
"silahkan diminum"
Kanaya dan samudra tersenyum kearah Anisa secara bersamaan.
"kakak kemana saja selama ini?" tanya Anisa terdengar begitu letih.
Kanaya hanya diam saja membiarkan adiknya melanjutkan ucapannya
"kakak tau?" Kanya menggelengkan kepalanya pelan
"Anisa udah cari kakak ke mana mana sampe sampe Anisa udah capek dan pasrah kak, tapi syukur lah sekarang kakak sudah ketemu"
Kanaya berdiri dari duduknya kemudian mendekat kearah Anisa dan memeluknya dari samping.
"maafkan kakak belum bisa jadi kakak yang baik buat kamu"
Anisa mengangguk kemudian membalas pelukan dari kakaknya.
"ga masalah kak yang penting sekarang kakak udah kembali lagi kesini"
Kanya melepaskan pelukannya kemudian duduk disamping Anisa.
"sekarang kakak cerita sama Nisa kemana aja kakak selama ini dan bagaimana dengan keadaan bayi kakak?"
Kanaya menggelengkan kepalanya kuat kemudian tersenyum kearah Samudra.
"biarlah itu menjadi kisah rahasiaku yang terpenting adalah sekarang anakku baik baik saja dan sudah tumbuh menjadi anak yang baik"
Anisa tersenyum kemudian memeluk kakaknya itu dari samping.
"Aku ga tau kak gimana kisah perjuanganmu tapi aku yakin bahwa engkau telah berhasil mendidik anakmu itu menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya"
"Amin" jawab Kanya dan samudra secara bersamaan
"ehhh bentar dehh ini bukannya pak dirgantara yah? CEO off Dirgantara grup?"
"iyapss"
jawaban dari Samudra langsung membuat Anisa heboh sendiri. Anisa itu dari dulu emang ngefens poll Sama Samudra, udah ganteng kaya baik lagi itulah yang membuatnya menjadi sangat suka terhadap sosok samudra.
"Ya Allah pak ga nyangka banget kalau CEO yang dibangga banggakan semua orang adalah kakak ipar saya sendiri, Nisa dulu sempet ga percaya saat denger rumor tentang bapak yang udah punya istri tapi sekarang malah dibuat ga percaya lagi kalau bapak istri kakak saya"
Kanaya langsung menarik tangan Anisa agar duduk kembali ke tempatnya. sedangkan Samudra yang melihatnya langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal, sebegitu ganteng kah dirinya sampe sampe dibangga banggakan semua orang?
canda bangga banggakan, yang ada nanti Kanaya marah.
__ADS_1
"biasa aja kali Nis Lagian juga kakak ga bohong kok, mau kakak tunjukkin buku nikah kakak?"
Anisa tersenyum menampakan gigi putihnya yang berjejer rapi kemudian menggelengkan kepalanya ringan. "enggak deh kak nanti daripada Nisa sakit hati"
Kanaya yang mendengar jawaban adiknya itu dengan reflek langsung menyentuh dahi Anisa.
"dingin,,, pantesan otaknya lagi eror"
Anisa segera melepaskan tangan kakaknya dari dahinya kemudian tersenyum kembali ke arah Samudra.
"apaan sih kak,,, aku pengen ngehalu sebentar deh"
Kanaya berjalan ke arah Samudra kemudian memeluknya dan menciumnya dari Samping tanpa ada rasa malu sedikit pun.
sedangkan Anisa? dia dengan refleks langsung menutup matanya menggunakan telapak tangannya.
"inget dia sudah punya istri" peringat Kanaya.
"Astagfirullahhalazim kak yaa ga gitu juga kali kan kasian mata suci Anisa jadi ternodai"
Kanaya terkekeh ringan kemudian duduk kembali disamping Anisa. "sok suci kamu Nis padahal dari SPM dulu kamu udah suka nonton drakor"
"itu dulu kak pas masa masa SPM sekarang mah udah ga hobi lagi"
"masa sihhh? kok kakak ga percaya yaaaa?"
Kanaya terkekeh ringan melihat Anisa yang sedang marah kepadanya itu.
"ehhh tadi kamu bilang apa? rumor? emang dulu pernah ada rumor apa?"
"dulu tuh yaaa kak pernah ada rumor kalau pak samudra udah nikah terus tuh semua orang pada jadi sad sampe sampe temen Nisa juga ada yang mau bunuh diri, ngeri bukan?"
mendengar ucapan Anisa membuat Kanaya langsung menatap suaminya tajam seolah olah samudra adalah musuhnya.
samudra diam tercengang, masalah apa lagi ini? pasti Kanaya akan marah untuk beberapa hari dengannya.
"ehhh enggak ada yahh itu pasti bohong" ucap samudra menatap Anisa tajam seolah olah memberikan ancaman.
Kanaya melihat kembali ke arah Anisa "kamu bohong Nis?"
Anisa yang melihat pandangan samudra dibuat tertawa didalam hati. ide ide jahil pun banyak yang masuk kedalam otak liciknya itu...
Anisa mengangkat kedua jari telunjuk dan juga tengahnya, membentuk huruf v. "enggak kok kak Nisa ga bohong, emang kakak mau buktinya?"
Kanaya menggelengkan kepalanya kuat. "emm ya udah kakak mau ke kamar,,,, kamar kakak masih ada kan?"
__ADS_1
"masih kok kak,,,tapi ga pernah dibersihin karena Nisa tau kakak paling ga suka kalau kamar kakak dimasuki orang apalagi barang barangnya disentuh orang lain"
Kanaya tersenyum manis hingga menunjukan lesung dipimpinnya "syukurlah,,,kalau begitu kakak mau ke kamar dulu yah"
"kakak nanti makan siang disini sekalian yah? biar bisa yang masakin"
Kanaya mengangguk kemudian pergi ke kamarnya di ikuti samudra dibelakangnya.
Kanaya berhenti tepat didepan kamarnya. dengan perlahan Kanaya memegang gagang pintu kamarnya itu lalu membukanya.
Kanaya langsung masuk kedalamnya kemudian menyalakan lampunya. "masih sama" ucapnya dengan mata yang sudah berkaca kaca.
Kanaya terus berjalan mengelilingi kamarnya sampai dirinya berhenti didepan sebuah lemari yang sudah retak kacanya.
Kanaya segera membukanya kemudian mengambil kotak kecil yang berada didalamnya. Kanaya segera berjalan ke arah kasurnya kemudian membuka laci yang berada disampingnya.
"ketemu"
Samudra menatap Kanaya bingung, istrinya itu sedari tadi fokus dengan kotak kecil yang sedang dibawanya.
karena terlalu kepo samudra pun langsung mendekat ke arah Kanaya kemudian membantu Kanaya yang sedang kesusahan membuka kotak itu.
"buku?"
Kanaya mengangguk kemudian memasukan buku itu kedalam tasnya.
"buku ini tuh berisi semua keluh kesah aku saat aku kecil dulu, setiap hari pasti tak lupa aku menuliskan sesuatu dibuku ini"
Samudra mengangguk paham kemudian ikut duduk disamping istrinya.
"kamu suka banget yah sama warna kuning?"
"iyaa Sam aku suka banget Dalam dunia psikologi, filosofi warna kuning selalu dikaitkan dengan keceriaan, kebahagiaan, dan rasa optimis,,,,warna ini juga menyiratkan sisi negatif, yaitu melambangkan sisi pengecut, kehati-hatian, hingga rasa cemburu. sama kaya aku"
Samudra menggenggam erat tangan Kanaya "kamar kamu bagus deh aku suka,,,besok besok kita nginep disini yah"
Kanaya menganggukkan kepalanya. "kamu tau Sam? kamar ini lah yang menjadi saksi betapa hancurnya hidup aku saat itu"
samudra menganggukkan kepalanya kemudian menarik tangan Kanaya pelan. "yaudah turun yuk kasian adik kamu udah nungguin kita buat makan siang bersama"
"kebetulan banget kakak udah turun, yaudah yuk kita makan siang bersama"
"Mama sama papa mana Nis? mereka belum pulang yah dari kantor?"
pertanyaan Kanaya membuat Anisa diam membeku tak bisa menjawabnya. tanpa disadari air mata Anisa keluar begitu saja.
__ADS_1
Kanya yang melihatnya pun merasa keheranan "loh Nis kok malah nangis sihh? mama sama papa mana"
"m-mama udah meninggal kak dan sekarang p-papa koma"