Kisah Cinta SMA 2007

Kisah Cinta SMA 2007
Hati yang tidak peka


__ADS_3

Sore hari di kediaman Gading, entah sudah berapa lama, pria tampan dan wangi itu mondar-mandir di dalam kamarnya, pikiran yang penuh pertanyaan, ada apa sebenarnya dengan gadis cantik dan tomboy itu, sikapnya menjadi berubah tanpa alasan. Hampir padat isi pikiran Gading, harus segera di netralisir, dia secara brutal berhamburan menuju rumah sepupunya. Dengan nada frustasi pria itu terus memanggil seorang manusia yang di anggap bisa melapangkan isi pikiranya.


Otak memberi perintah pada mulut Gading tiada henti, pria itu terus bergumam, " Sebenarnya ada apa dengan Flora? kenapa dia kelihatan marah ketika Reta datang? apa mungkin dia cemburu? tapi kayaknya tidak mungkin untuk apa dia cemburu?" sudah selesai dengan gumamnya pria itu memanggil kembali nama Rena, sembari pandanganya terus menyapu bersih isi rumah sepupunya, di temukanya Rena sedang santai di ruang keluarga asyik menonton tv.


Didaratkannya pantat Gading di samping Rena, pendaratan yang sempurna, tidak cacat sedikitpun, terlihat toples berisikan cemilan, tangan tanpa dosa pria itu langsung menyambar isi toples dan memasukannya kedalam mulut.


" Ren, bantu aku dong! aku lagi bingung nih." curhat Gading, sembari mulut mengunyah hasil pemberian tangannya, dan mata fokus pada acara televisi.


" Memangnya ada apa?" tanya Rena datar, tanpa mengalihkan pandangannya, yang masih tertuju pada televisi.


" Aku bingung sama sikapnya Flora waktu di tempat nikahan tadi." jelas Gading serius, dan membenarkan posisi duduknya menghadap Rena.


" Memangnya Flora berbuat apa?" tanyanya santai, sembari mengunyah cemilan.


" Tadi dia kelihatan bete begitu Reta datang, terus dia pergi begitu saja." jelas Gading polos, lebih tepatnya tidak peka terhadap isi hati wanita yang dia maksud.


" Hah, kamu bawa Reta?" jawab Rena terkejut, dengan mata melotot sempurna, hampir saja copot itu mata karena saking terkejutnya dengan penuturan Gading.


" Bukan bawa tapi lebih tepatnya ngundang, memangnya ada yang salah?" jawab pria sok polosnya, bisa jadi bukan polos tapi tidak mau berharap lebih, karena berharap yang tidak pasti itu sakit.


" Jelas salah lah, Flora kan suka kamu." jawab Rena spontan, mulut yang tidak bisa di kondisikan, langsung di sambut oleh kedua telapak tangannya dan mendekap rapat-rapat, lancang begitu maksudnya.

__ADS_1


" Apa kamu bilang? Flora suka sama aku?" tanya Gading penasaran, bahkan di dalam hatinya banyak bunga bertebaran, entah dari mana munculnya, sebuah senyuman sangat mengembang terukir secara tidak sengaja.


"Terpaksa deh aku cerita, sebenarnya aku boleh cerita selepas Flora pulang ke Pacitan karena dia malu kalo kamu sampai tahu sekarang." jawab Rena pasrah, hai mulut yang tidak bisa di kondisikan, kau sudah melanggar perjanjian, Flora maafkan aku begitu gumamnya.


" Sebenarnya ada apa sih? ayo dong cerita yang full jangan setengah-setengah." sang pemilik hati yang tidak peka, mulai aksinya untuk mengintrogasi lebih detail tentang masalah yang membuat dia sangat frustasi.


" Iya...iya...sabar sedikit kenapa," jawab Rena, dia menarik nafas dalam-dalam, mengumpulkan energi untuk menceritakan kronologi yang sebenarnya. " Jadi Flora itu sudah suka sama kamu dari kelas empat SD, makanya kalau kamu bawa cewek laen di hadapan dia, otomatislah dia cemburu." jelasnya.


Seketika jantung pria itu bekerja tidak normal, lebih ekstra dan lebih semangat, malah kelebihan semangat hingga degupan jantungnya sangat lantang sungguh cepat. Tarikan bibir yang melebar sesaat menjadi menciut, karena di racuni oleh pikiran yang merasa bersalah akibat tidak peka terhadap isi hati Flora.


" Jadi menurut kamu aku harus gimana?" tanya Gading lagi, semakin di buat bingung oleh perasaanya.


" Kalo menurut aku, lebih baik kamu datangi dia dan minta maaf karena sudah mengundang Reta tanpa sepengetahuannya, dan ingat kamu harus pura-pura gak tahu kalo Flora suka sama kamu." ucap Rena memberi solusi, tanpa di sadari solusinya sangat konyol, bagaimana tidak konyol tiba-tiba datang meminta maaf karena sudah mengundang pacarnya sendiri hak Flora di sini apa, sungguh rumit kalau menyangkut masalah hati.


Setelah mendapat jawaban dari Rena, hati Gading sedikit tenang setenang suasana pedesaan, setidaknya Flora mengacuhkannya bukan karena benci melainkan cemburu, sungguh berbunga-bunga perasaanya saat ini, membayangkanya saja membuat sudut bibir pria itu menarik ke atas tanpa di minta. Bahkan dia tidak habis pikir kalau seorang Flora bisa tertarik padanya semenjak kelas empat SD.


Gading menuju kamarnya, dia bersiap-siap untuk ke masjid karena sebentar lagi adzan maghrib akan di kumandangkan, dia ingin segera menemui Flora setelah solat maghrib.


Di sisi lain, Flora nampak sibuk memasukkan koper dan beberapa makanan ke dalam mobil.


" Flora kenapa ga tunggu habis maghrib pulangnya?" tanya Nenek, kepergian Flora meninggalkan kampung kelahirannya begitu cepat membuat Nenek tidak rela.

__ADS_1


" Biar sampe pacitan gak terlalu malam Nek, lagian gampang masalah solat bisa di masjid yang berada di pinggir jalan." jelas Flora yang sudah bulat dengan keputusanya, lebih tepatnya karena sudah tidak betah di desa ini karena seseorang.


" Kenapa buru-buru sekali sih? memangnya Flora gak betah di sini?" tanya Nenek lagi yang masih tidak rela.


" Masalahnya dua bulan lagi Flora akan ujian Nek, jadi Flora gak mau ketinggalan pelajaran, insyaAllah kalau liburan kenaikan kelas Flora main lagi ke sini." akhirnya alasan jitu dan lebih masuk akal harus di tampilkan juga.


" Yasudah kalau itu keputusan Flora, sini Nenek mau cium Flora dulu." ujar Nenek, ternyata Nenek juga bisa luluh dengan alasan jitu dari cucunya. Flora mendatangi Nenek lalu memeluk dan menciumnya selepas itu Flora berpamitan, disusul oleh Pakdhe dan Budhe untuk berpamitan.


***


Gading yang telah menyelesaikan solatnya segera pulang dan bergegas menuju rumah Nenek Flora.


Setelah sampai di sana dia sangat terkejut mendengar penjelasan dari nenek Flora kalau cucunya sudah kembali ke Pacitan setengah jam yang lalu, hati yang semulanya berbunga-bunga kini menjadi gersang. Entah apa yang di rasakan oleh pemuda itu, dia nampak lemas membawa tubuhnya kembali ke motor.


Tiba-tiba terdengar suara petir menyambar, dan tidak butuh waktu lama air hujan turun sangat lebat.


Gading yang berada di atas motornya hanya bisa terdiam ketika air hujan menghantam tubuhnya bertubi-tubi, sungguh sempurna drama kali ini.


Dia menyalakan motornya dan pergi meninggalkan halaman rumah Neneknya Flora dengan hati yang perih, dia sudah tidak peduli lagi dengan hujan yang terus menerpanya hingga basah kuyub, Gading mengendarai motornya sangat pelan sampai-sampai jika berlomba lari dengan siput mungkin siput itu yang akan memenangkannya.


" Kenapa kamu pergi terlalu cepat Flora?padahal aku ingin kamu tahu kalo aku sebenarnya juga mempunyai perasaan yang sama terhadapmu." batin Gading.

__ADS_1


***


Flora di dalam mobil tak henti-hentinya memikirkan Fita, dia sangat takut sekali jika terjadi sesuatu terhadap sahabatnya itu. Dia berharap segera sampai Pacitan supaya besok bisa menanyakan semua pertanyaan-pertanyaan yang ada di otaknya kepada Fita.


__ADS_2