
Kanaya melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah. Kanaya melihat sekeliling diruang tamu hanya terdapat orang tuanya yang sedang menemani adiknya belajar.
mungkin kakek dan neneknya sudah pulang karna jam sudah menunjukan pukul sepuluh lewat. Kanaya sengaja pulang lambat karna dia malas berhadapan dengan kakek neneknya itu.
"Kanaya" panggil papanya membuat langkah Kanaya berhenti.
Kanaya kembali turun dari atas tangga kemudian melihat kearah orang tuanya malas, sudah pasti kedua orang itu akan marah kepadanya.
"dari mana aja kamu?" tanya papanya~Abraham.
"main"
"papa dapet wa dari wali kelas kamu katanya nilai kamu turun lagi"
huh benar kan apa yang dipikirkan oleh Kanaya mereka haya peduli dengan nilai nilai dan nilai.
"kamu itu kalau dibilangin susah banget sih nay? kamu gak ada niatan buat jadi anak pintar kaya Anisa? kamu gak malu sama Anisa? kamu itu kakaknya Anisa harusnya kamu bisa memberikan contoh yang baik buat Anisa!! harusnya kamu bisa lebih pintar dari Anisa" ucap Aluna~mamanya Kanaya.
Kanaya mengepalkan tangannya kuat. Dia muak sangat muak setiap hari dibanding bandingkan dengan adik tirinya itu.
selisih umur Kanaya dan Anisah haya satu tahun. orang tua Kanaya mengadopsi Anisah saat umur Anisa beranjak satu tahun.
"bener kata mamamu kamu bisa gak sih jadi kayak Anisa?" sambung papanya kembali.
"Ma pa!! Kanaya Kanaya Anisa Anisa gak usah Banding bandingin Kanaya sama Anisa" balas Kanaya dengan nada sedikit dinaikan. "kalian aja gak pernah ngajarin Kanaya seperti kalian ngajarin Anisa, lantas bagaimana mungkin kanaya bisa seperti Anisa?" lanjut kanaya.
PLAK
Kanaya memegang i pipinya uang sangat terasa panas.
"kamu bisa gak sih kalau dibilangin nurut?haa? papa capek papa bosan papa malu punya anak modelan kayak kamu"
Abraham melihat kearah Kanaya dengan dada yang sudah naik turun.
sakit sangat sakit rasanya. meskipun setiap hari Kanaya mendapatkan hinaan tapi ini tetap terasa sakit.
Kanaya tertawa hambar dia melihat kerah orang tuanya " Kanaya juga gak minta kalian buat anggep Kanaya sebagai anak" ucapnya pilu. Kanaya melihat kearah adiknya yang sedang berdiri disampingnya papanya "selamat saa lu udah berhasil buat mama sama papa benci sama gw" lanjutnya kemudian berlari kearah kamarnya.
Kanaya menutup pintu kamarnya dengan kasar. saat ini dia tak ingin menangis apalagi bersedih dia hanya ingin meluapkan amarahnya.
Kanaya berdiri didepan tembok didekat lemarinya. dia mulai meninjunya sekuat tenaga dengan tangannya. darah segar mulai keluar jari jarinya.
"AGGHRR" teriaknya frustasi.
Tubuhnya melorot kelantai. air matanya pun mulai keluar.
"TUHAN NAYA CAPEK" teriaknya ditengah tengah tangisannya, kebetulan kamar miliknya kedap suara jadi tak akan ada yang mendengar teriakannya.
__ADS_1
"Naya mau pulang aja tuhan, Naya udah ga kuat jika disuruh hidup lagi"
Kanaya terus menangis hingga membuatnya capek dan ketiduran diatas lantai.
...—————————————————————...
...🦋🦋...
...—————————————————————...
pagi ini Kanaya sengaja berangkat pagi untuk menghindari keluarganya dan Vito. Kanaya berhenti ditaman dekat lampu merah karna saat ini masih jam setengah enam kurang. berangkat ke sekolah pun pasti masih belum ada orang.
Dia meminum obat yang baru saja ia beli di apotek dekat taman karna kepalanya terasa sangat pusing apalagi tadi subuh subuh dirinya mual mual. mungkin karena efek hamil muda.
Kanaya tak sengaja melihat kerah ibu ibu yang tengah hamil sekitar enam bulan berjalan bersama suaminya mungkin selesai jalan Jalan pagi. terlihat tali sepatu ibu itu terlepas kemudian suaminya membantunya untuk menalikan kembali tali sepatu ibu itu.
mata Kanaya berkaca kaca melihat kejadian itu mungkin karena terbawa suasana pagi ini. Kanaya mengusap perutnya yang masih rata kemudian pergi dari taman itu.
setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit akhirnya Kanaya sampai disekolahnya. dia segera masuk kedalam kelasnya.
saat hendak duduk tiba tiba Kanaya merasa mual. Kanaya segera berlari kearah toilet. rasanya Kanaya ingin memuntahkan sesuatu namun tidak ada yang keluar.
Kanaya melihat wajahnya dikaca. sungguh dirinya terlihat begitu sadis. rambut yang acak-acakan, matanya terlihat lebam dengan kantong panda dibawahnya, bibirnya pun terlihat sangat sangat pucat.
Kanaya mengambil bedak dari tasnya kemudian memoleskannya kewajahnya. setelahnya ia memakai sedikit lip tint dibibirnya dan merapikan rambutnya.
setelah dirasa sempurna Kanaya keluar dari toilet. saat berjalan menuju kelasnya tiba tiba ada yang memeluknya dari belakang. dia adalah sahabat Kanaya~Amel.
"dih emang lu" jawab Kanaya sinis.
"aya" Kanaya menoleh ke arah sahabatnya itu
Amel menempelkan punggung tangannya kedahi milik kanaya betapa terkejutnya dia saat merasakan panas dari dahi Kanaya.
"badan lu panas anj*r"
"lu kok beda sih? lu sakit?"
"enggak kok Mel mungkin gw lemes karna belum sarapan aja"
mendengar ucapan Kanaya Amel langsung menarik tangan Kanaya menuju kantin untuk mengajaknya sarapan. miskipun Kanaya menolak tetapi Amel tetap menariknya sampai dikantin.
"lu tunggu disini gw ambilin makan dulu"
Kanaya hanya bisa pasrah saja, melawan Amel itu tak mustahil baginya. sebenarnya Kanaya juga lapar tapi saat memakan apapun rasanya sangat muak dan ingin muntah.
setelah Amel sampai Amel segera menyuapi kanaya. Amel itu orangnya memang positif terhadap Kanaya.
__ADS_1
saat pertengahan makan tiba tiba Kanaya merasa mual kembali. ia segera berlari kearah toilet.
"aya lu gak papa kan?" tanya Amel sambil memijit bagian belakang leher Kanaya.
Kanaya menggelengkan kepalanya.
"lu tunggu sini gw ambilin minyak dulu"
Amel segera berlari keluar untuk mengambilkan Kanaya minyak kayu putih. sedangkan Kanaya? kini dirinya merasa sangat lemas .
"sayang kamu masih kuat kan?"
Kanaya berbicara kepada perutnya yang masih datar itu.
"ini ay" ucap Amel memberikan minyak kayu putih kepada Kanaya.
"Kanaya" Kanaya menoleh kearah Amel. tumben sekali Amel memanggil namanya lengkap.
"jujur sama gw lu kenapa ay?"
"mungkin gw kecapekan Mel"
"Kanaya jujur sama gw"
Amel menatap kearah mata Kanaya tajam. dapat dia rasakan bahwa sahabatnya itu menyembunyikan sesuatu yang sangat besar darinya.
"gw udah jujur Mel!! lagian lu tau sendiri kan tugas kita akhir akhir ini sangat banyak"
"ayy!! gw paling ga suka sama orang yang pembohong ayy!!"
"gw ga bohong mel!!"
"lu gak bisa bohongin gw aya—"
"—lihat ini"lanjut Amel mengangkat tangan Kanaya yang terdapat luka memar dihatinya.
Kanaya hanya diam dia tak tau harus menjawab apa. jika dia jujur dia takut, tetapi dirinya juga sudah tidak bisa jika disuruh menyembunyikan lukanya ini dari sahabatnya itu.
"dari tangan lu aja gw udah tau kalau lu lagi ada masalah. dari mata lu aja gw tau kalau lu lagi bersedih. lihat tubuh lu? lu udah kayak mayat hidup ayaa!!! udah lebih baik sekarang lu jujur sama gw"
Kanaya mengangkat kepalanya yang tadinya menunduk. matanya mulai berkaca kaca.
"sebenarnya..."
...—————————————————————...
...Jan lupa vote,like,komen....
__ADS_1
...Babay📍...
...see you next time📍...