
Arsya bertemu dengan Zahra di suatu cafe, mereka sudah membuat janji sebelumnya. Arsya tampak terlihat serius.
"jadi ada apa Sya kamu ngajak ketemuan disini?." tanya Zahra
Arsya diam sejenak, ia tampak berpikir harus memulainya dari mana. Ia sangat gugup. Zahra tampak bingung melihat Arsya yang sedari tadi diam saja.
"Sya kok kamu diem aja." sambung Zahra.
Arsya berusaha mengendalikan kegugupannya. Jantungnya berdegub dengan kencang.
Sekarang ia sudah yakin akan mengatakannya kepada Zahra, entah jawaban apa yang akan diberikan oleh Zahra ia tak peduli. Yang terpenting ia sudah mengungkapkannya terlebih dahulu.
"Zahra." ucap Arsya.
"iya." jawab Zahra dengan penuh tanda tanya.
"ada yang mau aku omongin." ucap Arsya.
"mau ngomong apa." Zahra merasakan jantungnya berdegup dengan kencang.
"sudah lama aku menyukaimu, selama ini aku menyimpan perasaanku untuk kamu saja. dan sekarang aku memberanikan diri untuk bilang ini sama kamu.." ucap Arsya yang masih menggantung.
Zahra menunggu kelanjutan ucapan dari Arsya, ia sangat penasaran dan antusias mendengarkannya. Bahkan jantungnya masih berdegub dengan kencang.
"aku mau melamar kamu." lanjut Arsya.
Zahra tampak terkejut. Sesudah Arsya mengucapkan itu ia merasa sedikit lega karna sudah mengungkapkannya, namun ia juga merasa takut alih-alih Zahra menolaknya.
__ADS_1
Lama mereka diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Tiba-tiba
"temui kedua orang tua ku jika kamu ingin serius." ucap Zahra memecah keheningan.
Arsya tampak tersenyum bahagia mendengarkan ucapan Zahra. Begitu juga Zahra ia juga tersenyum bahagia.
"baik aku akan menemui kedua orang tua mu." ucap Arsya bersemangat.
Zahra mengangguk.
"lalu kapan aku bisa menemui orang tua mu?." tanya Arsya.
"secepatnya." ucap Zahra
"baik hari ini aku akan menemui kedua orang tua mu." ucap Arsya.
Sesampainya di depan rumah Zahra mereka turun dari mobil. Arsya sangat gugup. Mereka mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Tak lama kemudian pintu terbuka.
Seorang laki-laki paruh baya yang berumur sekitar 50 tahun membuka pintu dan menjawab salam. Ya ia adalah Ahmad ayahnya Zahra.
Zahra mencium tangan ayahnya, begitu juga Arsya. Kini Arsya duduk di ruang tamu bersama Zahra dan kedua orang tuanya.
"kok tumben nak Arsya datang kesini." ucap Ahmad.
"iya pak, bu saya kesini mau silaturahmi dan tentunya ada maksud tertentu." ucap Arsya.
__ADS_1
"oh begitu. kira-kira ada apa ya nak Arsya?." tanya Ahmad.
"tujuan utama saya kesini meminta izin untuk melamar Zahra." ucap Arsya yakin.
Kedua orang tua Zahra saling memandang setelah itu berganti memandang Zahra. Arsya yang melihat itu semakin takut kalau tidak mendapat restu. Jantungnya tak henti"nya berdegub dengan kencang.
"apa nak Arsya sudah yakin dengan keputusannya." tanya Ahmad.
"saya sangat yakin pak." ucap Arsya dengan mantapnya.
"baik kalau begitu bawa kedua orang tua mu datang kemari untuk melamar Zahra." ucap Ahmad.
"baik pak saya akan membawa orang tua saya kemari untuk melamar Zahra secepatnya." ucap Arsya dengan perasaan bahagia.
****
Arsya mencari ayah dan bundanya untuk memberitahu sesuatu.
"ayah bunda." Arsya.
"ada apa nak?." ucap Irwan.
"Arsya mau memberitahukan sesuatu." Arsya tampak bersemangat.
Kedua orang tuanya saling pandang dan berfikir ada apa dan apa yang akan di sampaikan Arsya.
"Arsya sudah datang menemui orang tua Zahra untuk melamarnya. Mereka meminta ayah dan bunda datang kesana untuk melamar Zahra." ucap Arsya.
__ADS_1
"baik kita akan kesana secepatnya. karna ayah yakin pilihan kamu pasti yang terbaik." jawab Irwan.
Mereka tampak bahagia karna akhirnya Arsya sudah menemukan tambatan hatinya. Lalu mereka membicarakan soal persiapan lamaran Arsya.