
"adek bunda perhatiin dari tadi kok kayanya adek lagi sedih gitu." tanya Rahma.
"Anisa nggak sedih kok bun. Tuh Anisa nggak sedih kan." Anisa tersenyum lebar berusaha menunjukkan bahwa ia tidak sedih.
Namun Rahma tau kalau anaknya berbohong. Ikatan batin seorang ibu dan anak sangatlah kuat, maka dari itu ia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh anak-anaknya.
"Anisa bunda tau kalo kamu lagi sedih, coba cerita sama bunda siapa tau bunda bisa ngasih kamu solusi." ucap Rahma dengan lembut.
Anisa hanya diam tak tau harus cerita bagaimana ke bundanya.
"kenapa nak kamu ada masalah sama temen-temen kamu." tanya Rahma.
Anisa menggelengkan kepalanya sambil menunduk.
"lalu kalo bukan karna temen-temen kamu...?." ucap Rahma.
Anisa semakin bingung mau cerita bagaimana ke bundanya.
"hhmm bunda tau pasti karna cowok kan." Rahma tersenyum.
Anisa terkejut dan sedikit takut bahkan ia juga merasa malu bahwa ibundanya mengetahuinya.
__ADS_1
"maafin Anisa bunda. tapi Anisa nggak pacaran kok." ucap Anisa berusaha meyakinkan ibundanya.
Rahma mengerti ucapan Anisa. Ia tau kali ini Anisa tidak berbohong.
"gapapa wajar dek kalau kamu punya rasa terhadap lawan jenis itu normal. tapi yang harus kamu tau jangan berlarut larut ya nak. kamu harus ingat batasan kamu terhadap lawan jenis. kamu juga harus bisa jaga diri kamu sendiri. kalo kamu pengen hatinya tenang dan tidak resah lagi mending buat sholat aja karna sekarang sudah waktunya persiapan sholat Isya'. tuh liat udah jam berapa, bentar lagi mau adzan." jelas Rahma dengan lembut dan tersenyum.
"hehe iya bundaku sayang." Anisa tersenyum dan memeluk Rahma.
Kini ia merasa lega atas nasihat-nasihat yang Rahma berikan.
Anisa bersiap-siap untuk menuju masjid dekat rumahnya. Ia berangkat ke masjid bersama ayah, bunda dan kakaknya.
"Al gimana hubungan lo sama si cewe yang waktu itu lo bawa ke tempat latihan?." tanya bang Tama.
"maksud abang diba?." jawab Al.
"nah itu." ucap bang Tama.
"dia cuma temen bang." kata Al.
"masa sih cuma temen aja." tanya bang Tama.
__ADS_1
"iya bang." jawab Al.
"jangan-jangan pacar lo cewe yang waktu itu ketemu di k*c terus abis itu lo anterin pulang. iya kan?." sahut bang Yogi.
Wajah Al seketika menjadi merah.
"bukan bang itu temen sekolah gue. lagian gue ga bakal pacaran tapi ntar langsung nikah kalo udah waktunya. heheh." jawab Al.
"wiihhhh hebat juga lo Al." kata bang Raka.
Sontak semua orang yang ada di ruangan itu tepuk tangan.
Al berada di gedung olahraga tempat biasa untuk berlatih clubnya. Mereka latihan sekaligus membuat strategi permainan untuk pertandingan minggu depan.
Club volly itu slalu jadi andalan karna strategi yang cerdik membuat mereka slalu membawa kemenangan.
Al adalah pemain termuda di clubnya. Ia slalu jadi sorotan publik. Selain tampan permainan volly nya juga sangat bagus. Di usia mudanya yaitu 17 tahun dia sudah berkali kali masuk ke club besar lainnya dan slalu jadi andalan berkat keahliannya memainkan bola.
Sedari kecil Al bercita-cita menjadi atlet. Cita-citanya kini bahkan sudah terwujud. Semua itu berkat dukungan dan doa dari kedua orang tuanya.
Baginya volly adalah belahan jiwanya. Dengan senang hati dan tulus ia akan mengabdi dan berusaha semaksimal mungkin untuk clubnya.
__ADS_1