
" Rio apa kamu benar-benar khawatir terhadap ku?" ucap Flora yang di buat sedikit manja, Rio mendengar perkataan Flora merasa geli hingga terukir senyuman manis di bibirnya.
" Kamu ngomong apa sih sayang, jelas aku sangat khawatir sama kamu." ujar Rio sambil mengusap pipi Flora.
" Terus kenapa kamu cuekin aku akhir-akhir ini?" kali ini Flora melontarkan sebuah pertanyaan dengan nada kesal.
" Sudahlah gak usah di bahas dulu." elak Rio. "Sekarang aku mau nanya sama kamu, kamu malam-malam ke sekolahan ngapain?" tanya Rio serius.
" Aku....aku, mencari gelang couple kita." jawab Flora pelan karena takut alasanya akan membuat Rio marah.
" Apa? jadi hanya karena gelang, kamu keluyuran malam-malam ke sekolah?" ujar Rio terkejut dengan jawaban Flora.
" Kamu gak tahu sih arti gelang itu buat aku, aku takut dengan hilangnya gelang itu merupakan sebuah pertanda bahwa hubungan kita akan selesai, terlebih sikap angkuh kamu akhir-akhir ini membuat aku frustasi." jawab Flora tidak mau kalah.
Mendengar semua penjelasan dari Flora membuat Rio merasa menyesal akan tindakannya selama ini.
" Maaf kan aku Flora, aku menyesal sudah membuat kamu jadi begini." ucap Rio dengan memegang erat tangan Flora.
" Ekheeemm ....., sudah belum dramanya" sambung Ibra, merasa di cuekin.
" Apaan sih kak, ganggu saja." Rio merasa kesal.
" Hey, kamu tahu gak kalau kekasihmu ini hampir saja kehilangan kesuciannya."
" Maksud kak Ibra apa?" Rio semakin bingung dengan ucapan Ibra.
" Tadi dia hampir di perkosa oleh dua preman, tapi untungnya aku mendengar teriakannya jadi aku bisa langsung menolongnya." jelas Ibra, Rio semakin merasa bersalah dan dadanya sesak karena menahan amarah, di kepalnya kedua telapak tangan, rasa ingin memberi pelajaran pada kedua orang itu.
" Kok kakak gak bilang dari tadi?" ucap Rio kesal.
" Gimana aku mau cerita kalau kamu dari tadi sibuk ngobrol berdua."jawab Ibra santai.
" Siapa preman-preman itu kak?" tanya Rio penasaran.
" Biasa condet sama peking, mereka berdua kan emang suka bikin onar. Yang aku herankan gak biasanya aku beli nasi goreng depan sekolahan kalian, biasanya aku suka beli nasi goreng di pak Mun, mungkin inilah yang di namakan rencana Tuhan."
" Iya kak, aku sangat berterima kasih sama kak Ibra yang sudah menolongku."
" Sudah Flora jangan berterima kasih terus, mungkin inilah jalannya agar kalian bisa bersatu lagi, kedepannya jangan perang dingin lagi ya!" nasehat Ibra lalu beranjak dari tempat duduknya.
" Loh kakak mau kemana?" tanya Rio.
" Kenapa? kamu mau menyiksa batinku dengan melihat kemesraan kalian? sudah kalian ngobrol saja dulu, kalau sudah selesai kita antar pulang Flora." ujar Ibra, kemudian dia melangkahkan kakinya meninggalkan mereka berdua.
" Sayang, aku janji gak akan lagi mengacuhkan mu, ini semua terjadi karena keegoisanku." Rio terlihat memelas dan menyesal.
" Sudahlah Rio, ini bukan kesalahanmu, tapi ini kebodohanku." bantah Flora dengan memegang lengan Rio.
" Rio ...tangan kamu kenapa?" sambung Flora, dia melihat ada luka di lengan Rio.
" Oh ini, ini lukisan bunga yang melambangkan dirimu." jawab Rio sembari tersenyum, Luka yang di buat oleh Rio ternyata bukan sembarang sayatan, dia menyayatnya menjadi sebuah gambar bunga dan terlihat bagus bahkan rapih.
" Tapi kok kayak luka sayatan ya?" tanya Flora penasaran, karena memang lukanya terlihat seperti sayatan.
__ADS_1
" Memang ini bikinnya di sayat pakek cuter." jawab Rio santai.
" Ya ampun Rio, kamu gila ya? pasti sakit?" Flora merasa khawatir, di pegangnya lengan Rio kemudian wanita itu mengelus lembut lengan Rio.
" Iya aku memang gila karenamu Flora, terlebih ketika aku lihat kamu sama laki-laki di depan gerbang rumahmu itu." jawab Rio mulai memasang muka geram, karena mengingat kejadian kemaren saat Flora terlihat dekat dengan laki-laki lain. Flora bingung di buatnya, dia mengernyitkan keningnya dan matanya tidak lepas menatap Rio tajam, seakan-akan menanyakan siapa orang yang dia maksud.
" Laki-laki yang mendekatkan wajahnya ke wajahmu, seperti orang yang mau berciuman." imbuh Rio sambil mencibirkan bibirnya.
" Oh Lucas maksud kamu? jadi karena itu kamu diemin aku?" ucap Flora kesal, wanita itu tidak habis pikir, karena salah paham, pria itu rela tidak menegurnya tanpa mengklarifikasi terlebih dahulu. Flora menghela napas panjang kemudian di buangnya dengan kasar. " Dengar ya Rio, waktu itu mata ku kelilipan terus Lucas menolong dengan cara meniup mataku." jelas Flora penuh penekanan.
" Oh jadi kamu gak ciuman sama Lucas?" tanya Rio sedikit malu, karena dia mulai sadar kalau sudah salah paham pada mereka.
" Dasar bodoh, ya enggaklah. Kamu sebagai pacar ku saja gak aku bolehin, apalagi Lucas yang bukan siapa-siapa aku." Flora semakin geram di buatnya. Sedangkan pria itu cengengesan sembari menggaruk tekuknya, matanya berusaha tidak menatap Flora yang sudah melototinya.
Ketika mereka sedang asyik mengobrol tiba-tiba Ibunya Ibra datang dengan membawa teh dan kue kering.
" Ayo di minum nak Flora, loh kok belum ganti baju?" tanya Ibu Ibra, ketika melihat pakaian yang ia kasih pada Flora belum juga di kenakanya.
" Oh ya, keasyikan ngobrol jadi lupa." jawab Flora cengengesan.
" Sini ikut sama Ibu, biar Ibu bantu ganti baju." ajak Ibu pada Flora, Flora beranjak dari tempat duduknya lalu mengikuti Ibu Ibra dari belakang, wanita itu terperanga merasa kagum, ketika Flora melihat isi kamar begitu rapih dan luas.
" Mau Ibu bantu ganti atau mau sendiri?" tanya Ibu Ibra membuyarkan lamunan Flora.
" Sendiri saja bu." jawab Flora spontan.
" Ya sudah Ibu tunggu di sini saja."
" Wah kamu cantik pakek baju ibu waktu gadis." Puji Ibu Ibra sambil tersenyum.
" Iya yang cantik kan bajunya." ucap Flora cemberut.
" Yang makek gak kalah cantik." goda Ibu Ibra sembari mencolek dagu Flora.
" Ah ibu bisa saja." ujar Flora malu.
***
Di lain tempat
Budhenya Flora menjadi gusar karena sudah hampir empat puluh lima menit keponakannya tidak kunjung kembali.
" Pak, Flora belum juga pulang, ibu khawatir takut terjadi sesuatu." ujar Budhe pada Pakdhe, wanita paruh baya itu merasa sangat khawatir.
" Jangan khawatir, sebentar lagi juga pulang." Pakdhe berusaha menenangkan istrinya.
" Tapi ini sudah hampir empat puluh lima menit, kalau ke mini market gak mungkin selama ini kan?" tutur Budhe panik.
" Sudahlah kita tunggu saja sambil memasukkan barang-barang ini ke dalam mobil." jawab Pakdhe, sebenarnya Pakdhe tidak kalah khawatir namun beliau berusaha tidak menampakkannya.
" Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa." batin budhe.
Kembali ke rumah Ibra
__ADS_1
Flora dan Ibunya Ibra kembali ke ruang tamu, tempat di mana Rio dan Ibra menunggu kedatangan mereka.
" Bu, sudah malam saya mau pamit pulang." pamit Flora.
" Kok buru-buru, gak nginep di sini saja."
" Terima kasih, tapi saya harus segera pulang takut yang di rumah cemas." jelas Flora.
" Oh ya sudah kalau begitu, biar Ibra nanti yang mengantar." tutur Ibu Ibra.
" Ibu tenang saja, nanti saya sama Rio yang akan mengantar." jelas Ibra.
" Syukur deh kalau begitu."
" Saya pamit dulu bu, terima kasih atas kebaikan ibu." ucap Flora sembari mencium tangan Ibu Ibra.
" Sama-sama nak, ibu suka sama kamu, sering-sering main ya! mudah-mudahan Ibra bisa berjodoh sama Flora." ujar Ibu Ibra tanpa menghiraukan Rio, wanita paruh baya itu terlihat sayang sekali pada Flora di usapnya pipi Flora lembut.
" Loh loh, Budhe gak bisa kayak gitu dong, Flora itu pacarnya Rio bukan kak Ibra." jelas Rio tidak terima.
" Tapi Flora itu belum jadi istri kamu, jadi masih bisa di miliki orang lain." jawab Ibu Ibra tidak mau kalah sembari tersenyum meledek.
" Pokoknya gak bisa titik." bantah Rio.
" Kenapa jadi berantem gini sih, ayo Flora ikut kak Ibra saja, gak usah hiraukan mereka." sambung Ibra memegang tangan Flora. Rio semakin memanas melihat tangannya Flora di pegang Ibra, Ibra menyadari hal itu seketika melepas tangan Flora.
" Kakak jangan mengambil kesempatan ya." ucap Rio kesal meraih tangan Flora. Flora hanya terkekeh.
" Bu pamit dulu, Assalamu'alaikum." pamit Flora.
" Walaikumsallam." jawab Ibu Ibra melambaikan tangan.
Ketika mereka berada di halaman rumah, Flora kaget melihat motornya sudah ada di depan matanya.
" Loh, siapa yang ngambil motorku?" tanya Flora bingung.
" Tadi waktu kalian ngobrol berdua, aku ke rumah pak Peno, sorry tadi aku gak izin ambil kunci motor di tas kamu." jelas Ibra.
" Terus kunci LAB sudah di kembalikan?" tanya Flora lagi.
" Sudah dong, yasudah kamu boncengan sama Rio naik motor itu, aku naik motor ini." ujar Ibra.
" Tunggu dulu, nanti apa yang mesti aku katakan pada Budhe tentang kejadian barusan?" tanya Flora merasa takut.
" Gampang, biar aku nanti yang berbicara." ucap Ibra menenangkan Flora.
" Kamu tenang saja, kita serahkan ke kak Ibra, di jamin beres." ucap Rio meyakinkan.
" Okelah kalau begitu."
Akhirnya mereka pergi menaiki motor menuju tempat tinggal Flora, sesuai intruksi Ibra, Flora di bonceng Rio, sedangkan Ibra sendirian. Perasaan Flora merasa sedikit lega, walaupun Flora tidak menemukan gelangnya setidaknya gadis itu bisa menemukan hati Rio kembali.
terima kasih, jangan lupa like,komen vote dan jadikan favorite yahπππ
__ADS_1