
Mengambil keputusan untuk tetap bersama Rio ternyata belum bisa meyakinkan Budhe, kekhawatiran Budhe begitu besar hingga sahabat-sahabat Flora mau tidak mau harus ikut serta merasakan apa yang Flora hadapi saat ini. Bahkan mereka tidak habis fikir kenapa Budhe ingin sekali berbicara pada mereka, sungguh membuat keringat dingin bercucuran dari pelipis mereka karena rasa takut.
" Aku kok deg-degan ya." ucap Fita panik.
" Iya, padahal kita kan gak ikut-ikutan foto kenapa harus di interogasi." sambung Ane gak kalah panik.
" Sudah santai saja, kalian gak akan di apa-apain kok." ujar Flora menenangkan.
" Memang Budhe kamu marah kalo kita foto berduaan?" tanya Rio penasaran.
" Kalau foto berduaan sih gak masalah, tapi yang jadi masalah itu tangan kamu." jawab Flora.
" Memangnya ada apa dengan tangan aku?" sambungnya bingung.
" Lupa ya? Tangan kamu udah merangkul aku? itu yang bikin Budhe marah." jelas Flora penuh penekanan.
" Bukannya itu wajar ya?" ucap Rio santai.
" Itu kan menurut kamu, kalau menurut Budhe itu sudah gak wajar karena kita bukan suami istri." jawab Flora menatap tajam Rio.
" Yasudah kalian nikah saja, biar masalah ini selesai." jawab Fita spontan.
" Gak segampang itu." jawab Flora dan Rio bersamaan seraya menengok ke arah Fita.
" Widih, kompak sekali calon pengantin." ledek Fita sembari tertawa.
" Fitaaaa......jangan nambah suasana jadi makin panas deh." ucap Flora kesal.
__ADS_1
" Rio memangnya kamu gak mau nikah sama Flora?" sambung wina.
" Ya mau lah, tapi gak harus sekarang. Kita kan masih sekolah apalagi aku belum kerja." jelas Rio serius.
" Bukannya kamu sudah bisa mencari uang ya? dengan cara ngeband dari panggung ke panggung." tutur Ane.
" Ya iya sih tapi kan mental aku belum siap." jawab Rio ragu.
" Sudah sudah, gak usah lagi ngeributin masalah pernikahan. Mending kita fokus buat bertemu dengan Budhe aku nanti." tutur Flora memperingatkan. Seketika mereka terdiam karena sadar apa yang dikatakan Flora ada benarnya, berfikir dan berfikir itulah yang bisa mereka lakukan saat ini.
Bel pelajaran selanjutnya berbunyi, para murid mempersiapkam diri untuk menerima ilmu yang akan di sampaikan oleh guru mereka. Pelajaran demi pelajaran mereka lalui dengan baik, sekarang tiba waktunya bel pulang berbunyi. Semua murid sibuk memasukkan buku-buku dan alat tulis ke dalam ransel mereka masing-masing ,begitu juga dengan Flora dan sahabat-sahabatnya.
Flora masih sibuk memasukkan buku dalam ransel, namun aktifitasnya tiba-tiba terhenti ketika pandanganya tidak sengaja melihat ke arah Rio yang sedikit murung, tanpa ragu Flora mempercepat aktifitasnya lalu menemui Rio.
" Sayang kamu kenapa? kelihatan gak bersemangat." tanya Flora khawatir.
" Memang rasa sayang kamu ke aku kayak gimana sih?" tanya Flora antusias.
" Kok pertanyaannya kyak gitu? kamu gak bisa merasakan besar rasa sayang yang aku kasih ke kamu?" ujar Rio menatap tajam ke arah Flora.
" Ya aku merasakannya sih, tapi kamu kan susah banget di tebak apalagi kalau kamu lagi diem." ujar Flora terbata-bata. Rio mencengkeram pundak Flora, dan memandang tajam ke arah mata gadis itu.
" Terus kamu mau bukti apa, agar kamu tahu kalau aku sangat sayang sama kamu?" Rio menundukkan kepalanya dan mendekat ke wajah kekasihnya, Flora hanya bisa mematung dan pikirannya mencoba mencerna apa yang akan di lakukan laki-laki di depannya ini.
"PLAAAAKKK"
Tamparan tangan kanan Flora mengenai tepat di pipi kiri Rio dengan keras. Sahabat-sahabat Flora yang keberadaannya tidak jauh dari Flora dan Rio, melihat adegan itu merasa syok mereka tidak habis pikir kalau sepasang sejoli yang biasanya mesra kini bisa bermain tampar-tamparan.
__ADS_1
" Kamu mau mencium ku? Kamu sudah gak waras ya?" ucap Flora penuh amarah.
" Maafkan aku sayang." ujar Rio panik. Ketika Rio hendak memegang tangan Flora, gadis itu menolaknya.
" Stop!!! don't touch me!" Lalu Flora pergi meninggalkan Rio dan menemui sahabatnya, Rio hanya bisa berdecak kesal akan ke khilafanya dia mengacak-acak rambutnya frustasi.
" Maaf ya guys, kayaknya kita gak jadi menemui Budhe, aku pulang duluan." ucap Flora kesal dan berlalu meninggalkan mereka dengan ransel yang sudah di raihnya.
Sementara di dalam kelas, Rio masih mematung, dia tidak menyangka Flora akan semarah itu, dengan rasa tidak percayanya pria itu mendudukkan dirinya di kursi dengan kasar. Ane melihat Rio seperti orang yang frustasi mencoba mendekat
" Kamu gak apa-apa kan Rio?" tanya Ane khawatir. Rio terdiam tidak menjawab pertanyaan Ane.
" Ya sudah kalau kamu tidak mau berbicara dengan ku, aku pergi saja." sambungnya kesal.
" Tunggu! Menurut kamu apakah yang Flora katakan itu benar? Kalau aku sudah tidak waras lagi." tutur Rio lemas dan masih menunduk tidak melihat ke arah Ane.
" Maaf kalau boleh aku jujur, tindakan kamu barusan itu pasti membuat Flora terluka karena dia mempunyai prinsip tidak akan berciuman dengan laki-laki manapun kecuali suaminya yang sah." jelas Ane. Mendengar penjelasan Ane, Rio semakin frustasi.
" Aku benar-benar bodoh, kenapa aku melakukan tindakan itu." gerutu Rio.
" Sudahlah, sebaiknya kita pulang, sebentar lagi pak.Peno akan menutup kelas, memangnya kamu mau di kunci dalam kelas?" ajak Ane.
" Kalian duluan saja, nanti aku menyusul." ujar Rio lirih dan mereka berlalu meninggalkan Rio.
Rio sungguh merasa menyesal, tanpa Rio sadari air matanya membasahi pipinya.
Apa yang telah ku perbuat, arghhhhhh
__ADS_1
terima kasih buat para readers dukung terus yah novel biasa kami, tinggalkan like komen vote dan jadikan favorite.ππππππ