
Kanaya sedari tadi mondar mandir tak jelas didepan ruangan ayahnya. dari raut wajahnya menunjukan kegelisahan dan ketakutan yang luar biasa.
"Nay duduklah jangan mondar mandir tak jelas seperti itu" ucap samudra yang sudah bosan melihat Kanaya yang sedari tadi tak berhenti-henti berjalan mondar-mandir didepan ruangan ayahnya.
"ayahku didalam Sam dan kau menyuruhku untuk tenang dan ikut duduk bersantai sepertimu?"
Samudera menghembuskan nafas beratnya, percuma bicara dengan Kanaya jika orang itu sedang dalam mode khawatir seperti ini.
"sabar aja pak, kakak kalau sedang khawatir memang seperti itu sifatnya"
samudra melihat ke arah sumber suara, disana terdapat Anisa yang sedang bersandar di dinding rumah sakit.
senyuman kecil muncul di wajah samudra "no problem"
Cklek
Netra semua orang langsung tertuju kepada pintu ruangan yang terbuka, disana terdapat seorang dokter yang keluar dari dalam ruangan dengan keringat yang membasahi wajahnya.
"Bagaimana keadaan ayah saya dok?" tanya Kanaya to the points.
"ayah anda tidak apa-apa malah justru kini dia sudah dinyatakan bangun dari komanya dan keadaannya pun sudah membaik" ucap dokter itu membuat semuanya yang berada disitu berucap syukur
"apakah saya sudah boleh melihatnya?"
"Tentu saja"
Kanaya segera berjalan masuk kedalam ruangan itu, netranya tertuju kepada ayahnya yang sedang berbaring diatas brankar sambil melihat ke arahnya.
dengan perlahan Kanaya berjalan menghampiri ayahnya hingga dirinya sampai didepan ayahnya.
Kanaya menggenggam erat tangannya, ketakutan itu!! ketakutan itu rasanya kembali hadir ke dalam hidupnya.
"N-Naya"
Kanaya terdiam beberapa saat, tubuhnya ingin pergi dari situ tapi hatinya lain, ia ingin memeluk ayahnya, ia ingin mencium tangan ayahnya, ia ingin bersama ayahnya.
"a-ayah" cicit Kanaya pelan langsung memeluk erat tubuh ayahnya itu.
"maafin ayah sayang"
"no ayah!! no!!"
tanpa Kanaya sadari air matanya sudah turun membasahi pipinya sedari tadi, kini rasanya kebahagiaannya sudah lengkap.
hal yang selalu Kanaya inginkan kini akhirnya tercapai, memeluk erat ayahnya dan menangis di pelukannya.
keduanya saling menangis sambil berpelukan, menumpahkan rasa rindu yang selama ini mereka pendam dalam-dalam.
sebesar apapun kesalahan seorang ayah tak akan pernah bisa mengantikan cinta seorang anak menjadi rasa benci.
kesalahan itu wajar namun juga ada batasnya. dan disatu sisi lain kita ini hanya manusia biasa yang harus bisa memaafkan kesalahan orang lain.
...Tuhan saja maha pemaaf lantas kita?...
****
"ayah sekarang minum obat dulu yah?!" Kanaya menyodorkan satu gelas air putih dan tiga pil obat untuk ayahnya.
Abraham tersenyum kemudian menerima obat itu dan segera meminumnya. "makasih"
Kanaya hanya menganggukkan kepalanya. perlakuan mereka berdua tak luput dari padangan samudra dan juga Anisa, mereka berdua bersyukur karena Kanaya bisa kembali bahagia bersama orang yang dia cintai.
Dret Dret Dret
__ADS_1
"Sam tolong ambilkan hpku dan lihatlah siapa yang menghubungiku"
samudra berdecih pelan tapi tetap saja dirinya mengambilkan hp milik istrinya itu.
"dari twins"
"tolonglah Sam angkatan sekalian jangan lupa di log spiker aku aku bisa mendengarnya"
samudra dengan malas menerima panggilan itu tak lupa dirinya menekan tombol log spiker agar istrinya yang cantik itu bisa mendengarkan suara anaknya itu.
"hallo mom assalamualaikum" ucap sikembar dari sebrang telfon
"waalaikumsalam Er"
"momy dimana? kenapa ga pulang? Momo gapapa kan?"
Kanaya terkekeh ringan "momy gapapa kok, ini momy lagi sama Dedy"
"ohh ya mana Dedy? hallo Ded"
"apa?" sahut samudra yang mendengar panggilan dari anaknya.
"weh slow Ded, oh ya mom, momy buruan pulang giihhh kami lapar"
"lapar yah makan lah Er"
"no no no!!! cuman doyan masakan momy doang pokok!!!"
"Momy ga bisa pulang"
"lah Momy kesasar? bentar momy dimana biar Er susul"
"momy dirumah sakit"
Kanaya mengelus dadanya takkala 2R langsung memutuskan panggilnya sepihak "astaghfirullah banget tuh anak"
"Siapa nay? anak kamu?" tanya Abraham penasaran. Kanaya hanya mengangguk sebagai jawaban.
"tunggu!! anak? wohhh ponakan aku dung berarti?" lagi dan lagi Kanaya hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan dari adiknya itu.
"Meraka mau kesini nay?"
"mungkin yah, soalnya tadi telfonnya langsung diputuskan sepihak"
Ting
samudra membuka notifikasi yang muncul dihp istrinya.
...Reydinata...
...online...
Reydinata:
Sherlock
^^^mee:^^^
^^^send your current location^^^
^^^read^^^
"Siapa Sam?" tanya Kanaya penasaran.
__ADS_1
"anakmu"
"anakmu juga btw" samudra hanya menganggukkan kepalanya kemudian kembali merebahkan tubuhnya di sofa ruangan itu, moodnya sedang rusak hari ini.
Anisa mendekat kearah Kanaya "suamimu kenapa sih kak?" tanyanya sambil berbisik.
"biasa kalau lagi badmood mah gitu, apalagi dia orangnya ga suka rumah sakit" bisik Kanaya sambil terkekeh ringan.
"kaya cewe aja"
Kanaya tertawa saat mendengar olokan dari adiknya itu. suaminya itu memang mirip cewek, manja.
"Nay sepertinya suamimu ketiduran disitu" ucap Abraham yang melihat samudra sudah Tek sadar dibawah alam mimpinya.
Kanaya mengangguk kemudian menghampiri suaminya itu. Kanaya melihat wajah samudra yang terlihat begitu tenang, ahh lihatlah wajah seseorang yang sudah menemaninya dari belasan tahun lalu.
Kanaya segera menyelimuti tubuh samudra sampai dadanya agar tidurnya lebih nyaman lagi.
Tok tok tok
"siapa nis yang bertamu di jam segini?" tanya Kanaya heran.
"entah kak, biar Anisa buka dulu" kanaya
"MAMA"
Kanaya menoleh ke ara sumber suara, dan
Greb
Dapat Kanaya rasakan tubuhnya sedang dipeluk erat oleh kedua anaknya. Kanaya terkekeh ringan membalas pelukan dari anaknya.
"is mommy okay?" ucap Ray pelan.
"mommy is fine boy"
"apakah ada yang luka? kita pulang aja yah mom, tadi Rey udah hubungi dokter keluarga kita" ucap Rey
Kanaya melepaskan pelukannya" hey lihatlah boy momy tak apa"
Keduanya (Ray&Rey) membuang helaan nafas beratnya.
"ihhh ya lihatlah itu kakek kalian, dan itu anty kalian" Kanaya tersenyum sambil menunjuk ayah dan juga adiknya bergantian.
"kakek?anty?" beo keduanya kompak
"iya dia ayah momy dan dia adik Momy"
wajah yang tadinya terlihat khawatir kini berubah menjadi datar, ingat mereka tau semuanya, semuanya!!
"momy Ayo pulang" Ajak Rey dingin
"no boy!! momy mau jagain kakek kalian"
"ya sudah kami tunggu diluar" ucap Ray seraya menarik tangan adiknya itu dan mengajaknya keluar.
Kanaya perlahan melihat kearah keluarganya, senyuman yang tadinya terukir indah kini berubah menjadi sedih dan kecewa.
"m-maafkan anak anakku, mereka memang gitu kalau ketemu orang baru, tapu kalau sudah kenal tidak seperti itu lagi kok, sekali lagi maafkan anak anakku" ucap Kanaya sambil tersenyum kikuk.
"tak masalah kak, lagian biasalah anak anak ya gitu sifatnya" ucap Anisa sambil tersenyum manis.
"HK em, tidak apa Nay,"
__ADS_1
aku tau mereka pasti kecewa kepadaku dan keluargaku.