
Pagi menuju siang itu aku dan tante Karina bersantai di sebuah gazebo di tengah-tengah hamparan bunga yang sedang bermekaran, disana juga sudah ada 2 orang yang tante Karina panggil untuk merias kuku kami.
“Kamu gimana kabarnya Rin setelah berbulan-bulan mama tinggalin”
“Airin baik ma”
“Kamu sama Sena gimana? Kapan rencananya mau nikah, lama banget perasaan”
“Hehehe sabar ya ma, Airin sama Sena masih merencanakan yang terbaik”
“Jangan lama-lama lah, mama udah ga sabar mau gendong cucu”
Muka ku bersemu merah mendengar perkataan tante Karina, masih saja di tagih untuk menikah. Ku akui memang aku sudah tertarik dengan pak Sena karena dia yang selalu ada saat aku sedang tidak baik-baik saja, tapi entah kenapa bayang-bayang Reno masih saja mengganggu pikiranku.
Tringg… tringg…
Aku menengok ke ponsel ku, ada nomor tidak di kenal menelponku, “siapa nih?” Gumamku yang tidak mengenal nomor itu.
“Hallo, siapa ya?” Sapaku kepada sang penelpon.
“Rin ini aku” ujar orang itu di seberang sana.
“Iya siapa?”
“Reno”
Deg! Aku terdiam mendengar orang itu menyebutkan namanya, “dia dapet nomor gue dari mana?” Ujar ku dalam hati.
“Iya kenapa, Ada perlu apa lagi?” Tanyaku sinis.
“Please aku butuh ketemu kamu, aku mau jelasi semuanya sama kamu Rin”
“Ga ada lagi yang perlu di jelaskan, saya sudah muak dengan kamu”
“Rin”
Tut… tut… tut… telpon terputus.
“Siapa Rin?” Tanya tante Karina.
“Temen Airin ma” jangan ku sekenanya. Aku menimbang-nimbang apakah perlu aku bercerita dengan tante Karina mengenai mantanku ini.
“Tapi kayanya lagi marahan gitu”
“Emmm… sebenarnya ada sesuatu yang mengganjal di hati Airin ma”
__ADS_1
“Apa Rin, cerita sama mama, siapa tau mama bisa bantu atau sekedar memberi saran”
“Emmm..” aku melirik ke dua orang yang sedang sibuk dengan kuku kaki kami.
Sepertinya tante Karina mengerti kemana arah pandangku, “Ohh okee… mba mba nanti di lanjut lagi ya, saya sama anak saya perlu bicara secara pribadi, nanti saya panggil lagi ya” ucap tante Karina kepada dua orang tersebut, setelah itu mereka pergi dari sana dan menyisakan hanya aku dan tante Karina saja.
“Ada apa sayang?” Tanyanya lagi.
“Jadi gini ma” aku menceritakan semua rentetan masalahku dengan Reno, mulai dari kami putus sampai akhirnya dia kembali memohon kepadaku untuk kembali lagi seperti dulu.
Aku memilih untuk menceritakannya agar hati ku bisa lebih tenang dan juga agar lebih bisa fokus menata hati ku kembali sebelum menerima pak Sena masuk.
“Ternyata kamu sama Sena punya energi kesedihan yang sama ya Rin” ucap tante Karina setelah aku menyelesaikan ceritaku.
“Mama kembali terbayang bagaimana hancurnya Sena dulu. Sama seperti kamu, dulu dia terpuruk dan susah menerima orang lain untuk masuk ke hatinya. Tapi kalau mama boleh menyarankan, sebaiknya selesaikan terlebih dahulu urusan kamu sama dia supaya tidak ada hambatan di kemudian hari. Kamu coba dengarkan apa yang ingin dia katakan agar tidak ada lagi yang mengganjal di hati kamu, setelah itu kamu bisa menentukan kemana arah hatimu akan berlabuh.” Ucap tante Karina memberi saran.
Aku mengangguk, “iya ma, rencananya Airin akan tanya sama dia apa yang sebenarnya terjadi, tapi Airin belum siap untuk ketemu dia lagi, terlalu pedih luka di hati Airin ma” ucapku lemah.
“Tidak apa-apa sayang, lebih baik di selesaikan secara cepat agar kamu bisa hidup lebih tenang tanpa bayang-bayang dia lagi. Tapi mama berharap kamu akan melabuhkan hati kamu ke Sena, karena mama sudah terlanjur sayang sama kamu Rin” tante Karina menunduk seraya mengusap ujung matanya.
“Ma, mama kenapa nangis? Mama tenang aja, apapun alasannya nanti Airin akan tetap memilih Sena sebagai pelabuhan terakhir Airin” ucapku menenangkan tante Karina.
Karena jujur aku memang sudah tidak memiliki rasa apa-apa untuk Reno, rasa di hati ku untuknya hanyalah rasa sakit yang tidak berkesudahan. Rasa sakit karena di tinggalkan begitu saja tanpa tau bagaimana rasanya jadi aku.
“Kamu janji ya sayang” ucap tante Karina.
*
Di hari minggu yang agak mendung ini aku dan Yuri memutuskan untuk joging mengelilingi kompleks rumahku, kami dulu rutin melakukan olahraga di hari minggu pagi. Tapi setelah masing-masing dari kami sibuk bekerja menjadikan kegiatan kami itu harus terhenti.
“Capek banget woy, udah lama ga joging” ucap Yuri dengan nafas memburu karena lelah berlari.
“Iya sesek nafas gue, duduk dulu lah” ucapku seraya menghempaskan bokongku ke kursi taman.
“Gila ya, biasanya kaga pernah joging sampe mau meninggal gini, ini kok rasanya baru juga lari udah sesek nafas” keluh Yuri.
“Wajar aja, kita udah lama ga joging”
Di sela-sela kami duduk seorang pria datang menghampiri kami dan memberi sebotol minum untuk aku dan Yuri.
Aku mendongak melihat siapa pria tu, “loh pak Rey?” Ucapku kaget ketika melihat Rey telah berdiri dengan botol air minum di tangannya.
“Airin” ucap Rey santai, seolah dia sama sekali tidak terkejut melihatku.
“Bapak ngapain disini?”
__ADS_1
“Bapak? Lo kenal Rin?” Tanya Yuri.
“Iya ini pak Rey asistennya pak Sena” ucapku memberi tahu.
“Tua banget kamu Rey di panggil bapak hahaha” Yuri cekikikan mendengar aku menyebut Rey dengan sebutan bapak.
“Heheh gapapa kan profesional dalam kerja, tapi kalo di luar panggil Rey aja Rin, gue malu nanti di sangka orang udah bapak-bapak beneran lagi” ucap Rey.
“Lo kenal Yur?” Tanyaku dengan Yuri.
“Kenal lah, orang Rey pacar gue. Iya kan sayang” ucap Yuri menggelayut manja di lengan Rey.
“Dih, yang bener lo” aku kaget mendengarnya.
“Ya benerlah, ngapain gue bohong”
“Wah parah lo, kenapa ga cerita sama gue”
“Gimana mau cerita, tiap ketemu lo nya selalu uring-uringan cerita soal Reno”
“Eh gue gak uring-uringan ya”
“Ya ya ya” jawab Yuri malas.
“Lo gamon Rin?” Tanya Rey tiba-tiba.
“Kaga ya, enak aja” elakku dengan cepat.
“Mending lo sama Sena aja, kurang apa lagi coba udah ganteng, baik, kaya lagi” ucap Rey mempromosikan temannya itu.
“Iya nih si Airin, di bilangin sama Sena aja tapi tetep aja masih mikirin Reno si anak setan”
“udah deh ah gue balik aja, males jadi obat nyamuk” ucapku seraya berdiri dan berjalan meninggalkan Rey dan Yuri yang sedang sibuk pacaran.
“Eh mau kemana lo?” Teriak Yuri.
“Balik” jawabku singkat.
“Tungguin woy, mobil gue di rumah lo!”
“Bodo amat, nyusul aja ntar”
“Yaudah ati-ati lo, awas ketemu mantan hahhahaaha” ucap Yuri ketawa puas.
“Serah” aku pulang berjalan kaki menuju rumah, karena taman tempat kami joging tidak begitu jauh dari rumahku.
__ADS_1
***