
Anisa pulang kerumah dengan perasaan lega dan bahagia. Karna ia sudah mengetahui semuanya. Ternyata hanya terjadi kesalahpahaman diantara dirinya dan Al.
Tak henti-hentinya Anisa tersenyum di sepanjang jalan. Untung saja kaca helmnya sedikit gelap jadi tidak ada yang melihatnya.
"Assalamualaikum."
"bunda Anisa pulang."
Tak ada jawaban. Rumahnya terlihat sepi bahkan pintunya terkunci. Sepertinya dirumah sedang tidak ada orang. Anisa mencari kunci yang biasanya di letakkan di pot bunga depan teras rumahnya. Ketemu, setelah Anisa membuka pintu ia masuk ke dalam dan menuju ke kamarnya.
Tuuut tuuut tuuut
Anisa berusaha menelpon bundanya namun tidak ada jawaban.
"o iya gue lupa bunda kan dirumahnya tante Dewi, ayah sama kakak masih kerja kalo jam segini." ucap Anisa.
Sudah jam 8 malam, ayah bunda dan kakaknya tak kunjung pulang. Anisa sudah sangat kelaparan karna di dapur sama sekali tidak ada makanan. Anisa mencoba menelpon kakaknya, namun sebelum ia memencet tombol telfon ternyata ayah bunda dan kakaknya pulang.
"Assalamualaikum."
"waalaikumsalam." jawab Anisa dengan lemas.
Rahma dan Irwan yang melihat anaknya lemas merasa kawatir.
"Anisa kamu kenapa nak kok lemes gitu." tanya Rahma.
"kamu sakit nak?." sambung Irwan.
"apa perlu kita ke dokter." ucap Arsya.
__ADS_1
Mereka mengkhawatirkan keadaan Anisa sekarang. Anisa menangis dengan kencang, dan membuat mereka semakin bingung.
"Anisa kok nangis sih dek." ucap Arsya yang terlihat bingung.
"hwaaa hwaa hwaa." Anisa menangis dengan kencang.
"Anisa ada apa?." ucapa mereka bersamaan.
Mereka saling tatap karna tak sengaja bertanya secara bersamaan. Anisa berhenti menangis sebentar dan melihat ke arah ayah bunda dan kakaknya. Lalu melanjutkan lagi nangisnya.
"Anisa laaapeeeeerrrrr." ucap Anisa sambil menangis dan sedikit menjerit.
Sontak ayah bunda dan kakaknya pada tepuk jidat karna tingkah Anisa.
"hehe Anisa laper, mau makan tapi ga ada makanan." ucap Anisa dengan cemberut.
Anisa memakan makanannya dengan lahap, ia seperti orang yang tidak makan selama seminggu.
Saat berada dirumah Anisa selalu bersikap seperti anak kecil dan sangat manja, namun saat di luar rumah ia terlihat sangat dewasa dan agak sedikit galak.
"kok ayah bunda sama kakak pulangnya bisa barengan gitu?." tanya Anisa.
"tadi kakak minta jemput sama ayah soalnya mobil kakak masuk bengkel gara-gara mogok, terus abis itu nyusulin bunda ke rumah Farhan." jelas Irwan.
Anisa hanya mengangguk tandanya mengerti.
****
Arsya sedang sibuk memainkan hpnya. Ia terlihat gelisah. Tampaknya ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya.
__ADS_1
"Ada apa kak kok gelisah gitu. Sini cerita sama bunda." ucap Rahma.
Arsya tampak berfikir sejenak.
"bunda." ucap Arsya.
"iya nak." jawab Rahma.
"Arsya bingung bunda." kata Arsya.
Rahma mengerutkan dahinya.
"bingung kenapa Arsya?." tanya Rahma.
"Arsya menyukai seorang wanita, Arsya ingin melamarnya bunda." kata Arsya.
Rahma menunggu ucapan anaknya kembali.
"wanita itu dulu teman kuliah Arsya dan selama ini kita berteman dengan baik dan masih menjalin komunikasi. dia itu wanita yang mandiri, baik dan cerdas. Arsya sudah yakin bunda ingin melamarnya, karna Arsya dan Zahra sudah saling menyimpan perasaan sudah sejak lama." jelas Arsya.
Rahma tampak tersenyum bahagia karna melihat anaknya yang sudah menemukan tambatan hatinya.
"siapa nak nama teman kamu itu?." tanya Rahma.
"Zahra." jawab Arsya.
"Alhamdulillah nak sekarang kamu sudah menemukan tambatan hati kamu. Pesan bunda kalau kamu memang serius perjuangkan dia." ucap Rahma sambil tersenyum dengan lembut.
Arsya tersenyum lebar dan mengangguk.
__ADS_1