Kisah Kanaya

Kisah Kanaya
keadaan papa


__ADS_3

Kanaya berdiri tepat didepan ruangan bertuliskan angka 52. helaan nafas berat Terdengar darinya. samudra dengan senantiasa menggenggam erat tangan istrinya itu.


"jangan takut aku disini untukmu"


Kanaya tersenyum ke arah samudra kemudian dengan perlahan memegang gagang pintu itu dan membukanya .


Deg


mata Kanaya berkaca kaca saat melihat ayahnya yang terbaring lemah diatas branker rumah sakit dengan bermacam macam alat kesehatan yang menempel pada tubuhnya.


"papa" ucap Kanaya dengan suara yang bergetar hebat.


Kanaya langsung berlari kearah ayahnya. tangisan Kanaya langsung pecah didalam pelukan ayahnya.


Samudra yang melihat Kanaya menangis seperti ikut merasakan sakitnya hati Kanaya. dengan perlahan samudra mengelus punggung Kanaya untuk memberikan semangat.


"paa"


"papa bangun paa"


"lihat paaa sekarang Naya udah ada disini"


"papa bangun yahh"


suara Kanaya semakin terdengar sangat amat pilu. samudra segara menarik tubuh Kanaya kedalam pelukannya.


"Samm Aku durhaka banget yah jadi anak, ayah sendiri sakit aja aku ga tau"


Samudra menggelengkan kepalanya kuat dan semakin kuat pula memeluk tubuh mungil Kanaya.


"se nakal nakalnya kamu aku tau kamu bukanlah anak yang durhaka terhadap kedua orang tuamu"


"Tapi sam—"


"jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri karena Ini 100% bukan kesalahanmu. ingat kamu bukan penyebab papa jadi seperti ini"


Kanaya kembali melihat ke arah ayahnya kemudian menggenggam tangannya kuat.


"paa maafin Kanaya karena selama ini Kanaya sudah banyak merepotkan papa, sekarang papa bangun yahh, lihat nih Naya udah ada disini, katanya Nisa papa pengen ketemu Naya, kalau papa bangun Naya janji dehh ga bakalan pergi dan merepotkan papa lagi"


pintu terbuka dan menampakan Anisa didepan sana. Anisa segera masuk kedalam ruangan papanya itu sambil membawa laptop dan banyak kertas ditangannya.


"assalamualaikum"


"waalaikumsalam"


Anisa menaruh barang bawaannya diatas sofa kemudian segera mencium tangan papanya yang sedang tak sadarkan diri tersebut.


"haii paa Nisa kembali"


Kanaya tersenyum kemudian memegang bahu milik Anisa. "mama emang ga pernah gagal yah mendidik kamu Nis, sampe Hal kecil pun mama ajarkan kepadamu"


Anisa terdiam sambil menundukan kepalanya. "maafin Anisa yah kak"


Kanaya menggelengkan kepalanya kuat kemudian memegang tangan Anisa dan mengusapnya pelan.


"heyy tenang,,,,,kamu ga salah kok inget dibalik ini semua sudah ada rencana Tuhan yang indah, contohnya sekarang kakak sudah bahagia bersama keluarga kecil kakak, dan tentang masa lalu kakak biarkanlah itu menjadi rintangan untuk kebahagiaan kakak kedepannya"

__ADS_1


"tapi karena anak tiri kayak aku kakak jadi kehilangan kasih sayang dari mama dan papa"


"suttt,,,nanti kalau papa denger papa sedih lohhh"


"Tapi—"


"udah Nis, Aku Ga peduli mau kamu adik tiri aku ataupun adik kandung aku yang penting kita masih bisa sama sama dari detik ini sampai detik dimana kakak mengembuskan nafas terakhir kakak"


Samudra menatap tajam ke arah istrinya itu "Kanaya!!"


Kanaya hanya terkekeh ringan melihat wajah suaminya yang sedang marah itu. Kanaya tau Samudra itu paling tidak suka kalau Kanaya berbicara ngelantur sampe ke mana mana, ingat perkataan adalah doa.


"iya sayanggg"


"jomlo nyimak"


"makanya nikah udah tua juga"


"Nisa sih mau mau aja kak cuman kan belum kelihatan jodohnya"


"yaudah gimana kalau kakak jodohin sama temennya kakak iparmu? setuju ga sam?"


"aku mah setuju-setuju aja"


"ga pasti temennya pak samudra banyak yang sudah om om"


Kanaya mengangguk kemudian tertawa bersama samudra saat melihat Anisa yang ngambek dan langsung pergi dari hadapan mereka.


"oh ya Nay Aku lupa kalau hari ini aku harus jemput mama karena hari ini dia pulang"


Kanaya menepuk dahinya sendiri "astagfirullahhalazim Sam aku lupa, ya sudah sekarang kamu buruan pergi ****** mama, bilangin ke mama maaf banget aku ga bisa ikut jemput karena mau jagain papa"


"Suamimu mau ke mana kak?"


Kanaya memegang i dadanya karena terkejut dengan kehadiran Anisa yang tiba tiba. "astagfirullah Nis,,,Bisa ga sih jangan kagettin kakak?"


"hehe maaf kak"


Kanaya menggelengkan kepalanya kemudian duduk disofa di ikuti oleh Anisa.


Anisa mengacungkan snek yang dirinya bawa ke arah Kanaya "mau kak?"


Kanaya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban "kakak ga biasa makan itu"


"orang kaya mah beda yahh"


"ga gitu Nis, emang kakak ga biasa makan makanan begituan karena ditempat kakak ga ada"


"hah? tempat mana njr yang ga ada makanan kayak gini?"


"luar negri"


Anisa menatap kakaknya tak percaya. bukan itu jawaban yang dirinya inginkan.


"ehh ini apa Nis?" Tanya Kanaya sambil mengangkat plastik putih yang tadi dibawa Anisa.


"pecel lele"

__ADS_1


Kanaya yang mendengar jawaban Anisa langsung berlari untuk mencuci tangannya kemudian segera membuka bungkusan nasi tersebut.


"Ternyata orang kaya bisa juga yah makan tanpa pake sendok" ucap Anisa saat melihat kakaknya yang makan tanpa menggunakan sendok.


"kalau kakak mah emang dari dulu ga suka makan pakek sendok"


Anisa tak menjawabnya dan membiarkan kakaknya untuk menghabiskan makanannya terlebih dahulu.


"kak hpmu bunyi"


"siapa yang nelfon?"


Anisa melihat nama yang tertera dilayar ponsel kakaknya itu " disini namanya Reydinata"


"tolong ko angkatan kemudian lock Speker tanganku kotor"


Anisa mengangguk kemudian mengangkat penggilan tersebut tak lupa menekan tombol lock Speker.


"mommm"


"apaan?"


"ini ada paket atas nama momy"


"dari siapa?"


"ga tau mom ga ada namanya"


"lah gimana sih rey, kan udah momy bilang kalau ada paket tapi pengirimnya ga jelas jangan diambil"


"ya ga tauu,,, yaudah Rey aja deh yang bukak"


"terserah kamu deh Rey, tapi kalau isinya penting langsung ditaruh di kamar momy"


"oke mom" Rey langsung memutuskan panggilannya sepihak.


"itu anak kakak?" Kanaya mengangguk sebagai jawaban.


"ihhh pasti lucu banget dehh, jadi pengen ketemu ponakan aku"


"lucu wajahnya doang tapi tidak dengan kelakuannya" ucap Kanaya membatin.


"nanti deh biar kakak suruh ke sini"


Anisa menggelengkan kepalanya kuat "sekarang aja kak, Nisa pengen banget ngelihat ponakan Nisa"


"Bentar dong Nis, ini aja kakak belum selesai makan"


"Yaa makanya cepetan" Kanya hanya mengangguk kemudian melanjutkan makannya yang masih sisa sedikit.


"nih udah abis nihhh" Kanaya menunjukan bekas bungkus nasinya kepada Anisa kemudian segera membuangnya ke tempat sampah dan mencuci tangannya.


setelah dari toilet Kanaya langsung berjalan mendekat ke arah ayahnya.kanaya melihat wajah ayahnya yang tampak begitu damai, butiran air mata menetes begitu saja hingga mengenai pipi ayah Kanaya.


"papa cepet bangun yahh, emang papa ga pengen lihat Kanaya lihat suami Kanaya lihat anak anak Kanaya?"


setelah mengucapkan itu tiba tiba Kanaya melihat tangan ayahnya sedikit bergerak yang menandakan ayahnya sudah siuman.

__ADS_1


"PAPA"


__ADS_2