
Malam ini aku kembali meringkuk di atas kasurku, aku yang beberapa hari ini disibukkan oleh pekerjaanku dikantor sehingga beberapa saat aku bisa lupa tentang dirinya, Namun, mengapa dia hadir lagi di hadapanku setelah begitu lama.
Apakah Tuhan tidak mengizinkan aku untuk melupakan dia ?
Apakah hanya dia yang boleh bahagia setelah perpisahan ini?
Sepertinya rasanya sangat tidak adil jika melihat dia bahagia bersama pacar barunya, sedangkan aku selalu saja nelangsa tiap kali melihat wajahnya.
“Hiks… kenapa sih Ren lo selalu dateng disaat gue mau ngelupain lo hiks” ucapku sembari menangis.
“Dengan muka tanpa dosa, lo rangkul cewe lo di depan gue, secepet itu lo ngelupain gue yang udah 8 tahun nemenin lo, dasar bangs*tttt” umpatku sambil menyeka air mataku yang turun kian deras.
Sebenarnya apa yang dikatakan pak Sena tadi adalah benar, aku tidak boleh menangisi dia yang sudah menyakitiku, karena dia tidak worth it untuk di tangisi. Tapi kenapa hati ini begitu lemah jika sudah berurusan dengan dia. Reno adalah orang yang pertama yang bisa buat aku jatuh cinta begitu dalam, namun dia jugalah yang orang pertama yang bisa membuat luka yang begitu besar di hatiku.
Seandainya aku di beri waktu untuk bicara 4 mata dengan Reno, yang paling utama akan ku katakan adalah terimakasih dan maaf untuk semuanya. Terimakasih karena sempat menjadi salah satu kebahagiaan yang ku harapkan berujung sempurna namun nyatanya tidak demikian. Dan maaf atas perasaanku yang telah membebanimu, rasa yang sempat aku sematkan dalam setiap perjumpaanku dengan Tuhan dan dirimu.
Namun, sepertinya hal tersebut tidak akan terjadi karena saat ini kamu sudah mendekap hati yang lain. Jadi aku hanya bisa mengucapkan selamat melanjutkan perjalananmu, karena akupun begitu. Selamat tinggal untuk kisah kita, dan setelah ini tidak ada lagi aku dan kamu setelahnya.
Reno, kamu baik-baiklah dengan hidupmu, tetaplah bahagia terlepas dari hari buruk yang kamu lalui bersamaku. Jangan lagi memilih orang yang salah sepertiku untuk melabuhkan hatimu.
Malam itu aku lalui dengan banyak air mata, tangisan dan air mata yang sama seperti saat pertama kali dia meninggalkanku. Aku akhirnya terlelap dalam tangisku, dan aku berharap semoga ini adalah yang terakhir kalinya aku menumpahkan air mataku untuk Reno.
*
“Airin”
“Airin”
“Airin Rahayu Sudirja!” Panggil pak Sena untuk yang ke tiga kalinya.
“Ehh… i-iya pak, kenapa pak?” Tanyaku kaget karena pak Sena sudah berada di depan mejaku.
“Kamu kenapa tidak fokus saat bekerja” ucapnya dengan tajam.
Aku tidak sadar jika sedari tadi aku melamun dan tidak mendengar panggilan pak Sena “Ma-maaf pak, sa-saya”.
“Sudah sudah, ayo” ajak pak Sena.
“Loh kemana pak?”
“Disini yang sekertarisnya saya atau kamu?” Tanya pak Sena kesal.
__ADS_1
“Ini sudah jadwal makan siang, ayo cepat nanti saya pingsan” ucap Pak Sena seraya berlalu.
‘Dihh… lebay amat lu, kaga makan siang aja pingsan. Gue curiga pas bulan ramadhan lo ga puasa’ umpatku dalam hati.
Siang itu kami makan di sebuah restoran dekat kantor, karena jaraknya lumayan dekat sehingga bisa makan lebih lama.
“Kamu kenapa hari ini tidak fokus?” Tanya pak Sena membuka obrolan.
Aku melirik melihatnya “engga kok pak, saya baik-baik saja” elakku.
“Apakah karena mantanmu lagi?” Tebak pak Sena. Dia bisa sekali membaca air mukaku.
“Emm… bisa di bilang seperti itu pak” jawabku lemah.
“Saya tau ini tidak mudah bagimu, tapi jika kamu terus terusan seperti ini siapa yang akan disalahkan jika nantinya kamu akan depresi dan berujung gila.” Ujar pak Sena yang membuatku bergidik ngeri.
“Ihh pak tega banget ngomongnya” ucapku tidak terima.
“Kita tidak ada yang tahu keadaan mental seseorang”
Aku menunduk, “aku hanya belum bisa menerima semua ini pak, bagi saya ini sangat tiba-tiba. Orang-orang di sekitarkupun tidak berhenti bertanya perihal mengapa kami berpisah setelah 8 tahun perjalanan merajut kisah cinta. Aku malu setelah dulu aku sangat membanggakannya pada semua orang, namun akhirnya aku di tinggalkan” ucapku lemah.
“Beberapan orang dalam hidupmu, akan dengan buta menghakimimu. Maka tulilah, hanya itu yang dapat kamu lakukan.” Ucap pak Sena.
Aku mengangguk, “iya pak, saya sudah berusaha menghindari mereka, itulah mengapa sekarang saya tidak memiliki teman selain Yuri” ucap Airin.
“Tidak masalah jika hanya memiliki satu teman, asalkan dia tidak meninggalkanmu disaat apapun. Seperti saya dan Rey” ujar pak Sena.
“Pak Rey?” Beo ku.
Pak Sena mengangguk, “iya, Rey bukan hanya sekedar Asistenku, tapi dia juga adalah sahabat terbaikku, yang tidak pernah menghakimiku dalam hal apapun” jelas pak Sena.
Aku baru tahu jika mereka bersahabat, sebab interaksi antara mereka dikantor terlihat begitu kaku, lumrahnya bos dan bawahan.
“Saya baru tahu jika pak Sena dan pak Rey bersahabat, karena kalian terlihat begitu kaku” ucapku tidak menyangka.
“Kami harus profesional dalam bekerja” ucap pak Sena.
Cukup lama kami berbincang, dan disaat itulah juga aku menyadari bahwa pak Sena akan sangat hangat jika kita sudah mengenalnya begitu dalam, dia tidak seburuk itu.
“Lohhh, calon menantu mama disini juga” aku sontak menoleh ketika sebuah tangan menyentuh pundakku dan berkata demikian.
__ADS_1
“Eh tante Karina” ucapku kaget dicampur gugup, aku melirik ke pak Sena. Bagaimana ini, bagaimana jika tante Karina tahu kalau aku adalah karyawannya pak Sena.
“Kalian lagi makan siang ya? Duh so sweetnya. Airin kamu tuh hebat deh, biasanya Sena tidak mau jam kantornya di ganggu walaupun hanya sekedar makan siang, dan sekarang dia mengajak kamu makan siang bersama di saat jam kantor, duh mama seneng banget Rin.” Ucap tante Karina panjang lebay.
Aku hanya tersenyum mendengarnya, jelas saja aku diajaknya makan siang, ya karena aku sekertarisnya yang harus mengikutinya kemanapun dia pergi.
“Tante mau makan siang juga? Gabung sama kita aja tan” ajakku kepada tante Karina.
“Ehhhh jangan panggil tante lahh, panggil mama aja, kan sebentar lagi kamu bakal jadi menantu mama” perintah tante Karina.
Buset dah, apa lagi ini. Kenapa harus manggil dia mama, duhhh gimana nih, tambah runyam saja permasalahan pura-pura pacaran sama pak Sena ini.
“Hehehe iya ma, mama gabung sama kita aja” ucapku lagi.
“Ihh gausah deh, mama lagi nunggu temen-temen mama, kita mau arisan. Mama juga ga mau gangguin kalian, yaudah ya mama ke sana dulu” ucap tante Karina menunjuk ruangan VIP yang sudah mereka pesan untuk mengadakan arisan sosialitanya.
“Sena, lanjutkan sayang” ucap tante Karina seraya mencubit gemas pipi anak semata wayangnya itu.
Pak Sena hanya tersenyum menanggapi. “Pak, bapak kenapa ga ada gugup-gugupnya sih” ucapku kesal melihat pak Sena sangat santai menghadapi persoalan ini.
“Ya kenapa juga harus gugup menghadapi mama sendiri” ujar pak Sena.
“Ih bukan itu, maksud saya gimana kalau tante Karina dan Om Arsen tahu kalo kita cuma sebatas atasan dan bawahan” ucapku gusar.
“Ya tinggal jadikan dress saja” ucapnya tidak jelas.
“Dih apaan sih, becanda aja, orang lagi serius juga” ucapku merajuk, bisa-bisanya dia masih bisa bercanda.
“Kamu tenang saja” ucap Pak Sena.
“Tenang gimana, karir saya bisa terancam ini” aku khawatir jika masalah ini akan berimbas ke pekerjaanku.
“Bos kamu itu saya, jadi hanya saya yang bisa menentukan nasib kamu di kantor itu seperti apa”
Ya ya ya tau deh yang poisinya CEO.
“Serah deh pak” ucapku pasrah.
***
Berkomentarlah dengan kata-kata yang positif❤️
__ADS_1