
Angin berhembus stabil, namun udara terasa sangatlah dingin. terdengar suara gemercik air dari sebuah pancuran yang berada di kolam kecil. pencahayaan yang kurang terang membuat suasana di tempat ini terlihat sangat damai. sebuah tempat yang jarang dikunjungi oleh orang sehingga bisa dijadikan tempat untuk menyendiri. sebuah tempat bernama taman, Taman rumah sakit.
Terlihat dua orang pemuda berjenis kelamin laki-laki sedang duduk di bangku taman itu. satu orang pemuda itu terlihat sedang uring-uringan sedangkan yang satunya lagi tengah menatap kelakuan adiknya itu.
"kenapa dia bisa bertemu dengan momy?" tanya Rey dengan emosi yang sudah memuncak.
"Ntah" jawab Ray acuh.
Rey menarik kerah baju milik kakaknya dan menariknya kuat, sedangkan Ray? dia diam saja tanpa ingin melawan adiknya itu, pandangannya pun masih sama datarnya seolah olah tidak terjadi apa apa.
"ck bicara denganmu tak akan pernah ada jalan keluarnya, lihatlah disaat ibumu sedang dalam bahaya saja kau terlihat b aja" ucap Rey sedikit menyindir.
Ray menyingkirkan tangan adilnya secara perlahan "Terus?"
"dimana otak warasmu Bang!!! momy, momy kita sedang dalam bahaya!! dan kau malah bertanya kepadaku begitu?"
"Alay"
Rey yang terlanjur emosi hendak memukul wajah kakaknya itu, namun ia urungkan. Semarah apapun dia, dia tak akan pernah mau untuk menyakiti abangnya.
"pukul aja" ucap Ray dingin.
Rey menggeleng pelan sambil melihat kebawah, dirinya merasa bersalah untuk perbuatannya itu "sorry"
"Dengerin gw, gw tau lu khawatir sama momy lu takut kalau momy kembali dijahati oleh mereka begitu pula dengan gw, gw juga takut momy kembali dijahati oleh mereka. tapi dengan cara lu marah-marah ga jelas gini bukanya nyelesaikan masalah malah buat masalahnya tambah besar. lagian kita juga bisa apa mereka sudah terlanjur bertemu. yang kita perlu itu cuman ngelindungi momy dari orang-orang jahat" ucap Ray yang berubah menjadi hangat.
Inilah sosok Ray yang sebenarnya, dia peduli sangat peduli terhadap orang orang disekitarnya, tapi rasa itu tertutupi oleh sifat dingin dan tegasnya.
****
Kanaya sedari tadi uring-uringan karena Chet dan telfonnya tak dijawab oleh samudra. Tadi Kanaya menyuruh samudra untuk mencari anak anaknya dan memberitaukan mereka secara baik baik. tapi lihatlah, sudah hampir satu jam samudra pergi dan sampai sekarang laki laki itu belum kembali.
"Belum dijawab kak?" Tanya Anisa sambil memberikan secangkir teh hangat kepada kakaknya.
Kanaya menggeleng pelan kemudian menerima teh tersebut dan segera meminumnya, kepalanya terasa sedikit pusing.
"maafkan kami kak, mungkin karena kami anak-anak kakak marah kepada kakak" cicit Anisa pelan.
Kanaya yang melihat Anisa sedang memejamkan matanya sambil bersandar pada sofa itu menjadi merasa tak enak "ehh no problem Nis, lagian ini juga bukan kesalahan kalian kok. Ray Rey emang gitu orangnya, dia tak suka dengan orang yang belum ia temui, tapi percayalah kepadaku kamu akan melihat sifat mereka yang asli ketika sudah akrab dengan mereka"
Anisa terkekeh ringan "lucu lucu yah anak anak kakak, Nisa kira anak kakak cuman satu iho soalnya pas di telfon suaranya cuman satu orang doang"
__ADS_1
"yah gitu deh Nis, yang satunya itu jarang bicara"
Tak Tak Tak
Kanaya dan Anisa dengan kompak menoleh kearah pintu, disana terdapat samudra dan juga si kembar. Kanaya segera menghampiri ketiganya.
"darimana saja kalian?"
"maaf mom" cicit Rey pelan.
"his sudahlah jangan kaya tadi lagi Oky? ingat momy tidak mau punya ada yang tidak punya sopan santun" Si kembar dengan kompak menganggukkan kepalanya.
Kanaya mengelus rambut anaknya secara bergantian "Good boy, sekarang kalian Salim dulu sama kakek sama Tante"
Ray&Rey mengangguk paham kemudian segera menyalami tangan Abraham bergantian.
Abraham tersenyum takkala cucunya mau bersalaman dengannya, melihat wajah cucu-cucunya itu mengingatkan ia kepada kesalahannya. Kenapa dulu ia bodoh sehingga mau membuang cucu-cucunya itu??
"nak maafkan kakek" ucap Abraham dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"No problem kek" ucap si kembar kompak.
"Mau peluk kakek? anggap saja ini permintaan pertama dan terakhir kakek"
setelah selesai dengan kakeknya dua ER segera menghampiri Anisa dam mencium punggung tangannya.
"ehhh bentar ini bukannya yang nolongin Tante pas Tante dicopet malam itu?" ucap Anisa sambil mengingat-ingat.
"Tante yang dicopet preman itu?" tanya Rey. Anisa mengangguk kemudian terkekeh ringan ternyata dua sempit juga yah.
"Preman?" Beo Kanaya penasaran.
"bener banget kak, kan beberapa hari lalu aku habis dicopet sama preman-preman baj*ngan itu nah pas banget mereka lewat terus bantuin aku. pantesan pas mereka di telfon seseorang aku kaya dengar suara kakak"
"itu memang momy btw yang nelfon" sahut Rey.
"ahemm ada yang abis gelud nihh??" sindir Kanaya sambil melihat kearah kedua anaknya.
mampus.
"Enggak mom" sahut dua ER dengan kompak.
__ADS_1
"no no no Dedy harus tau ini" putus Kanaya.
"momy no!! I'M sorry, kami janji ga bakalan lagi" ucap Rey memohon.
Anisa terkekeh ringan, ohh dirinya tak tau jika Kanaya akan marah seperti sekarang.
"Ded" panggil Kanaya sedikit berteriak, namun tak ada jawab dari sang empu.
"Dedy mana?" Tanya Kanaya khawatir.
Anisa membalik tubuh Kanaya "Tuh suami kakak Teler" ucap Anisa terkekeh ringan.
Kanaya menepuk dahinya sedikit keras "Astaghfirullah, punya suami gitu amat"
"keknya dia kecapean deh kak"
"Dia emang lagi ga enak badan Nis, Ray ambilin momy selimut sama makanan dimobil"
Ray mengangguk kemudian segera pergi dari situ untuk mengambilkan apa yang diperintahkan oleh monynya.
"ohh ya Rey Oma udah pulang?" tanya Kanaya
Rey mengangguk "Udah mom tadi siang, sebenarnya tadi Oma ngelarang kami pergi dan maksa mah ikut kami ke sini tapi Rey ga tega soalnya wajahnya kaya kelihatan udah cape banget"
Kanaya menatap tajam Anaknya itu " Kalian ga bikin masalah kan?"
Rey menggeleng " hehe cuman aja Oma main kejar kejaran"
"astaghfirullah Rey!! nanti kalau Oma sakit gimana?"
"hehe sorry mom"
"ihhh ya Rey tadi kamu bilang ada kiriman paket buat momy, dari siapa emang? isinya apa?" tanya Kanaya bertubi-tubi
"paket?" beo Rey
"iya yang tadi kamu telfon momy"
Rey menepuk jidatnya kemudian mengambil hpnya dan segera menunjukan foto isi paket tersebut kepada monynya.
"Isinya ada kaya kain terus sama ada surat ini mom, entahlah mungkin orang iseng yang mengeringkannya"
__ADS_1
Rey memberikan kertas putih kecil dengan dengan ujung yang merah, Kanaya segera menerimanya dan membacanya.
Bahagia\=kesedihan