Kisah Cinta SMA 2007

Kisah Cinta SMA 2007
gelang couple Flora hilang part 2


__ADS_3

Flora sudah tidak bisa lagi menahan rasa cemasnya akan kehilangan sebuah gelang yang sangat berharga baginya, tubuh mungilnya tidak bisa diam di tempatnya, mondar-mandir menunggu akan kehadiran istri pak Peno, lebih tepatnya menunggu sebuah kunci yang akan menenangkan ke cemasanya saat ini. Beberapa saat kemudian istri pak Peno keluar dengan membawa kunci, terlihat Flora menghela nafas lega dan terukir sebuah senyuman senang.


" Ini kuncinya." ujar istri pak Peno dengan menyerahkan kunci pada Flora. " Tapi ibu gak bisa menemani ke sekolah ya, soalnya ibu masih sibuk di dapur." imbuhnya.


" Gak apa-apa kok bu, saya berani sendiri, tapi saya nitip motor di sini boleh?"


" Oh ya boleh." jawab istri pak Peno sembari senyum.


" Kalau begitu saya pamit dulu." pamit Flora, kemudian dia berjalan menuju sekolahnya, ada sedikit rasa takut di benaknya, karena sekolahan itu nampak angker di mata Flora.


" Kalau bukan karena gelang couplean gak bakalan aku mau ke sini malam-malam." keluh Flora.


Kini Flora sudah berada di depan pintu gerbang sekolah, di bukanya pintu itu perlahan dan dia masuk ke halaman sekolah dengan hati yang was-was, keringat dingin pun mulai keluar dari pelipisnya. Walau Flora mulai ketakutan tapi itu tidak membuat langkah kakinya terhenti, dia tetap masuk menuju lorong sekolah.


" Aduh ini mau masuk lorong sekolah lagi, aku jadi takut, ih gelap sekali kenapa tadi gak kepikiran minjam senter ya, arghhh...."gerutu Flora kesal.


Sebelum memasuki lorong, Flora membaca doa terlebih dahulu setelah selesai membaca doa Flora memberanikan diri memasuki lorong yang gelap itu. Kelas demi kelas dia lalui dengan tidak menengok sedikitpun karena dia takut jika sampai menengok ke dalam kelas maka akan ada penampakan di sana.


Akhirnya Flora sampai di tempat tujuan, di bukanya pintu Laboratorium dengan kunci yang dia pinjam dari istrinya pak Peno. Begitu dia masuk lalu di carinya saklar dan di pencetlah saklar itu hingga lampu pun menyala. Tanpa menunggu lama Flora segera mencari gelangnya di wastafel karena dia yakin terakhir melepas gelang itu ketika cuci tangan bersama Fita.


Betapa kecewanya gadis itu setelah melihat barang yang di cari tidak ada.


" Aduuuhhh.....kenapa tidak ada sih, di mana....di mana?" gumam Flora frustasi, Flora coba mencari gelang itu di setiap sudut ruangan tapi tetap sama hasilnya nihil. "Gelang kamu dimana?" ucap Flora seraya mengeluarkan air mata hingga membasahi pipinya.


Flora mulai putus asa, dia menyerah, dan memutuskan untuk duduk di sebuah kursi dekat dirinya, tangan Flora mengusap kasar mukanya, matanya terpejam, kepala menengadah ke atas tidak sedikit air mata membasahi pipinya, wanita itu nangis sejadi-jadinya.


Tiba-tiba Flora merasakan ada tangan yang menyentuh pundaknya, ketika dia menengok ke belakang gadis itu langsung berteriak.


" Aaaaaaaa.......siapa kalian?" ucap Flora ketakutan dan segera berdiri dari duduknya.


Ternyata Orang yang mengejutkan Flora dengan menyentuh pundak gadis itu adalah preman yang kerap kali berkeliaran di dekat sekolahnya ketika malam hari.


" Kalian mau apa? jangan mendekat." ucap Flora membentak sembari mundur ke belakang.


" Jangan takut cantik, kami hanya ingin mencicipi tubuhmu." ucap preman satu tertawa puas.


" Iya ayo sini kita bersenang-senang." sambung preman dua menyeringai.


Flora semakin ketakutan, keringat dingin sudah membasahi sekujur tubuhnya, jantung yang berdetak begitu cepat bahkan kaki Flora terasa sangat lemas.


" Aku mohon jangan sakiti aku." ucap Flora lirih.

__ADS_1


" Tenang saja cantik, kita akan melakukannya dengan lembut, iya gak bro?" tanya preman satu.


" Yoi hahahahaha....." sambung preman dua.


Flora melirik pintu LAB yang terbuka, dia tidak menghiraukan lagi kedua preman itu, dengan sekuat tenaga Flora langsung lari keluar dan berteriak minta tolong, kedua preman itu tidak mau kehilangan mangsanya mereka berlari mengejar Flora.


Flora terus berlari tanpa menengok kebelakang, namun usaha kaburnya sia-sia, kaki yang melemas tidak bisa membawa dirinya dari kejaran preman-preman itu, Flora kini berhasil di tangkap kedua preman tersebut.


Flora berusaha melawan dan terus berteriak minta tolong, kedua preman itu semakin emosi melihat mangsanya tidak bisa diam.


Di tamparnya muka Flora berulang kali hingga ujung bibirnya mengeluarkan darah, tidak sampai di situ saja, preman itu membuka paksa baju Flora hingga baju gadis malang itu robek, Flora sudah tidak berdaya dia merasa tenaganya telah habis. Kini yang bisa dia lakukan hanya menangis dan berdoa berharap ada yang menolongnya. Terlihat senyum jahat dari kedua preman itu, ketika mangsanya sudah jinak, tanpa berfikir panjang mereka melanjutkan aksi bejatnya.


Kedua preman itu sangat senang karena mangsanya sangat cantik dan masih muda belia lagi, sungguh tidak sabar untuk mencicipinya, salah satu preman itu memulai duluan dengan bibir Flora terlebih dahulu, namun belum sampai mencium bibir Flora, preman itu sudah tersungkur ke lantai, melihat temannya di tendang oleh orang yang tidak di kenal, preman itu berusaha memukul pemuda itu, namun usahanya sia-sia pemuda itu bisa menangkisnya dan memukul balik ke arah perut sehingga preman itu mengeluarkan air dari mulutnya.


Preman itu berpikir pemuda yang dia hadapi kekuatannya jauh di atasnya sehingga dia memilih untuk lari dan mengajak temannya yang tersungkur tadi untuk pergi bersama dengan dirinya.


Pemuda itu melihat pakaian Flora yang robek langsung melepas jaketnya dan di berikan kepada Flora agar dia mengenakannya.


Flora menerima jaket itu dengan tangan yang gemetar dia masih merasa syok dengan kejadian yang barusan dia alami.


" Kamu tidak apa-apa?" tanya pemuda itu.


" Iya aku tidak apa-apa." jawab Flora terbata-bata. Terlihat Flora kehabisan tenaga karena rasa takutnya, kedua kakinya berusaha berdiri namun tidak bisa, tanpa berfikir panjang pemuda itu membantu Flora untuk berdiri.


" Kalau boleh aku tahu nama kamu siapa?" tanya pemuda itu.


" Namaku Flora." jawab Flora lemas.


" Nama kamu kok ga asing ya di telingaku." ucapnya mencoba mengingat.


" Klau nama kakak siapa?" tanya Flora balik.


" Namaku Ibra."


" Kamu kak Ibra sepupunya Rio bukan?" tanya Flora penasaran.


" loh kamu kenal Rio? Oh my god ...aku ingat sekarang, kamu pasti Flora pacarnya Rio kan?" tanya Ibra antusias. Flora menganggukkan kepalanya pelan sembari tersenyum.


" Yasudah kita keluar dulu dari sini, nanti di sambung lagi ceritanya." Ibra menatih Flora untuk keluar dari sekolahan, kini mereka sampai di depan gerbang sekolah.


" Kamu ke sini naik apa?" tanya Ibra.

__ADS_1


" Aku naik motor, tapi aku titipkan di rumah pak Peno penjaga sekolah ini." jawab Flora.


" Kalau boleh aku memberi saran, sebaiknya kamu ke rumah aku dulu. Biar ibu ku mengobati lukamu, masak iya kamu mau pulang dengan kondisi seperti ini? orang tua kamu pasti khawatir." tutur Ibra.


" Kakak memang benar kalau aku pulang seperti ini pasti Budhe akan sangat cemas." ujar Flora menghela nafas dalam. " Baiklah aku ikut kakak, kalau gitu aku ambil motor dulu." imbuh Flora.


" Udah jangan di ambil nanti saja setelah kamu di obati, kita boncengan dengan motor ku saja." Flora mengangguk tanda setuju.


Di rumah Ibra, Flora mendapatkan perlakuan yang baik dari ibunya.


" Nak Flora ini ada baju, sebaiknya baju yang robek itu ganti dengan baju ini, tapi sebelumnya izinkan ibu buat mengobati lukanya ya?" ujar Ibu Ibra.


" Iya nanti saya ganti bajunya, kalau luka ini saya bisa mengobati sendiri." ucap Flora sungkan.


" Jangan sungkan, sini biar ibu yang mengobati." ujar Ibu Ibra lembut.


Flora akhirnya menuruti perkataan ibunya Ibra, di obatinya luka Flora perlahan-lahan terlihat gadis itu menahan rasa sakit ketika bagian lukanya di sentuh Ibu Ibra.


Tiba-tiba ada seorang lelaki nyelonong begitu saja dan langsung memeluk Flora, Seketika kedua wanita itu terkejut, Rio begitu erat memeluk Flora karena merasa khawatir, ibunya Ibra tidak terima, wanita paruh baya itu memukul kepala Rio dengan sandal japitnya.


PLEEEETAAAK


" Aduh sakit Budhe." ucap Rio memegangi kepalanya.


" Kamu ini gak ada sopannya ya, masuk rumah Budhe asal nyelonong saja gak memberi salam malah main peluk-pelukkan." tutur Budhe kesal pada Rio, Flora menyaksikan hal ini merasa lucu dia menahan tawanya.


" Maaf Budhe, habis Rio khawatir sama Flora." jelas Rio masih mengusap-usap kepalanya.


" Khawatir ya khawatir tapi sopan santun tetap di jaga, lagian kamu kok bisa ke sini?" tanya Budhe.


" Kak Ibra nelpon Rio, dia bilang kalau Flora sedang terluka dan ada di rumah ini." jawab Rio.


" Kok kamu segitu khawatirnya sama Flora, jangan-jangan kalian pacaran ya?" tanya Budhe penasaran. "Ayo ngaku." imbuhnya.


" Iya Budhe, Flora pacar Rio." jelas Rio malu-malu.


" Udah bu, gak usah ikut campur urusan mereka, biarkan mereka ngobrol dulu." sambung Ibra melerai ibu dengan sepupunya.


" Yasudah ibu ke belakang dulu mau bikin teh buat nak Flora." ujar Budhe.


" Jangan bu, gak usah repot-repot bikinin Flora teh." ucap Flora sungkan.

__ADS_1


" Gak apa-apa ibu gak merasa di repotin, kalian ngobrol dulu saja." jawab Ibu Ibra, dan berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga.


terima kasih banyak buat para readers masih setia dengan novel biasa kami, semoga terhibur dan jngn lupa tinggalin like komen favorite dan votenya yah.πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ€—πŸ€—πŸ€—


__ADS_2