Kisah Sempurna Airin

Kisah Sempurna Airin
Bab 40


__ADS_3

Setelah pertemuan ku dengan om dan tante Karina tempo hari, kini aku sudah tidak lagi bekerja di Pranata’s Company, padahal aku masih sangat ingin bekerja disana tapi pak Sena tidak memperbolehkanku lagi untuk bekerja, “kamu akan jadi bagian dari Keluarga Pranata jadi kamu tidak perlu bekerja lagi” ujar pak Sena.


Iya benar, aku sudah memutuskan secara mutlak bahwa aku akan menikah dengan pak Sena, bos ku yang galak, dingin dan judes itu, aku sendiri tidak menyangka bahwa aku akan jatuh cinta padanya, yang awalnya hanya berpura-pura kini aku benar-benar suka padanya.


“Jadi mau yang mana?” Pertanyaan pak Sena membuyarkan lamunanku.


Kini kami sedang memilih gaun pengantin untuk pernikahan kami yang akan di laksanakan 3 bulan lagi, kami sudah mulai mempersiapkannya jauh-jauh hari. Tepat satu bulan yang lalu, pak Sena beserta kedua orang tuanya datang kerumah untuk menemui mama dan papa. Memang pada dasarnya mama dan papa ku sudah menyukai pak Sena jadi tidak membutuhkan waktu yang lama mereka langsung menerima lamaran pak Sena.


“Airin” panggil pak Sena sekali lagi.


“Hah? Iya iya boleh” jawabku sembarang


“Apanya yang boleh, jadi kamu mau yang mana? Jangan melamun terus” tegur pak Sena.


“Ehh… iya maksudnya yang gold aja, saya lebih suka yang gold” ucapku tidak enak.


“Yasudah, mba kami ambil yang gold ya.” Ucap pak Sena pada pemilik butik tempat kami memilih baju pengantin.


Setelah memilih baju pengantin kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu sebelum lanjut memilih gedung pernikahan, karena sedari tadi kami belum makan sama sekali.


“Kamu kenapa?” Tanya pak Sena tiba-tiba.


“Kenapa apanya?” Tanya ku bingung.


“Melamun terus dari tadi.”


“Enggak, cuma ga nyangka aja saya bentar lagi nikah sama bos saya sendiri heheh”


“Harusnya kamu seneng karena udah beruntung bisa nikah sama orang ganteng dan kaya seperti saya ini”


“Dihhh.. sombong banget, perasaan yang ngejer-ngejer saya kemarin bapak deh”


“Iya juga sih hahhah.” Kami tertawa receh karena percakapan absurd kami sendiri.


“Eh Airin, lo disini juga” sapa sesorang padaku.


Aku menolehkan kepalaku ke arah sumber suara itu, “Yuri, Rey ngapain kalian?” Tanyaku.


“Inikan tempat umum, kita gabung yah” pinta Yuri dan tanpa menunggu persetujuan dari kami mereka langsung duduk satu meja dengan kami.


“Mantep nih bos, udah mau nikah aja” ucap Rey pada pak Sena.


“Emmm” jawab pak Sena singkat.


“Jadi di gedung mana nih?” Tanya Rey lagi.


“Tau, liat ntar” jawab pak Sena singkat.


“Jutek amat laki lo” ucap Rey kesal pada ku.


“Emang udah dari lahir begitu” jawabku


“Eh Rin, gue seneng banget lo udah mau nikah, biar lo gak ngeribetin hidup gue lagi” ucap Yuri.

__ADS_1


“Dihh, jahat banget lo”


“Ya biarin”


“Bodoamat, Rey bawa cewe lo pergi dari sini deh, gondok gue” ucapku kesal.


Rey hanya tertawa menimpali perkataanku, dan dia langsung sibuk berbicara pada pak Sena.


“Lo kapan?” Tanyaku pada Yuri.


“Ntar deh, lo dulu aja. Eh btw dia ga ganggu lo lagi kan?”


“Enggak sih, ya semoga aja dia udah bahagia sama si Revina itu”


“Iyalah harus bahagia, kalo kaga ntar dia di pecat lagi hahaha” kami tertawa keras dan semua mata tertuju pada kami.


“Stttt… berisik banget sih ni cewek-cewek” tegur Rey.


“Iya semoga hubungan lo dan pak Sena ga ada yang ganggu ya Rin, soalnya gue capek mesti dengerin lo nangis mulu”


“Ishh.. gue juga ga mau kali nangis-nangis.”


“Iya bagus deh”


Hari itu kami habiskan hanya dengan bercengkeama dengan satu sama lain.


*


Siang ini aku memutuskan untuk main ke kantor menemui pak Sena, karena aku gabut di rumah dan tidak tau harus melakukan apa. Aku bosan menganggur, biasanya aku disibukkan dengan bekerja namun kini pekerjaanku hanya mengganggu mama saja dirumah.


Tok… tok… tok…


“Masuk”


Setelah ada sahutan dari dalam barulah aku masuk ke ruangan pak Sena, ya walaupun aku calon istrinya tapi tetap saja aku harus menghormati dia sebagai CEO di perusahaan ini.


“Hey, Rin ngapain kamu kesini?” Tanya pak Sena.


“Saya bosan di rumah, jadi main kesini deh. Udah lama juga ga kesini, jadi kangen ruangan saya”


Aku berjalan menuju ruangan tempat aku bekerja dulu, suasananya masih sama seperti yang aku tinggalkan dulu, masih banyak barang-barangku yang belum sempat aku ambil, termasuk foto kucing yang di katakan pak Sena dulu.


“Bapak gak berniat cari sekretaris baru?” Tanya ku.


“Saya belum butuh sekretaris, saya masih bisa mengerjakannya sendiri atau kadang sedikit di bantu oleh Rey.”


Aku berjalan menuju sofa di ruangan pak Sena yang menghadap ke jendela dengan pemandangan gedung-gedung kota Jakarta.


“Kenapa hem?” Tanya pak Sena seraya mengusap bahuku.


“Enggak, saya cuma seneng aja udah nemuin pelabuhan terakhir saya.” Jawabku sembari tersenyum.


“Saya juga senang, karena kamu mau menerima saya.”

__ADS_1


Aku mengangguk, “semoga untuk kedepannya kita sama-sama lebih bahagia ya pak”


“Iya sayang.” Bulu kuduk ku meremang ketika mendengar pak Sena memanggilku dengan sebutan sayang.


“OMG! Kok gue merinding ya” gumamku dalam hati.


Aku hanya meringis mendengarnya, “ohiya pak, saya mau nagih janji bapak” aku baru ingat dengan janji pak Sena dulu.


Dia bingung dan terlihat mengerutkan dahinya, “janji apa?” Tanyanya.


“Dulu bapak pernah bilang, kalo mau ngajak saya keliling dunia setelah nikah muehehehe”


“Oh itu, yaa bisa sihhh, tapi….” Ucapnya menggantung.


“Tapi apa?”


“Tapi ada syaratnya.”


“Pake syarat segala, pamrih banget. Syaratnya apa?”


“Mulai sekarang kamu ga boleh manggil saya bapak lagi, memangnya saya bapak kamu” ucapnya tiba-tiba sewot.


“Lahh.. emang salahnya dimana, kan bapak dulu bos saya.” ucapku tak mau kalah.


“Ya kan itu dulu, sekarang jabatan saya udah naik jadi calon suami kamu, jadi manggilnya jangan bapak lagi dong.”


“Ya terus apa, kan bapak calon bapak dari anak-anak sayajadi wajar dong saya manggilnya bapak” perutku tiba-tiba bergejolak mual setelah aku mengatakan hal yang menggelikan itu, lain halnya dengan pak Sena mukanya malah terlihat memerah setelah mendengar perkataanku.


“Bener juga sih, Ya tapi kan belum. Jadi manggil bapaknya di tunda dululah.”


“Banyak maunya banget sih.”


“Pokoknya kamu harus panggil saya mas”


“Dih, gamau”


“Yaudah keliling dunianya batal.”


“Ishhh.. bisanya cuma ngancem doang.”


“Terserah saya, jadi deal gak nih?”


“Iya iya”


“Iya apa?”


“Iya mas”


“Nah gitu dong, gerah saya denger kamu manggil saya bapak mulu.”


Perdebatan kami pun di menangkan oleh pak Sena dengan senjata ampunya, yaitu dengan cara mengancam musuhnya. Yasudahlah ya, dunia juga gak akan runtuh hanya karena aku manggil pak Sena dengan sebutan mas, walaupun aku belum sepenuhnya terbiasa.


***

__ADS_1


__ADS_2