
Reno terdiam, dia seolah tidak bisa menjawab pertanyaanku.
“See? Terbukti semua omongan kamu isinya cuma kalimat penenang bukan penyembuh luka”
“Engga Rin, nanti waktu saat nya tiba kamu akan mengerti”
“Aku sudah paham semuanya Ren, cukup sampai disini, aku tidak ingin melihatmu lagi disini”
“Rin aku mohon maafkan aku”
“Membunuh manusia itu sederhana, isi penuh hatinya dengan cinta, lalu tinggalkan dia bersama harapannya. Dan kamu telah melakukannya padaku. Sejak hari itu aku sudah mati, hanya saja jasatku tidak di kubur dengan tumpukan tanah, melaikan dikubur dengan trauma yang tak kunjung punah”
“Rin, aku tidak bermaksut menyakitimu, aku hanya ingin membuat kamu bahagia, aku melakukan semuanya agar aku bisa bersama dengan kamu selamanya” tangis Reno semakin pecah.
“Sebaiknya kamu pergi dari sini, aku ga mau lagi liat muka kamu dan aku gak mau denger omong kosong kamu lagi, PERGII!” Ucapku mengusirnya dari rumah ku.
“Enggak Rin, aku ga mau. Tolong maafkan aku Rin” Reno bergerak dan mencoba mendekap tubuhku.
“Lepas, Reno lepas”
“Kamu milikku Rin, kamu tidak boleh meninggal kan ku”
“Reno lepasin gue, sialan!” Aku meronta-ronta dalam pelukannya, aku tidak sudi di sentuh oleh orang yang telah banyak menimbulkan luka di hidupku.
Reno seakan tidak mau melepaskan tangannya dari tubuhku, pelukannya semakin lama semakin eret sehingga nafasku terasa sesak, “lepas, Tolonggg!” Aku mulai ketakutan dan berteriak.
“Tolongggg…!”
“Reno jangan gila kamu!”
“Aku memang gila sejak hari itu Rin”
“Bangsat, lepasin gak! Tolongg!!”
“TOLONGGGGG…..!!!!!!!” Teriakku dengan kencang.
“Airin!” BUGH…..
“AAAAA…..” aku memekik keras ketika pak sena tiba-tiba datang dan memukul wajah Reno.
Perkelahian mereka tidak bisa di hindarkan saat itu, aku hanya bisa menangis dan mencoba berusaha melerai mereka.
“Stop.. udah udah”
“Renoo, pak Sena udahh”
Aku berteriak dan mencoba memisahkan Reno dan pak Sena, tapi mereka seakan menulikan telinga dan telah tertutup emosi.
“STOPPPPPPP!!!!” Pekikku dengan keras.
Mereka pun berhenti memukul satu sama lain, “udahhh, stop hikss..” aku menangis dan berlutut di hadapan mereka.
Pak Sena dengan sigap menangkapku dan memelukku, “pak tolong usir dia dari sini, saya gak mau lagi melihat mukanya di rumah ini. hikss” aku menunjuk Reno.
__ADS_1
“Baik, ayo keluar” pak Sena berdiri dan langsung mendorong Reno keluar dari rumahku.
Reno akhirnya pergi dengan luka lebam di wajahnya, sedangkan pak Sena membantuku berdiri dan menuntunku duduk di sofa.
“Sebentar saya ambilkan minum” dia berjalan ke dapur dan membawakan segelas air putih kepada ku.
“Terimakasih pak” ucapku setelah meminum air itu.
“Iya, kamu tenangkan dulu diri kamu, ayo saya antar ke kamar”
“Gak usah pak disini aja sama bapak” ucapku menolak.
“Baiklah”
Setelah aku sudah lumayan tenang aku mulai menghapus jejak-jejak air mata di wajahku dengan tisu.
“dia kenapa kesini?” Tanya pak Sena.
“Gak tau, gak jelas banget mohon-mohon minta maaf” ucapku setelah lebih agak tenang.
“Yasudah jangan terlalu kamu pikirkan, lebih baik fokus kepada diri kamu sendiri” ucap pak Sena.
“Dia juga bilang tadi dia ngelakuin itu karena tuntutan, tapi gak tau tuntutan apa maksudnya” aku masih tidak mengerti dengan perkataan berulang yang Reno ucapkan tadi.
“Tidak usah di pikirkan, belum tentu semua kata-kata yang keluar dari mulutnya itu adalah kebenaran, jangan sampai dia menyakitimu untuk yang kedua kalinya” ucap pak Sena menasehati.
“Iya pak saya tau, saya hanya lega telah menyampaikan apa yang selama ini saya pendam”
“Iya pak, oh iya bapak ada apa kesini?” Tanya ku yang baru sadar pak Sena tiba-tiba datang ke rumah ku.
“Tidak ada, saya hanya ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja setelah kemarin saya tinggalkan di kantor”
“Ohiya emangnya bapak kemarin kemana sih?” Tanya ku penasaran.
“Emm… ada urusan” jawabnya gugup.
“Urusan apa, kok gak ajak saya?” Biasanya urusan apapun itu pasti dia melibatkan ku.
“Urusan laki-laki, kamu sudah makan?” Ucap pak Sena sepertinya ingin mengalihkan pembicaraan.
Aku menggeleng, “belum” jawabku.
“Yasudah kita pesan makanan saja, kamu mau apa?” Tanya pak Sena menawari.
“Apa aja deh pak, bapak aja yang pilihin saya mau mandi dulu, gerah” ucapku seraya berangkat dari sofa dan menuju ke kamar untuk mandi.
Setelah mandi dan berganti pakaian aku segera turun kebawah menemui pak Sena yang sudah ku tinggalkan selama kurang lebih satu jam lamanya. Terlihat disana sudah ada banyak makanan yang terhidang di meja.
“Buset deh pak, banyak banget makanannya, mau hajatan apa gimana sih.” ucapku kaget melihat banyak sekali makanan yang di beli pak Sena.
“Biar kamu kenyang”
“Yaelahh, kaya saya udah setahun gak makan aja”
__ADS_1
“Yasudah sini jangan bawel”
Aku mendekat dan menyomot selembar pizza disana, “bapak disuruh mama kan kesini?” Tanyaku
“Iya memang tadi mama kamu menelpon saya, tapi hari ini rencananya memang saya mau berkunjung kesini, jadi sekalian” ucapnya.
“Ah modus banget”
“Oh iya pak gimana kabar tante Karina? Udah lama gak ketemu” rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan mamanya pak Sena sejak terakhir kali kami mengobrol di taman bunga rumahnya.
“Mama baik, kenapa mau ke rumah?” Tanya pak Sena.
“Enggak deh pak malu” aku menolak.
“Malu kenapa, masa sama calon mertua sendiri malu”
Pipiku memerah mendengar perkataan pak Sena, “apaan sih pak” ucapku.
“Lah mukanya merah gitu hahaa”
“Udah ihhhh”
“Mama sama papa dari bulan kemarin lagi di New York, jadi wajar aja kamu ga di teror sama mama disuruh ke rumah” ucap pak Sena sambil menyuapkan krim sup ke mulutnya.
“Ngapain ke New York?” Tanyaku penasaran. Pantas saja tumben tante Karina tidak menyuruhku ke rumahnya, biasanya beliau akan sangat bawel menelpon dan menyuruhku ke rumahnya.
“Ada urusan bisnis yang mendesak”
Aku manggut-manggut mendengarnya, “kapan ya aku bisa ke luar negeri juga” ucapku seraya berangan-angan.
“Kamu belum pernah ke luar negeri?” Tanya pak Sena.
Aku hanya menggeleng, “nanti pas bulan madu kita keliling dunia ya” ucap pak Sena santai.
Lagi-lagi pipiku memerah mendengarnya, apa-apaan itu bulan madu, mikirnya jauh amat.
“Ihhh udah ah, jauh banget mikirnya”
“Ya kenapa memangnya, siapa tau jadi kenyataan”
Aku hanya memutar bola mataku malas, “di aamiin kan dong” ucap pak Sena memaksa.
“Iya amin” ucapku acuh.
“Yang ikhlas” perintahnya lagi.
“Iyaa Aamiin ya Allah” aku meralat ucapan ku tadi.
“Nah gitu dongg”
***
Jangan lupa like, komen dan vote.
__ADS_1