
Akhir-akhir ini Faradiba merasa sangat kesal karena Al selalu menemani Anisa. Ia tidak suka jika Al dekat dengan wanita lain. Ia tidak akan membiarkan siapa saja yang akan mendekati Al termasuk Anisa. Baginya Al adalah segalanya. Meski Al tidak pernah meresponnya, ia tidak pantang menyerah untuk meluluhkan hatinya Al.
Sementara itu Anisa tampak melamun di ruangan dimana ia di rawat.
"Anisa kenapa nak kok dari tadi ngelamun terus." tanya Rahma.
"gapapa bunda Anisa cuma bosen aja." jawab Anisa.
Sebenarnya bukan itu yang ia rasakan. Entah kini pikirannya sudah kemana-mana. Ia takut tertinggal pelajaran, secara sudah seminggu ia tidak masuk sekolah. Tentu saja sudah banyak tugas yang telah menantinya.
Tetapi Anisa bukan tipe orang yang pantang menyerah dan pasrah, ia terus belajar meski sedang sakit agar tidak tertinggal pelajaran di sekolahnya. Terkadang ia di bantu teman-temannya untuk belajar.
"bunda Anisa kapan di bolehin pulang?." tanya Anisa.
"besok kamu sudah boleh pulang sayang." jawab Rahma.
Anisa tersenyum lebar, ia merasa senang karena besok ia akan pulang. Kembali ia membaca novel agar tidak merasa bosan. Tiba-tiba hp nya bergetar.
drrt drrt
tertera nomor yang tidak di kenal. Anisa mengerutkan dahinya, segera ia membuka pesan itu.
082231999xxx : jauhi Al. gue ga suka lo deket" sama Al. Al itu milik gue!
Anisa mengerutkan dahinya siapa yang mengirim pesan seperti itu kepadanya.
__ADS_1
Anisa : maaf ini siapa?
082231999xxx : Faradiba.
Anisa : lo dapet nomor gue dari mana.
082231999xxx : ga penting gue dapet nomor lo dari mana yang penting gue ingetin sekali lagi jangan deket" sama Al!
Anisa membaca pesan itu dengan tangan yang bergetar, bahkan hpnya pun terjatuh di atas kasur. Air matanya sudah membendung dan siap untuk terjun bebas. Namun Anisa mencoba untuk menahan agar tidak menangis. Buru-buru ia menenangkan hatinya, dan mengusap air mata yang jatuh yang tidak bisa di tahannya agar bundanya tidak mengetahuinya.
Ia terus beristighfar agar hatinya tenang. Namun kata-kata Faradiba yang menyuruhnya untuk menjauhi Al terus melayang layang difikirannya.
Setelah kejadian itu Anisa lebih banyak murung dan melamun. Pintu ruangannya tiba-tiba terbuka. Anisa menengok ke arah pintu itu memastikan siapa yang datang.
"Assalamualaikum."
Al masuk kedalam ruangan Anisa. Mereka hanya berdua di ruangan itu karena Rahma pergi ke kantin untuk membeli makan. Anisa terkejut melihat kedatangan Al. Ia tak tau harus bagaimana setelah Faradiba meluncurkan kata-kata agar ia menjauhi Al. Al yang mengetahui Anisa lebih banyak murung dan merasa tidak nyaman merasa aneh. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Anisa.
"ada apa kok kayanya kamu ga nyaman gitu." tanya Al.
"emm.. ga.. gapapa kok." Anisa tersenyum tipis.
Sebenarnya Al masih merasa ada yang mengganjal. Ia merasa Anisa berbeda hari ini. Namun ia tidak ingin banyak bertanya mengingat keadaan Anisa yang belum sehat.
Al berusaha menghibur Anisa agar tak murung dan melamun lagi. Ia memberi tau kejadian-kejadian yang ada di sekolah. Al berhasil membuat Anisa tersenyum dan tertawa lagi. Kini Anisa lupa dengan kata-kata Faradiba yang tadi.
__ADS_1
Rahma masuk ke dalam ruangan dan melihat sudah ada Al disitu.
"ada nak Al ternyata." ucap Rahma dan di sambut oleh Al.
"sudah dari tadi nak?." tanya Rahma.
"iya tante." Al tersenyum.
Al melanjutkan mengobrol lagi dengan Anisa. Rahma membereskan pakaian.
"besok gausah dateng kesini lagi." ucap Anisa datar.
Al mengerutkan dahinya, dan terkejut mendengar kata-kata Anisa barusan.
"kenapa?." tanya Al.
Anisa tampak berfikir, apakah ia harus memberi tau kata-kata Faradiba agar dirinya menjauhi Al atau tidak. Ia takut jika Al benar-benar akan menjauh darinya.
"karena.." ucapan Anisa terpotong.
Al masih penasaran dengan kata-kata Anisa.
"karena besok gue udah boleh pulang." Anisa tersenyum, meski sebenarnya bukan kata-kata itu yang akan di katakannya namun ia tak mampu untuk berterus terang.
Al yang mendengarnya tersenyum lebar. Ia sangat senang jika keadaan Anisa sudah membaik.
__ADS_1
"Alhamdulillah." ucap Al dengan tersenyum.