
Acara PENSI di sekolah cukup menguras tenaga namun mengasyikkan. Flora kini sudah sampai depan Rumah langsung melangkahkan kakinya memasuki Rumah dan mengucapkan salam, terdengar ada seorang wanita paruh baya menjawab salam Flora dan menghampirinya.
" Flora mana kodaknya? biar budhe yang nyetak." ujar Budhe yang baru saja menghampiri Flora.
" Gak usah Budhe, biar Flora saja." jawab Flora sungkan.
" Udah sini." paksa Budhe sembari menyodorkan tanganya.
Flora terdiam dan sepertinya sudah tidak bisa lagi membantah perkataan Budhenya, Flora mengambil kodak dari ranselnya dan dia menyerahkan kodak tersebut pada Budhe.
" Flora jangan kemana mana ya, Jaga rumah dulu Budhe mau nyetak foto." tutur Budhe santai. " Kalau mau makan, lauknya ambil di lemari dapur, soalnya kalau di taruh meja di kerumuni semut." imbuhnya.
" Iya Budhe." jawab Flora pasrah.
Wanita paruh baya itu berlalu pergi untuk nyetak Foto, Flora sendiri masuk ke dalam kamarnya. Dia berbaring di atas kasurnya yang empuk, sungguh enak sekali rasanya bisa membaringkan seluruh badan setelah setengah hari beraktifitas. Ketika Flora memandangi langit-langit kamarnya dia teringat akan sesuatu, kemudian wanita itu segera meraih ransel didekatnya dan mencari handphone.
Di lihatnya layar handphone ada sebuah pesan masuk dari Rio.
" Sayang kamu sudah sampai rumah?" Rio
" Iya barusan." Flora
" Kamu masih ga enak badan?" Rio
" Aku udah baikan kok,tenang saja." Flora
Wanita itu sedang asyik smsan dengan Rio, terlihat garis senyuman di bibir Flora berulang kali entah apa saja yang mereka bahas, terdengar ketukan pintu kamar Flora membuyarkan keasyikan mereka.
Flora beranjak menuju pintu kamar, di putarnya kenop pintu terlihat Budhe berdiri dibaliknya sembari tangan membawa hasil jepretan Flora tadi di sekolah.
" Nih hasil jepretanmu." Ucap Budhe menyerahkan foto.
" Terima kasih Budhe." ujar Flora menerima foto.
Flora kemudian kembali ke dalam kamar, di lihatnya hasil foto yang di cetak Budhe namun seperti ada yang kurang, wanita itu bingung foto dirinya dengan Rio tidak ada.
"Kenapa foto ku sama Rio waktu duduk berduaan ga ada ya?" gumam Flora, tanpa berfikir panjang Flora keluar dari kamar dan mencari Budhenya. Di carinya di dapur ternyata tidak ada, kemudian beralih ke kamar Budhe diketoknya pintu kamar.
Tok....tok ..tok.....
Flora mengetuk kamar Budhe hingga tiga kali, terlihat Budhe membuka pintu kamar.
" Maaf Budhe, Flora mengganggu" ujar Flora sungkan.
__ADS_1
" Ada apa?" ucap Budhe santai.
" Begini Budhe, Flora mau nanya Budhe nyetak Fotonya semua gak?" tanya Flora ragu.
" Iya Budhe cetak semuanya." ucap Budhe yakin. "Memangnya kenapa?" imbuhnya.
" Tapi kok seperti ada foto yang hilang ya Budhe?"
Budhe diam tidak menjawab pertanyaan Flora, wanita paruh baya itu malah menyuruh Flora masuk ke dalam kamarnya.
Budhe mengambil lembaran Foto di atas meja. " Ini yang kamu cari?" ujar Budhe menunjukkan beberapa lembar foto.
" Iya itu Budhe yang Flora cari." terlihat Flora sangat senang karena Foto yang dia maksud ternyata ada.
" Foto ini akan Budhe simpan dan baru menyerahkan ketika kamu sudah lulus nanti." tutur Budhe dengan serius.
" Loh kenapa Budhe?" tanya Flora penasaran.
" Budhe kan bilang jangan berfoto yang enggak-enggak." Budhe berucap dengan sedikit penekanan. " Menurut kamu foto seperti itu apa sopan? ingat kalian berdua itu belum sah jadi suami istri jadi ga sepantasnya kalo kalian rangkulan apalagi berpelukan." imbuh Budhe berbicara dengan nada tinggi.
Flora seketika langsung meneteskan air mata namun dengan cepat dia usap dengan punggung tanganya supaya tidak diketahui Budhe, Budhe mengambil dompet yang tidak jauh darinya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang.
" Ini ada uang dua juta, barusan Budhe ambil dari ATM." ucap Budhe kesal. " Dan uang ini buat Flora beli cincin dengan Rio." imbuh Budhe. wanita itu terdiam dia sangat bingung apa yang di maksud Budhe.
" Budhe mau Flora dan Rio bertunangan kalo perlu kalian menikah" jelas Budhe dengan penekanan.
Duarrrr, gadis yang selama ini di rawat oleh Budhe merasa dapat sambaran petir di siang bolong, wanita itu tidak menyangka akan keluar ucapan tersebut dari mulut Budhe, wanita paruh baya dengan sabar merawat Flora dan penuh kasih sayang tidak henti-hentinya memarahi Flora. Flora sungguh syok dibuatnya, bahkan dia gak habis pikir kalau di usianya yang belum genap 17th harus bertunangan apalagi sampai menikah.
" Enggak Budhe, Flora gak mau, Flora kan masih sekolah dan belum siap bertunangan apalagi menikah" ucap Flora berat karena sedari tadi wanita itu menahan dirinya supaya tidak menangis.
" kalau Flora gak mau, maka Flora jangan pacaran. Sekarang keputusan ada di tangan Flora." ucap Budhe dengan lantang.
Flora tidak menjawab lagi ucapan Budhe, dia langsung beranjak pergi meninggalkan kamar Budhe dan menuju ke garasi untuk mengambil sepeda.
Flora menggayuh dan terus manggayuh sepeda itu tanpa tau arah tujuan. Flora mengayuh sepeda melewati beberapa rumah dan persawahan, sawah yang terhampar luas nan indah serta angin yang bertiup sepoy-sepoy tidak bisa menghibur hati Flora yang sedang lara.
Flora terus bergelut dengan pikirannya dengan beberapa pertanyaan-pertanyaan dilontarkan Budhe. Kini hatinya seperti tertancap pisau yang sangat tajam, sehingga bernapas pun terasa sangat sulit.
" Apa aku sanggup kalau harus putus dari Rio
Dan apa aku harus menikah di usia muda, sedang kan aku sendiri masih ingin mengejar impian. Apa yang harus aku lakukan?"gumam Flora.
Flora ingin sekali berteriak dan menangis sejadi-jadinya agar dadanya tidak lagi sesak.
__ADS_1
Akhirnya dia memutuskan untuk mengayuh sepedanya ke pantai agar dia bisa menumpahkan segala rasa yang mengganjal di hatinya.
Kini sepeda yang Flora naiki telah berhenti di pantai, dia turun dari sepeda dan berjalan perlahan menuju bibir pantai. Di lihat sekeliling tidak ada seorangpun, mungkin karena siang hari jadi orang-orang malas untuk pergi ke pantai pikir Flora.
Tapi justru ini yang Flora inginkan, karena dia ingin menangis tanpa ada orang yang melihat. Tidak perlu memerlukan waktu lama, Flora akhirnya menangis sejadi-jadinya, sampai ada seorang wanita paruh baya datang menghampirinya.
" Dek kenapa?" tanya wanita paruh baya.
Flora yang mendengar ada suara orang bertanya langsung menengok.
" Tidak apa-apa bu." ucap Flora sembari mengusap air matanya.
" Kalau boleh ibu tahu, adek ada masalah apa? Siapa tahu ibu bisa bantu." ujar wanita paruh baya itu dengan lembut.
" Gak papa kok bu, saya cuma merasa sedih saja." jawab Flora.
" Adek pasti masalahnya kalau bukan karena cinta pasti karena orang tua ya?" tebak wanita paruh baya itu.
Flora terdiam sesaat, dia berpikir apa aku cerita saja ya sama ibu ini siapa tahu dia punya solusi. Setelah Flora berpikir akhirnya dia memutuskan untuk bercerita dengan ibu yang baru saja dia kenal, Flora bercerita semua kejadian-kejadian yang dia alami tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Ibu itu mendengarkan cerita Flora dengan penuh Seksama.
" Dengarkan ibu ya, Budhe kamu melakukan itu karena dia tidak mau keponakan yang di cintai melakukan tindakan yang di luar batas. Adek kan tahu seperti apa pergaulan anak jaman sekarang?" tutur wanita paruh baya.
" Ya saya tahu bu, tapi gaya pacaran saya masih normal kok ga berlebihan." bantah Flora.
" Mungkin adek dan pacarnya berusaha menjaga agar tidak melakukan tindakan di luar batas, tapi perlu adek ingat kalau setan dimana-mana, dengan kalian selalu berduaan lama kelamaan hasrat kalian akan naik dan itu tidak menutup kemungkinan kalian akan melakukannya. Jadi pesan Ibu sebaiknya adek pulang dan bicarakan ini baik-baik dengan Budhe agar masalah ini tidak berlarut-larut." nasehat ibu itu panjang lebar.
Flora mendengarkan penjelasan dari ibu itu merasa sedikit menemukan secercah cahaya di hatinya.
" kalau adek tidak mau putus dan tetap ingin sekolah, saran ibu sebaiknya pacar adek ajak ke rumah dan suruh dia berjanji di depan budhe kalau dia akan selalu menjaga adek dan tidak akan melakukan tindakan di luar batas.Dengan demikian ibu jamin, Budhe akan merestui hubungan kalian." imbuhnya.
" Iya saran ibu benar juga. Terima kasih atas solusinya, oh ya kita belum kenalan nama ibu siapa? Kalo saya Flora." ucap Flora polos seraya mengulurkan tangan.
" Iya sama-sama, nama ibu....ibu Sutinah." ujarnya menjabat tangan Flora.
" Ibu siang-siang kenapa di sini?" tanya Flora.
" ibu berjualan disini dek, mari mampir." ajak Ibu.
" Makasih ibu, lain kali saja. Saya pamit pulang dulu, takut Budhe di rumah cemas mencari saya" jelas Flora.
Sebelum pergi Flora menyempatkan diri untuk mencium tangan ibu Sutinah, selesai mencium tangan, Flora beranjak pergi menuju sepedanya. Kini Flora merasa kegelisahan hatinya telah sirna, dia menjadi optimis untuk menyelesaikan masalah yg sedang dia hadapi.
terimakasih jangan lupa like komen jadikan favorite dan Vote yah.πππ
__ADS_1