King Mafia And Queen Psycopat

King Mafia And Queen Psycopat
KMAQP#06


__ADS_3

"Sepertinya tidak ada yang perlu di revisi lagi dari proposal ini, saya setuju dengan keseluruhan yang ada di dalam perjanjian proposal ini." Ucap Alex setelah selesai membaca seluruh isi proposal yang Jennifer berikan kepadanya.


"Syukurlah kalau seperti itu tuan, pasti nanti Daddy saya akan sangat bahagia karena pengajuan kerjasamanya bisa anda terima dengan baik." balasan Jennifer tak lupa dia juga menampilkan senyuman yang sangat ramah, yang biasa dia gunakan untuk menutupi tipu muslihat dirinya.


"Kamu terlalu menyanjung, perusahaan saya hanya perusahaan biasa saja," balas Alex merendah.


"Oh iya kalau boleh saya tahu kamu habis ini pasti yang akan menggantikan posisi Daddy kamu ya?" lanjut Alex bertanya.


Dalam hati Alex dia ingin mendekatkan diri dengan Jennifer, mungkin dengan cara banyak bertanya itu akan membuat mereka berdua semakin dekat.


"Sepertinya begitu tuan, karena siapa lagi kalau bukan saya yang akan meneruskan perusahaan Daddy." jawab Jennifer.


"Ah iya saya lupa, kamu kan anak tunggal ya."


"Iya tuan benar, kalau tuan Alex sendiri bagiamana, apakah anda mempunyai saudara?" tanya Jennifer penasaran dengan keluarga Alex.

__ADS_1


"Ya aku mempunyai saudara, dia cewek tapi sangat cerewet." jawab Alex mengingat bagiamana adik satu satunya yang sangat cerewet dan selalu mengganggu dirinya ketika dia pulang ke rumah.


Ya, setelah Alex atau Vian berumur delapan belas tahun, tepatnya saat dirinya baru saja lulus SMA, ibunya di nyatakan hamil dan saat ini usia adiknya sudah 8 tahun. Adik Alex cewek, dan dia selalu cerewet tapi terkadang dia juga akan menjadi anjing kecil yang menurut dengan Alex.


"Wah benarkah, pasti sangat seru ya tuan memiliki saudara?" Jennifer sangat antusias bertanya, karena memang dia sedari kecil hidup sendiri tanpa ada saudara yang dia ajak untuk berantem ataupun becanda.


"Dulu saya kira seperti itu, tapi setelah dia beranjak dewasa ternyata lebih baik menjadi anak tunggal saja dari pada harus mempunyai saudara yang tiap hari selalu cerewet bibirnya." balas Alex.


"Wah benarkah, saya jadi ingin bertemu dengan adik anda, pasti dia sangat cantik, secarakan kakaknya aja gan... Ehh...." Jennifer langsung menutup mulutnya saat tampa sengaja akan memuji Alex ganteng.


"Benarkah saya cantik nona?" goda Alex.


"Ehh itu maksud saya tadi itu...."


"Sudahlah nona, saya tahu kok kalau saya itu ganteng, karena bukan anda saja yang bilang seperti itu." potong Alex dengan pedenya.

__ADS_1


"Kamu juga cantik." lanjut Alex memuji Jennifer.


Blush.


Pipi Jennifer langsung terasa panas, padahal dia sudah biasa mendengar pujian seperti itu dari orang orang, tapi kenapa saat mendengar pujian dari Alex rasanya itu berbeda.


"Ini kenapa pipi kamu kok merah gitu, apakah kamu sakit?" tanya Alex menyentuh pipi Jennifer tanpa permisi ya membuat pipi Jennifer malah semakin terasa panas.


"Aduh ini malah di pegang sih, nanti yang ada bukan cuma hati aku aja lagi yang baper, tapi nafsu aku juga." batin Jennifer.


"Pipinya halus banget, mana kenyal lagi." batin Alex.


"Sakit ya?" tanya Alex lagi dan dengan spontan Jennifer menggelengkan kepalanya.


"Tidak kok tidak," balas Jennifer dengan kepala yang menggeleng ke kanan dan ke kiri.

__ADS_1


...***...


__ADS_2