
Rahma kembali mengecek keadaan Anisa, ia memegang kening Anisa. Rahma terkejut saat mengetahui badan Anisa kembali panas. Kini suhu tubuhnya lebih panas dari yang sebelumnya.
Rahma berteriak memanggil suaminya dan Arsya. Dengan terburu-buru Irwan dan Arsya masuk ke dalam kamar Anisa. Rahma terlihat menangis, mereka buru-buru menghampirinya dan ingin tau apa yang sebenarnya terjadi. Rahma memberitahukan bahwa suhu tubuh Anisa kembali panas bahkan lebih parah dari yang sebelumnya. Arsya mengangkat adiknya untuk di bawa kerumah sakit. Irwan segera menyiapakan mobil. Dan Rahma mengikuti Arsya yang menggendong adiknya. Mereka terlihat sangat khawatir.
Setelah sampai di rumah sakit. Dokter memeriksa keadaan Anisa. Mereka bertiga menunggu dengan cemas dan berharap Anisa tidak apa-apa.
Tak lama dokter keluar dari ruangan dan mengatakan bahwa Anisa terkena gejala tifus yang menyebabkan ia demam tinggi. Beruntung Anisa segera dibawa ke rumah sakit karena segera mendapat pertolongan agar tidak parah. Hal itu disebabkan karna daya tahan tubuh Anisa menurun jadinya banyak bakteri yang masuk kedalam tubunya melalui makanan atau minuman yang ia konsumsi. Padahal Anisa selalu menjaga kebersihan tubuh, makanan dan minumannya namun kali ini ia kecolongan bisa saja ia membeli makanan yang tidak higenis.
Anisa harus dirawat di rumah sakit karena keadaannya yang tidak memungkinkan. Rahma pulang ke rumah untuk menyiapkan baju dan segala perlengkapan selama di rumah sakit. Kini hanya Arsya yang menemani Anisa di rumah sakit.
Arsya mencoba untuk memberitahu Zahra bahwa adiknya masuk rumah sakit.
"halo Assalamualaikum." Arsya.
"Waalaikumsalam. ada apa mas tumben malem-malem gini telpon." Zahra.
"Zahra, Anisa masuk rumah sakit." Arsya.
"Astaghfirullah kok bisa mas." Zahra.
"tadi suhu badannya panas banget, terus mas bawa ke rumah sakit ternyata kena gejala tifus." Arsya.
__ADS_1
"Ya Allah, yaudah kalo gitu besok aku kesana ya sama bapak sama ibu juga." Zahra.
"iya." Arsya.
Saat Anisa sadar ia merasa bingung karena berada diruangan yang asing baginya. Saat melihat tangannya ternyata sudah terpasang infus. Anisa baru tau ternyata ia berada di rumah sakit. Memang saat di bawa ke rumah sakit ia dalam keadaan pingsan.
****
Anisa memohon kepada kakak dan bundanya agar tidak memberitahu Farhan dan teman-temannya kalau ia sedang dirawat di rumah sakit. Hal itu ia lakukan agar teman-temannya tidak khawatir.
Zahra dan kedua orang tuanya hendak pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Anisa. Kebetulan Anita berada di depan rumah.
"mbak Aisyah mau kemana?." tanya Anita.
"siapa yang sakit?." tanya Anita lagi.
"adiknya Arsya mbak kemarin malem masuk rumah sakit ini kita mau jenguk." jawab Aisyah.
"Ya Allah. saya boleh ikut mbak?." Anita.
"boleh mbak silahkan." Aisyah.
__ADS_1
Setelah mereka sampai di rumah sakit dan segera mencari ruangan Anisa. Mereka mengucap salam dan masuk ke dalam. Anisa masih tertidur. Semua orang yang melihat Anisa merasa kasihan karena keadaannya dan wajahnya terlihat sangat pucat.
Anisa terbangun dan melihat disekelilingnya sudah banyak orang yang menjenguknya, ia ingin bangun namun badannya masih sangat lemas.
"Anisa gimana keadaan kamu nak?." tanya Aisyah.
"masih lemes tante." jawab Anisa.
Kemudian Aisyah, Anita dan Rahma tampak mengobrol. Zahra menemani Anisa.
"cepet sembuh ya Anisa. Kakak nggak tega liat kamu kaya gini." ucap Zahra.
Anisa mengangguk dan tersenyum.
"nak bu Anita ini ibunya Al yang kemarin jenguk kamu kerumah." ucap Rahma.
Anisa melihat Anita yang tengah tersenyum ramah kepadanya.
"trimakasih tante sudah mau jenguk Anisa kesini." ucap Anisa.
"sama-sama sayang, kamu cepet sembuh ya." jawab Anita dengan mengelus kepala Anisa yang tertutup oleh kerudung.
__ADS_1
Anisa tersenyum. Lama Anita, Zahra dan kedua orang tuanya menjenguk Anisa mereka memutuskan untuk pulang.