
Sampai di apartemen Jennifer, mereka berdua langsung masuk ke dalam sana. Jennifer memerintahkan agar Alex duduk di sofa ruang tamu, sedangkan dia hendak menata barang barang yang tadi dia beli.
"Kamu mau minum sesuatu gak?" tanya Jennifer sebelum dia berlalu pergi ke dapur.
"Enggak deh nanti kalau aku mau aku ambil sendiri." jawab Alex.
"Ya udah aku ke dapur dulu, nanti kalau mau apa apa kamu ke sana aja." balas Jennifer dan berlalu pergi ke dapur.
Setelah kepergian Jennifer, Alex sibuk memperhatikan apartemen Jennifer yang bersih dan rapi. Semua barang barang yang ada di sana pun tertata sangat rapi dan pas di pandang mata.
"Rapi juga, jadi semakin yakin buat jadiin dia bini." gumam Alex.
Alex berdiri dari tempat duduknya, dia berjalan ke arah sebuah foto yang ada di atas meja di sudut ruangan.
"Oh Richard ganteng juga waktu muda dulu." Ucap Alex sambil terkekeh melihat foto itu.
Foto itu adalah foto keluarga Jennifer, di sana ada Daddy Richard dan juga mommy Diandra. Dan yang pastinya ada Jennifer yang berada dalam gendongan Richard.
"Pantas aja Jennifer cantik, mommynya aja secantik ini." lanjutnya saat melihat foto Diandra sewaktu muda dulu.
"Kamu juga gemes banget sih waktu kecil dulu, jadi nyesel aku kenapa gak dari dulu aja temuin kamu." sekarang giliran Alex yang memuji Jennifer sewaktu kecil dulu.
"Mungkin kalau kita bertemu sejak ke kecil dulu aku akan langsung jatuh hati sama kamu." lanjutnya.
Puas memandangi foto keluarga itu, Alex berpindah untuk melihat sisi sisi yang lainnya lagi dari apartemen Jennifer.
Semua tak luput dari perhatian Alex hingga dia berada di depan suatu ruangan yang terkunci dan dia tak bisa membukanya.
Alex penasaran dengan ruangan itu, kenapa Jennifer sampai menguncinya sedangkan kamarnya sendiri saja tadi tidak terkunci.
Apakah di dalamnya ada sesuatu yang tidak boleh sembarang orang melihatnya, atau apa? pikir Alex.
"Ah nanti saja aku tanyakan pada dia, kelamaan berkeliling bikin haus juga." Alex yang merasa tenggorokannya kering pun berlalu menuju dapur untuk meminta minum pada Jennifer.
__ADS_1
Alex melupakan sejenak rasa penasarannya pada sebuah ruangan yang menarik perhatiannya tadi.
"Sayang aku haus, kamu ada air mineral kan?" ucap Alex bertanya pada Jennifer yang tengah menata barang barang ke dalam lemari es.
"Sepertinya air galonku habis, tapi seingatku ada botol air mineral kecil di laci aku pernah menaruhnya di sana kamu ambil aja." jawab Jennifer tanpa menatap Alex.
Alex pun mengikuti apa yang Jennifer katakan, dia langsung pergi menuju laci yang ada beberapa baris dan dia memeriksanya satu persatu hingga akhirnya dia mendapatkan apa yang dia cari.
"Gimana ada gak?" tanya Jennifer menoleh kepada Alex yang sudah memegang satu botol air mineral.
"Ada kok, nih." Alex menunjukkan botol yang ada di tangannya.
Melihat Alex sudah mendapatkan minum, Jennifer pun kembali sibuk dengan kegiatannya.
Alex meminum air mineral dalam botol kecil itu hingga tersisa sedikit karena saking hausnya. Saat dia hendak menutup laci tempat dia mengambil minum tadi, pandangannya jatuh pada benda kecil yang ada di bagian pojok laci.
Alex yang penasaran pun segera mengambilnya.
"Sayang kamu sudah selesai belum, barusan aku dapat telfon dari Sean katanya aku di suruh pergi ke kantor karena ada meeting penting."
"Gak papa kan kalau aku tinggal dulu." lanjut Alex hendak pergi.
"Oh iya gak papa kok, aku juga mungkin setelah selesai beres beres mau pergi ke kantor juga." balas Jennifer.
"Ya sudah aku pergi dulu ya, nanti aku kabarin kamu lagi." sebelum melangkah pergi, Alex berjalan mendekati Jennifer yang sudah berdiri membelakangi lemari es.
Cup.
Bukan kecupan singkat, tapi ada sedikit lu ma tan yang Alex berikan pada bibir Jennifer. Jennifer pun sekarang sudah tidak secanggung tadi, dia sudah berani menikmati bahkan terkadang dia juga membalasnya.
Cup.
"Aku pergi dulu ya, aku yakin pasti aku nanti akan kangen banget sama kamu." Alex melepaskan ciumannya setelah beberapa menit.
__ADS_1
"Iya kamu hati hati ya, aku juga pasti akan kangen sama kamu." balas Jennifer.
"Ya sudah aku pergi dulu ya, dhaaa... sayang." balas Alex melambaikan tangannya dan mulai berjalan menjauh dari Jennifer.
"Dhaa bee... hati hati." balas Jennifer.
"Huh, akhirnya bisa bebas juga." lega Jennifer setelah kepergian Alex.
Jennifer langsung berlari menuju lap miliknya untuk meminum darah yang sudah tersedia di sana. Sehari tidak meminum darah itu rasanya sangatlah sulit untuk Jennifer.
"Oh iya, aku melupakan orang yang tadi memberikanku obat perangsang. Kita lihat saja nanti apa yang aku buat sama dia, aku harus segera menyuruh bila untuk mencari orang itu." Jennifer baru teringat dengan orang yang sudah memberikannya minum di acara pesta kemarin.
Setelah puas meminum darah, Jennifer langsung pergi ke dalam kamar hendak berganti pakaian formal untuk pergi ke kantor.
Meskipun ini sudah mendekati sore hari, tapi dia akan tetap pergi ke kantor, toh siapa juga yang akan memarahinya kan dia anak pemilik perusahaan.
...**...
Sementara itu, di tempat Alex, dia saat ini tengah berada di dalam ruangannya yang ada di markas Dark Mouse. Dan di tangan Alex terdapat suatu benda kecil yang tadi dia dapatkan dari apartemen Jennifer.
"Untuk apa benda ini ada di laci dapur Jennifer." gumam Alex bertanya tanya.
Alex tahu betul kalau pisau kecil yang ada di tangannya itu bukan pisau sembarangan. Harganya saja sangatlah mahal dan ketajamannya juga tidak bisa di ragukan lagi.
"Beberapa waktu yang lalu aku melihat dia terobsesi mendapatkan pisau di lelang, dan ini aku juga menemukan pisau yang hampir sama dengan pisau waktu itu." monolog Alex.
"Apakah dia suka mengoleksi barang barang seperti ini, tapi kalau memang mau dia koleksi kenapa dia letakkan sembarangan di laci dapur, seharusnya dia letakkan di tempat yang aman untuk pisau ini." lanjutnya.
"Sepertinya ada informasi yang aku tidak tahu dari Jennifer." lanjutnya lagi.
Alex pun mulai mencari informasi tentang kehidupan Jennifer dari laptop miliknya, entah apa yang dia lakukan, bisa jadi dia merentas handphone Jennifer atau pun keamanan perusahaan tempat di mana Jennifer berada.
...***...
__ADS_1