
setelah selesai melaksanakan makan malam yang penuh kenikmatan mereka memutuskan untuk berkumpul dan bersantai bersama didepan tv.
bukanya bersantai dan menikmati film yang mereka tonton justru mereka sibuk dengan urusannya masing-masing.
Kanaya dan Jane yang sibuk dengan laptopnya, Aroon yang sibuk dengan hpnya, Ray yang sibuk dengan makanannya, dan Rey yang sibuk menjahili Tesa sehingga membuat Tesa menangis.
"keluarga prik" batin Ray sambil melihat semua orang yang sibuk dengan aktifitasnya.
oh ayoklah tadi katanya mau bersantai dan berkumpul bersama tapi kenapa malah pada sibuk dengan pekerjaannya kecuali Ray dan Rey.
"emmm Ana" panggil Jane membuat kanaya menoleh kepadanya "emm ada klien yang ingin bertemu dengan kita besok" lanjut Jane memberi tau Kanaya
"baiklah tidak masalah lagian juga besok ga ada jadwal" jawab Kanaya kemudian kembali fokus kepada laptopnya.
"tapi dia orang luar"
"ya terus apa masalahnya?kan emang dari dulu client kita kebanyakan orang luar"
"tapi dia orang dari negara asalmu"cicit Jane pelan.
kini semua pandangan mata tertuju kepada Jane, terutama si kembar yang memberikan tatapan tak suka.
Kanaya mengambil nafasnya berat kemudian menatap lurus ke arah depan "Tetep terima"
semua orang memelototkan matanya terkejut, terutama dua R yang langsung berdiri dari duduknya.
"No!!" sahut si kembar secara bersamaan.
"pokonya momy ga boleh ketemu orang itu lagi" sahut Rey yang diangguki Ray.
"lah kan client momy bukan ayahmu" ucap Kanaya terkekeh ringan.
"cihh,,,ga bakalan Sudi gw manggil dia ayah" nyinyir Rey yang masih bisa didengar oleh Kanaya.
"Rey!!" panggil Kanaya menatap anak keduanya dengan tajam.
"what mom??" jawab Rey sedikit sebal.
Kanaya menghembuskan nafasnya berat "dengerin momy, biarpun dia begitu dia tetap ayah kandung kamu dan kamu harus bisa menghormati dia"
Ray menarik tangan adiknya itu kuat "emm Ray sama Rey mau keatas duluan"
"Tesa ikut main sama Abang diatas??" tanya Ray menggendong Tesa setelah mendapatkan jawaban dari Tesa.
Kanaya membuang nafasnya berat saat melihat kepergian Ray dan Rey. Kanaya memang sudah menceritakan masa lalunya kepada anak anaknya.
menurutnya lebih baik anak anaknya mengetahui hal itu darinya sendiri daripada orang lain yang memberitahunya. namun Kanaya tak pernah mengajarkan anaknya membenci ayahnya.
Kanaya merasakan ada yang menyentuh pundaknya, siapa lagi kalau bukan Jane. Kanaya melihat wajah Jane yang sepertinya sedikit khawatir.
"no problem Jane!! lagi pula menurutku wajar lah anak anak marah kalau momynya yang cantik ini disakiti" ucap Kanaya dengan pdnya
__ADS_1
"pala kau cantik" sahut Jane kemudian keduanya tertawa bersama.
"yasudah gw mau keatas duluan udah pegel banget nih tubuh" ucap Kanaya berdiri dari duduknya
"dih sok mudah banget anjr sok sok an pakek gw lu inget umur coy!!"
"ya kan emang gw masih muda"
"serah dah"ucap Jane pasrah.
"oh ya besok jam tujuh pagi kan?"tanya Kanaya diangguki oleh Jane.
"oh yaaa satu hal lagi" ucap Kanaya kembali.
"Apaan?" tanya Jane dengan malas
"lihat tuh!!"ucap Kanaya sambil menunjuk ke arah Aroon yang sedang yang asik bermain HP.
"ahemm hati hati pelakor ada dimana mana sekarang" lanjut Kanaya kemudian berlari menuju kamarnya.
"pala kau" sahut Jane dan Aroon membuat Kanaya yang masih bisa mendengarnya menjadi tertawa
...🍁🍁🍁...
pagi yang cerah tapi tak secerah nasip hari ini.
padatnya lalu lintas membuat dua orang yang berada didalam mobil mendengus kesal terutama Jane yang sedari tadi tak berhenti mengoceh.
"lu enggak capek apa ngomong Mulu? telinga gw aja yang cuman dengerin capek" ucap Kanaya kesal
"ya kamu bisa bayangin an ini kita udah telat lima menit loh!!!" bantah Jane tak terima
"ya tapi dengan lu marah-marah bukannya keadaan bakalan kembali normal malah kepala gue yang semakin pusing" ucap Kanaya mengambil minumannya dan segera meminumnya.
"dih sok muda banget sih pakek acara gw lu segala inget anak dirumah udah dua"
"emmm yaa... yaa terserah gw lah"
"aduh an lihat nih client nya udah telfon Mulu" ucap Jane sambil menunjukan hpnya kepada Kanaya.
"blokir aja kali nomornya" ucap Kanaya dengan entengnya.
"blokir bapak kau ini uang loh bisa bisanya disuruh buang ATM" ucap Jane sedikit berteriak.
Kanaya memilih diam tak menjawabnya dan melanjutkan perjalanannya karna jalanan sudah mulai normal kembali.
"pegangan Jane" ucap Kanaya diangguki oleh Jane.
Kanaya mulai menambah kecepatannya tanpa memperdulikan sumpah serapah penghuni jalan yang lain.
sepuluh menit melakukan perjalanan dengan nyawa sebagai taruhan akhirnya sekarang Kanaya dan juga Jane sampai di sebuah restoran tempat dimana mereka akan melakukan mitiing.
__ADS_1
Kanaya dan Jane segera masuk kedalam dan segera mencari tempat duduk client nya.
"itu meja nomor tuju" ucap Jane berbisik ditelinga Kanaya sambil menunjuk ke arah meja nomor 07.
"Tuan Arkan?" tanya Kanaya kepada seorang laki laki yang sepertinya berumur tiga puluh tahun.
"yes!! emm Kanaya and Jane?" tanya tuan Arkan diangguki oleh Kanaya dan juga Jane.
"sorry sedikit telat" ucap Jane duduk dikursi yang telah disediakan diikuti Kanaya.
"no problem"
"ahemm baiklah bisakah dimulai?" tanya Jane dengan hati hati.
mereka melanjutkan pembicaraan mereka dengan serius. mulai dari memperkenalkan produk hingga kesepakatan. butuh waktu sekitar dua jam untuk berdiskusi tentang kerja sama yang akan mereka buat.
"bagaimana?"
Jane dan Kanaya sama sama terdiam kemudian saling menatap satu dengan yang lainnya
"apakah kami harus stay berada dikawasan itu?" tanya Jane
"yah itu bentul sekali!! kami juga sudah menyiapkan apartemen khusus selama kalian tinggal disitu" ucap tuan Arkan
"apakah ada batas waktunya?" tanya Kanaya
"sebenarnya tidak tapi saya menargetkan dalam waktu lima bulan harus sudah selesai" ucap tuan Arkan kembali
"mohon maaf tadi berapa persen keuntungan yang akan kami dapatkan?" tanya Jane dengan hati hati.
"lima puluh persen"
Kanaya sedikit memiringkan alisnya mendengar jawaban client nya itu.
"enam puluh persen diel" sahut Kanaya membuat tuan Arkan menatapnya sedikit greget
"disini saya yang bekerja anda mah enak tinggal menjual" ucap Kanaya membuat Jane sedikit tersenyum.
"oke diel empat puluh persen saya enam puluh persen kalian" ucap tuan Arkan sambil mengacungkan tangannya untuk mengajak salaman.
"diel" ucap Kanaya dan Jane secara bersamaan kemudian mengalami tangan tuan Arkan.
"baiklah karna kesepakatan sudah selesai kami izin pulang" ucap Jane dengan sopan kemudian berdiri dari duduknya diikuti Kanaya.
"oh ya senang bekerjasama dengan kalian" ucap tuan Arkan
"senang juga bisa bekerja sama dengan anda" ucap Kanaya dan Jane kompak.
"oh ya Kanaya jangan lupakan keberangkatan mu besok pagi"
"selalu saya ingat" ucap Kanaya langsung pergi dari situ diikuti Jane dari belakangnya. mereka memutuskan langsung pulang mengingat Tesa dirumah sendiri bersama sekertaris mereka karena Aroon harus berangkat bekerja dan si kembar pun harus pergi ke sekolah.
__ADS_1