
Di sepanjang jalan Flora dan Rio tidak henti-hentinya mengobrol, apa tidak berbusa itu mulut, entah apa saja yang mereka bicarakan seperti tidak ada habisnya bahan obrolan, bahkan sesekali terdengar ledakan tawa mereka. Kalau lagi marahan saja, itu mulut benar-benar tertutup rapat, giliran sudah baikan, seperti pasar saja BERISIK.
" Rio, malam ini aku bahagia sekali karena kita sudah baikan." Flora memeluk Rio erat, terukir senyuman tulus di bibirnya.
" Iya aku juga, bahkan aku gak sabar, untuk bertemu dengan mu besok di sekolahan." ujar Rio, tangan kiri Rio menyentuh tangan Flora yang memeluknya, sedangkan yang kanan memegang kendali motor.
" Tapi besok dan dua hari ke depan aku gak masuk sekolah, karena malam ini aku, Budhe dan Pakdhe mau berangkat ke kediri." jelas Flora lemas.
" Kok kamu gak ngasih tahu aku sih, kalau mau ke kediri." ucap Rio kesal, pria itu merasa tidak di hargai sebagai kekasih. Seketika Flora melepas pelukanya, dan membenarkan posisi duduknya.
" Bukannya kamu lagi puasa bicara sama aku?" ledek Flora.
" Ya...ya gak usah bahas itu lagi bikin gondok saja." elak Rio. " Terus kamu ke kediri ngapain?" tanyanya.
" Ada saudara yang mau nikah, tenang saja secepatnya aku pulang kok." jawab Flora menenangkan.
" Beneran lo ya." ucap Rio memastikan. " iya." jawab Flora gemas dan terlihat dari kaca spion, Rio tersenyum bahagia. "Dasar." gumam Flora pelan sembari mengukir senyuman manisnya.
Tanpa terasa Flora dan Rio sudah berada di halaman rumah Budhe, sedangkan Ibra tertinggal di belakang.
Flora baru saja melepas helm, sudah terlihat Budhe membuka pintu rumah dan menghampirinya. Budhe sangat terkejut ketika tahu keponakanya pulang bersama Rio dengan luka lebam di mukanya. Terlihat muka Budhe begitu merah dan keluar gurat-gurat di wajahnya, wanita paruh baya itu sungguh emosi, seketika tangan kananya mendarat ke pipi Rio begitu keras.
PLAAAKKK.....
" Kau apakan keponakan ku hah?" tanya Budhe penuh amarah. Rio yang di tampar pipinya merasa kaget dan berusaha mencerna perkataan Budhe.
" Saya tidak apa-apakan Flora kok Budhe." jawab Rio tegas dengan tangan memegang pipi bekas tamparan Budhe.
" Jangan bohong kamu." ucap Budhe menatap tajam Rio. Flora berusaha menenangkan Budhe, di elusnya dada Budhe berulang kali dan sedikit menjauhkannya dari Rio.
" Sudah Budhe jangan marah dulu, Rio gak apa-apain Flora kok." tutur Flora panik. Tiba-tiba Ibra datang, pria itu langsung turun dari motor dan menghampiri mereka, dia merasa bingung dengan situasinya, apalagi melihat Rio seperti menahan rasa sakit di pipinya, ada apa sebenarnya gumam Ibra.
" Assalamualaikum, ini ada apa ya? kok ribut-ribut?" ucap Ibra.
" Waalaikumsallam, siapa kamu? sebaiknya kamu jangan ikut campur." jawab Budhe semakin kesal.
" Maaf ini pasti Budhenya Flora ya? Perkenalkan nama saya Ibra, saya sepupunya Rio, saya tadi menolong Flora ketika di kejar oleh dua preman." ucap Ibra berusaha menjelaskan.
" Apa? jadi Flora di kejar dua preman ketika di minimarket?" ujar Budhe panik. Ibra nampak bingung dengan perkataan Budhenya Flora. Kenapa jadi di minimarket, batin Ibra. Ibra melirik Flora yang berada di belakang Budhenya, Flora langsung memberi isyarat kepadanya agar mengiyakan perkataan Budhenya.
" Iya Budhe, tadi kebetulan saya melihat Flora di kejar preman, makanya saya langsung menolongnya, terus saya mengajak Flora ke rumah, supaya ibu saya bisa mengobati luka dan memberi baju yang layak untuk Flora kenakan. Adapun Rio bisa mengantar Flora pulang karena saya yang meneleponnya, Flora bercerita kalau Rio itu pacarnya, oleh sebab itu saya berpikir Rio wajib tahu apa yang terjadi pada Flora." jelas Ibra panjang lebar. Budhe mendengar penjelasan dari Ibra lambat laun amarahnya mereda.
" Nak Rio maafin Budhe ya? Soalnya Budhe khawatir sekali dengan kondisi Flora." ujar Budhe menghampiri Rio, dan di elusnya pipi Rio yang di tamparnya tadi.
" Gak apa-apa kok Budhe, saya tahu Budhe melakukan itu semua karena Budhe sangat menyayangi Flora." jawab Rio lirih.
" Terima kasih sudah memaafkan Budhe, kalau begitu mari masuk ke dalam dulu." ajak Budhe.
" Terima kasih Budhe, bukannya kami tidak sopan karena menolak ajakan Budhe tapi ini sudah malam jadi kami mau pamit langsung pulang saja." sambung Ibra.
" Oh begitu, ya sudah hati-hati di jalan dan sekali lagi Budhe ucapkan terima kasih buat kalian berdua yang sudah mengantar pulang Flora dengan selamat."
" Iya Budhe." ucap Rio dan Ibra bersamaan. "Assalamu'alaikum." imbuh mereka.
" Walaikumsallam." jawab Flora dan Budhe, terlihat dua pemuda itu sudah tidak ada di hadapan mereka, Budhe mengajak Flora untuk masuk rumah.
***
Sesampainya di rumah Rio, Ibra merasa kesal dengan sepupunya, tanpa memberi aba-aba pria itu memberhentikan kendaraanya di rumahnya. kebetulan Rio yang mengendarai Motornya sedangkan Ibra yang di bonceng.
__ADS_1
" Loh, kenapa berhenti di rumahmu sih? antar aku pulang." tanya Ibra ketus.
" Capek lah kak, bawa saja motor aku, besok pulang sekolah aku ambil." jawab Rio lemas, pria itu berlalu meninggalkan Ibra, dan Ibra berlari mengikuti sepupunya dari belakang.
" Kenapa sih? kelihatan lagi bete banget?" tanya Ibra khawatir.
" Gimana gak bete coba, Budhenya Flora main tampar-tampar saja, sakit nih hati." jawab Rio sambil menunjuk ke arah dadanya.
Tanpa di sadari Rio, ucapannya sangat menggelikan bagi Ibra, pria itu seketika meledakkan tawanya hingga terpingkal-pingkal.
" Terus saja ketawa." ucap Rio kesal, pria itu cemberut dan mempercepat langkahnya memasuki rumah.
" Sorry...sorry, aku cuma heran saja, dulu kamu sakit hati karena di tampar Flora, sekarang kamu sakit hati karena di tampar sama Budhenya." ucap Ibra kembali tertawa.
" Tau tuh, keponakan sama Budhe sama-sama suka nabok muka." jawab Rio kesal.
" Makanya pipi kamu kasih pasta gigi." tutur Ibra serius sembari duduk di sofa dekat Rio.
" Apa hubungannya?" tanya Rio bingung.
" Pasta gigi fungsinya menghilangkan PLAK." jawab Ibra berusaha memasang mimik muka serius. " Terus suara tamparan bunyinya gimana?" tanya Ibra semakin tidak jelas.
" PLAK." jawab Rio polos.
" Tuh ngerti, kalau kamu pakek pasta gigi di pipi, waktu pipimu di tabok gak akan sakit, karena gak ada bunyi PLAK. Hahahahaa......
" Sialan ......." Rio beranjak dari duduknya dan hendak pergi meninggalkan Ibra, namun Ibra mencegahnya.
" Mau kemana kamu main cabut saja?"
" Mau ke kamar tidur." jawab Rio santai.
" Waaahhh....emang benar-benar nih bocah gak tau sopan santun, udah di tolongin juga pacarnya main tinggal-tinggal saja." goda Ibra.
" Bukan begitu, masa kamu tega ninggalin aku sendiri di ruang tamu, mana gak di kasih suguhan lagi." ujar Ibra.
" Yasudah bentar, aku bawain cemilan sama minuman." Rio beranjak pergi.
" Sekalian bawa gitar ya!" teriak Ibra. Rio memasuki dapur mengambil cemilan dan minum kemudian lanjut ke kamar untuk mengambil gitar.
Di tempat lain
Flora, Budhe dan Pakdhe sibuk memasukkan koper dan beberapa kue ke dalam mobil, karena malam ini juga mereka akan pergi ke kediri.
" Flora yakin mau ikut?" tanya Budhe lembut.
" Yakin Budhe, Flora gak apa-apa tenang saja." jawab Flora.
" Itu muka Flora masih lebam gitu, Flora di rumah saja ya." ujar Budhe khawatir.
" Gak mau Budhe, Flora sudah lama banget gak ke kediri lagi, semenjak papah di pindah tugas ke jakarta. Flora benar-benar kangen dengan tanah kelahiran." ucap Flora maksa.
" Ya sudah kalau begitu Flora masuk ke dalam mobil dulu, Budhe mau mengambil cemilan buat di perjalanan nanti."
" Baik Budhe."
Flora masuk ke dalam mobil di susul oleh Pakdhe.
" Gimana Flora ada yang ketinggalan gak?" tanya Pakdhe.
__ADS_1
" Gak ada, semuanya sudah masuk ke dalam mobil, tinggal nunggu Budhe yang masih mengambil cemilan."
Beberapa saat kemudian Budhe sudah masuk ke dalam mobil dengan membawa tas yang berisi banyak cemilan, dirasa semua sudah siap akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat.
Di rumah Rio
Ibra terlihat senang sekali, karena Rio membawa beberapa snack dan es teh manis sesuai dengan pesanan Ibra.
" Thanks ya Rio, eh mana nih gitarnya."
" Sabar kenapa, aku kan susah bawanya." Rio masuk lagi ke kamar dan mengambil gitar.
" Nih gitarnya." memberikan kepada Ibra dan pria itu menerimanya.
Tanpa basa-basi Ibra langsung memainkan gitar milik Rio sembari bernyanyi.
*Kau mungkin bukanlah
sesuatu yang baru dalam hidupku
Dalam pencarian cintaku
Mewujudkan mimpi-mimpiku
Karena dahulu engkau
Pernah menjadi kekasih hatiku
Perhiasan dalam mimpiku
Mewarnai seluruh hidupku
Berjanjilah kau setia bila menjadi kekasihku lagi
Berjanjilah kau setia bila kau masih mencintaku
Oh...oh .hoooo......
Berjanjilah kau setia untuk menyayangi aku lagi
Berjanjilah kau setia selama masih di sisiku
Semoga rasa ini
Abadi untuk selamanya
Semoga cinta ini
Akan selalu ada
Berjanjilah........berjanjilah......
PLOK...PLOK...PLOK.....suara tepuk tangan dari Rio.
" Keren....keren, suara kak Ibra bagus juga." Puji Rio.
" Iya dong, Ibra gitu loh." jawab Ibra menyombongkan diri.
" Sudah, makan dulu nih." ucap Rio memberikan cemilan.
__ADS_1
" Dengan senang hati."
terima kasih buat semuanya yang masih setia menunggu novel kami, somoga semakin terhibur yah dan minta dukunganya dong๐๐ kasih Like komen vote dan jadikan Favorite yah, oh yah kasih bintang 5 dong hehehe terima kasih.