Kisah Kanaya

Kisah Kanaya
flashback


__ADS_3

didalam sebuah ruangan bernuasa putih dengan bau obat obatan yang menjadi ciri khas terdapat seorang wanita yang tak sadarkan diri.


"An Lu ngak capek apa tidur Mulu?" ucap Jane menatap nalar ke arah sahabatnya yang tengah tertidur itu.


Jane membuang nafasnya pasrah melihat keadaan sahabatnya yang kini dikelilingi oleh alat kesehatan.


"Emang lu enggak mau lihat putra putra lu? mereka kembar loh udah gitu ganteng ganteng lagi" ucap Jane kembali.


Suara pintu terbuka membuat Jane tak mengalihkan pandangannya sama sekali.


"Jane sayang mending kamu pulang dulu bersih bersih badan biar Tante yang jagain Kanaya" tinta dokter Mora sambil mengelus rambut milik Jane


Jane segera menggelengkan kepalanya "Jane mau disini aja tan mau temenin Kanaya" ucapnya.


"ga boleh gitu dong sayang, kamu juga harus jaga kesehatan kamu biar nanti bisa terus jagain Kanaya" ucap dokter Mora dengan lembut.


"Tapi tan—"


"—ada Tante disini" ucap dokter Mora memotong perkataan Jane.


Jane mengangguk kemudian berdiri dari duduknya "yaudah Jane titip Kanaya yah Tan nanti kalau ada apa apa langsung hubungi Jane" ucap Jane diangguki dokter Mora.


Dokter Mora segera duduk dikursi samping branker Kanaya.


"nay kamu Ga pengen bangun buat lihat anak anakmu apa? bangunlah dan lihatlah anak anakmu itu sangat mirip denganmu" ucap dokter Mora sambil mengelus rambut milik Kanaya.


kemana Kanaya yang selalu ceria dan juga selalu tersenyum? lihatlah wanita yang dulunya kuat sekarang jadi lemah, wanita yang dulunya pekerja keras sekarang tak punya semangat hidup, wajah yang dulunya cantik bak Dewi Yunani sekarang menjadi pucat bak mayat hidup.


suara deringan ponsel menyadarkan dokter Mora dari lamunannya.


"iya hallo" ucap dokter Kanaya ketika sambungan telfon itu sudah tersambung.


"mama ada dimana?"


"kemarilah ke ruang nomor tuju belas" ucap dokter Mora langsung mematikan telfonnya.


dokter Mora kembali menggenggam tangan Kanaya kuat untuk memberikan kehangatan.


"Maa" panggil seorang laki laki dari balik pintu kemudian berjalan menghampiri dokter Mora.


"maa ini yang mama pesan" ucap laki laki itu sambil memberikan sebungkus nasi kotak.

__ADS_1


mata laki laki itu tertuju kearah Kanaya yang sedang terbaring dengan keadan pucat. betapa terkejutnya laki laki itu saat melihat wajah dari Kanaya.


"KANAYA" ucapnya syok. sangking kagetnya laki laki itu sampai menjatuhkan Nasik kotak yang dirinya bawa.


Dokter Mora yang melihat anaknya itupun segera menghampirinya dan menentang bahunya yang bergetar.


"Samudra heyy kamu kenapa" tanya dokter Mora kebingungan.


"d-dia K-Kanaya Maa?!!"ucap samudra gugup.


"iyaa dia Kanaya gadis yang sering mama ceritain" jawab dokter Mora


"diaa Kanaya maaa!! gadis yang pernah nolongin Sam waktu Sam mau bunuh diri!!gadis yang sudah buat Sam jadi semangat lagi" ucap samudra dengan histeris kemudian menghampiri Kanaya.


"K-Kanaya?" ucap Samudra sambil menggenggam erat tangan Kanaya


Akhirnya orang yang selama ini samudra cari ketemu. Disini, dirumah sakit ini tempat bertemunya RADITYA SAMUDRA DIRGANTARA dengan KANAYA APRILIA PUTRI untuk yang kedua kalinya.


...🦋🦋...


Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, namun Kanaya tetap setia memejamkan matanya.


Dokter Mora tidak bisa selalu menjaga Kanaya karna dirinya juga penting buat semua orang. begitupun dengan Jane dirinya juga harus bekerja miskipun haya separuh waktu.


"Ma lihat deh ganteng banget sih anaknya kanaya" ucap Samudra sambil menggendong Ray ditangannya.


"mamanya juga cantik ya wajar kalau anaknya ganteng" jawab dokter Mora yang sedang duduk memangku Rey


...sedangkan dialam bawah sadar Kanaya...


Kanaya tersenyum bahagia melihat anak anaknya berada ditangan orang yang tepat. disamping Kanaya duduk terdapat kakek dan neneknya yang ikut tersenyum senang.


"lihatlah bukankah dia sudah tepat untuk menjadi suamimu?" tanya orang yang berada disamping kanannya~Neneknya.


"Tapi Naya ga mau nikah nek apalagi sama orang yang tidak Naya kenal apalagi cinta" balas Kanaya


"Apa kamu ga kasian melihat anak anakmu hidup tanpa sosok ayah?" Tanya neneknya kembali membuat Kanaya diam tak menjawab.


benar kata neneknya itu, Anaknya butuh sosok seorang ayah disampingnya. apalagi saat anaknya beranjak ke sekolah pasti dia akan dibully habis habisan oleh teman temannya.


"lagian cinta itu akan hadir dengan sendirinya dulu kakek sama nenek juga tidak saling cinta tapi dengan seiring waktu kami mulai saling mencintai" ucap kakeknya yang disetujui oleh neneknya.

__ADS_1


tiba tiba dari arah depan terdapat sebuah cahaya yang cukup besar dan silau.


"Pergilah anak anakmu dan calon suamimu menunggu kehadiranmu" ucap kakeknya menyuruh Kanaya masuk kedalam cahaya putih tersebut.


Kanaya menggelengkan kepalanya kuat "enggak Kanaya masih mau sama kakek sama nenek" ucapnya.


"maafkan kami tapi belum waktunya kamu berada disini" ucap neneknya kemudian mendorong Kanaya hingga membuat Kanaya masuk kedalam cahaya putih tersebut. setelahnya Kanaya tak bisa melihat apa apa kembali.


...Didalam ruangan Kanaya...


"lihat deh ma bahkan dalam keadaan tidur pun dia tetap terlihat cantik" ucap Samudra melihat wajah Kanaya yang sepertinya mulai kelihatan fresh dari sebelumnya.


"sahabat siapa dulu"sahut Jane yang sedang menggendong Rey.


dokter Mora tersenyum melihat Jane yang sudah mulai sedikit ceria dibandingkan hari hari sebelumnya.


"tapi dia sudah beda dari yang dulu, yang dulunya orangnya punya semangat hidup yang tinggi sekarang seperti tidak punya semangat hidup lagi, yang dulunya ceria sekarang pendiam" ucap Samudra membuat keduanya diam.


"Maa bolehkan aku memilikinya sepenuhnya" ucap samudra ditengah tengah keheningan yang membuat dokter Mora dan juga Jane kaget.


"apa maksudmu Sam?" tanya dokter Mora berjalan mendekati samudra dan juga Kanaya


Samudra menatap wajah Kananya lekat "aku ingin menikah dengannya maa" ucap Samudra


"apakah kamu yakin dengan itu?" tanya dokter Mora


"Samudra yakin maa!! aku mohon restui kami" tinta samudra


"mama akan merestuimu dengan syarat jangan pernah membuat Kanaya sedih cukup sudah kesedihan dan penderitaannya selama ini, buatlah dia bahagia" ucap dokter Mora tegas.


"Sam janji ma tidak akan pernah menyakiti Kanaya dan akan selalu berusaha untuk membuatnya bahagia" ucap samudra dengan tekat yang bulat.


"mama pegang janji kamu" ucap dokter Mora meneteskan air matanya.


keinginan dokter Mora selama ini akan tercapai. dimana dirinya ingin samudra berada ditangan orang yang tepat seperti Kanaya.


Jane berjalan mendekati Samudra lalu memegang bahu kanan samudra "aku juga setuju dengan ucapan Tante Mora, akan ku relakan kakak sekaligus sahabatku menikah denganmu asal ko bisa membuatnya bahagia dan tidak membuatnya menderita. satu tetes air matanya sangat berharga buatku" ucap Jane dengan tulus.


"makasih Jane" ucap Samudra sambil tersenyum manis.


"Tangan Kanaya gerak"

__ADS_1


__ADS_2