
Flora tidak henti-hentinya tersenyum, dia terus teringat dengan pria yang baru saja menabraknya, entah kenapa Flora merasakan sangat bahagia. Wanita itu benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan cinta pertamanya, Iya Gading Kurniawan, dia adalah cinta pertama Flora ketika masih duduk di bangku empat SD.
Flora seperti flashback ke masa dia SD, di mana waktu itu Flora kecil terlihat sangat manis dan ceria, dia memiliki banyak teman salah satunya Gading, entah apa yang ada di pikiran Flora kecil, setiap dia melihat Gading perasaannya merasa bahagia, di mata gadis kecil itu Gading sesosok pria yang tampan, imut, rapih dan selalu wangi. Berbeda dengan teman cowok sekelas yang laen sudah jorok, bau dan berantakan, maklum namanya juga anak SD belum tahu penampilan. Sudah lama Flora dan Gading tidak bertemu, terakhir mereka bertemu ketika kelulusan SD.
Ketika Flora sedang asyik dengan pikirannya tiba-tiba handphone nya berbunyi, dia memberhentikan sepedanya di pinggir jalan, lalu mengambil handphone yang ada di saku celana. Di lihatnya layar handphone, ternyata Rio yang memanggil.
" Halo, ada apa?"
" Kok ada apa sih? memangnya kamu gak kangen aku?" jawab Rio begitu kesal.
" Ya ampun, baru juga gak ketemu satu hari masa sudah kangen?" tanya Flora santai.
"Jangankan satu hari satu jam saja aku sudah merindukanmu, kamu lagi apa?" tanya Rio di seberang.
" Nih aku lagi mau ke rumah temen aku." jawab Flora cepat.
" Sayang, cepat pulang dong, kamu benar-benar sudah menyiksa batinku." terlihat Rio sangat lemas, sepertinya pria itu sangat merindukan Flora.
" Kamu terlalu berlebihan Rio, ya sudah aku tutup teleponnya ya? soalnya aku ada di pinggir jalan nih." sepertinya wanita itu tidak terlalu menghiraukan perkataan Rio.
" yah...cepat sekali, aku kan masih kangen sama kamu." ujar Rio lemas.
" Nanti saja di sambung lagi, bye." Flora memutuskan sambungannya tanpa menunggu jawaban dari Rio.
Flora kembali mengayuhkan sepedanya menuju rumah Rena. Sesampainya di rumah Rena, Flora memarkirkan sepedanya terlebih dahulu kemudian mengetuk pintu rumah Rena, terlihat wanita cantik berambut sebahu membuka pintu dan tersenyum pada Flora.
" Flora, apa kabar?" Rena begitu terkejut, ternyata yang datang sahabat kecilnya, dia memeluk Flora dengan perasaan masih tidak percaya.
" Aku baik, kamu gak berubah ya? masih imut aja." ujar Flora, mereka melepas pelukanya, dan saling memperhatikan satu sama lain.
" Bisa saja, kamu kesini sama siapa?" tanya Rena, sembari mempersilahkan masuk pada Flora.
" Sama Budhe dan Pakdhe." jawab Flora sambil mendudukkan dirinya di kursi ruang tamu, dan di susul Rena duduk di sampingnya.
" Loh, memangnya orang tua kamu gak ikut?" tanya Rena kembali, wanita itu masih menatap Flora, dia sungguh merindukan sahabat kecilnya.
" Mereka sudah meninggal delapan bulan yang lalu karena kecelakaan, jadi sekarang aku tinggal bersama Pakdhe dan Budhe di pacitan." jawab Flora berusaha tegar, wanita itu tersenyum paksa.
" Maaf ya Flora, aku gak tahu." Rena langsung memeluk kembali sahabatnya.
" Gak apa-apa kok, lagian aku sudah ikhlas." jawab Flora santai, mereka berdua melepaskan pelukanya dan kembali di posisi duduknya. " Oh ya kamu punya alkohol dan kapas gak?" tanya Flora karena lukanya tiba-tiba terasa perih.
" Ada, memangnya buat apa?"
" Nih siku dan lututku terluka." Flora menunjukkan lukanya.
" Kok bisa?" tanya Rena khawatir, terlihat luka Flora mengeluarkan darah, wanita itu segera mengambil kotak P3K tidak jauh dari ruang tamu.
" Ini semua gara-gara saudara sepupumu naik motor ngebut, jadinya aku banting setir buat menghindari kecelakaan." jelas Flora sambil mengobati lukanya di bantu Rena.
" Maksud kamu Gading?" tanya Rena, sembari membereskan kotak P3K dan meletakkanya di atas meja, kemudian duduk kembali di samping Flora.
" Iya siapa lagi." jawab Flora santai.
" Oh kalian sudah bertemu?"
__ADS_1
" Iya, dia sekarang berbeda ya?" terlihat bibir Flora tersenyum begitu saja, ketika mengingat Gading.
" Berbeda gimana?" tanya Rena bingung, menurut dia tidak ada yang berbeda dari Gading.
" Sekarang dia tampan dan keren lagi?" jawab Flora tidak sadar, wanita itu langsung salah tingkah dan pipinya menjadi merah jambu. Rena mencoba menebak, sebenarnya ada apa dengan sahabatnya ini, aneh sekali, terukir senyuman jahil di bibir Rena.
" Kamu kenapa Flora? kok merah gitu mukanya? jangan-jangan kamu naksir Gading ya?" Rena sungguh membuat Flora semakin salah tingkah.
" Apaan sih, tapi jujur dulu aku sempat suka sih." jawab Flora santai. Mata Rena terbelalak tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan dari mulut sahabatnya itu.
" Seriusan kamu Flora?" tanyanya penasaran.
" Beneran, aku tuh suka dari kls empat SD." ujar Flora tanpa sungkan.
" Wah, gokil nih aku gak nyangka kamu bisa suka sama Gading dari kelas empat SD, kayaknya Gading perlu tahu." ucap Rena semangat, seperti menemukan bahan ledekan baru untuk Gading.
" Jangan kasih tahu Gading dong, aku kan malu."
" Loh, kenapa? aku pengen tahu reaksi dia seperti apa." jawab Rena membayangkan bagaimana ekspresi Gading kalau mengetahui hal ini. Wanita itu tersenyum tidak jelas.
" Ya sudah kamu boleh kasih tahu dia, dengan syarat aku harus pulang dulu, soalnya aku malu kalau dia sampai tahu perasaanku."
" Boleh-boleh." jawab Rena.
" Oh yah, kamu mau minum apa?" imbuh Rena dia kelupaan belum menyuguhi Flora karena keasyikan mengobrol.
" terserah kamu saja."
" Yasudah aku ambilkan dulu yah?" Rena beranjak meninggalkan Flora dan pergi ke dapur, selang beberapa menit Rena kembali ke ruang tamu dengan membawa dua gelas minuman berwarna merah dan beberapa cemilan.
***
Di lain tempat, Rio terlihat tidak bersemangat, pria itu sungguh merindukan Flora, wanita yang selalu bisa bikin dia tertawa.
Teman-teman Rio terlihat asyik bersenda gurau, namun tidak berpengaruh kepada Rio, pria itu bolak-balik melihat handphone, berharap ada kabar dari seseorang yang di nantinya. Pandanganya sungguh kosong, bahkan, setiap pelajaran yang di sampaikan beberapa Guru tidak ada yang masuk sedikitpun.
Sepulang sekolah Rio langsung memasuki kamar, di ambil sebuah gitar di samping kasur dan memainkanya dengan sebuah lagu.
ARI LASSO, HAMPA.
Kupejamkan mata ini
Mencoba tuk melupakan
Segala kenangan indah tentang dirimu
Tentang mimpiku
Semakin aku mencoba
Bayangmu semakin nyata
Merasuk hingga ke jiwa
Tuhan tolonglah diriku
__ADS_1
Entah dimana dirimu berada
Hampa terasa hidupku tanpa dirimu
Apakah disana kau rindukan aku
Seperti diriku yang selalu merindukanmu
Selalu merindukanmu
Tak bisa aku ingkari
Engkaulah satu satunya
Yang bisa membuat jiwaku
Yang pernah mati menjadi berarti
Namun kini kau menghilang
Bagaikan ditelan bumi
Tak pernah kah kau sadari
Arti cintamu untukku
Entah dimana dirimu berada
Hampa terasa hidupku tanpa dirimu
Apakah disana kau rindukan aku
Seperti diriku yang selalu merindukanmu
Selalu merindukanmu
Entah dimana dirimu berada
Hampa terasa hidupku tanpa dirimu
Apakah disana kau rindukan aku
Seperti diriku yang selalu merindukanmu
Selalu merindukanmu
Entah dimana dirimu berada
Hampa terasa hidupku tanpa dirimu
Apakah disana kau rindukan aku
Seperti diriku yang selalu merindukanmu
Selalu merindukanmu
__ADS_1
terima kasih, jangan lupa Like komen vote dan jadikan favorite yahπππ