan langsung mulai menyerang Jennifer, dan begitu pula Jennifer yang membalas serangan dari Alex.


Mereka berdua pun melakukan hal yang tak seharusnya mereka berdua lakukan, entah sampai jam berapa mereka melakukannya hingga obat perangsang yang ada di tubuh Jennifer hilang barulah Jennifer lemas dan tertidur.


Melihat Jennifer yang sudah tidak sadarkan diri, Alex pun menghentikan kegiatan mereka dan ikutan tidur di samping Jennifer.


...**...


Pagi yang cerah, secerah pasangan yang semalam tengah di mabuk percintaan. Siapa lagi kalau bukan Alex dan Jennifer, mereka berdua belum ada yang mulai membuka mata mereka.


Dengan posisi yang saling memeluk satu sama lain membuat tidur mereka semakin nyenyak, apalagi cuaca di luar sana yang sepertinya mendukung mereka berdua.


Gerimis di pagi hari dengan udara yang cukup dingin membuat siapapun enggan beranjak dari tempat tidur.


Jam terus berputar hingga pukul sebelas siang barulah Alex membuka matanya, itupun dia bangun karena terganggu dengan suara handphone miliknya yang sedari tadi bergetar.


"Siapa sih, pagi pagi ganggu tidur orang aja." gerutu Alex bangun dan mencari keberadaan handphone miliknya.


Alex belum menyadari kalau saat ini sudah bukan pagi lagi, melainkan siang hari.

__ADS_1


Alex menemukan handphonenya berada di lantai dekat tempat tidurnya, tanpa melihat siapa yang tengah menelfon dirinya Alex menggangkat telfon itu.


'Halo tuan.' ucap seseorang dari sebrang sana yang suaranya sangat Alex hafal.


Siapa lagi kalau bukan Sean.


'Sean si*l*n, kenapa kau mengganggu tidurku hah, ini masih pagi dan kau seenaknya telfon di saat tidurku sedang nyenyak.' umpat Alex marah.


'Pagi? Ini sudah siang tuan, apa anda tidak memiliki jam untuk mengetahui waktu.' balas Sean terheran heran.


Ini sudah jam sebelas siang, dan Alex bilang masih pagi, dadar tuan pemalas, pikir Sean.


"Jam berapa sih?" gumam Alex melihat layar handphonenya dan matanya langsung melotot melihat jam yang ada di handphone miliknya yang ternyata sudah pukul sebelas siang.


'Bagaimana tuan, apakah anda sudah melihatnya?' tanya Sean dari sebrang.


Tut.


Tanpa menjawab pertanyaan Sean, Alex langsung mematikan sambungan telefon saat dia menyadari sesuatu.


"Semalam...." Alex memutar tubuhnya untuk melihat ke arah ranjang miliknya dan matanya semakin melotot melihat keberadaan seseorang di sana.


"AGGRR...." teriak Alex frustasi.


Alex pun langsung mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dan langsung memasukkannya ke dalam keranjang pakaian kotor dan setelah itu dia mencari baju ganti untuk dia kenakan.


Selesai memakai baju, Alex berjalan menghampiri Jennifer yang tengah tidur dengan pulas nya di atas ranjang miliknya.


"Maaf, maafkan aku yang tak bisa menjaga kamu. Aku janji akan bertanggung jawab setelah ini." ucap Alex menatap Jennifer penuh dengan rasa bersalah.


Sedangkan Jennifer yang merasa terganggu dengan suara pintu pun mulai membuka matanya, kepalanya terasa sangat pusing.


"Auwss... kenapa ini sakit banget." ringis Jennifer memegangi kepalanya yang terasa nyut nyutan.


"Ini dimana?" tanya Jennifer pada dirinya sendiri setelah menyadari kalau dia sedang tidak berada di kamar apartemen miliknya.


Jennifer melihat sekitar dan matanya langsung menangkap foto Alex di atas meja samping tempat tidurnya.


"Ini kamar Alex?" tanya Jennifer lagi pada dirinya.


Jennifer mencoba untuk mengingat kejadian apa yang sudah terjadi semalam, dan matanya langsung melotot saat sudah mengingatnya.


"Tidak, itu tidak mungkin." Jennifer memeriksa pakaiannya, dan benar saja di balik selimut tebal yang dia kenakan sudah tidak ada lagi pakaian yang melekat di tubuhnya.


"Aaahh... aku malu banget, pasti Alex akan menganggapku wanita murahan." khawatir Jennifer.


Jennifer segera bangun dari tempat tidur dan mencari pakaian miliknya, dan lagi lagi matanya melotot saat melihat gaun miliknya ternyata sudah basah kuyup dan tak layak untuk di pakai lagi.


"Aku harus pakai apa?" bingung Jennifer.


Jennifer pun memutuskan untuk membuka lemari pakaian milik Alex dan mencari baju yang bisa dia kenakan untuk menutupi tubuh polosnya.


"Sepertinya ini muat." Jennifer mengambil kemeja putih milik Alex dan langsung mengenakannya.


Terlihat kemeja itu kebesaran berada di tubuhnya, kemeja kerja yang biasa pas di tubuh Alex kini terlihat seperti dress sepaha di tubuh Jennifer.

__ADS_1


Dan Jennifer pun tak mengenakan pakaian dalam karena memang pakaian dalam miliknya juga ikutan basah dan tak bisa lagi di gunakan.


Ceklek.


Saat Jennifer sibuk mengancingkan kemeja kerja Alex yang dia kenakan, dia di kagetkan dengan suara pintu terbuka, dengan cepat Jennifer menyelesaikan kegiatannya.


Glek.


Lagi lagi Alex harus menelan ludahnya kasar melihat penampilan Jennifer. Kemeja kebesaran dan lihat apa itu di bagian dadanya, ahh Alex merasa dirinya tersiksa akhir akhir ini.


"Kamu sudah bangun." ucap Alex setelah tersadar dari lamunannya.


Alex berjalan menghampiri Jennifer dan berdiri di depan Jennifer yang membuat Jennifer merasa tegang.


"A-aku...." gagap Jennifer meremas ujung lengan kemeja yang panjang.


"Maaf." ucap Alex membuat Jennifer seketika mendongakkan kepalanya menatap wajah Alex yang berada di depannya.


Untuk apa Alex meminta maaf, bukannya di sini yang salah itu dirinya, pikir Jennifer.


"Maaf, karena aku semalam tak bisa menjaga diri aku sehingga membuat kamu menjadi seperti ini." lanjut Alex menatap Jennifer penuh dengan rasa bersalah.


"I-ini bukan salah kamu, ini aku yang salah jadi kamu tidak perlu meminta maaf, yang seharusnya meminta maaf itu aku." balas Jennifer masih agak gagap karena takut berhadapan langsung seperti ini dengan Alex, dia malu dengan kelakuannya semalam.


Jennifer memang dalam pengaruh obat perangsang, tapi dia masih bisa mengingat sedikit sedikit tentang kejadian semalam, dan dia tahu kalau ini adalah murni kesalahan dirinya bukan Alex.


"Tidak, aku juga salah karena aku tidak bisa menjaga diri aku, aku janji akan bertanggung jawab sama kamu dan menemui kedua orang tua kamu untuk membicarakan masalah ini." balas Alex memegang kedua pundak Jennifer.


Jennifer menggelengkan kepalanya, dia tidak ada menyalahkan Alex dan dia juga tidak berniat meminta pertanggungjawaban dari Alex karena ini memang kesalahan dirinya bukan Alex.


"Kamu tidak perlu melakukan itu, mungkin ini masih sudah menjadi takdirku, kamu tidak perlu tanggung jawab. Aku tidak akan menuntut kamu kok." balas Jennifer.


"Apa maksud kamu, aku ingin mempertanggungjawabkan semuanya, kenapa kamu malah menolak?" tanya Alex dengan nada yang sudah tidak selembut tadi.


"Aku tahu kamu melakukan ini karena rasa bersalah kamu, dan kamu tidak perlu melakukan itu." balas Jennifer.


"Aku cinta sama kamu, aku ingin tanggung jawab dan menikahi kamu." bentak Alex, entah mengapa mendapatkan penolakan dari Jennifer membuat dia murka sampai dia berbicara seperti itu.


Bahkan Alex saja tidak mengerti apa itu namanya cinta, dan entah bagaimana tadi bibirnya bisa mengatakan cinta padahal dirinya saja tak mengerti apa itu cinta.


Jennifer memejamkan matanya, padahal dia sudah terbiasa mendapatkan bentakan dari orang dan dia tidak merasa takut, tapi entah kenapa dengan Alex dia merasa takut.


"Lihat mata aku, aku sungguh ingin bertanggung jawab dan menikahi kamu, bukan karena rasa bersalah aku, tapi karena rasa tanggung jawab yang ada dalam diri ini." ucap Alex meminta agar Jennifer menatap matanya.


"A-aku...."


"Apa karena lelaki itu kamu menolak aku, kamu sudah memiliki kekasih makanya tidak ingin menikah denganku." lanjut Alex.


"Laki laki? Siapa?" heran Jennifer.


"Cih, gak usah sok gak tahu, kamu jalan berdua dengan dia, karena dia kan kamu gak mau menerima aku." decih Alex.


"Apa maksud kamu?" Jennifer kali ini menatap mata Alex tajam, dia tidak pernah jalan dengan laki laki dan soal penolakannya kepada Alex itu juga bukan karena laki laki tapi murni dari dirinya sendiri.


"Halah, aku lihat kamu di acara lelang dengan seorang laki laki dan kalian pergi berdua entah kemana itu, mungkin saja kencan." balas Alex membuat Jennifer ingin rasanya tertawa.

__ADS_1


...***...


__ADS_2