
Semenjak Anisa tau bahwa Al dekat dengan Diba ia berniat untuk menjaga jarak antara dirinya dan Al. Anisa tidak mau semakin dirinya menyimpan perasaannya kepada Al maka akan semakin menyakiti hatinya.
Sesungguhnya ia tak tau kapan perasaaan itu muncul, namun saat melihaat Al sedang bersama wanita lain dan terlihat bahagia Anisa merasa cemburu.
Anisa slalu mengingat pesan Rahma ibundanya untuk menjaga batasannya dengan laki-laki. Maka dari itu Anisa sudah memantapkan hatinya untuk melupakan perasaannya terhadap Al.
"kalau dari awal aku tau jatuh cinta semenyakitkan ini, aku memilih untuk tidak jatuh cinta. Apalagi jatuh cinta dengan orang yang salah itu akan semakin menyakitkan." batin Anisa.
Suasana sekolah pada saat itu sudah cukup ramai, banyak siswa siswi yang berdatangan. Anisa berjalan menuju ke kelasnya, ia melihat Farhan dan teman-temannya tentu saja ada Al yang sedang berada di depan kelas. Al melihat Anisa yang berjalan ke arah kelasnya. Pada saat Anisa sampai di depan kelas ia melihat sekilas ke arah Al dengan wajah jutek dan segera memasuki kelas.
Al yang menyadari hal itu merasa ada yang aneh pada Anisa. Tidak biasanya Anisa seperti itu. Al berfikir mungkin ada yang salah dengan dirinya. Namun ia tak tau dimana letak kesalahannya.
"eh btw besok sabtu anak-anak pada ngajak ke mall tuh." kata Angga.
"ha beneran?." ucap Anisa.
"lha emang lo ga buka grup sa?." sahut Yuda.
"engga, gue lagi males aja buka wa." jawab Anisa.
"gue tau nih pasti ada apa-apa sama lo sampe-sampe gamau buka wa. iya kan. hayo ngaku." goda kanaya.
"haha apasih nay. engga kok gue emang lagi males aja pegang hp." bela Anisa.
"lagian kayanya kita udah lama banget ya ga jalan bareng ke mall." sambung Anisa.
"iya bener Sa." jawab Kanaya.
__ADS_1
Kriing kriing kriing
Jam pertama dimulai. Sudah 30 menit guru yang akan mengajar tak kunjung datang. Tiba-tiba Bu Santi datang dan masuk ke kelas untuk memberitaukan bahwa mereka hanya di beri tugas saja karna guru mereka sedang ada tugas diluar sekolah.
Anisa merasa bosan, ia memutuskan untuk pergi ke perpus untuk mengerjakan tugas yang baru saja di berikan Bu Santi.
"mau kemana sa?." tanya Kanaya.
"perpus. mau ikut?." jawab Anisa.
"ngga deh mager gue." ucap Kanaya.
Anisa mengangguk. Ia memasang headset dan menyalakan musik favorit nya. Setelah itu ia berjalan keluar kelas menuju ke perpus. Saat Anisa melewati lapangan basket ia melihat Al dan teman-temannya sedang berolahraga. Anisa tak menghiraukannya dan tak ingin melihatnya.
Al yang melihat Anisa berjalan ke arah perpus berniat untuk menghampirinya. Namun tidak jadi karna teman-temannya mengajaknya untuk bermain basket.
"maaf ya nis gue nggak sengaja gue lagi buru-buru soalnya." ucap Fitri.
"gapapa kok fit." Anisa.
"lo gapapa kan?." Fitri merasa bersalah.
"gapapa kok." Anisa tersenyum kepada Fitri untuk meyakinkan bahwa ia tidak apa-apa.
"kalo gitu gue duluan ya nis gue buru-buru nih." ucap Fitri lalu meninggalkan Anisa.
Al yang melihat Anisa terjatuh berlari untuk menolongnya. Tapi sayang ia keduluan oleh Farhan.
__ADS_1
Farhan membantu mengambil buku-buku dan kotak pensil Anisa. Setelah itu membantunya berdiri dan mengantarnya ke kelas.
Al melihat ada satu buku yang tertinggal, mungkin buku catatan. Segera Al mengambilnya dan menyimpannya untuk nanti di kembalikan ke sang pemilik buku itu.
Anisa merasa kehilangan satu barangnya kemudia ia mencarinya. Ia menuju ke perpus namun setelah sampai di perpus buku miliknya tidak ada. Anisa terus menelusuri koridor yang ia lewati tadi. Tetap saja buku itu tidak ketemu.
Tiba-tiba..
"kamu cari ini." Al menyodorkan buku catatan itu.
"kok bisa ada di kamu?." tanya Anisa.
"tadi jatuh terus aku ambil." jawab Al.
"oh makasih ya." Anisa.
"samasama." Al tersenyum.
"yaudah kalo gitu gue permisi dulu." Anisa pergi sebelum Al menjawabnya.
Al merasa Anisa berbeda tidak seperti biasanya. Anisa seperti sedang berusaha menjauhinya.
Al berfikir ia berbuat salah apa ke Anisa sampai-sampai Anisa mencoba untuk menjauh. Tiba-tiba Al tersenyum.
"apa mungkin dia cemburu gara-gara liat gue sama diba kemarin." batinnya.
Namun buru-buru fikiran itu ia singkirkan. Karna menurutnya itu tidak mungkin, bisa saja Anisa tidak ada rasa kepadanya. Itu hanya halusinasinya saja, ia terlalu berharap lebih kepada Anisa.
__ADS_1