
Anisa berjalan - jalan di sekitar komplek rumahnya, karena kebetulan hari itu ia sedang libur sekolah.
Ia menuju ke taman komplek yang hanya berjarak 300 meter dari rumahnya. Sebelum sampai di taman ia melihat ada keramaian di rumah nomor 28B. Sepertinya ada yang baru pindah di rumah itu.
Sesampainya di taman Anisa mencari bangku untuk bersantai. Setelah dapat ia duduk dan memakai earphonenya. Anisa memejamkan matanya dan menikmati hembusan angin yang menerpa tubuhnya.
Anisa merasa dirinya sangat tenang. Lama Anisa menutup matanya, saat ia akan membuka matanya betapa terkejutnya ia di sampingnya sudah ada laki-laki yang terlihat seumuran dengannya tengah duduk bersamanya.
"siapa kamu?" ucap Anisa ketus.
Laki-laki itu hanya tersenyum. Anisa yang melihat itu sedikit takut dan was-was. Ia takut jika laki-laki yang sedang duduk disebelahnya itu adalah seorang penjahat.
"gue Aditya." menyodorkan tangan bermaksud untuk bersalaman.
Anisa hanya melihat uluran tangan Aditya tanpa ingin membalasnya.
"gue baru pindah disini tepatnya di rumah 28B itu." jelas Aditya.
Anisa hanya mengangguk.
__ADS_1
"lo anak komplek sini juga?." tanya Aditya.
"iya." jawab Anisa cuek.
Aditya sama sekali tidak marah karena Anisa cuek kepadanya. Justru ia menjadi sangat penasaran kepada sosok Anisa.
"sebelumnya gue gapernah liat ada cewe se cuek dia kalo gue deketin. dia beda dari cewe lainnya." batin Aditya.
Aditya memang laki-laki tampan, tinggi, badan ideal, kekinian. Dia adalah tipe idaman para wanita. Maka tak heran wanita-wanita yang melihatnya akan jatuh cinta kepadanya bahkan banyak pula yang berlomba lomba untuk mendapatkan hati Aditya. Namun kecuali Anisa. Anisa sama sekali tidak tertarik kepada Aditya, bahkan Anisa bersikap biasa saja seolah tidak terkagum kagum melihat ketampanan Aditya.
Jika di bandingkan dengan Al mereka sebelas dua belas. Sama-sama tampan dan perfect.
"iya." ucap Anisa hendak berdiri.
"tunggu." ucap Aditya sambil memegang tangan Anisa.
Anisa menoleh ke arah Aditya dan buru-buru melepas tangan Aditya.
"maaf, gue belum tau siapa nama lo." ucap Aditya sambil tersenyum manis ke arah Anisa.
__ADS_1
"Anisa." jawab Anisa dan berlalu pergi meninggalkan Aditya sendirian.
Aditya terus memperhatikan Anisa sampai ia benar-benar menghilang dari pandangannya.
"loh sayang dateng-dateng kok mukanya di tekuk gitu, ada apa?." ucap Rahma.
"gapapa kok bunda, Anisa cuma lagi ga mood aja." jawab Anisa.
"coba cerita sama bunda, ada apa. ga mungkin kan tiba-tiba kamu jadi ga mood gitu pasti ada sebabnya." kata Rahma dengan halus.
"Anisa sebel bunda, masa tadi ada cowo yang tiba-tiba nyamperin Anisa mana sok kegantengan lagi." jawab Anisa dengan sebal.
"terus?." tanya Rahma penasaran.
"yaudah Anisa tinggalin aja sendirian." Anisa.
Setelah bercerita Anisa pamit untuk pergi ke kamarnya. Ia melihat banyak notif di layar handphone nya. Ia tersenyum saat melihat nama Al tertera di layar handphonenya.
Buru-buru Anisa membalas chat dari Al. Anisa selalu merasa senang saat mendapat chat dari Al. Tak jarang mereka juga berbicara melalui via telepon. Hal itu sudah di maklumi oleh Rahma, meski sebenarnya ia melarang anak perempuannya itu untuk terlalu dekat dengan laki-laki. Namun Rahma percaya kepada Anisa, bahwa anaknya itu akan tau batasan saat sedang bersama lawan jenis.
__ADS_1