
Siang hari di perusahaan Alex tengah marah marah tidak jelas kepada Sean, itu semua terjadi karena dia tidak mendapatkan kabar apapun dari Jennifer.
Bahkan Alex sudah membuka blokiran nomor Jennifer tapi tidak ada satupun pesan atau pun telfon dari Jennifer. Dia juga sudah meninggalkan egonya dengan mencoba untuk menghubungi Jennifer, tapi malah tidak bisa, entah apa yang Jennifer lakukan sampai sampai hilang kabar seperti ini.
"Ini bagaimana tuan?" tanya Sean karena sedari tadi Alex tak kunjung memandangi berkas yang Sean berikan.
"Diam kau, kau itu sama saja dengan Jennifer, sana keluar." usir Alex.
"Lah, orang dari tadi saya diam di sini kok malah di samain sama nona Jennifer, tuan ini sangat aneh." ucap Sean tentunya hanya dalam hati, mana mungkin dia seberani itu berbicara langsung dia hadapan Alex.
"Tapi berkas ini harus segera anda tanda tangani tuan, karena nanti sore klien kita akan ke sini." Sean mencoba untuk membujuk Alex agar mau menandatangani berkas itu.
"Saya bilang pergi ya pergi, kau itu ganggu waktuku saja. Pekerjaan gak penting kayak gitu aja sampai marah marah, tanda tangani sendiri sana kau kan punya tangan." balas Alex semakin marah marah.
"Lah, nih tuan Alex kenapa sih, awas aja nanti kalau sampai kliennya kabur terus marah marah lagi." batin Sean.
"Kenapa kau masih di sini hah, pergi sana kalau bisa jangan kembali lagi ke sini." usir Alex.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu saya pergi dulu." balas Sean dan langsung pergi dari sana.
"Ya sudah kalau aku di suruh pergi ya aku pergi aja, lumayan kan bisa merefresh otak dulu, biarkan saja kalau nanti kerja samanya gagal, suruh siapa marah marah gak jelas." monolog Sean setelah keluar dari ruangan Alex.
Sean pun memutuskan untuk menyimpan berkas itu di dalam ruangannya, dan setelah itu dia beneran pergi dari perusahaan sesuai dengan apa perintah Alex tadi.
Sementara itu di ruangan Alex, dia masih terus mencoba untuk menghubungi Jennifer, tapi masih sama juga tidak bisa dia hubungi.
"Ini Jennifer kemana sih, awas aja kalau sampai dia berani berani main di belakangku." kesal Alex.
"Sean, Sean cepat ke sini." teriak Alex memanggil Sean karena dia memerlukan bantuan dari Sean.
Tak ada kemunculan Sean, padahal biasanya setelah Alex pangil Sean akan langsung datang gak ada satu menit, tapi ini hampir dua menit Sean tak kunjung datang juga.
"Ini anak kemana sih, bikin orang emosi aja." Alex beranjak untuk menghampiri ruangan Sean.
Karena saking emosinya Alex sampai tidak kepikiran untuk menghubungi Sean lewat handphone, ya begitulah kalau orang sudah emosi apa apa gak di pikir dulu.
__ADS_1
"Sean cepat bantu saya cari Jennifer, lacak keberadaan dia kalau perlu datang ke RH'G company." ucap Alex memasuki ruangan Sean.
"Sean." pangil Alex karena tidak mendapati adanya Sean di sana.
"Kemana ini anak?" tanya Alex pada dirinya sendiri.
Alex melihat ke arah berkas yang ada di meja Sean, dia membacanya.
"Ini anak gimana sih, berkas penting kayak gini kok malah belum suruh aku tanda tangan, gimana kalau nanti kliennya marah, dasar asisten gak pecus." maki Alex kepada Sean yang entah berada di mana.
Alex pun pergi meninggalkan ruangan Sean menuju ruangannya sambil membawa berkas yang diambil di ruangan Sean tadi.
"Dasar pemakan gaji buta, waktunya jam kerja malah keluyuran gak jelas." Alex terus menggerutu saat sampai di ruangannya.
Mungkin kalau Sean ada di sana kepala Alex sudah dia timpuk dengan tumpukan berkas, dasar Alex amnesia, tadikan dia sendiri yang sudah usir Sean.
...*** ...
__ADS_1