Kisah Cinta SMA 2007

Kisah Cinta SMA 2007
kecemasan Flora


__ADS_3

Kobaran api cemburu membuat hati mendidih, derasnya air mata tidak mampu memadamkannya. Hingga tetesan terakhir belum juga mereda, tidak mau larut terlalu dalam, Flora mengemasi semua pakaianya ke dalam koper, sungguh hati tidak bisa di pungkiri, dia menolak keras untuk bertemu dengan pelaku penyebab timbulnya kecemburuan, dan memutuskan segera melenyap dari hadapannya.


Tok…Tok ...Tok ...


Flora terkesiap, hampir jantung gadis itu lepas dari tempatnya, saking khusyuknya mendalami masalah yang di buat sendiri. Punggung telapak tangan Flora dengan cepat menyeka sisa air mata yang membasahi pipi tirusnya, kaki yang mulai lemas, memaksa untuk berdiri tegak, dan menggiring tubuh menuju sumber suara.


Perlahan tapi pasti, jemari tangan Flora mulai membuka pintu yang sedari tadi di ketuk oleh seseorang, di baliknya nampak wanita paruh baya.


" Flora sedang apa? kok di kamar saja, di luar masih rame tamu lo." tanya Budhe.


" Flora sedang merapikan pakaian Budhe, kalau bisa nanti sore kita pulang ya." jawab Flora memohon, hai pemilik hati yang sedang panas, tidak bisakah memutuskan sesuatu itu dengan rundingan.


" Loh, kenapa? bukannya Flora senang tinggal di sini?" tanya Budhe heran. Terkadang suasana hati tidak bisa di tebak.


" Iya sih, tapi masalahnya Flora sudah ketinggalan banyak mata pelajaran, sedangkan ujian kenaikan kelas tinggal 2 bulan lagi." jelas Flora, alasan ini mungkin lebih bisa di terima pikirnya.


" Ya sudah nanti kita pulang habis isya saja ya." Jawab Budhe, seketika jawaban itu membuat, hati keponakannya yang panas mulai sedikit mereda.


" Baiklah kalau begitu." ucap Flora semangat.


" Yasudah Budhe mau nemuin tamu lagi." pamit Budhe,


Selepas kepergian wanita paruh baya itu, Flora kembali masuk ke kamarnya dan melanjutkan kegiatannya, di perjelas, kegiatan merapikan pakaianya ke dalam koper, bukan meratapi nasib sebagai korban kecemburuan.


***


Di tempat lain


Rumah Fita kedatangan 2 orang preman, mereka merupakan suruhan dari seseorang yang paling kaya dan berkuasa di daerah tersebut.


Dok...dok...dok …


Suara gedoran pintu dan teriakan sangat keras, membuat seisi rumah kalang kabut dan bertanya-tanya, siapa sebenarnya mereka. Tarikan nafas dalam dan menghembuskan dengan kasar, sebagai kepala keluarga Ayah Fita memberanikan diri untuk membuka pintu, nampaklah dua orang laki-laki bertubuh kekar dengan raut muka yang sangar.


" Maaf Bapak-bapak ini ada urusan apa datang kemari?" tanya ayah Fita, kaki yang berusaha berdiri kokoh, lolos menggoncangkan sekujur tubuh pria paruh baya itu.


" Kami kesini atas perintah dari juragan Sarman, untuk menagih hutang kalian sebesar tiga puluh juta yang sudah jatuh tempo." ucap preman satu, dengan bermuncratan butiran-butiran cairan dari mulutnya.


" Maaf tolong beri saya waktu lagi untuk melunasinya, karena saya kemarin banyak pengeluaran, anak saya yang bungsu sakit dan yang sulung harus melunasi tunggakan sekolahnya." jelasnya lirih, sambil tangan masih memegang gagang pintu untuk menguatkan dirinya berdiri tegap.


" Kami tidak mau tahu pokoknya harus ada uang sekarang! kalau tidak silahkan angkat kaki dari rumah ini!" gertak preman dua, memamerkan muka ganasnya.


Ibunya Fita sudah tidak tahan lagi dengan tontonan panas, antara suami tercinta dan dua preman. Wanita paruh baya itu, memberanikan diri menghadapi dua preman yang bikin keributan di rumahnya. Suami tercinta mundur, dan sang Istri menghadapinya dengan darah yang sudah mendidih dari tadi.

__ADS_1


" Bapak-bapak ini tidak bisa mengusir dari rumah kami sendiri, jadi tolong beri waktu, pasti kami akan membayarnya." Gertak ibunya Fita. Dua preman tidak punya hati itu, malah meledak-ledak tawanya, seketika Ibunya Fita terkesiap, hampir membuat tingkat keberanianya luntur begitu saja.


" Kalian lihat ini, bukankah ini sertifikat rumah kalian?" Preman satu, dengan percaya diri menunjukkan sebuah map yang berisi sertifikat.


" Kok bisa sertifikat itu pada kalian?" tanya Ibunya Fita bingung, Mata melotot hampir keluar dari singga sananya, mulut menganga sungguh tidak percaya apa yang dilihatnya.


" Suami kamu sendiri yang memberikan sertifikat ini kepada bos kami sebagai jaminan hutangnya." kini giliran preman dua mencoba menjelaskan.


Tulang kaki tiba-tiba jadi lembek, tidak mampu lagi menahan berat beban tubuh wanita paruh baya itu, Fita dengan kecepatan penuh menangkap tubuh Ibunya yang hampir terjatuh.


" Ibu tidak apa-apa? mari kita masuk ke dalam rumah." ujar Fita lembut, dia menuntun ibunya untuk masuk ke dalam kamar, dan membaringkannya di atas kasur. Fita segera keluar dan menemui dua preman tersebut.


" Bapak-bapak tenang saja, saya yang akan membayar semua hutang-hutang orang tua saya tapi tolong beri saya waktu." ujar Fita berusaha tenang menghadapinya.


" Baik kami beri kamu waktu dua minggu, jika tidak bisa membayarnya, kalian harus angkat kaki dari rumah ini, PAHAM!" gertak preman satu.


" Baik." ucap Fita gemetar, kedua preman tersebut pergi meninggalkan Fita dan Ayahnya, Fita menutup pintu dan menyenderkan tubuhnya.


" Nak, ngomong apa tadi kamu? kamu mau melunasi, bagaimana caranya?" tanya Ayahnya, Pria paruh baya itu tidak habis pikir, Fita bisa berucap semudah itu tanpa berpikir resikonya.


" InsyaAllah ada jalannya yah." ujar Fita meyakinkan.


" Kamu jangan main-main dengan mereka, kita sudah tidak punya uang lagi, mungkin Ayah harus mengikhlaskan rumah ini." tutur Ayahnya Fita lemas.


" Kamu mau membayar hutang dengan berhutang? itu sama saja Fita, ujung-ujungnya akan membuat kita sengsara." Ayahnya Fita semakin frustasi tidak karuan, berulang kali pria paruh baya itu mengusap kasar wajahnya.


" Setidaknya rumah ini masih bisa di pertahankan, yah." Fita berusaha tenang.


" Sudahlah terserah kamu saja, ayah benar-benar pusing memikirkannya." Ayah Fita beranjak masuk ke dalam rumah, sedangkan Fita berlari menuju jembatan yang tidak jauh dari kediamannya, mencari ketenangan disana.


" Apa yang harus aku lakukan, bagaimana caraku untuk melunasinya, apa aku harus mengorbankan keperawananku? ah, kalau begini lebih baik aku mati saja." ucap Fita frustasi, satu pasang mata sedari tadi memperhatikan Fita dan laki-laki itu nampak tersenyum menyeringai melihat tajam ke arah gadis itu.


Fita terus menangis, wanita itu butuh teman ketenangan, dia teringat Flora sahabat yang selalu ada di sisinya entah bagaimanapun keadaanya. Tanganya bergerak mengambil benda pipih di saku celananya dan langsung mencari nama Flora untuk di sambungkan, Ketika sudah tersambung Fita nampak berusaha mengontrol dirinya agar tidak terdengar sedang menangis.


" Halo...Flora, kamu apa kabar?" tanya Fita.


" Aku baik-baik saja, kamu tumben nelepon aku? lagi kangen ya?" goda Flora.


" Iya aku kangen banget sama kamu Flora, kamu cepat pulang ya." ujar Fita sesenggukan.


" Loh, kamu kenapa Fita? kok kedengarannya lagi nangis?" tanya Flora khawatir.


" Ah gak kok, aku lagi sakit tenggorokan saja." bantah Fita.

__ADS_1


" Beneran kmu gak apa-apa?" tanya Flora memastikan.


" Iya ...aku gak apa-apa, yasudah aku tutup dulu teleponnya ya?"


" Oke deh, sampai jumpa besok di sekolah."


"Bye." ucap Fita, Sambungan telepon pun terputus, Fita kembali lagi merenung sambil melihat ke arah bawah jembatan yang nampak air sungai mengalir sangat deras.


Fita terkesiap oleh suara lelaki, dia menolehkan wajahnya untuk melihat siapa yang sedang menyapanya.


" Hai gadis cantik, kamu sedang mempunyai masalah ya?" tanya laki-laki itu santai.


" Maaf itu bukan urusan anda." balas Fita cuek.


" Aku bisa membantumu tapi tentunya tidak gratis." seringai laki-laki itu.


Fita tidak mengindahkan omongan lelaki yang ada di hadapannya, dia bahkan hendak pergi meninggalkan lelaki itu tapi lelaki itu mencegahnya.


" Tunggu sebentar, aku punya penawaran yang menarik untukmu."


" Penawaran apa maksud anda?" tanya Fita penasaran.


" Aku dengar kamu membutuhkan uang, aku bisa memberi mu uang terserah berapa pun yang kamu minta akan aku kasih asal kamu bersedia memberikan ginjalmu padaku."


" Ginjal? maksud anda? anda mau membeli ginjal saya?" tanya Fita bingung.


" Iya benar sekali, aku akan menghargai ginjalmu 50 juta, atau kalau kamu tidak keberatan aku juga bisa memberimu 150 juta untuk jantungmu." jelas lelaki itu.


" Anda benar-benar gila, mana mungkin saya akan menjual organ tubuh saya sendiri." ujar Fita marah.


" Tenang jangan emosi, aku yakin sekali kamu akan melakukannya, karena orang yang putus asa pasti akan melakukan hal tergila sekalipun." jelasnya sambil tersenyum.


Mendengar perkataan dari lelaki itu Fita terdiam, dia mencoba berpikir dengan apa yang di katakan laki-laki di hadapannya.


" Baik, begini saja, aku kasih kamu kartu namaku kalau kamu sudah berubah pikiran dan siap melakukannya kamu bisa menghubungi aku di nomor itu, sampai jumpa manis." setelah menyerahkan kartu namanya, lelaki itu pergi meninggalkan Fita. Fita tidak berkutip sedikitpun bahkan dia berdiri mematung.


***


Setelah mendapatkan telepon dari sahabatnya, Flora merasa ada sesuatu yang tidak beres, dia berpikir kalau Fita pasti sedang mempunyai masalah dan berusaha menyembunyikannya.


" Aku harus segera pulang, aku punya firasat buruk tentang Fita." batin Flora.


terima kasih buat para readers setia novel kami, dukung kami terus yah jngn lupa like komen vote dan jadikan favorite, terima kasih😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2